
Tiga Minggu Kemudian
Di Sekolah Tunas Bangsa siapa yang tidak kenal dengan Raja dan Ratu. Semua siswa dan siswi sangatlah mengidolakan mereka. Semuanya menyayangkan hubungan mereka hanya sebatas calon kakak dan adik. Banyak yang mendukung supaya mereka menjadi sepasang kekasih. Meskipun orang tua mereka menikah, tetapi mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali.
Semua itu hanya sekedar harapan, kenyataannya Raja sudah memilih Suci untuk menjadi kekasihnya. Kedekatan Raja dan Ratu membuat Suci marah dan diam-diam meminta Raja untuk tidak terlalu dekat dengan Ratu. Raja sudah menjelaskan statusnya dengan Ratu, tetapi tidak bisa juga membuat Suci mengerti atau lebih tepatnya tidak mau mengerti. Raja frustrasi tidak mungkin untuk menjauhi Ratu.
Raja dan Ratu sedang berada di puncak untuk mempersiapkan acara pernikahan kedua orang tuanya. Namun siapa sangka ada hal yang mengejutkan terjadi.
"Apa?" teriak Raja dan Ratu bersamaan.
Raja dan Ratu tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut mereka. Ternyata acara yang mereka siapkan adalah untuk acara pernikahan mereka sendiri bukan untuk orang tua mereka.
"Pa … apa-apaan ini? Kok jadi Raja sama Ratu yang nikah?" tanya Raja.
"Lah memang dari awal kami merencanakan ini buat kalian. Jangan bilang selama ini kalian mengira yang mau nikah papa sama Anita?" tanya Gunawan.
Raja dan Ratu mengangguk bersamaan. Anita dan Gunawan langsung tertawa lepas.
Dari awal mempersiapkan acara itu, Raja dan Ratu bertanya dalam hati mereka sendiri, kenapa orang tuanya mereka tidak mengadakan pesta mewah melainkan acara tertutup dan itu dilaksanakan di Villa pribadi milik Gunawan? Dan kini pertanyaan mereka terjawab sudah.
"Raja, Ratu. Kalian ini ada-ada saja," ujar Gunawan di sela tawanya.
"Kenapa Deddy sama Mama gak bilang ini dari awal?" tanya Ratu.
"Daddy waktu makan malam bersama sudah mengatakan, tetapi Raja langsung memotong ucapan Daddy," jawab Gunawan.
Raja dan Ratu saling bertukar pandang. Mereka tetap menentang keras perjodohan itu. Gunawan menjelaskan kalau mereka memang sudah dijodohkan oleh ibu mereka masing-masing yang ternyata sahabat dekat. Namun, siapa sangka ibunya Raja lebih dulu meninggal.
Setelah kematian ibunya Raja, Anita jarang sekali bertemu dengan Gunawan karena memang Anita dan keluarganya pindah ke Luar negri dan meninggalkan Ratu bersama neneknya yang memang keinginan orang tua dari Suami Anita. Ratu memiliki adik dan ikut meninggal dalam kecelakaan bersama ayahnya.
Mereka pikir perjodohan itu batal. Namun satu tahun yang lalu, Gunawan dan Anita tidak sengaja bertemu kembali, mereka ingat akan perjodohan itu, dan akhirnya keduanya memutuskan untuk tetap melanjutkan perjodohan itu.
Raja dan Ratu masih belum bisa menerima, terutama Raja. Raja malah meminta papanya saja untuk menikah dengan Anita.
"Kenapa sih, bukan kalian saja yang menikah?" Raja melirik ke arah Ratu.
Anita mendekati Raja dan menggenggam tangannya.
"Raja … Tante mohon sama kamu. Karena Tante percaya sama Raja, makannya tante terusin perjodohan ini. Tante mohon sama Raja supaya jagain Ratu," mohon Anita.
Raja memejamkan matanya sejenak lalu membukanya kembali. Raja berusaha melihat ke arah lain saat Raja melihat mata Anita sudah berkaca kaca menjadi tak tega.
"Raja … Tante mohon."
Tumbang sudah pertahanan Raja saat melihat Anita memohon sampai menangis. Raja memejamkan matanya sejenak sebelum ia menganggukan kepalanya.
"Tapi, Mah … jika Mamah nikah sama Daddy Gun, sama saja, 'kan, Raja bisa jagain aku kaya adeknya." Melihat Raja menyetujui perjodohan itu dengan berat hati, Ratu sangatlah tidak tega.
Ratu mencoba menolak perjodohan itu karena tahu Raja sangat mencintai Suci dan menganggapnya hanya adiknya saja.
__ADS_1
"Ratu, Raja, ini permintaan terakhir istri saya, mamah kamu Raja. Dan soal saya sama Anita, kami tidak ada hubungan apa selain persahabatan. Karena kami sudah memilih pasangan kami masing-masing meski mereka sudah tidak ada di dunia ini," jelas Gunawan kepada Ratu.
"Jadi Daddy mohon sama Ratu untuk setuju dengan perjodohan ini."
Ratu melihat ke arah Raja yang juga sedang melihatnya, setelah menghela napas panjang Ratu pun menganggukkan kepalanya.
Setelah Raja dan Ratu bersiap-siap, kini mereka berdua duduk di hadapan penghulu.
"Saya terima nikahnya Ratu Amelia Wijaya dengan mas kawin tersebut tunai."
"Bagaimana Saksi?" tanya sang penghulu.
"Sah!" sahut para saksi.
Ratu memejamkan matanya saat itu, tidak terbayangkan jika kini sudah menikah dan dengan orang yang selama ini ia impikan. Laki-laki yang pernah menolongnya. Namun Ratu juga tahu jika Raja tidak mencintai dirinya. Ada perempuan lain di hati sang suami. Haruskah dirinya bahagia saat itu?
