Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
RBR 60


__ADS_3

Maaf jika masih banyak typo....


Happy reading....


Setelah kepergian Agung dan keluarganya, Anita menarik nafas lega. Anita mendudukkan dirinya di sofa di sebelah kirinya. Ia memijat kepalanya yang terasa berat. Anita merasa tak enak hati pada Raja apalagi Gunawan. Anita belum memberitahukan kejadian ini pada Gunawan. Bagaimana jika nantinya Gunawan bertanya caranya ia memberitahukannya nanti.


"Jangan terlalu memikirkan hal ini, Anita. Semua masalahnya sudah selesai," ucap Mahendra.


"Aku tahu, aku hanya merasa tak enak hati pada Gunawan. Kamu lihat kan, Raja sampai babak belur begitu dihajar sama Mas Agung," keluh Anita.


Mahendra tersenyum ia mengusap tangan istrinya dengan lembut. "Ayo istirahatlah. Besok kita harus kembali ke Jakarta!" ajak Mehendra.


Raja, Ratu, serta teman-temannya sedang berkumpul di satu ruangan, kamar Ratu dan Raja. Mereka sedang membahas masalah Raja dan Citra yang terjadi beberapa saat yang lalu. Mereka tak percaya jika Citra rela menjatuhkan harga dirinya demi membalas dendam pada Ratu.


Raja meringis saat Ratu mengompres luka lebam di wajahnya dengan air es. Raja melihat wajah Ratu yang nampak sedih juga mata yang sudah berkaca-kaca. Raja memberi kode pada teman-temannya untuk keluar dari kamarnya. Egi dan temannya pun keluar kamar untuk memberi ruang pada Ratu dan Raja.


Setelah teman-temannya keluar kamar serta pintu sudah tertutup, Raja terus diam memperhatikan wajah sedih istrinya. Bahkan Raja sudah melihat air mata yang keluar dari mata Ratu.


"Aku yang luka kok kamu yang nangis?" tanya Raja yang bermaksud untuk menggoda istrinya.


Ratu menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Dilihatnya wajah suaminya dengan tatapan sedih. Dirabanya luka di wajah sang suami lalu mengusapnya.


"Ini sakit banget ya?" tanya Ratu lirih.


Raja mengangguk, diraihnya tangan Ratu yang berada di wajahnya, lalu mengecup punggung tangan Ratu. "Tapi lebih sakit kalo liat kamu nangis, Dek!"


"Dih, gombal." Ratu mencoba tersenyum meski rasanya sangat berat.


Raja menangkup kedua sisi wajah Ratu menatapnya dengan penuh cinta dan dikecupnya kening sang istri dengan lembut dalam jeda waktu yang lama. Ratu memejamkan matanya merasakan ketenangan setiap Raja mengecup keningnya.


Raja menjauhkan tubuhnya supaya bisa menatap wajah cantik istrinya. Diusapnya jejak air mata yang membasahi pipi istrinya.


"Aku minta maaf atas sikap Pakde Agung sama kamu ya," ucap Ratu. Ratu merasa tak enak hati pada Raja, karena secara tidak langsung dirinyalah penyebab Raja mengalami ini.


"Gak apa-apa kok. Ini 'kan cuma salah paham." Ratu sebenarnya menyayangkan atas sikap kakak dari almarhum papanya itu. Mestinya beliau tak main hakim sendiri untuk menyelesaikan masalah itu. Namun yang terpenting kini semuanya selesai, Ratu lega karena semua orang sudah percaya kepada Raja.


"Ja, kenapa tadi kamu gak nyoba ngelak pas pakde mukulin kamu?" tanya Ratu.

__ADS_1


Raja mengubah posisinya. Kini Raja merebahkan dirinya, menjadikan pangkuan Ratu sebagai bantal. "Kalo aku ngelak juga pasti paman kamu gak bakalan berhenti untuk nyoba mukul aku." Ratu tak berhenti mengusap kening Raja.


"Tapi aku gak tega liat kamu, nih wajah kamu jadi jelek begini." Ratu menyentuh luka lebam di pipi Raja dengan sedikit menekannya membuat Raja meringis kesakitan, namun membuat Ratu terkekeh. "Jadi jelek, 'kan," ejek Ratu yang ingin berusaha mencairkan suasana.


"Jelek juga kamu tetep cinta mati sama aku," bangga Raja pada dirinya sendiri.


"Dih, pede banget!"


"Harus."


"Isssh, nyebelin banget sih kamu."


Ratu berulang kali memberi cubitan pada perut Raja, membuat rasa geli di tubuh suaminya. Raja dengan cepat menarik tengkuk Ratu dan membalas dengan mencium berkali-kali pipi Ratu.


"Ampun, Ja. Geli tahu," rengek manja Ratu.


