Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
Rasa Tidak Percaya


__ADS_3

Mohon dukungannya, Like, Rate, vote, favorit dan komentarnya.


Happy reading


Raja dan Ratu sedang berdiri di samping mobil mereka. Keduanya sama-sama melipat kedua tangan di depan dada sambil menatap tajam seorang laki-laki seumuran mereka. Anak dari Hendra, calon suami Anita, yang mereka kenal dan sering mereka sebut sebagai perusuh, cowok tengil, dia adalah Alandra atau yang sering mereka panggil Alan. Mereka benar-benar terkejut


Alan berdiri dengan memasukan kedua telapak tangannya ke saku jaketnya. Berdiri dengan santai, seolah tak terpengaruh oleh tatapan tajam kedua orang sedang berdiri di hadapannya.


"Jadi, lo anaknya om Hendra?" tanya Ratu dengan tatapan tajamnya.


"Hmm," jawab Alan datar.


"Bukannya nyokap lo masih hidup?" Kini giliran Raja yang bertanya.


"Mereka udah resmi bercerai lima bulan yang lalu!" Alan menjawab dengan nada yang sangat malas.


Semuanya kembali diam. Di dalam benak Raja dan Ratu mengatakan apa maksud semua itu? Bagaimana bisa mereka akan mempunyai saudara seperti Alan.


"Jadi kalian sudah menikah hampir satu tahun?" Kini giliran Alan yang bertanya pada kedua orang yang ada di hadapannya.


"Bukan urusan lo," jawab Raja.


Alan tersenyum miring, "Lo masih aja jutek sama gue. Sebentar lagi kita bakal jadi saudara, 'kan," ucap Alan diiringi dengan senyum miringnya.


"Gue ogah punya soudara kaya lo," tolak Ratu.


"Gampang! Lo tinggal bilang sama nyokap lo untuk batalin rencana pernikahannya sama bokap gue."


"Lo!" Ratu menggeram kesal.


Ratu menghentakkan kakinya berulang-ulang. Kedua tangannya ia gerakan seolah-olah ingin mencakar wajah Alan, sedangkan Alan tersenyum puas bisa membuat kesal calon adiknya itu.


Ratu tak bisa berbuat apa-apa. Ratu tak ingin menjadi anak yang egois, karena masalah pribadinya dengan Alan, mengorbankan kebahagiaan orang tua tunggalnya itu.


"Menyebalkan!" sungut Ratu.


"Tapi bagaimana ya, jika semua orang di sekolah tahu status kalian yang sebenarnya?" Alan menyunggingkan senyum liciknya.


"Mau lo apa, Alan?" Raja tahu apa maksud ucapan Alan. Pasti Alan akan memanfaatkan situasi ini.

__ADS_1


"Lo emang calon saudara yang pengertian." Alan berucap pada Raja dengan tangannya yang memegang pundak Raja.


"Singkirin tangan kotor lo!" Raja menyingkirkan tangan Alan dari pundaknya.


"Oke, fine." Alan mengangkat kedua tangannya ke udara sebelum ia memasukan kedua telapak tangannya kembali ke saku jaketnya. "Gue minta, jangan sampai orang tahu, terutama bokap gue tentang hal yang menimpa Suci dan apa yang sudah gue lakuin sebelumnya kepada Ratu."


"Tanpa lo minta, gue juga akan melakukannya itu." Ratu memotong ucapan Alan.


"Bagus!"


"Gak ada lagi, 'kan?" Ratu menarik tangan Raja untuk masuk ke mobilnya.


"Buru-buru amat!"


Ratu dan Raja kembali menoleh ke arah Alan. "Mau apa lagi?" tanya Raja.


"Bantuin gue buat belajar. Gue gak mau lulus dengan nilai di bawah rata-rata. Kalau nilai gue jelek fasilitas yang bokap gue kasih ke gue, bisa dicabut!" pinta Alan.


Raja dan Ratu saling pandang, melipat bibir masing-masing, sebelum akhirnya mereka tertawa lepas, bahkan mereka sampai memegangi perut mereka sendiri. Mereka seolah tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Alan.


"Ini beneran lo bukan sih, Lan?" tanya Ratu di sela tawanya.


Alan berbalik dan membuka pintu mobil yang ada di belakangnya. Namun, baru Alan akan masuk ke dalam mobilnya, Raja memanggil dirinya.


"Apa lagi? Belum puas ngetawain gue?" sungut Alan.


