
Resepsi pernikahan Anita dan Hendra diadakan di kediaman Anna. Resepsi bertema garden party dan hanya dihadiri oleh kerabat dekat saja. Anita menghampiri Raja dan Ratu yang sedang duduk bersama teman-temannya.
"Halo, anak-anak," sapa Anita.
"Halo, Tante."
"Pantesan Ratu cantik, mamanya saja cantik," puji Egi.
"Egi ini selalu saja bicaranya manis. Mau bikin Tante diabetes," ucap Anita.
"Enggak dong. Oh iya, Egi lupa. Ada titipan dari mama Egi buat Tante." Egi mengeluarkan kotak persegi panjang dari saju jasnya.
"Sampaikan rasa terima Tante untuk mama kamu ya," ucap Anita disambut anggukkan oleh Egi.
"Tante juga ngucapin terima kasih buatan kalian semua sudah mau datang jauh-jauh ke sini," ucap Anita pada teman-teman Ratu.
"Sama-sama, Tante. Kita 'kan sekalian liburan," balas Angga.
"Bener Tante. Selamat juga buat Tante dan Om Hendra," sambung Egi.
"Terima kasih semuanya. Silahkan kalian lanjutkan obrolan kalian, Tante nemuin yang lain dulu," pamit Anita.
Semuanya kembali mengobrol. Raja dan Ratu memperhatikan dua temannya, Egi dan Rini. Keduanya duduk berjauhan bahkan saling diam. Namun Raja dan Ratu tersenyum tipis ketika kedua saling mencuri pandang.
Ratu dan Raja sudah berniat untuk menyatukan keduanya. Memperbaiki kesalahpahaman di antara kedua temannya itu. Terlintas ide di kepala Ratu, ia juga sudah mengutarakan pada suaminya tentang rencananya.
Ratu membisikan sesuatu di telinga Raja dan suaminya mengangguk, setuju dengan rencana Ratu. Tidak lupa Ratu juga meminta bantuan kepada teman-temannya yang lain.
Beberapa saat kemudian Ratu mendekati Egi dan memintanya untuk menemaninya berjalan-jalan. Egi sempat bingung, kenapa Ratu meminta dirinya untuk menemaninya berjalan-jalan sedangkan Raja ada di antara mereka. Bukan Ratu namanya jika, ia tidak bisa membujuk seorang Egi.
"Oke, oke, ayo! Tapi lo harus jamin keselamatan gue dari amukan suami lo nanti," pinta Egi.
"Beres," ucap Ratu sembari mengacungkan dua ibu jarinya.
Ratu tertawa dalam hati. Suaminya tidak akan marah karena sebelumnya ia sudah meminta izin pada suami tercintanya
Setelah Egi setuju dengan segera Ratu melingkarkan tangannya ke lengan Egi. Ratu membawa Egi keluar dari dari rumah omanya .
"Mau ke mana kita sih?" tanya Egi sembari melihat-lihat sekitar. Suasana terlihat sepi karena sudah jam sembilan malam.
__ADS_1
"Ke taman saja!" jawab Ratu.
"Taman? Malam-malam begini?" Egi merasa bingung.
"Iya."
"Gue curiga sama lo!"
"Curiga apa?"
"Lo gak mau nyulik gue, 'kan?"
"Wah, itu ide bagus juga. Ntar gue minta uang tebusan yang banyak sama tante Marisa, lumayan uangnya bisa gue pake pergi honeymoon bersama Raja ke luar negeri," gurau Ratu.
"Jangan sok miskin deh." Egi mencubit pipi Ratu merasa gemas pada perempuan yang pernah ia sukai.
Egi dan Ratu akhirnya tergelak bersama-sama. Meski Egi sudah menyatakan cinta terang-terangan kepada Ratu dan sudah ditolak terang-terangan juga oleh Ratu, keduanya masih tetap bersahabat baik. Bahkan hubungan mereka sangat dekat.
Egi tahu kalau Ratu pasti sedang merencanakan sesuatu, namun ia tidak tahu apa yang sedang Ratu rencanakan. Egi tetap pasrah ke mana pun Ratu akan membawanya.
Tidak lama Ratu dan Egi sampai di sebuah taman. Ratu masih betah melingkarkan tangannya di lengan Egi. Ratu mencari seseorang di sana, setelah mengedarkan pandangannya Ratu tersenyum saat melihat sosok yang dia cari sedang duduk di bangku taman.
"Hai, Rin … lo di sini?" tanya Ratu.
