
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian.....
Happy reading 😘😘😘
Pukul empat sore, resepsi pernikahan Raja dan Ratu sudah berlangsung. Mereka melakukan prosesi pernikahan menggunakan adat Jawa. Berbagai macam prosesi mereka lakukan, dari Balangan gantal, kedua mempelai saling melemparkan daun suruh yang diikat dengan benang putih (Lawe) ke dada pasangannya. Wijikan, mempelai pria menginjak telur mentah dan setelah itu mempelai wanita membasuh kaki mempelai pria. Bobot timbang, ayah dari mempelai wanita memangku kedua pengantin di atas kursi pelaminan. Karena papa kandung Ratu sudah meninggal, Ratu meminta Mahendra untuk menggantikan posisi papa kandungnya. Kacar kucur, mempelai pria mengucurkan sejumlah yang receh dan biji-bijian kepada mempelai wanita ke atas sapu tangan yang di letakan di atas pangkuan mempelai wanita. Dahar kembul, kedua mempelai makan dengan saling menyuapi. Dan yang terakhir adalah sungkeman, dimana kedua mempelai duduk bersimpuh di hadapan kedua orang tua mereka.
Anita mengusap kepala anaknya saat Ratu duduk bersimpuh di hadapannya. Air mata haru Anita tidak bisa ia bendung saat melihat putri kecilnya sudah tumbuh menjadi dewasa bahkan sekarang putri kecilnya sudah menikah. Anita segera menghapus air matanya dan mendaratkan kecupan sayang di kening Ratu saat putrinya itu mendongakkan kepalanya.
Selesai Raja dan Ratu sungkem kepada Mahendra dan Anita, kini keduanya sungkem di hadapan Gunawan selaku ayah dari Raja, sedangkan pengasuh Raja diminta untuk mewakili ibunya yang sudah meninggal. Pengasuh Raja sangat beruntung diberi kehormatan untuk itu, beliau benar-benar tidak menyangka bayi yang dulu ia asuh sudah menjadi seorang suami. Pengasuh Raja itu benar-benar merasa bahagia bisa mengasuh anak baik seperti Raja. Dan yang terakhir adalah dimana Ratu sungkem kepada suaminya, Raja. Ratu merasa bahagia bisa bertemu dengan laki-laki yang kini berstatus suaminya yang sudah hampir dua tahun.
Akhirnya prosesi pernikahan itu selesai, Raja dan Ratu kembali ke ruang ganti untuk mengganti pakaian mereka. Raja dan Ratu mengganti pakaian adatnya dengan pakaian modern.
Keduanya saling menatap saat mereka sudah selesai mengganti pakaian mereka.
"Capek nggak, Dek?" tanya Raja.
"Dikit, Yank."
Raja meraih dua sisi wajah istrinya yang terlihat sangat cantik itu. Kecupan hangat Raja berikan di kening istrinya. Ratu hanya bisa memejamkan matanya merasakan kecupan itu sampai omelan Alan dan Suci mengakhiri suasana romantis itu.
"Pantes lama banget, pengantinya malah lagi asik berduaan di sini," ledek Alan.
"Sirik aja lo. Makanya cekepan nikahin tuh Suci," balas Raja.
"Yee, gue kan nungguin kalian dulu baru kita nyusul, ya nggak, Beb?" ujar Alan pada Suci.
Ratu memicikan matanya kepada kakak tirinya itu, "Jangan bilang kalian sudah ada rencana untuk nikah."
Ratu mendapat jawaban dari senyum malu-malu Suci. Ratu langsung memeluk Suci dan mengucapkan selamat. "Akhirnya kalian mau nikah juga."
"Gue nggak dipeluk?" protes Alan pada Ratu.
"Ngarep," cibir Ratu.
Suci dan Raja terkekeh melihat Ratu dan Alan yang tidak pernah akur.
__ADS_1
"Ya sudah, yuk. Tamu-tamu udah pada nunggu kalian," ajak Suci.
Raja berjalan menggandeng tangan Ratu dengan Alan dan Suci berjalan di belakang mereka. Kini resepsi malam masih berlanjut, Ratu dan Raja harus bersiap untuk menyambut para tamu undangan kembali.
Raja dan Ratu sampai di pelaminan, MC acara itu meminta Raja dan Ratu untuk melempar bunga terlebih dahulu untuk yang masih lajang ataupun pasangan yang belum menikah. Ratu dan Raja berdiri membelakangi para tamu yang bersiap untuk menangkap bunga. MC mulai menghitung dan dalam hitungan ketiga, Ratu dan Raja melempar bunga ke belakang mereka.
Semua mata memandang saat seseorang berhasil menangkap buket bunga itu. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Alan. Sorak tepuk tangan terdengar saat Alan duduk bersimpuh di hadapan Suci. Meski mereka sudah bertunangan tetapi Alan tetap mencoba melamar Suci kembali.
"Will you marry me, Honey?"
Tidak butuh waktu lama untuk Suci menganggukkan kepalanya tanda ia menerima lamaran yang kedua kalinya dari Alan.
