
Sebelumnya Raja yang sedang mencari keberadaan Ratu, tidak sengaja melihat dan mendengar Ratu sedang berbicara dengan seorang perempuan di meja makan. Raja bisa melihat ada raut ketidaksukaan Ratu pada perempuan yang sedang bicara dengannya. Ada apa dengan mereka?
Awalnya Raja ingin menghentikan pertikaian itu, tetapi ia tidak terima jika ada yang berusaha merendahkan sangat istri.
Terlintas ide jahil di pikiran Raja untuk memberi pelajaran pada perempuan yang sudah membuat istrinya kesal itu. Raja berjalan mendekati Ratu dan memeluknya dari belakang. Dengan tidak segan juga, Raja mencium tengkuk serta pipi Ratu di depan Citra. Bukan hanya itu saja, Raja dan Ratu sengaja bermesraan di depan Citra. Keduannya terus mengumbar kemesraan dan tidak peduli dengan pandangan sirik Citra.
"Parah lo berdua, mesra-mesraan di depan orang." Ketiganya melihat Egi yang datang dari arah belakang Raja.
"Biarin, dia juga gak keberatan sama sekali, iya, 'kan, Citra?" tanya Raja, ia ingin tahu bagaimana ekspresi Citra.
"I-ya. Gak apa-apa kok! Mereka sudah menikah," ucap Citra. Namun, di hatinya Citra mengumpat kesal.
Egi ikut bergabung bersama mereka dan memilih duduk di samping Raja. Egi sama sekali tidak merasa risih ataupun cemburu melihat pemandangan di sampingnya.
"Ratu, bikinin gue sarapan dong?" pinta Egi tanpa menghiraukan tatapan horor dari Raja.
"Apa-apaan lo, minta bikinin sarapan tuh sama pacar lo, si Rini," omel Raja. Egi hanya mengedikan kedua bahunya.
Ratu mengambil selembar roti lalu mengoleskan selai strawberry dan memberikannya kepada Egi.
"Terima kasih," ucap Egi. Ia pun langsung beranjak dari kursinya.
"Mau kemana, lo?" tanya Raja.
"Gue mau mandi dan bersiap-siap ke rumah tante Anita. Lagian kalo gue kelamaan di sini, mata gue bisa ternodai," jawab Egi sembari berjalan ke arah kamarnya.
"Ayo, kita juga harus bersiap, Ja," ucap Ratu. Ratu segera turun dari pangkuan Raja.
"Gue juga pulang dulu," pamit Citra.
"Oh iya, lebih cepat lebih baik," ucap Ratu.
Citra mendengus karena secara tidak langsung Ratu sudah mengusir dirinya.
"Daah, Raja, sampai ketemu di acara pernikahan tante Anita." Citra berjalan melewati Raja dan mengusap lengan Raja dengan centilnya.
Ratu membelalakkan matanya, kalau saja Raja tidak menahan tubuhnya, sudah pasti Citra tidak akan keluar dengan selamat dari rumah itu.
"Kenapa kamu nahan aku sih, aku pengin jambak rambut si centil itu," omel Ratu.
"Kamu hobi banget sih jambak rambut orang. Nanti anak orang kenapa-napa, Dek," ucap Raja.
Ratu terlihat sangat tidak suka mendengar ucapan Raja. "Bilang saja kamu suka dipegang-pegang sama si centil itu," tuduh Ratu.
"Gak, Dek!"
__ADS_1
"Aku gak percaya."
Ratu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya dan meninggalkan Raja. Ratu tetap berjalan tanpa menghiraukan panggilan dari suaminya.
Raja mengela napas lalu berbalik dan melihat pak Asep dan bibi Ayu di dekatnya, Raja memohon kepada mereka untuk membantu menjelaskan kepada Ratu.
"Maaf Den, urusan rumah tangga. Saya gak mau ikut campur," ucap Pak Asep.
"Sama Den, bibi juga gak mau ikut campur," sambung bibi Ayu. Keduanya pekerja di rumah itu pergi meninggalkan Raja dengan menahan tawa mereka.
Lagi-lagi Raja menghela napas, ia terpaksa harus membujuk Ratu sendiri. Raja menyusul Ratu yang sudah berada di kamarnya. Raja membuka pintu dan melihat istrinya sedang duduk di tepi ranjang dengan raut wajah kesal. Raja tersenyum dan menghampiri Ratu. Raja pun mengambil posisi duduk bersimpuh di hadapan Ratu.
"Dek, masih marah?" tanya Raja.
"Gak." Ratu menyahut dengan nada ketus.
Raja meraih tangan Ratu lalu mencium punggung tangannya. "Maaf Dek. Aku gak ada maksud buat bikin kesel kamu. Aku hanya gak mau tangan kamu yang halus ini, dipake buat ngasarin orang," bujuk Raja.
