
Raja berangkat ke sekolah bersama Ratu, kini Raja tidak membiarkan Ratu berjalan kaki dari halte bis. Semuanya teman-temannya tidak mengetahui status mereka yang sepasang suami-istri melainkan kakak beradik jadi tidak akan ada yang curiga jika keduanya selalu berangkat bersama.
Sampai di gerbang sekolah, Raja menurunkan kaca mobilnya untuk menyapa Suci. Rasa kesal tergambar jelas di wajah Suci yang melihat Ratu duduk di samping Raja, apalagi saat Ratu sengaja melingkarkan tangannya ke pundak Raja.
"Yank, aku masuk dulu," pamit Raja.
Suci tersenyum terpaksa dan menganggukkan kepalanya.
"Dah Suci, Raja-nya gue pinjem dulu." Ratu segera menutup pintu kaca mobil di sebelah Raja, dan semakin membuat kesal Suci.
Suci masih menganggap hubungan Raja dan Ratu kakak beradik, tetapi karena mereka tidak ada hubungan darah membuat suci sedikit cemburu.
Ratu tersenyum puas melihat wajah kesal Suci. "Enak saja mau ngelarang gue deket sama suami gue sendiri," pikirnya.
Raja memarkirkan mobilnya lalu keluar dari mobil bersama Ratu. Namun Raja dibuat kesal dengan kedatangan Alan.
Saat Ratu akan membuka pintu, ada seseorang yang membukakan pintu untuknya, siapa lagi kalau bukan Alan.
"Pagi, Ratu ku," sapa Alan.
Ratu tersenyum canggung, "Eh β¦ pagi juga. Makasih udah bukain pintu buat gue."
"Apa sih yang gak buat lo," gombal Alan.
Raja mendengus kesal, lalu berjalan menghampiri Ratu. Raja berdiri di antara Alan dan Ratu lalu mencengkram kerah seragam Alan.
"Jangan macam-macam lo sama Ratu."
Alan tersenyum miring lalu menyingkirkan tangan Raja. "Santai bro, lo kenapa? Ini urusan gue sama Ratu. Jadi lo ..." Alan menunjuk dada Raja dengan jari telunjuknya. "Jangan ikut campur urusan gue sama Ratu."
Raja mulai kesal melihat tingkah tengil Alan, Ratu yang mulai melihat suasana semakin panas mencoba memisahkan mereka dengan berdiri di tengah-tengah mereka.
"Udah Ja, Alan gak ngapa-ngapain gue kok."
"Awas ya, kalo lo berani macam-macam sama Ratu, lo bakalan berurusan sama gue," ancam Raja
Alan tersenyum sinis, mereka tidak sadar kalau sedang menjadi tontonan teman-temannya. Suci tiba-tiba datang, karena melihat kerumunan di halaman parkiran sekolahnya.
"Ada apa ini?" tanya Suci, dia sudah berdiri di antara Alan dan Raja.
"Gak ada apa-apa kok, yank. Ini cuma ada salah paham," jawab Raja.
__ADS_1
"Salah paham apa? Jelas-jelas lo kurang kerjaan pake acara ngelarang gue deket sama Ratu. Gue tahu hubungan lo sama Ratu, tapi gak gitu juga. Lo gak berhak ngatur-ngatur kehidupan pribadi Ratu."
Raja semakin geram, Raja mencengkram kemeja Alan, tetapi Suci menarik tangan Raja dan menjauhkan dari Alan.
"Alan bener, Ja, aku juga gak suka kalau kamu terlalu deket sama Ratu. Meskipun dia adek kamu tapi tetep dia gak ada hubungan darah sama kamu. Aku cemburu, Ja."
"Tapi, Yank -"
"Raja, kalo kamu masih kaya gini terus kita sebaiknya putus."
Raja diam tak tahu harus berkata apa, satu sisi adalah istrinya dan satu sisi ada gadis yang sangat dia cintai. Ratu mengepalkan tangannya, ingin sekali dia berteriak gue istrinya Raja, tetapi dia tidak bisa dan tidak mungkin.
"Eh Ci, lo kok malah jadi ikutan ribut. Lo itu ketua kedisiplinan. Bukannya misahin mereka malah bikin situasi tambah runyam," sembur Rini tiba-tiba.
Ratu menarik tangan Rini dan pergi dari parkiran menuju kelasnya. Masa bodo dengan Raja dan lainnya. Sesampainya di kelas Ratu memutuskan untuk bertungkar tempat dengan teman sebangku Rini.
"Dek, lo kenapa pindah tempat duduk? tanya Raja.
"Lo gak denger tadi. Cewek lo gak mau ngeliat lo deket-deket sama gue," sahut Ratu.
Sebelum Raja bersuara, bunyi bel lebih dulu terdengar. Raja membuang napas pelan dan duduk di kursinya. Sepanjang pelajaran Raja terus memperhatikan Ratu.
Mungkin gue salah nerima perjodohan ini, gue pasti bakal terus nyakitin dia, pikirnya.
"Eheeeem, berasa obat nyamuk gue," ucap Rini.
Ratu tersenyum dan merangkul sahabatnya. Alan pun memanggil salah teman temannya untuk menemani dan bergabung bersamanya.