Raja menggelengkan kepalanya, "Gimana keadaan Suci?" tanya Raja


"Dia baik-baik saja. Dia juga udah di pindahin ke rumah sakit di Jakarta. Dia juga minta gue buat nyampein ke kalian, Suci pengin ketemu sama kalian!" Setelah mengucapkan itu, Alan masuk ke dalam mobilnya dan melaju meninggalkan restauran.


Ratu dan Raja saling pandang. Raja mengajak Ratu masuk ke dalam mobil mereka. Setelah membantu memasang sabuk pengaman, Raja segera melajukan mobilnya meninggalkan restauran menunju apartemennya. Sepanjang perjalanan Ratu dan Raja masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


****


Setelah jam pulang sekolah, Raja dan Ratu memutuskan untuk pergi menjenguk Suci di rumah sakit. Alan sudah memberitahukan pada mereka nama rumah sakitnya. Keduanya langsung melesat ke rumah sakit dengan masih memakai seragam sekolah.


Satu jam mereka sampai di rumah sakit. Keduanya langsung menuju tempat di mana Suci di rawat. Raja dan Ratu berjalan dengan bergandengan tangan menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Langkah mereka terhenti di salah satu ruang rawat rumah sakit itu. Keduanya masuk setelah sebelumnya mengetuk pintu terlebih dahulu. Mereka melihat Suci tengah duduk sambil membaca buku.


"Hai, Ci," sapa Ratu.

__ADS_1


"Oh, hai, kalian sudah datang?" balas Suci.


Ratu meletakan keranjang berisi buah yang ia beli di perjalanan menuju rumah sakit di meja nakas lalu duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Suci, sedangkan Raja yang memilih duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu, bermain game di ponselnya. Sesekali melirik dua perempuan itu sedang mengobrol.


"Lo udah baikan?" tanya Ratu.


"Udah. Makasih ya kalian udah mau datang," ucap Suci.


"Ci, gue minta maaf ya, kalo bukan karena gue, lo gak bakalan kaya gini dan loe gak bakalan ... keguguran," ucap Ratu lirih.


Suci tersenyum lalu meraih tangan Ratu. "Gue gak apa-apa kok."


"Gue minta maaf pada kalian berdua atas nama Alan," ucap Suci lagi. "Dan.... Selamat atas pernikahan kalian!"


Ratu langsung terlonjak kaget begitu juga dengan Raja. "Lo tahu dari mana?" tanya Ratu gugup.


"Dari Alan, dia juga cerita sama gue tentang nyokap lo sama bokapnya Alan."


"Dasar tuh orang. Mulut kaya ember bocor." kesal Ratu. "Lo ko bisa suka sama cowok macam dia?" tanya Ratu dengan nada kesal.


"Gue kenal Alan sudah lama, Tu. Bukan satu atau pun dua tahun, gue kenal sama Alan dari kecil karena gue tetanggaan sama dia. Alan dulu baik orangnya baik sama semua orang, tapi sikapnya berubah saat tahu perselingkuhan nyokapnya dia. Dia sering mabuk-mabukan." Suci berucap lirih di kata terakhirnya.


Ratu mendengarkan cerita Suci dengan serius. Ucapan Suci mengingatkan kembali saat Alan menangis saat di rumah sakit di Ciawi. Ratu hampir tak percaya jika yang di hadapannya waktu itu adalah Alan.


"Gue berharap banget Alan bisa berubah seperti dulu setelah pernikahan nyokap lo sama bokapnya Alan," harap Suci.


"Haduh kok bisa gue dapet saudara kaya Alan." Ratu mengacak-acak rambutnya merasa frustasi, sedangkan Suci tersenyum tipis melihat tingkah Ratu.


Keduanya mengobrol cukup lama, sampai akhirnya Raja meminta Ratu untuk pulang, karena sudah sore. Suci nampak terlihat masih canggung jika berhadapan dengan Raja, lain halnya dengan Raja, yang nampak biasa saja.


"Ya, sudah kita pulang dulu ya, Ci," pamit Ratu dan Raja. "Sampai jumpa lagi."


Raja menggandeng tangan Ratu dan keluar dari ruangan itu. Kini keduanya sampai di parkiran mobil di rumah sakit. Setelah memasang sabuk pengaman, Raja melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit.


"Ja, ini mimpi bukan sih?" tanya Ratu saat masih di perjalanan pulang pada Raja sembari menepuk-nepuk kedua pipinya.


"Kenapa sih, Dek?" tanya Raja balik.


"Aku sama Alan bakal jadi saudara," rengek Ratu tiba-tiba.

__ADS_1


Raja menaikan kedua bahunya. Ia sendiri juga masih belum percaya jika dirinya dan Alan akan menjadi saudara ipar.


__ADS_2