
Raja sedang berusaha membangunkan Ratu. Sungguh itu sudah menjadi ritual hariannya. Semenjak Raja menjadi ketua OSIS dan ketuan kedisiplinan, Raja harus selalu datang lebih pagi. Raja heran tak pernah terlintas sedikitpun dalam benaknya dirinya akan menjadi ketua OSIS. Karena sebelumnya kandidat ketua OSIS yaitu Ratu. Karena scandalnya di sekolah berkelahi dengan Suci, Ratu dicoret sebagai kandidat ketua OSIS.
Dan entah apa yang ada di pikiran teman-temannya di sekolah, bisa-bisanya mereka menjadikan dirinya sebagi ketua OSIS.
"Dek, bangun!" Raja menarik selimut yang menutupi tubuh Ratu. Ratu menggeliat, dia berusaha membangunkan tubuhnya walau sangat berat.
"Apa sih, Ja?" tanya Ratu yang masih menguap, lalu membaringkan tubuhnya lagi.
Raja menggelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang. "Dek, Lo gak bangun, gue cium!"
Bukannya takut, Ratu langsung membalikan badannya dan mengulurkan kedua tangannya. "Sini kalo mau cium. Morning kiss." Ratu yang sudah biasa dengan ancaman Raja.
Raja bergidik ngeri. "Idiih ogah, bau jigong."
Ratu terkekeh geli, lalu turun dari ranjang.
"Gue berangkat dulu, Lo jangan sampai telat lagi. Sarapan juga udah gue siapin." ucap Raja.
"Uuuuum Raja baik banget sih."
Raja mendengus kesal, entah kenapa Raja tak bisa marah pada Ratu. Padahal ini tugas Ratu sebagai seorang istri lalu kenapa jadi dirinya yang harus mengerjakan semuanya. Alasannya adalah karena Ratu tak bisa bangun pagi.
Raja dan anggota OSIS lainya sudah berkumpul di gerbang sekolah untuk melakukan razia kedisiplinan. Para anggota OSIS tak tanggung-tanggung menyita sepatu sampai kaos kaki.
"Hari ini 'kan harusnya pake sepatu warna hitam. Kenapa Lo pake warna biru?" tanya Aldo pada salah satu teman sekolahnya.
"Sepatu hitam gue belum kering, Do!" jawabnya.
"Alesan Lo" sungut Aldo. "Cepet lepasin sepatu lo, terus lari keliling lapangan 5 putaran. Baru sepatu ini gue balikin."
"Lo yang lepasin nih," pinta murid perempuan itu dengan mengarahkan kakinya ke Aldo.
Aldo mendengus kesal. "Oke, gue yang nglepas sepatu lo. Tapi habis itu langsung gue buang ke tong sampah!" sungut Aldo.
Sekarang giliran murid perempuan itu yang mendengus kesal. Murid perempuan itu langsung melepas kedua sepatunya dan memberikannya kepada Aldo. Dia harus ikhlas berjalan tanpa alas kaki ke area sekolah dan harus berlari keliling lapangan sebanyak 5 putaran.
Para anggota OSIS sedang menatap takjub di tengah lapangan. Aneh tapi nyata, murid yang terlambat makin bertambah dan didominasi oleh kaum hawa. Kebanyakan dari mereka adalah murid kelas 10 dan 11. Salah satu di antara anggota OSIS menanyakan alasan mereka sering terlambat adalah Raja. Mereka rela dihukum demi untuk melihat Raja berlama-lama.
__ADS_1
Raja bertolak pinggang, dia sedang menatap kesal ke arah tengah lapangan. Fantastis, baru satu minggu menyandang gelar ketua OSIS makin banyak para murid yang terlambat dan setelah tahu alasan mereka terlambat adalah dirinya, makin membuat Raja kesal.
Raja ingin sekali membuat mereka jera untuk tidak terlambat lagi. Sepertinya hukuman yang biasa Raja berikan tidak membuat mereka jera. Raja menatap ke salah satu murid yang terlambat dan itu adalah istrinya sendiri, Ratu. Kenapa dia bisa terlambat juga?
Raja mengusap wajahnya kasar malah membuat para murid itu makin histeris. Menurut mereka Raja makin cool kalau sedang marah di mata mereka. Tapi tidak bagi Ratu, justru dia merasakan mual di perutnya.