"Iya, tadi Angga ngajakin aku ke sini. Dia katanya mau beli minum dulu, tapi sampai sekarang dia belum balik," jawab Rini. "Kalian juga ngapain ke sini?"
Egi bertolak pinggang dan menatap Ratu. Egi tahu pasti itulah yang sedang Ratu rencanakan untuk mempertemukan dirinya dengan Rini. Pasalnya, mereka baru saja berpapasan dengan Angga saat akan ke taman itu.
"Ini rencana lo?" bisik Egi.
Ratu mengangguk seraya terkekeh. "Selesaikan salah paham di antara lo berdua. Gue pergi dulu," ucap Ratu.
Ratu melangkah pergi, tanpa menghiraukan panggilan dari Egi. Melihat Ratu menjauh Egi menggeleng dan berdecak kesal.
"Ayo, kita pulang!" ajak Egi pada Rini.
Egi melangkah meninggalkan taman namun Rini masih diam dan tidak bergerak. Rini mengumpulkan keberaniannya sebelum memutuskan untuk memangil Egi.
"Egi aku mau minta maaf." Ucapan Rini langsung menghentikan langkah Egi.
__ADS_1
Rini masih menatap punggung Egi. Laki-laki tidak mau menoleh meskipun sudah berulang kali Rini membujuknya. Pada Akhir Rini memilih untuk mengambil tindakan terlebih dahulu.
Rini berjalan lalu berdiri di depan Egi. Dari sikap dan raut wajah Egi, Rini bisa melihat rasa kecewa Egi terhadapnya.
"Maafin aku atas ucapanku kemarin malam. Aku terpengaruh oleh temanku itu," ucap Rini.
Rini berharap Egi mau melihatnya, tetapi nihil Egi justru memalingkan wajahnya.
"Aku tahu kamu marah, kecewa, dan tersinggung atas ucapanku. Aku benar-benar minta maaf padaku." Rini menyatukan kedua tangannya di depan Egi.
"Kamu tahu gak, Rin? Ucapan kamu itu sudah bikin aku kecewa. Jika memang kamu gak mau nerima cinta aku, lalu kenapa kamu memberikan aku sebuah kesempatan dan harapan? Apa kamu hanya ingin mempermainkan aku, hah?"
"Gi sebenarnya, aku juga sayang sama kamu. Hanya saja aku ragu, aku merasa tidak pantas untuk kamu," ucap Rini dengan wajah yang menunduk karena malu.
"Pantas gak pantas bukan lo yang menilai. Itu hanya alasan untuk menolak gue secara halus." Egi pergi dari hadapan Rini, tetapi Rini langusng mengejarnya dan mencegahnya pergi.
"Aku beneran suka sama kamu," ucap Rini. "Aku mesti gimana agar kamu percaya sama aku?"
"Diam," ucap Egi.
"Gak sebelum kamu terima permintaan maaf aku," tolak Rini.
"Kenapa maksa?" Egi ingin sekali menggoda Rini.
"Kamu yang membuat aku gak punya pilihan," ucap Rini. "Oke jika kamu memang gak mau lagi menjalin hubungan dengan aku. Tapi setidaknya jangan diam seperti tadi. Bicaralah pada …." Ucapan Rini terhenti saat Egi tiba-tiba saja mencium bibirnya. Rasa terkejut membuat Rini mendorong Egi.
"Kenapa kaya gitu. Kalau ada orang lain yang lihat bagaimana?" Rini mengusap bibirnya.
"Cerewet lo. Ayo pulang." Egi merangkul Rini membawanya pergi dari taman.
Egi masih merangkul Rini. Mereka akan kembali ke tempat pesta. Sepanjang perjalanan keduanya kembali bicara dan meresmikan hubungan baru mereka. Sesampainya di sana, ia berkumpul dengan teman-temannya.
"Ada apa? Kenapa kalian diam?" tanya Egi pada teman-temannya.
"Kalian kembali secepat ini. Apa kalian sudah menyelesaikan masalah kalian?" tanya Panji disambut anggukkan kepala oleh Rini juga Egi.
"Tapi ada masalah baru yang akan muncul." Angga menunjuk ke arah tidak jauh dari mereka. Ternyata Raja sedang berdansa dengan Citra.
"Wah, ini mah lebih parah. Bisa ada perang dunia ketiga nih," ucap Egi yang membuat teman-temannya menahan tawa.
__ADS_1
"Udah tahu istrinya kaya singa betina masih saja nyari gara-gara," imbuh Alan.