
Gelak tawa seakan menggema di kamar hotel yang sedang di tempati oleh Angga. Mereka menertawakan Egi dan juga Panji. Panji tidak berhenti-hentinya bergelayut manja di lengan Egi.
"Minggir nggak lo, jijik gue lo kaya gini sama gue." Egi mendorong kepala Panji yang sedang bersender di pundaknya.
"Gue kan kangen sama lo, Gi. Kita kan lama nggak ketemu." Panji berucap dengan nada yang ia buat se manja mungkin membuat Egi bergidik ngeri.
"Minggir lo jauh-jauh dari gue," usir Egi.
"Sombong! Lo nggak inget dulu, kita kemana-mana selalu berdua," goda Panji
"Alaaaaaah sekarang aja lo bilang kaya gitu. Yang gue inget, selama gue di rawat di rumah sakit di Singapura yang jengukin gue cuma Angga, Rini, Ratu sama Raja, nah lo apa, sibuk pedekate sama Gea," sungut Egi namun Panji menanggapinya dengan tertawa geli.
"Sorry, sorry. Lo kan tahu ke Singapura itu butuh biaya banyak, sedangkan gue bayar kuliah aja,,,kalian tahu sendiri kan,"tutur Panji.
Panji memang bukan dari keluarga kaya seperti yang lainnya ayahnya hanya pekerja kantoran dan ibunya berjualan sembako di pasar tradisional.
"Iya sorry, gue bercanda kok, jangan sedih gitu dong," ledek Egi. "Gue seneng banget sekarang bisa kumpul sama kalian di sini, gue nggak nyangka gue kembali seperti biasanya sekarang."
"Lo nyesel nggak? Lo udah ngasih Rini ke gue," tanya Angga tiba-tiba.
"Nyesel sih,,," Egi menghentikan ucapannya untuk melihat ekspresi wajah teman-temannya. "Bercanda kali, serius banget sih kalian." Raja langsung menoyor kepala Egi.
"Gue nggak tahu harus ngomong apa sama lo sekarang, yang jelas gue berterimakasih banyak sama lo untuk apa yang udah lo lakuin sama gue dan Rini," ucap Angga.
Egi tersenyum dan mengangguk kemudian Egi dan Angga bertos dengan beradu kepalan tangan mereka.
Saat mereka sedang bersenda gurau kembali, ada ketukan pintu dari luar kamar itu, Egi bergerak untuk membukanya dan ternyata orang dari salah satu makeup artist yang akan merias Angga. Egi mempersilahkan dua orang makeup artist itu.
Raja, Angga, Aldo, dan Panji memilih untuk duduk di sofa untuk melanjutkan obrolan mereka. Egi memilih untuk duduk di sebelah Raja karena ingin menanyakan sesuatu pada sahabatnya itu.
"Ja, gue mau tanya soal apa yang lo omongin waktu itu sama gue di telepon. Beneran Megan bakal jadi nyokap tiri lo?" Raja yang sedang menyandarkan kepalanya di punggung sofa pun mengangguk.
"Apaaa?" jerit Panji saat mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Egi. "Gue nggak salah denger kan?"
Raja langsung mengubah posisi duduknya. Ia duduk dengan menyatukan kedua tangannya di atas pangkuannya. "Gue udah tanya sama bokap gue dan ternyata itu benar."
"Wah gawat nih," ucap Panji dan juga Egi.
"Gue nyimak aja lah," sela Aldo yang memang tidak tahu akan hubungan Raja dengan perempuan yang bernama Megan itu.
"Ratu udah tahu tentang masa lalu lo sama Megan?" tanya Egi.
__ADS_1
Raja menggelengkan kepalanya, "Gue nggak sanggup cerita sama Ratu. Gue takut akan membuat dia selalu kepikiran."
"Tapi ini nggak bener Raja, seberat apapun lo harus kasih tahu ini ke Ratu, sebelum dia tahu dari orang lain. Dan memang benar Ratu sekarang sedang menahan gejolak dari di hatinya karena melihat sesuatu di sosmed.
"Gue akan usahain untuk cerita sama Ratu tentang hubungan masa lalu gue sama Megan," ucap lirih Raja. "Gue punya firasat buruk akan hubungan gue sama istri gue."
"Sabar, Ja. Lo harus yakin sama hubungan lo dan Ratu. Selama ini kalian bisa ngelewatin setiap masalah yang ada kan." Panji menepuk pundak Raja untuk meyakinkan sahabatnya itu.
"Gaees gue udah siap," ujar Angga yang sekarang penampilannya sudah benar-benar seperti seorang pengantin, tidak seperti beberapa setengah jam yang lalu, penampilannya kacau karena bolak-balik ke kamar mandi merasa khawatir jika ia salah saat mengucapkan ijab kabul nanti.