Raja kembali ke aparetemen setelah mengantar Suci pulang, tetapi tak mendapati Ratu. Raja sudah menghubungi Ratu beberapa kali, tetapi tak diangkat bahkan ponsel Ratu sudah tidak aktif.
"Pasti lagi jalan sama Alan."
Pukul delapan malam Ratu kembali ke apartemen dan mendapati Raja sedang makan malam sendiri di meja makan. Tak ada niatan mereka untuk saling menegur satu sama lain.
Ratu berjalan melewati Raja dan segera masuk ke dalam kamarnya. Raja menebak pasti Ratu pergi bersama Alan, karena dirinya melihat Alan dan Ratu naik mobil bersama saat pulang sekolah.
Saat Raja sedang membereskan bekas makanannya dering ponsel miliknya berbunyi. Dilihatnya nama yang tertera di layar ponselnya, mama Anita.
Raja mengerutkan keningnya, tumben sekali ibu mertuanya menghubunginya. Raja kemudian menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.
"Hallo, Mam."
__ADS_1
Raja tersentak saat Anita menanyakan Ratu sudah kembali ke apartemen apa belum. Ternyata seharian Ratu berada di rumah mamahnya. Anita juga meminta maaf pada Raja, Anita tahu kalau Ratu pulang ke rumah diantar oleh Alan dan mengira kalau mereka ada hubungan. Anita meminta maaf atas sikap kekanakan Ratu dan meminta tolong untuk mamahami sikap manja Ratu serta mencoba untuk menerima perjodohan mereka.
Raja mengakhiri sambungan teleponnya dengan ibu mertuanya. Kemudian berjalan menuju dapur untuk membuat makan malam untuk Ratu. Raja mendengar kalau Ratu pulang tanpa mau makan apapun. Raja menyiapkan nasi goreng untuk Ratu dengan telor mata sapi di atasnya.
Raja menngetuk pintu kamar Ratu. Tak lama Ratu membuka pintu untuk Raja. Raja meminta izin untuk masuk ke dalam, Ratu mengangguk mengizinkan Raja masuk tanpa ingin bersuara sedikitpun.
"Gue bikinin makan malam buat lo, kata nyokap lo belum makan malam." Raja menyodorkan piring berisi nasi goreng dengan telur ceplok di atasnya.
"Kenapa lo gak bilang kalau mau ke rumah mama? Bareng sama si Alan lagi, mama jadi salah paham sama lo, Dek."
Ratu terus memandang wajah Raja dalam diam. Pasti mamahnya sudah memberi tahu tentang kejadian waktiu di rumah. Saat Alan menyatakan persaannya kepada dirinya, namun bertepatan dengan itu Anita datang dan melihat Alan sedang menggenggam tangannya.
Mamahnya salah paham kepadanya, Anita mengira kalau Ratu mempunyai hubungan dengan laki-laki lain selain Raja. Ratu sudah berulang kali memberi tahu kepada mamahnya kalau tak ada hubungan apa-apa antara dirinya dengan Alan.
"Gue mina maaf sama lo Dek, gue belum bisa mutusin Suci. Gue masih sayang sama dia," ucap Raja tiba tiba.
Ratu masih terus terdiam mendengar pengakuan Raja, sakit memang, tetapi dia juga tidak bisa memaksa Raja. Ratu mulai memakan makanan yang di buat Raja. Namun baru memasukan satu sendok nasi goreng ke dalam mulutnya, Ratu tiba-tiba merengek.
"Ja lo mau bikin gue diabetes apa?"
Raja mengerutkan keningnya tidak mengerti maksud Ratu. Kemudian Ratu menyuapi Raja nasi goreng yang Raja buat sendiri. Dengan ragu Raja membuka mulutnya, satu suapan masuk ke dalam mulutnya, kemudian Raja tersenyum kikuk. Ternyata dia memasukan gula bukannya garam, menjadikan rasa nasi goreng menjadi manis bukan gurih. Raja menyesal tidak mencicipinya terlebih dahulu.
"Maaf ya, Dek."
"Raja gue laper. Gue mau makan pizza, burger, kentang goreng β"
"Banyak amat."
"Ini sebagai ganti nasi goreng manis itu."
Raja mendengkus, satu kesalahan harus ia bayar begitu banyak. Terpaksa Raja mengiyakan kemauan Ratu untuk memesan beberapa makanan yang dia mau. Pizza, burger, kentang goreng, dan ayam bakar. Bahaya kalau perempuan lagi galau, perut bisa berubah jadi gentong.
"Dek, gue minta tolong kalo lo emang mau jauhin gue di sekolah, oke. Tapi di rumah gak ada Suci, 'kan, lo masih mau jauhin gue juga?"
Ratu tersenyum jahil mendengar ucapan Raja. Ratu mencondongkan badannya menatap Raja.
"Ja, lo gak takut, cinta lo beralih ke gue."
Raja mengangkat satu alisnya, lalu menjaukan muka Ratu dengan telapak tangannya.
"Lo jadi cewek pe-de banget sih."
__ADS_1
Happy reading gaesπππ