
Happy reading....
Ratu sedang menertawakan Raja, karena suaminya itu baru saja dimarahi oleh Dokter. Dokter yang mendadak membuka pintu kamar rawatnya karena ingin memeriksa kondisi Ratu. Dokter itu terkejut saat melihat posisi Raja sedang menindih tubuh Ratu.
Ratu langsung mendorong tubuh Raja dan bangun dari posisinya. Ratu duduk dengan salah tingkah dan langsung beranjak menuju tempat tidurnya.
"Tolong ya, Pak. Istrinya masih dalam proses pemulihan jangan diajak macem-macem
dulu." Ratu tertawa setelah menirukan ucapan Dokter yang belum lama memeriksa kondisinya.
"Ini kan gara-gara kamu, Dek." Raja menyentil kening Ratu.
Ratu mengusap keningnya yang terkena sentilan Raja. Raja yang niatnya ingin membalas Ratu karena telah berani menggodanya malah membuat dirinya merasa malu karena ketahuan oleh Dokter.
"Udah tidur sana," omel Raja karena Ratu masih belum berhenti menertawakannya.
Ratu yang melihat raut kesal di wajah suaminya langsung mengucapkan kata maaf. "Maaf, Yank." Ratu meminta maaf pada suaminya dengan menyilangkan dua tangannya ke telinganya dan memasang wajah polosnya.
Raja seketika mengembangkan senyumnya dan menarik hidung istrinya. "Mana bisa sih aku kesal lama-lama sama kamu, kalo kamu nya imut begini."
"Manisnya tuh mulut, banyakan makan gula ya?" ejek Ratu dan berhasil membuat Raja tertawa.
Raja kembali bergelut dengan pekerjaannya di laptop. Pekerjaan yang tertunda karena kecelakaan yang menimpa Ratu. Ratu masih setia menemani suaminya karena dirinya belum mengantuk.
Gunawan sendiri masih berada di luar negeri karena ada perjalanan bisnis. Raja sudah memberitahukan pada ayahnya tentang kecelakaan Ratu. Gunawan juga merasa sangat sedih mendengar calon cucunya tidak bisa terselamatkan. Gunawan juga meminta pada Raja untuk tidak menunjukan kesedihannya di depan Ratu dan selalu ada di samping istirnya.
Raja menutup laptopnya setelah pekerjaannya selesai. Raja menoleh ke samping dan ternyata Ratu sudah tertidur di sofa. Raja segera membopong tubuh istrinya dan memindahkannya ke tempat tidur. Setelah merebahkan tubuh istrinya ke tempat tidur Raja mengecup keningnya dan kembali ke sofa. Namun belum sempat Raja melangkahkan kakinya Ratu lebih dulu menahannya.
"Kamu mau ke mana, Yank?" Perlahan Ratu membuka matanya.
"Aku mau tidur di sofa," jawan Ratu.
"Tidur sini aja, Yank."
__ADS_1
"Ya sudah, aku beresin kerjaan aku dulu, ya." Raja mengusap sisi wajah Ratu lalu kembali ke sofa untuk membereskan sisa pekerjaannya.
Setelah semuanya beres, Raja kembali ke tempat tidur. Ratu bergeser ke samping untuk memberi tempat untuk Raja. Raja merebahkan tubuhnya di samping Ratu, ranjang kecil membuat tubuh mereka berdekatan. Raja merelakan tangannya di jadikan bantal oleh istirnya.
"Tidur lagi, Dek?"
Ratu mengangguk di dalam posisi nyamannya. Ratu mendekap tubuh suami nya dan mulai memejamkan matanya kembali. Raja pun mulai ikut memejamkan matanya, kini kedua nya sudah sama-sama terlelap di atas ranjang yang sempit itu dengan saling memeluk.
Keesokan paginya Ratu terbangun karena mendengar seseorang membuka pintu kamar rawat nya. Ratu melihat seorang perawat datang dengan membawa obat di tangannya.
"Jangan lupa di minum obat nya ya, Mbak." ucap Perawat itu sebelum meninggalkan kamar rawat Ratu.
"Terimakasih, Suster," balas Ratu.
Ratu melihat suaminya masih terlelap di samping nya. Ratu terus memandang wajah tampan itu. Ratu sangat bersyukur mendapatkan suami sebaik Raja. Meski umurnya yang masih terbilang muda namun rasa tanggung jawabnya luar biasa. Pantas saja banyak para gadis-gadis di luaran sana yang tergila-gila dengan suaminya itu.
