
Maaf slow up.
Happy reading....
Sepulang dari kampusnya, Raja kembali ke apartemen untuk mengambil barang-barang miliknya dan Ratu yang akan ia bawa ke rumah sakit. Dan setelah semuanya siap, Raja segera menuju mobilnya yang ada parkiran bawah dan segera pergi ke rumah sakit. Saat Raja sudah berada di samping mobilnya, Raja membuka kunci mobil dan memasukan barang-barang bawaannya ke jok penumpang belakang. Setelah itu Raja masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi, dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit di mana Ratu dirawat. Raja melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota. Di tengah perjalanan, jalanan kota sudah mulai terlihat padat, karena hari itu adalah malam minggu. Biasanya Raja akan menghabiskan malam minggu bersama Ratu di tempat biasa mereka berkumpul bersama teman-temannya. Namun kini, mereka harus melewati malam minggu di rumah sakit. Raja menghembuskan nafas panjang, sungguh Raja sangat berharap setelah kejadian ini Ratu tidak kehilangan sisi cerianya.
Raja mengambil ponselnya di saku jacket nya dan menghubungi Alan untuk menanyakan kabar Ratu. Dari seberang telepon, Alan memberikan ponselnya pada Ratu dan membiarkan mereka berbicara satu sama lain. Setelah memastikan Ratu baik-baik saja, Raja memutuskan sambungan telepon nya dan kembali berkosentrasi menyetir.
Raja sampai di rumah sakit tepat pukul delapan malam. Raja merenggangkan pinggang nya untuk meluruskan otot-ototnya yang terasa kaku. Raja segera turun dari mobilnya setelah mengambil kotak makanan pesanan Ratu. Suasana malam itu sangatlah dingin hingga rasanya dinginnya seakan menusuk ke tulang-tulangnya. Raja berjalan dengan memasukan satu tangannya ke saku jaket nya.
Raja berjalan menyusuri koridor rumah sakit dan masuk ke dalam lift menuju lantai 5, di mana kawar rawat Ratu berada. Raja membuka pintu kamar rawat Ratu dan melihat masih ada Alan dan juga Suci di sana. Ratu langsung berjalan mendekat ke arah istrinya dan memberikan kecupan di kening istrinya.
"Pesanan aku mana, Yank?" Raja memberikan bungkusan berisi martabak keju kepada Ratu.
"Angga sama Rini mana, Dek?" tanya Raja setelah ia mendudukkan tubuh ke tempat tidur di samping Ratu.
"Udah balik, tadi. Mereka cuma sebentar di sini." Ratu menjawab dengan mulut yang penuh makanan.
Dari sudut kamat rawat Ratu, empat pasang mata sedang memandang pasangan suami istri itu. "Yang lagi sayang-sayangan emang gitu. Dunia seakan milik berdua, yang lain ngontrak," ledek Alan.
Alan berjalan menghampiri Ratu dan Raja yang sedang asik memakan martabak. Raja dan Ratu berpura-pura tidak melihat Alan, dan sengaja tidak memperdulikannya. Keduanya asik saling menyuapi.
Alan langsung menoyor Raja dan Ratu. "Sopan kalian, gini-gini gue abang sama abang ipar kalian," omel Alan.
Raja dan Ratu ber oh ria dan membuat Raja, Ratu, serta Suci tertawa lebar.
__ADS_1
"Asem." Alan kembali menoyor kepala Ratu dan juga Raja.
"Hobi banget lo noyor kepala orang."
Raja memberikan satu kotak martabak telor untuk Alan dan juga Suci. Alan mengatakan jika Ratu besok sudah bisa pulang. Setelah menghabiskan satu porsi martabak telor, Alan dan Suci pamit untuk pulang.
"Gue sama Suci balik dulu. Besok kalo mau balik telpon gue, biar gue jemput."
"Dih, habis makan pulang," ledek Raja.
"Gue mau kencan dong sama, Suci," balas Alan.
