
Setelah acara makan malam bersama Raja dan Ratu berpisah untuk dengan ketiga teman mereka. Semuanya kembali ke rumah masing-masing. Sempat terjadi sedikit ketegangan antara Raja dan Angga. Namun acara makan malam itu tetap terasa menyenangkan dengan candaan Egi dan Panji, yang mengakui diri mereka sebagai Jones alias jomblo ngenes.
"Dah semua … hati-hati di jalan," ucap Ratu kepada tiga temannya.
"Dah Ratu," balas mereka serempak.
Ratu naik ke motor Raja dan berlalu meninggalkan tempat makan itu. Mereka memilih untuk langsung kembali ke apartemen mereka. Sesampainya di apartemen saat mereka akan menaiki tangga, Ratu berbalik menghadap Raja membuat langkah Raja ikut terhenti.
"Kebiasaan! Kalau berhenti suka mendadak," keluh Raja.
"Ja, gue mau tanya?" Ratu berpikir lebih dulu, sebelum akhirnya Ratu membuka suaranya kembali. "Ja … apa lo sekalipun gak pernah curiga sama Suci? Maksud gue … lo gak pernah ada rasa curiga kalau dia punya cowok lain selain lo?"
Raja terdiam mendengar pertanyaan Ratu, "Gue gak mau berprasangka buruk padanya sebelum gue melihatnya dengan mata gue sendiri." Setelah mengatakan itu Raja melangkah melewati Ratu yang masih berdiri mematung di anak tangga.
"Sesayang itu kah lo sama Suci, Ja?" Ratu tidak punya kekuatan untuk memberikan video itu kepada Raja, karena Ratu takut melihat Raja terluka.
Ratu masih berdiri di tangga sambil terus memandang punggung Raja. Setelah bayaran Raja menghilang di balik pintu, Ratu pergi ke kamarnya sendiri.
Keesokan paginya Ratu sedang memasak di dapur untuk menyiapkan sarapan untuknya dan Raja. Bukan sarapan spesial, hanya susu hangat dan roti isi. Bertepatan Raja turun dan menghampiri Ratu.
"Pagi, Dek," sapa Raja.
"Pagi, Ja," balas Ratu.
Raja tertegun melihat Ratu menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, karena biasanya setiap pagi Raja lah yang berperan sebagai seorang istri, seperti menyiapkan seragam Ratu dan menyiapakan sarapan untuk mereka berdua.
"Tumben Dek, nyiapin sarapan? Biasanya jam segini masih meluk guling," ledek Raja.
Ratu hanya menyunggingkan senyumnya saja. "Lagi pengin saja."
"Oh ya, Ja … Daddy tadi kirim pesan. Nanti malam daddy ngajak kita makan malam bareng sama mama," ucap Ratu dan Raja hanya manggut-manggut karena mulutnya penuh dengan roti isi.
"Oh iya, Ja … aku mau belanja bulanan hari ini. Persediaan makanan kita udah abis."
"Aku temenin nanti," ucap Raja.
"Kamu gak jadi ke rumah Suci?" Ratu sangat berharap jik Raja tidak akan pergi menemui Suci.
Raja tidak menjawab, hanya mengedikan kedua bahunya.
"Dia masih belum bales chat gue," jawab Raja.
Jujur perasaan curiga mulai muncul di dalam pikiran Raja tentang Suci. Namun hatinya merasa belum siap untuk menerima itu.
"Kita berangkat sekarang, yuk!" ajak Ratu.
"Moll belum buka, Dek."
"Ya gak apa-apa. Itung-itung kita jalan-jalan. Kalo perlu kita cari moll yang rada jauh dari sini."
Raja memikirkannya sejenak, lalu ia menyetujui usulan Ratu. "Kita ke Monas saja, sekalian joging."
__ADS_1
Ratu tidak akan pernah menolak ajakan Raja, ia langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Tidak ada pembicaraan lagi. Mereka fokus sarapan. Selesai sarapan keduanya kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap-siap.
Beberapa menit kemudian Raja dan Ratu sudah berada di dalam mobil. Mereka sudah siap dengan pakaian santai mereka. Raja mulai menyalakan mesin mobil dan mulai melajukan kendaraannya, menuju tempat yang akan mereka tuju.
Setelah seharian mereka pergi, kini Raja dan Ratu sudah siap untuk acara makan malam bersama keluarganya.
