
Happy reading....
Ratu dan Raja berdiri di balik gorden kamar mereka yang ada di lantai atas. Keduanya melihat siapa yang baru saja datang. Seorang seorang perempuan yang sangat mereka kenali.
"Citra," guman Ratu.
Ratu tidak mengenali laki-laki yang datang bersama Citra begitupun juga dengan Raja. Ratu sangat malas berurusan dengan Citra, tetapi kalau dibiarkan, Citra pasti akan makin berulah. Ia tetap membiarkan Citra dan temannya masuk ke dalam rumahnya, karena ia sudah merasa sangat lelah.
Raja tahu jika istrinya tidak menyukai kedatangan Citra begitu juga dengan dirinya. Namun, ia tahu semakin ia dan istrinya menghindar, maka semakin membuat Citra mengejarnya juga Ratu.
"Biarin aja lah, Dek! Kita anggap aja mereka berdua gak ada," ucap Raja malas, Ratu pun menyetujui ucapan Raja.
Keduanya memutuskan untuk beristirahat karena dari kemarin mereka sudah kurang tidur. Raja dan Ratu merebahkan tubuhnya bersama di satu ranjang yang tidak terlalu besar, membuat mereka tertidur berdekatan bahkan saling memeluk.
******
Sore harinya Ratu membuka matanya, rasa lelahnya berkurang setelah tidur siang. Ratu melihat Raja sudah tidak ada di sampingnya. Ratu turun dari ranjang dan mencari keberadaan Raja di kamar mandi. Namun, sosok Raja tidak ada di sana. Ratu memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Setelah berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai, tidak lupa sendal berbentuk kucing berwarna abu-abu ia sematkan ke kakinya.
Ratu berjalan menuruni anak tangga yang terhubung langsung ke ruang tengah. Ratu melihat teman-temannya sedang berkumpul di taman samping rumah. Ratu juga melihat Citra sedang berusaha mendekati Raja dengan mencari celah untuk duduk di dekat Raja.
Ratu berusaha untuk tetap tenang, kalau ia menunjukan sisi lemahnya pada Citra maka Citra akan semakin senang menyerangnya. Ratu menarik napas lalu berjalan menuju teman-temannya.
"Ratu, lo dah bangun?" tanya Rini yang pertama kali melihat Ratu sedang berjalan mendekat.
Semua orang menoleh ke arah Ratu, terutama Raja. Raja langsung berdiri dan menghampiri Ratu.
"Kamu udah gak, apa-apa, Dek?" tanya Raja, tangannya mengusap lembut rambut Ratu.
"Masih sedikit pusing. Tapi aku liat kamu gak ada di kamar, makanya aku turun buat nyari kamu!" ucap Ratu dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat untuk memanasi Citra.
"Maaf, aku liat kamu tidurnya pules banget. Jadi aku gak tega buat bangunin kamu," ucap Raja. "Ya udah, kamu mau istirahat lagi, aku anterin kamu ke kamar!" ajak Raja.
__ADS_1
"Gak usah, udah tanggung ke sini," tolak Ratu.
"Ya udah!" senyum Raja.
Raja menggandeng tangan istrinya, mengajaknya untuk duduk bersama di sofa yang tersedia di sana. Suasana rumah yang terlihat asri membuat mereka nyaman duduk berlama-lama di sana.
"Ratu, lo gak nyapa temen lama lo ini?" tanya Citra tiba-tiba. Citra menunjukan wajah laki-laki yang datang bersamanya.
Ratu yang sedari tadi diam tak ingin mengapa atau pun melihat Citra, kini terpaksa harus bertatap muka dengan gadis centil itu.
"Temen lama gue? Maksud lo?" tanya Ratu bingung.
"Ini loh, Dimas. Temen baik kamu yang dulu pake kacamata tebal," jawab Citra.
Ratu memperhatikan wajah laki-laki yang duduk di sebelah Citra sekarang. Ratu kembali mengingat-ingat.
"Dia, Dimas?" tanya Ratu tak percaya.
Dimas dulunya adalah sahabat baik Ratu, saat masih duduk di bangku SMP. Penampilannya yang cupu sering dikait-kaitkan dengan Ratu. Namun, Dimas selalu marah jika dirinya disebut-sebut sebagai pacar Ratu yang dulu masih berbadan gemuk.