"Bodo. Aku tahu kamu suka dipegang-pegang sama Citra. Dia kan lebih seksi dari aku," kekeh Ratu.
"Gak, Dek!"
"Bohong."
Beberapa saat kemudian Ratu sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Ratu kesal pada Raja, karena suaminya itu sudah membuat dirinya terburu-buru seperti itu.
Sebelumnya dirinya dan Raja sudah berada di dalam kamar selama hampir satu setengah jam, Namun belum selesai bersiap. Itu semua gara-gara Raja yang meminta sarapan yang lain padanya. Tidak tanggung-tanggung Raja melakukan itu ranjang dan berlanjut di dalam kamar mandi.
"Dasar seenak sendiri," gerutu Ratu.
Raja melihat bayangan Ratu di balik cermin, istrinya terlihat sedang menggerutu, tetapi Raja justru tertawa geli.
"Kenapa sih, Dek, kok masih cemberut terus. Apa yang tadi masih kurang?" goda Raja.
"Issssh … Raja, jangan godain aku mulu dong, ini udah siang!" omel Ratu.
"Cantiknya kalo lagi ngomel." Raja semakin gencar menggoda Ratu.
Ratu menghentakkan kakinya berulang-ulang, merasa gemas dengan ulah suaminya. "Kalo kamu masih terus godain aku, bisa-bisa kita telat, Sayang." Ratu menggiring Raja keluar kamarnya.
"Oke, Oke, Sayangku," ucap Raja.
Ratu menutup pintu dan menguncinya dan meneruskan aktivitasnya. Ratu membuka handuk kimononya dan menggantikannya dengan gaun putih tanpa lengan. Beberapa menit kemudian, Ratu sudah siap setelah memakai riasan tipis.
Setelah memeriksa penampilannya kembali, Ratu langsung keluar dari kamarnya untuk menghampiri teman-temannya yang sudah menunggunya di lantai dasar.
__ADS_1
Semua orang terpana melihat Ratu saat berjalan menuruni anak tangga. Bahkan Egi sampai bersiul.
"Widih Ratu cantik banget. Gue sewa sehari jadi pasangan gue, boleh gak, Ja." Egi menaikturunkan kedua alisnya.
"Cari mari lo," ucapan Raja dengan menatap tajam ke arah Egi.
"Ya ampun, cucu eyang cantik sekali. Eyang pangling loh," puji Murti.
"Eyang Kakung juga gak nyangka, cucu eyang yang dulu gemuk, sekarang menjadi langsing dan cantik seperti ini," ucap Bagas.
"Udah deh Eyang, jangan muji Ratu terus. Ratu malu," cicit Ratu. Wajahnya bahkan sudah sangat merona.
Raja menghampiri Ratu, ia mengulurkan tangannya untuk menyambut Ratu. Ratu menerima uluran tangan Raja dan melangkah menuruni dua anak tangga sebelum sampai ke lantai dasar.
Ratu langsung melingkarkan tangannya ke lengan Raja, mereka berjalan beriringan menuju mobil yang sudah terparkir di halaman rumah besar itu.
"Raja …," panggil Egi.
"Kenapa?" tanya Raja.
"Gue ikut mobil kalian, ya," mohon Egi.
Ratu dan Raja sama-sama menaikan satu alisnya, mereka heran kenapa mendadak Egi ingin ikut mobilnya, padahal Egi punya mobil sendiri.
"Terus Rini sama siapa, Gi?" tanya Raja.
"Bingung amat, ada anak-anak yang lain juga, 'kan!" jawab Egi.
"Lo mau jadi orang ketiga, di antara Raja sama Ratu?" tanya Angga.
"Gak peduli gue!" Tanpa menunggu persetujuan dari Raja atau pun Ratu, Egi langsung masuk ke dalam mobil Raja setelah sebelumnya ia melempar kunci mobilnya ke arah Angga.
Raja dan teman-temannya bisa menebak kalau ada masalah antara Egi dan Rini. Raja akhirnya membiarkan Egi untuk satu mobil dengannya untuk menenangkan pikirannya.
Di perjalanan Egi tidak berbicara sepatah katapun, ia hanya diam dan memandang ke luar mobilnya.
"Gi, lo kenapa? Ada masalah sama Rini?" tanya Ratu.
"Gak ada!" jawab Egi tanpa ekspresi.
"Terus kenapa sikap lo kaya gini sama Rini?" tanya Ratu lagi.
"Lagi gak mood aja gue!" sahut Egi lagi.
Ratu menghela napas panjang sembari melihat sangat suami. Selama ia mengenal Egi tidak sekalipun Ratu melihat Egi murung dan bersikap seperti itu. Raja dan Ratu memutuskan untuk diam dan tidak bertanya lagi pada Egi. Mungkin memang Egi sedang ada masalah dan belum ingin menceritakan pada mereka.
__ADS_1