"Thank's, lo sama Suci udah nemenin gue." ucap Ratu.
"Terpaksa gue, dari pada jatah jajan bulanan gue dipotong sama bokap." Ratu mendelikan matanya kepada Alan. "Heran gue, sekarang bokap gue malah lebih sayang sama lo dari pada gue?" keluh Alan pada Ratu.
Alan dan Raja sama-sama memutar bola matanya jengah. Kedua laki-laki itu merasa memiliki nasib yang sama. Sekarang Mahendra dan Gunawan, ayah mereka, menurut mereka lebih menyayangi Ratu. Jika sekali saja Ratu mengadu pada kedua orang tua itu, maka Raja dan Alan akan mendapat ceramah panjang lebar bahkan sampai keluar dari tema. Raja dan Alan saling bertos membuat Ratu terkikik geli. Raja dan Alan merasa senang melihat Ratu kembali ceria.
"Gue balik dulu ya." Suci menghampiri Ratu untuk berpamitan tak lupa keduanya saling cium pipi kanan dan kiri.
Kadang mereka berempat masih belum percaya dengan keakraban mereka sekarang, mengingat dulu mereka saling bermusuhan. Dan sekarang malah mereka akan menjadi satu keluarga.
Raja melingkarkan tangannya ke pundak Ratu, setelah Alan dan Suci keluar dari ruangan itu. Ratu menyandarkan kepalanya di tubuh Raja menghirup aroma parfum yang dipakai oleh suaminya itu.
Raja memberi kecupan di kening Ratu serta mengusap kepalanya. "Kamu yakin besok mau pulang, udah gak ada keluhan lagi?"
__ADS_1
Ratu menggeleng di dekapan Raja. "Gak, Yank. Aku udah pengin pulang, aku gak betah di sini."
"Siapa juga yang betah di rumah sakit, Dek?" pertanyaan Raja membuat Ratu terkekeh. Memang gak ada orang yang betah di rumah sakit meski hanya makan dan tidur.
Raja mengerti memang fisik Ratu sudah baik-baik saja, namun psikisnya pasti masih sangat terluka.
"Ya udah kamu istirahat geh, ini udah malam." Raja menarik tangannya dari pundak Ratu dan turun dari tempat tidur. Raja berjalan menuju sofa di disudut ruangan itu.
"Kamu mau ngapain, Yank?" Ratu melihat Raja membuka tas dan mengambil laptop di dalamnya.
"Aku lupa belum kirim proposal ke Papah," jawab Raja tanpa beralih ke layar laptopnya.
Beruntung jarum infus sudah tidak terpasang lagu di tangan Ratu, membuat Ratu bebas bergerak. Kini Ratu menyusul suaminya yang sedang duduk di sofa tidak jauh dari tempat tidurnya.
"Loh kok kamu malah ke sini?"
"Aku mau nemenin kamu." Ratu ikut menatap layar laptop yang ada di hadapan Raja.
"Ya udah nanti kalo kamu ngantuk, langsung tidur ya."
"Aku gak bisa tidur kalo gak dipeluk sama kamu," goda Ratu pada suaminya.
Raja langsung mengalihkan pandangannya ke arah Ratu. "Kamu lagi gak godain aku kan?"
Ratu terkekeh, memang dirinya sedang menggoda suami nya itu.
__ADS_1
Raja bergerak untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Ratu. "Yank, jangan macem-macem deh. Aku masih nifas. Raja tidak mendengar ucapan Ratu dan malah semakin mendekatkan tubuhnya, Kini posisi Raja menindih tubuh Ratu.
Hati Ratu merasa was-was, dirinya takut jika Raja benar-benar memakannya detik itu juga. Bukan ingin menolak, namun keadaan dirinya yang belum memungkinkan untuk berhubungan dengan suaminya. Belum lagi mereka sekarang berada di rumah sakit, Ratu khawatir jika ada yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar rawatnya. Dan benar saja, beberapa detik kemudian pintu kamar rawat Ratu ada yang membuka.