Ratu menggeser tubuhnya dan turun dari ranjang. Ratu melangkah menuju ke kamar mandi. Setelah berada di dalam kamar mandi, Ratu menitihkan air mata nya. Meski dirinya terlihat tegar namun di dalam hati nya ia masih sangat rapuh. Ratu masih merasa kalau Tuhan tidak adil pada dirinya. Baru saja Tuhan memberikan kebahagiaan dan dalam sekejap kebahagiaan itu di ambil lagi.
Ratu segera menghapus air matanya saat mendengar suara ketukan pintu dari luar. Setelah membasuh muka nya, Ratu segera membuka pintu kamar mandi. Wajah Raja terpampang jelas di hadapannya kini.
Ratu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Ratu tidak berani memandang wajah Raja. "Nggak kok."
"Bohong. Jelas-jelas mata kamu merah gitu." Raja menghela nafas berat melihat Ratu masih saja menyembunyikan kesedihannya.
Raja menarik tangan Ratu dan membawa nya untuk duduk di sofa. Raja terus menatap wajah sendu Ratu. Raja tahu jika Ratu memang masih belum bisa menerima semua itu. Diraihnya kedua sisi wajah Ratu lalu dihapusnya jejak air mata yang tertinggal di pipi Ratu.
"Kamu gak boleh kaya gini, Dek."
Ratu langsung menjatuhkan kepalanya di pundak Raja dan terisak di sana. Ingin sekali Ratu menyembunyikan rasa sedih itu pada suaminya, namun ternyata gagal.
"Kenapa, Yank. Kok Tuhan tega cuma ngasih kebahagiaan sesaat untuk kita," ucap Ratu di sela isak tangisnya.
"Ssst.... Kamu gak boleh ngomong kaya gitu. Kamu gak boleh menyalahkan takdir yang di berikan sama Tuhan. Kamu ingat kan, di balik kesedihan pasti akan ada kebahagiaan. Kita harus yakin, Tuhan pasti punya rencana lain untuk kita, yang pasti akan lebih baik." Raja mendekap tubuh Ratu dan mengusap-usap punggungnya.
__ADS_1
"Iya, Yank. Maaf."
"Ya sudah, Kamu sarapan dulu. Habis itu aku urus administrasi kamu biar kita bisa pulang." Ratu pun mengangguk.
Selang beberapa detik ada seseorang yang membuka pintu kamar rawat inap Ratu.
"Yah, gue salah waktu nih masuknya." Alan yang baru saja membuka pintu melihat Raja dan Ratu masih saling memeluk.
Ratu langsung menghapus sisa air matanya dan tersenyum terpaksa. "Makanya kalo mau masuk ketok pintu dulu, ganggu aja," omel Ratu.
"Anjir.. Lo berdua emang mau ngapain di sini. Ingat ini rumah sakit jangan macem-macem," balas Alan.
"Terserah gue dong, mau ngapain aja sama suami gue." Ratu menjulurkan lidahnya kepada Alan.
"Ngeselin, lo." Alan mendengus kesal, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa.
Raja yang melihat pertengkaran antara Alan dan Ratu hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Lan, gue minta tolong jagain Ratu sebentar, gue mau urus administrasi Ratu dulu," pinta Raja.
"Jangan lama-lama. Entar gue bisa di terkam sama singa betina." Mata Ratu langsung memicik tajam ke arah Alan, membuat Alan dan Ratu terkekeh.
Raja keluar dari kamar rawat Ratu unuk ke bagian administrasi. Ratu melihat Alan yang sedang duduk di sofa dan bermain dengan ponselnya.
"Suci mana? Dia gak ikut ke sini." Alan mendongak dan menyimpan ponsel di saku jaket nya.
"Dia naik taxi, bentar lagi nyampe." Alan menghampiri Ratu dan duduk di hadapannya.
"Lo baik-baik aja kan?" tanya Alan dengan pelan.
"Ya, gue baik-baik aja."
"Gue tahu lo sama Raja gak baik-baik aja. Gue juga pernah ada di posisi kalian berdua. Lo juga pasti tahu kan." Ratu mengangguk. "Tapi lo gak boleh terus-terusan kaya gini. Lo harus tetap kuat untuk Raja, dia pasti sedih liat lo kaya gini."
Ratu menganggukkan kepalanya, memang benar dirinya sangat terpukul dengan semua ini, Raja juga pasti merasakan hal yang sama. Namun suami nya itu selalu berusaha untuk tegar.
__ADS_1
"Thank's, Lan." Ratu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.
"Jangan nangis, dong. Bisa habis gue, kalau suami sama papi lo tahu." Ucapan Alan berhasil membuat keduanya tertawa lebar.