Ratu terlihat cantik dengan dress hijaunya daunnya dipadukan dengan sepatu sneaker. Terlihat anggun, tetapi tidak membuatnya Ratu seperti wanita dewasa.
"Raja … gue gak kaya lemper, 'kan?" Ratu memperlihatkan penampilannya kepada Raja. Ratu memang sengaja memilih warna seperti itu karena ingin terlihat sedikit dewasa di hadapan Raja malam itu.
Raja hanya tersenyum, "Kamu cantik kok, Dek."
Mendengar ucapan Raja seketika Ratu merasa banyak kupu-kupu terbang di dalam dirinya. Ratu berlari kecil menghampiri Raja dan melingkarkan tangannya di lengan Raja. Keduanya pun menuruni anak tangga bersama-sama.
Mobil sport milik Raja sudah melaju membelah jalanan. Raja masih fokus dengan jalanan di hadapannya. Pandangan Raja teralihkan saat melihat ada notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Raja mengembangkan senyumnya saat melihat pesan dari Suci. Bibirnya melebar membentuk sebuah senyuman.
Ratu melirik ke arah Raja, melihat suaminya terlihat begitu bahagia yang membuat perasaan sakit di dalam hatinya.
Setelah membalas pesan dari Suci, Raja kembali meletakan ponsel miliknya dan kembali fokus mengemudi.
Sesampainya di restoran yang mereka tuju. Sebelum mereka turun dari mobil, Ratu meminta Raja untuk tidak menceritakan tentang balapan motor kemarin kepada Anita. Raja hanya mengiyakan permintaan Ratu tanpa bertanya apapun. Keduanya turun dari mobil bersama-sama masuk ke dalam restoran dengan tangan yang menyatu.
Anita melambaikan tangannya kepada anak dan menantunya saat melihat mereka berjalan bersama sambil bergandengan tangan, Anita dan Gunawan tersenyum saat melihat kedekatan anak-anaknya.
"Malam, Mam, malam Daddy," sapa Ratu, kemudian mencium tangan Anita dan Gunawan. Begitu juga dengan Raja melakukan hal yang sama kepada Anita dan Gunawan.
"Apa kalian sudah akur?" ledek Anita.
"Ratu 'kan anak baik, Mah," puji Ratu pada dirinya sendiri.
Raja memutar bola matanya jengah. "Baik apaan? Setiap hari bangun kesiangan terus, sarapan juga gue yang siapin. Gak guna lo jadi istri," ledek Raja.
"Idiih ngadu.''
Anita membelalakan matanya tidak percaya apa yang baru saja ia dengar. "Ratu kamu kok jadi manja sama Raja."
Raja senang karena merasa dibela oleh Anita. Raja melihat ke arah Ratu dan menjulurkan lidahnya. Ratu yang tak terima membalas menjulurkan lidahnya kepada Raja lalu menarik Rambut Raja. Anita dan Gunawan menggelengkan kepalanya, baru saja mereka melihat betapa mesranya kedua anaknya, dan kedua anak itu kembali menjadi Tom and Jerry.
"Jangan seperti ini! Apa kalian tidak malu menjadi pusat perhatian para pengunjung lain?"
Pasangan muda itu melihat ke sekeliling mereka, benar para pengunjung lain memerhatikan mereka dengan tatapan aneh dan juga tawa.
"Ini semua gara-gara lo!" ucap Raja.
"Lo duluan," ucap Ratu tidak mau kalah.
Anita menghentikan keusilan Raja dan Ratu dan menyuruh mereka untuk memilih menu makan malam mereka sendiri.Anita memberikan buku menu kepada Raja dan Ratu, setelah memilih menu keduanya memberikan buku menu kembali kepada Anita.
"Oh ya Raja … kamu punya motor gede, 'kan?" tanya Anita yang langsung di angguki oleh Raja. "Jangan sekali-kali kamu berikan kunci motor kamu sama Ratu atau Mama akan suruh papa kamu menyitanya. Mama sudah hampir mati karena serangan jantung gara-gara pernah lihat Ratu mengejar penjambret waktu di Jogja. Mamah hampir tidak percaya jika itu Ratu."
__ADS_1
Raja membelalakan matanya lalu melihat ke arah Ratu, menatap tak percaya, si Chubby berubah begitu drastis hanya dalam beberapa tahun saja.