Raja turun dari pelaminan menggandeng tangan Ratu untuk bergabung bersama teman-temannya. Kebahagiaan jelas terpancar dari keduanya seperti pasangan yang baru saja menikah.
"Kita sambut pasang pengantin kita, Raja dan Ratu," seru Panji. Tepukan tangan teman-temannya mengiringi kebahagiaan Raja dan Ratu.
Raja menarik kursi untuk Ratu duduk. Ratu, Raja, Alan, Suci, Rini, Angga, Panji, dan Aldo, duduk di satu meja bundar yang sama. Para sahabat itu merasa ada yang kurang dari mereka, yaitu Egi. Meski begitu mereka semua bahagia karena Egi sudah sadar dari komanya.
"Thanks ya buat kalian semua. Kalian selalu ada bersama gue sama suami gue saat kami dalam masalah," ucap Ratu.
Suci dan Rini beranjak dari kursi mereka dan memeluk Ratu. Siapa yang menyangka hubungan mereka akan sedekat ini.
"Makanya cari pacar, biar nggak jomblo," ledek Alan.
"Nggak lah, gue mau fokus kuliah dulu, kerja baru cari pacar."
Angga merasakan getaran di saku celananya, ia melihat ada panggilan video dari Egi. Angga dengan cepat menerima panggilan itu dan langsung mengarahkan kamera belakang ke arah Raja dan Ratu.
"*Udah liat kan, tuh Raja sama Ratu," ucap Angga.
"Yah, gue mendadak sakit hati nih, liat mereka," gurau Egi dari seberang panggilan*.
Tawa kecil tergambar di bibir Raja dan juga Ratu. Rini berjalan ke sebelah Angga dan duduk di sebelahnya, ingin sekali Rini melihat kekasihnya yang sudah lama ia rindukan, namun Egi langsung memutus panggilannya, ada apa dengan Egi dan Rini.
Malam semakin larut, dan pesta pun telah usai. Raja menuntun Ratu menuju kamar mereka. Ratu hampir saja tidak bisa berjalan karena terlalu lama berdiri untuk menyalami semua tamu undangan.
"Mau digendong, Dek?" tawar Raja.
__ADS_1
"Nggak ah, malu." tolak Ratu.
"Masih malu-malu aja sih." Raja menarik hidung istrinya.
Meski usia pernikahan mereka sudah hampir dua tahun, keduanya masih sangat mesra. Raja dan Ratu sudah sampai di depan kamar mereka yang sudah dipersiapkan oleh teman-temannya. Raja mulai membuka pintu kamar itu, semuanya terlihat gelap. Raja menaruh kartu di tempatnya yang tertempel di dinding lalu menyalakan lampu kamar mereka. Raja dan Ratu terkejut melihat keadaan kamar mereka
"Yank, ini kamu yang siapin semua?" tanya Ratu, Raja pun menggeleng.
Jujur raja juga tidak tahu semua itu karena kamar itu di siapkan oleh teman-temannya. "Bukan, Dek. Ini pasti kerjaan anak-anak."
Raja merasakan getaran di dalam saku jasnya dan ternyata dari Angga.
"Suka nggak kado dari kami semua?"
Raja tersenyum lalu menentukan pesan balasan untuk Angga.
"Thanks"
Ponsel Raja bergetar lagi.
"Jangan lupa bikin ponakan lagi buat gue"
"Beres"
Raja menaruh ponselnya ke meja di samping ranjang lalu menghampiri Ratu yang terlihat kesusahan membuka gaunnya. Raja membantu menarik resleting gaun Ratu yang berada di belakang tubuh Ratu.
Resleting itu mulai ditarik turun oleh Raja dan menampakkan pundak mulus Ratu. Raja mengecup pundak mulus itu berulang-ulang lalu mendekap tubuh Ratu. Sudah sebulan lebih Raja tidak menyentuh Ratu pasca keguguran dan malam ini ia benar-benar akan melepaskan rasa rindunya pada Ratu.
"Dek, aku kangen sama kamu," ucap Raja. Raja terus mengecup perpotongan leher Ratu membuat Ratu merasa geli.
Raja membalik tubuh Ratu setelah meloloskan gaun putih itu dari tubuh Ratu. Mereka bersua akhirnya saling mengecup bibir, tubuh mereka sudah merasakan hawa panas. Namun semua itu terhenti saat Ratu mengerang merasakan sakit di perutnya. Segera Ratu berlari ke kamar mandi saat merasakan ada sesuatu yang mengalir dari pusat intinya.
Raja mengetuk pintu kamar mandi saat Ratu sudah terlalu lama di dalam. "Dek kamu nggak kenapa-napa kan di dalam?"
Tidak lama Ratu membuka pintu dan menyumbulkan wajahnya saja. Ratu mengisyaratkan agar Raja mendekat ke arahnya. Ratu membisikan sesuatu yang akhirnya membuat Raja membelalakkan matanya.
__ADS_1
"Kenapa datangnya nggak pas banget sih waktunya," omel Raja saat dirinya harus keluar dari kamar hotel untuk mencari pembalut untuk sang istri yang ternyata datang bulan.