"Awas loh kalau lo sampai salah ngucapinnya, gue bawa kabur Rini dari sini," goda Egi.
Angga mendengus kesal, bisakah sahabatnya itu tidak mengucapkan kalimat yang membuatnya kesal. "Berani lo ngelakuin itu, gue patahin kaki lo," ancam Angga.
"Iiiiih takut." Egi bergidik ngeri membuat tertawa semua orang yang ada di sana karena Egi sengaja menggoyangkan tubuhnya.
Lemparan bantal Angga tepat mengenai wajah Egi karena merasa kesal sahabatnya itu bertingkah konyol seperti itu.
"Yuk lah cabut, jangan kelamaan di sini nanti malam pertamanya Angga dan Rini mundur lagi," seloroh Egi.
"Kampret"
"Sekarang gue kayaknya nyesel ngundang lo kesini,"sungut Angga.
"Hahahaha."
Egi da Raja menuntun Angga menuju tempat prosesi ijab kabul diikuti oleh Panji dan juga Aldo.
Angga duduk di hadapan orang tua Rini yang akan bersiap untuk menikahkan putrinya dengan dirinya. Angga duduk sendiri karena Rini masih menunggunya di kamar pengantin. Rini akan menyusul ke pelaminan setelah Angga menghalalkan dirinya.
"Hei awas jangan sampai salah, inget ancaman gue tadi," bisik Egi di telinga Angga.
Oh ya ampun adakah yang bisa membantu dirinya untuk menghajar Egi sekarang.
"Sudah siap Nak Angga?" tanya sang Penghulu. Angga langsung mengangguk.
"Bismillahirrahmanirrahim,,,,"
Entah karena memang Angga sudah siap atau karena takut akan ancaman Egi, dengan satu kali saja Angga berhasil menghalalkan Rini.
"Saaah," seru semua.
__ADS_1
Semua bertepuk tangan, Egi dan Raja yabg berada dekat dengan Angga langsung memberi pelukan pada Angga.
"Selamat, Bro," ucap Raja dan Egi secara bergantian.
"Thanks buat kalian semua," sambut Angga.
Egi merasa sangat bahagia namun juga terselip kesedihan di dalam hatinya. Ia berharap agar nantinya ia bisa menemukan jodohnya.
Di kamar pengantin Rini menitihkan air mata bahagianya, kini ia sah menjadi istri dari Angga bukan Egi.
"Selamat ya Rini, Samawa buat lo sama Angga"
Ratu dan Suci langsung memeluk sahabatnya itu.
"Thanks buat kalian, gue nggak nyangka sekarang gue udah resmi menjadi istrinya Angga."Rini tersenyum namun juga sedang memikirkan sesuatu.
"Gue tahu apa yang lo pikirin, Rin," ucap Ratu yang melihat kesedihan di wajah Rini. "Kita berdoa saja semoga Egi segera di pertemuan dengan jodohnya."
"Amiin"
Tidak lama ada seseorang yang masuk ke dalam kamar itu untuk membawa Rini menemui Angga.
Setelah semua prosesi pernikahan selesai kini tinggal resepsi. Para tamu undangan berdatangan mereka menyalami kedua pengantin baru itu. Acara yang dinantikan oleh para lajang akhirnya datang, saatnya pelemparan bunga.
Para lajang percaya jika siapa saja yang berhasil mendapatkan buket bunga yang dilemparkan oleh pengantin akan segera mengakhiri masa lajang mereka.
Semua sudah siap dengan posisi mereka masing-masing, pengantin sudah berdiri membelakangi para lajang yang siap untuk menangkap bunga itu.
Diantara para lajang itu ada Aldo, Panji, dan juga Egi. Mereka bertiga sangat antusias untuk memperebutkan buket bunga itu.
"Satu,,, dua,,, tiga,,,"
Angga dan Rini bersama-sama melempar buket bunga itu ke belakang mereka dan berhasil mendarat tepat di genggaman tangan seseorang yaitu, Egi.
Semua bersorak dan bertepuk tangan untuk Egi, namun tidak untuk Panji dan juga Aldo, mereka memberikan senyum miring pada Egi.
Egi mulai waspada pada kedua sahabatnya itu, Egi merasakan akan adanya mara bahaya. Egi langsung mengambil langkah seribu untuk menghindari dua temannya itu.
Di tempat lain,
Mobil Mercedes Benz e-class sedang melaju di jalan tol namun mendadak mobil itu berjalan tidak terkendali sampai akhirnya mobil itu berputar keluar dari jalur dan tertabrak mobil di jalur itu yang berlawanan. Mobil itu terguling dan melintang di tengah jalan tol itu membuat kemacetan panjang.
__ADS_1