Raja menghentikan dirinya untuk mencium Ratu. Ratu kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Ratu. Raja merasakan posisi nyaman untuk ia merebahkan kepalanya. Raja memiringkan tubuhnya. Wajahnya tepat berada di depan perut sang istri. Dirabanya perut rata sang istri, berharap benih yang sudah ia tanamkan setiap hari cepat tumbuh di rahim sang istri. Raja yang terbawa suasana, mencium berkali-kali perut istrinya.


"Semoga dia cepet tumbuh di dalam perut kamu ya," harap Raja.


"Amiin."


❤❤❤❤


Malam semakin larut, semua orang sudah terlelap tidur. Namun di salah satu kamar, sepasang suami istri masih belum lelah dalam pergulatan malam mereka. Meski tubuh sudah dibasahi oleh keringat meski dengan suhu AC sudah dalam mode dingin. Raja dan Ratu masih betah untuk meluapkan rasa cinta antara satu sama lain dalam penyatuan tubuh mereka. Mereka hanya ingin melupakan masalah yang baru saja mereka alami dan ingin menyisakan kenangan manis di tempat itu sebelum esok hari mereka kembali ke Jakarta untuk memulai rutinitas yang melelahkan.


Malam yang panjang mereka lalui sudah. Lelah mereka terkalahkan oleh kepuasan yang mereka dapat. Raja menggulingkan tubuhnya ke samping Ratu, menjadikan dada polos Ratu sebagai bantal tangannya ia lingkarkan ke perut Ratu. Keduanya masih membuka mata berlomba untuk meraup udara sebanyak mungkin. Setelah nafasnya mereka kembali normal, keduanya kompak menutup mata dan terlelap.


❤❤❤❤


Keesokan paginya Ratu sedang membereskan barang-barangnya saat Raja keluar dari kamar mandi. Raja terlihat segar dengan rambut basahnya, pemandangan yang indah pada pagi hari.


"Udah selesai beres-beresnya?" tanya Raja. Raja duduk di tepi ranjang dan mulai memakai sepatunya.


"Sudah!" Ratu kembali mengecek barang-barangnya kembali sebelum menutup kopernya.


Raja mengeringkan rambutnya yang masih basah sebelum ia memeluk erat istrinya.

__ADS_1


"Ada apa sih, kok tumben manja banget?" Ratu membalas pelukan suaminya. Rasanya sangat nyaman ketika Ratu menyandarkan kepalanya di pundak Raja.


"Lagi pengin aja, Dek. Kalo aku meluk kamu rasanya beban di pikiran aku hilang semua."


Ratu tersenyum senang, Ratu pun juga berpikiran sama dengan Raja. Memeluk suaminya bisa menenangkan pikirannya.


Raja menarik diri, memberi jarak tubuhnya dengan tubuh Ratu supaya bisa melihat jelas wajah Ratu. Diraihnya dua tangan Ratu dan menggenggamnya, Raja mengatakan hal yang ingin dia katakan kepada Ratu.


"Dek! Kita pasti tahu, masalah yang akan kita hadapi kedepannya mungkin akan lebih dari ini. Tapi aku mohon, kita bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin," pinta Raja dan Ratu langsung mengangguk setuju.


Raja meraih kepala Ratu dan mengecup keningnya, sebelum suara ketukan pintu dari depan kamarnya membuat keromantisan mereka terhenti.


"Raja, Ratu, kalian sudah bangun, Nak?" Raja dan Ratu tahu jelas suara siapa itu.


"Sudah, Bun."


"Sudah, Mah."


Ratu melangkah untuk membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan mamahnya masuk.


"Gimana, Sayang, kamu sudah gak apa-apa kan, Nak?" Anita menghampiri Raja lalu mengusap rambut menantunya.


"Gak apa-apa ko, Bun!" Raja tersenyum kepada mertuanya.


"Bunda minta maaf atas nama mas Agung ya. Bunda menyayangkan sikap pakde nya Ratu yang tak mau mendengarkan ucapan bunda." Anita hanya bisa menghela nafas ketika mengingat kejadian semalam.


"Iya, Bun. Raja berterimakasih sama Bunda, semalam udah bantuin Raja." Anita tersenyum tulus kepada Raja.


"Ya sudah kalian sudah siapkan? Ayo sarapan dulu, yang lain sudah menunggu kalian."


"Iya, Bun. Raja sama Ratu turun sebentar lagi," ucap Raja.


"Ya sudah, Bunda turun dulu."


Anita melangkah keluar dari kamar Ratu, dan kembali bergabung dengan yang lain di lantai bawah.


Di dalam kamar Raja dan Ratu sudah siap dengan barang-barangnya. Keduanya keluar bersama-sama. Tangan kiri Raja menggenggam erat tangan Ratu, sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menyeret koper besar mereka.

__ADS_1


__ADS_2