"Kalian belum jera juga? Kalian tahu 'kan hukuman apa bagi yang terlambat?" tanya Raja.
"Tahu kok Kak Raja" jawab mereka serempak.
"Everything I do, pokoknya. Yang penting bisa liat kak Raja terus," sahut salah satu di antara mereka.
Semua anggota OSIS melotot termasuk Raja dan Ratu.
"Makan tuh Raja," guman Ratu dalam hatinya.
Raja makin kesal, kalau seperti itu terus bisa-bisa dirinya yang akan mendapat masalah dari sekolah.
"Oke, hukuman kalian sekarang adalah ngejengkalin nih lapangan." teriak Raja.
"Dan satu lagi. Kalau kalian masih terlambat saya akan minta pihak sekolah untuk memanggil orang tua kalian," lanjut Raja geram.
Semua murid yang berada di lapangan termasuk para anggota OSIS melebarkan mata mereka. Raja mengambil buku catatan dan memberikannya pada Ratu.
"Malu-maluin lo," sungut Raja. Raja heran kenapa Ratu bisa terlambat padahal dirinya sudah membangunkannya lebih pagi. Dan jawabannya adalah Ratu tertidur kembali di meja makan.
Semua murid yang terlambat mengeluh, setelah ini mereka pasti akan merasakan nyeri di lututnya karena harus berjongkok mengukur lapangan dengan jengkal mereka.
Ratu berulang kali menghentakkan kakinya untuk menghilangkan pegal di kakinya karena terlalu lama berdiri. Ratu menunggu satu persatu dari murid yang terlambat selesai mengukur lapangan dan masih belum ada yang selesai.
Entah kenapa menurut Ratu, semenjak Raja putus dari Suci, sikap Raja berubah menjadi dingin. Meski tak mengurangi pesona Raja di matanya.
Hukuman sudah berjalan, Ratu berdiri di tepi lapangan melihat satu persatu murid berbaris untuk mengukur lapangan dengan jengkal mereka.
"Sadis amat suamiku," gumannya Ratu, sesekali Ratu terkekeh menyebut Raja dengan sebutan suami.
Hampir satu jam Ratu menunggu dan mencatat nama murid yang terlambat. Ratu bisa melihat rasa lelah di wajah adik-adik kelasnya. Setelah selesai mencatat nama semua murid yang terlambat, Ratu bergegas kembali ke kelas untuk menyerahkan catatannya kepada Raja.
__ADS_1
Sesampainya di kelas Ratu menghela napas panjang, ternyata jam pelajaran pertama kosong. Ratu langsung menghampiri meja Raja.
"Nih … tugas gue udah selesai!" ucap Ratu sambil menaruh kasar buku catatan untuk murid yang terlambat.
"Lain kali jangan telat lagi," sungut Raja kesal.
"Cuma telat 15 menit."
"Cuma 15 menit?" tanya Raja kesal. "Niat sekolah gak sih. Kalo gak niat balik geh."
Ratu mendengkus lalu dengan santai menarik rambut Raja di hadapan teman-temannya.
"Dasar cowok kulkas, gak bisa apa manis sedikit sama cewek?"
Raja meringis merasakan perih di kulit kepalanya. Teman sekelasnya menatap heran kepada dua temannya itu
"Sakit, Dek"
"Adek?"
Suara teman-temannya menggema di seluruh ruangan kelasnya. Ratu menghentikan tangannya yang sedang meremas rambut Raja.
Raja dan Ratu menatap heran kepada teman-temannya yang juga sedang menatap diri mereka dengan tatapan penuh menyelidik.
"Ngapain pada bengong, kerjain tuh tugas dari pak Hari," titah Raja.
"Lo berdua yang ribut mulu. Gue kawinin baru tahu rasa," sungut ketua kelas mereka yang tak lain adalah Aldo.
"Diem lo, Do," seloroh Raja.
"Udah deh, Ja … kalian cocok kok. Lagian orang tua kalian gak jadi nikah, 'kan. Kenapa gak kalian berdua aja yang nikah?" usul Aldo
Raja memukul lengan Aldo dengan buku yang dia gulung.
"Bawel Lo."
Gak tahu saja gue sama Ratu memang sudah menikah.
__ADS_1