"Iya, kaget 'kan lo lihat Dimas bisa jadi ganteng kaya gini. Gak kalah 'kan sama Raja, suami kamu?" Ratu tahu ada nada sindiran di dalam ucapan Citra.
"Oh, begitu!" ucap Ratu biasa saja.
"Aku jadi inget kamu sama Dimas itu dulu cocok banget ya, yang satu berbadan gemuk dan yang satu berkacamata tebal. Sayang banget kalian gak berjodoh," lanjut Citra.
Raja langsung menggenggam erat tangan Ratu, untuk membantu meredam amarah istrinya.
"Kenapa jadi ngomongin masa lalu, sekarang Ratu juga sudah punya kehidupan sendiri," sela Raja. "Sekarang dia istri gue."
Egi dan teman-temannya merasa risih dengan perdebatan di hadapannya. Mereka sudah memiliki firasat tentang ini saat Citra datang ke rumah Ratu.
__ADS_1
"Kok suasana tiba-tiba panasnya, perasaan dari pas kita dateng ke sini suasana adem banget," ucap Suci yang sengaja menyindir Citra.
"Mending kita ke supermarket, cari bahan buat acara barbeque nanti malam," usul Rini.
"Nah bener tuh, jangan sampe rencana barbeque kita nanti malam gagal gara-gara masa lalu," lanjut Suci.
Citra merasa panas dengan ucapan kedua teman Ratu itu, ia tahu jika Rini dan Suci sedang menyindir dirinya. Bukan Citra namanya jika ia tak bisa berakting biasa saja.
"Kita ikut ya, barangkali nanti kita bisa bantu-bantu pilih bahan buat barbeque. Kalo perlu kalian minta dibayarin aja sama Dimas, dia duitnya banyak. Hasil kerja sendiri lagi." Citra terus berusaha membanggakan Dimas di depan Ratu. Supaya Ratu bisa berpaling dari Raja. Namun, sayang itu tidak berpengaruh untuk Ratu.
"Tentu saja. Gue bakalan sponsori acara malam ini," bangga Dimas.
Ratu ingin sekali mencakar wajah Citra detik itu juga. Dia benar-benar cocok dijuluki si lidah pahit. Lidahnya selalu saja bisa mengucapkan kata-kata menyindir. Saat dalam kemarahan Ratu mendadak mempunyai ide jahil untuk mengerjai Citra dan juga Dimas.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri, Dek?" tanya Raja yang terheran melihat Ratu terlihat sedang berpikir dan kemudian tersenyum geli.
Ratu membisikan sesuatu ke telinga Raja. Raja tersenyum geli saat Ratu memberitahukan ide jahilnya kepada dirinya. Tak lupa juga, Ratu memberitahukan ide jahilnya pada teman-temannya.
"Kamu ini ada-ada aja!"
Ratu terkikik geli, sedang Raja menggelengkan kepalanya, namun dalam hatinya ia ikut tertawa.
Mereka semua memutuskan lebih tepatnya Ratu yang memutuskan untuk berjalan kaki ke supermarket karena jaraknya tak terlalu jauh dari rumahnya. Hanya di seberang jalan gerbang masuk komplek perumahan. Semuanya setuju dengan usulan Ratu terkecuali Citra dan Dimas. Keduanya menolak karena bagi mereka itu sangat jauh.
"Ayolah. Kita naik mobil aja!" bujuk Citra diikuti anggukan kepala Dimas.
"Ya jauhan naik mobil lah," jelas Ratu. "Kalau naik mobil 'kan kita malah muter-muter. Kalau jalan kaki, kita tinggal lurus," lanjut Ratu.
Memang benar apa yang di katakan oleh Ratu, namun Citra masih saja menolaknya.
"Ya udah kalau kalian masih ingin naik mobil," ucap Ratu pada Citra dan Dimas. "Ayo semua, kita jalan sekarang," ajak Ratu.
__ADS_1
"Tapi—"
Dimas menggenggam tangan Citra dan segera memotong ucapan Citra. "Oke, kita ikut jalan kaki saja. Kalau jalan rame-rame pasti seru!"