Ratu nyengir kuda dan memperlihat dua jarinya membentuk tanda V. Raja menghela napas panjang pantas saja Ratu melarangnya untuk menceritakan tentang balapan itu. Raja juga tidak akan pernah memberitahu tentang hal itu atau motor kesayangannya akan kena sita.
Tidak lama makanan yang mereka pesan pun datang. Makan malam berlangsung sangat hangat, meski Anita dan Gunawan tak bisa menghentikan keusilan anak-anak mereka.
Setelah acara makan malam selesai, Raja dan Ratu pamit kepada Anita dan Gunawan untuk kembali ke apartemen mereka.
Sesampainya di apartemen, keduanya masuk ke dalam kamar masing-masing. Tak berselang lama listrik di apartemen padam. Bersamaan dengan itu Raja mendengar teriakkan Ratu.
"Raja!"
Raja mencari keberadaan ponselnya. Susah payah mencari dalam kegelapan dan akhirnya ia menemukannya. Raja menyalakan senter yang ada di ponselnya lalu berjalan ke kamar Ratu. Raja membuka pintu kamar Ratu mengarah senter ponsel di sekitar kamar untuk mencari keberadaan Ratu.
"Dek, lo di mana?" Raja tak mendapati Ratu di kamarnya. Raja mendengar Ratu memanggilnya dari dalam kamar mandi.
Saat listrik padam ternyata Ratu sedang berada di kamar mandi. Perlahan Raja membuka pintu kamar mandi. Dengan samar- samar Raja melihat Ratu sedang meringkuk menundukkan kepalanya dan memeluk lutut di sudut kamar mandi.
Raja menghampiri Ratu lalu bersimpuh di hadapan Ratu, "Dek, lo gak apa-apa?"
Dan pada saat itu juga lampu menyala, Ratu menatap wajah Raja dan memeluknya. "Ja, gue takut," rintih Ratu.
Raja merasakan tubuh Ratu yang bergetar di pelukannya. "Sudah jangan takut, listriknya sudah kembali menyala."
Raja mengangkat tubuh Ratu dan membawanya keluar dari kamar mandi. Ia merebahkannya di atas ranjang, tetapi Ratu tidak mau melepaskan dirinya.
Ratu masih menangis di pelukan Raja, Raja mencoba menenangkan Ratu dengan mengusap pelan punggung Ratu.
"Dek, cewek jagoan kaya lo kok bisa takut gelap?" ledek Raja mencoba mencairkan suasana, namun cubitan di perut yang dia dapat.
"Raja, gue serius, jangan mengejekku," rengek Ratu masih memeluk Raja dengan erat.
"Oke, oke. Sorry, Dek, tapi ini udah nyala lampunya. Kalau lo gak lepasin gue, gue bisa mati kehabisan napas," ucap Raja sambil menepuk pelan lengan Ratu, spontan Ratu langsung melepas pelukannya kemudian mengucapkan kata maaf.
Raja menghela nafas panjang lalu berdiri dari atas Ratu. Raja duduk di tepi tempat tidur sambil menyelimuti Ratu.
"Lampunya udah nyala, lo tidur aja Dek. Ini udah malam." Raja mengusap kening Ratu.
Tatapan dan sikap Raja berhasil membuat jantung Ratu seperti sedang berlari maraton, apalagi saat Raja mencium keningnya, itu sukses membuat hati Ratu jantung Ratu ingin meloncat ke luar. Raja berniat meninggalkan Ratu dan kembali ke kamarnya sendiri, tetapi Ratu mencegahnya.
"Ja, please temenin gue tidur malam ini. Gue takut listriknya padam lagi," mohon Ratu.
Raja sebenarnya takut khilaf, tetapi ia tidak tega melihat Ratu. Raja pun mau untuk tidur satu kamar dengan Ratu.
Ratu tersenyum sumingrah dan bersorak dalam hati. Ia menggeser tubuhnya memberi tempat untuk Raja.
Mereka tidur saling berhadapan, tanpa ada guling memisahkan mereka. Untuk sesaat mereka saling memandang tanpa mengeluarkan suara.
Raja menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah istrinya. Ratu bersumpah, perasaanya sudah campur aduk. Tidak kuat menahan perasaannya Ratu menyembunyikan wajahnya di leher Raja.
"Good night, Hubby."
__ADS_1