Setelah acara pernikahan Raja dan Ratu selesai, Anita dan Gunawan mengantar Raja dan Ratu ke apartemen yang sudah Raja tinggali sebelumnya.
Anita memperhatikan anak dan menantunya tidak saling bicara, mereka memilih memandang ke jalanan di samping mereka.
"Kok pada diem-dieman?" tanya Anita.
Raja dan Ratu saling pandang sejenak, mendesah lalu kembali melihat jalanan di luar mobil mereka. Anita dan Gunawan hanya menghela napas panjang. Mungkin mereka masih terkejut dengan semua itu.
Sesampainya di apartemen, mereka berempat turun dan menuju unit apartemen mewah milik Raja. Apartemen berlantai satu dan memiliki dua kamar. Keempatnya duduk di sofa ruang tamu, Ratu pergi ke dapur untuk mengambil air minum dan ternyata di dapur sudah lengkap sampai bahan makanan pun sudah tersedia di kulkas. Mereka benar-benar sudah mempersiapkan semuanya.
Ratu kembali ke ruang tamu dengan nampan berisi empat gelas berisi air putih.
"Makasih, Sayang."
"Iya, Daddy."
Ratu duduk kembali dan bergelayut manja di lengan Anita.
"Kamu ini sudah punya suami masih manja sama Mama. Manja-manjaannya sama Raja sana."
Raja langsung tersedak minumannya, Anita dan Gunawan tertawa lepas. Mereka yakin kedua anaknya sedang menahan malu.
"Mama, apaan sih? Mau mesra gimana? Dia lihat Ratu aja kaya lihat musuhnya."
"Oh ya Raja, Ratu, ini peringatan buat kalian. Raja kamu jangan macam-macam sama Ratu sebelum kalian lulus sekolah."
Dengan polosnya Ratu bertanya kepada Gunawan. "Macam-macam gimana sih Daddy?"
Gunawan menaikan satu alisnya tak percaya anak menantunya sepolos itu.
"Kalian jangan bikin cucu buat kami dulu," sahut Gunawan.
Ratu membelalakan matanya, Ratu langsung menutup mata dan menghentakkan kakinya ke lantai.
__ADS_1
"Daddy!" teriak Ratu.
Sedang Raja bergidik geli di tempatnya.
"Apa lo?"
"Apa?"
Raja dan Ratu saling melotot dan saling melempar bantal sofa. Anita dan Gunawan memijit kening mereka masing- masing, astaga mereka benar-benar tidak akan pernah akur.
Malam semakin larut, keempatnya langsung istirahat, Anita dan Gunawan memutuskan untuk menginap di apartemen karena mereka sangat lelah.
Keesokan harinya Anita sedang membuat sarapan untuk kedua anaknya dan juga besannya. Bersamaan dengan itu, Raja dan Ratu yang sudah siap dengan seragam sekolahnya dan sedang berjalan menuruni anak tangga.
"Pagi Daddy, pagi, Mah," sapa Ratu.
"Pagi, Sayang," balas Anita dan Gunawan bersama.
Di belakang Ratu, ada Raja yang sedang mengaitkan kancing seragam sekolahnya.
"Pagi Pah, pagi Mam."
"Pagi, Sayang."
Anita senang Raja sudah mau memanggilnya seperti Ratu memanggil dirinya.
Keempatnya menikmati sarapan yang dibuat oleh Anita, hanya nasi goreng tetapi rasanya sangat enak. Raja dan Ratu masih tidak bisa akur, mereka selalu saling berebut sesuatu. Setelah selesai sarapan, mereka berempat langsung berangkat ke tujuan mereka masing-masing.
"Raja, papa minta putuskan pacar kamu siapa itu, su - sus Suci," ujar Gunawan saat mereka sudah sampai di parkiran bawah tanah apartemen itu tempat mobil mereka terparkir.
Raja nampak sangat tidak suka dengan itu. "Tapi, Pah-"
"Ingat Raja sekarang kamu sudah punya istri, yaitu Ratu," sela Gunawan.
Raja terlebih dahulu masuk ke dalam mobil meninggalkan Ratu dengan perasaan kesal.
"Sudah Dad … gak usah terlalu dipaksa, kasian kan Raja," ucap Ratu.
Ratu mencium tangan ibu dan mertuanya, lalu masuk ke dalam mobil bersama Raja dan berangkat ke sekolah bersama-sama. Ada raut kekhawatiran di wajah Anita melihat menantunya yang terlihat jelas tidak menyukai anaknya.
Di dalam mobil, Ratu bisa melihat raut wajah kesal Raja. Ratu melirik sekilas ke arah Raja yang masih diam dan terlihat marah. Ratu hanya menghela napas berat.
"Gak usah terlalu dipikirin ucapan dady , gue gak bakalan ganggu hubungan lo sama Suci. Gue juga tahu lo mau nerima perjodohan ini, karena lo kasihan sama nyokap gue."
Raja masih tetap diam, Ratu pun sudah tidak ingin mengatakan apa-apa pun lagi. Ratu meminta untuk di turunkan di halte bis dekat sekolah mereka.
"Lo ngapain minta turun di sini?"
"Gua gak mau, orang orang tahu status kita sekarang." Lebih tepatnya kesal karena Raja sama sekali tidak mau berbicara dengan dirinya.
__ADS_1
Tanpa memperdulikan mendengar panggilan Raja, Ratu dulu turun dari mobil dan menutup pintu mobil sedikit keras.
Tinggalkan jejak kalian