Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
RBR 72


__ADS_3

MOHON MAAF JIKA CERITANYA MEMBOSANKAN.


Pramuja dan Marisa, kedua orang tua Egi berjalan cepat di lorong rumah sakit. Hati mereka bahagia mendengar kabar dari Raja jika Egi sempat menggerakkan jarinya. Mereka berharap jika Egi bisa cepat sadar dari komanya. Pramuja dan Marisa langsung masuk ke dalam ruang ICU untuk memeriksa kondisi anaknya. Pramuja melihat pergerakan tangan Egi dan memberitahukan pada istrinya.


"Egi denger mamah, 'kan?" Marisa mencium punggung tangan anak kesayangannya di iringi air mata bahagia.


"Sudah Mah, biar Egi istirahat dulu. Nanti kita jenguk lagi anak kita ini," ucap Pramuja pada istrinya.


Raja dan yang lainnya hanya bisa melihat dari ruang ICU mereka berdo'a yang terbaik untuk sahabat baik mereka.


Pramuja dan Marisa keluar dari ruangan ICU, segera Raja dan teman-temannya menghampiri pasangan Dokter itu.


"Tante, Om, bagaimana keadaan Egi?" tanya Raja mewakili teman-temannya.


"Keadaan Egi sudah stabil dan juga sudah lebih membaik. Tapi ...." Marisa nampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Tapi apa, Tan?" Raja bertanya kembali.


Marisa melihat sekilas ke arah suaminya lalu melanjutkan kembali ucapannya setelah mendapat persetujuan dari suaminya. "Tante sama om sudah sepakat untuk memindahkan Egi ke rumah sakit di Singapura … untuk pemulihan Egi."


Semuanya menunduk dan nampak sangat tidak rela, jika Egi harus di pindahkan ke rumah sakit di Singapura yang artinya mereka tidak bisa menjenguk Egi. Rini yang paling terlihat sedih, karena tidak akan bisa melihat Egi.


Marisa bisa melihat kesedihan Rini. Marisa menghampiri Rini dan mengusap lengannya. "Maaf Sayang, bukannya tante gak bisa mengerti perasaan kamu, tapi ini demi Egi. Kita berdo'a supaya Egi bisa segera sadar dan pulih seperti sedia kala ya Sayang?" Rini mengangguk. Meski rasanya hati tak rela harus berpisah jauh dari Egi, tetapi mungkin ini yang terbaik buat Egi. Mungkin jika di luar negeri Egi akan mendapatkan perawatan yang lebih baik lagi.


Marisa dan Pramuja sudah sepakat untuk memindahkan Egi satu minggu lagi. Mereka berharap dengan di pindahkannya Egi keluar negeri dengan peralatan medis yang lengkap bisa membuat Egi cepat pulih seperti sedia kala.


"Kami pulang dulu, Tan. Masih ada acara lagi di kampus," pamit Raja.


"Iya sayang, kalian hati-hati di jalan!" ucap Marisa.


Raja, Ratu, Panji, Angga, Alan, Suci, Rini dan Aldo, satu persatu pergantian menyalami Marisa dan Pramuja. Mereka kembali ke rumah masing-masing sebelum kembali ke kampus, kecuali Rini yang belum bisa beraktivitas karena harus memulihkan kondisinya.


❤❤❤❤❤


Raja dan Ratu sedang berada di mini market membeli keperluan mereka untuk acara penutupan ospek nanti malam.


"Udah, Dek?" tanya Raja.


"Udah, ini aja." Ratu menunjukan satu keranjang belanjaannya.


Ratu membawa keranjang belanjaannya ke meja kasir, dan membayar tagihannya. Raja mengambil dua kantong plastik berisi belanjaan mereka dan membawa ke mobilnya. Keduanya masuk ke dalam mobil dan kembali pulang ke apartemen mereka.

__ADS_1


Di dalam perjalanan Ratu bertanya kepada Raja soal rencana mereka ke depannya.


"Yank, kamu udah siap jika kita di kasih anak cepet?" tanya Ratu.


"Kenapa harus gak siap?" tanya balik Raja.


"Ya, kan kalo nanti kita punya anak, biaya rumah tangga kita bertambah dong?" Ratu mengubah posisi duduknya menyamping dan menatap lurus ke arah Raja.


"Terus, aku mampu kali Dek, biayain dua anak sekaligus," ujar Raja. "Lagian kalo kurang tinggal minta sama kakek nenek nya," tawa Raja.


Ratu mencibir Raja. Mestinya memang Ratu tidak harus merasa khawatir akan biaya untuk anak mereka nanti. Gaji bulanan Raja di perusahaan papanya sudah lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan mereka berdua. Belum lagi investasi Raja di resto milik mamahnya itu sudah cukup untuk mempersiapkan kehidupan keluarga kecil mereka.


Tak terasa mereka sudah sampai di dalam parkiran apartemen mereka. Raja mengambil kantong plastik belanjaan meraka di jok belakang. Raja menutup pintu mobil dan menguncinya. Di gandeng nya tangan Ratu, serta berharap jika suatu nanti akan menggandeng tangan mungil anaknya. Keduanya masuk ke dalam apartemen dengan perasaan bahagia.


-


-


-


-


Raja menghentikan laju mobilnya setelah sampai di parkiran kampus. Mereka akan merayakan acara penutupan ospek, dengan menginap semalam di kampus mereka.


Keduanya turun bersamaan dari dalam mobil. Raja berjalan memutar untuk menghampiri Ratu, dan kemudian merangkul pundak istrinya. Keduanya tak tahu jika ada empat pasang mata yang memperhatikan mereka dan nampak sangat iri, Kiara dan Leo. Kiara yang sudah sejak lama menyukai Raja sampai meski sampai sekarang Raja tak pernah memandang dirinya meski hanya untuk sekedar jalan. Sedangkan Leo, pertama kali melihat Ratu, ada perasaan suka yang langsung melintas di hatinya. Namun sayang, Ratu sudah menjadi milik Raja sepenuhnya.


Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam. Para peserta ospek sudah berkumpul di lapangan yang sudah di sulap menjadi area camping.


"Oke teman-teman semuanya, kita mulai acara ini. Tetapi sebelum itu kita adakan satu permainan, setuju?" ucap Leo.


"Setuju!" sorak semua.


"Oke, gue minta untuk kalian bikin kelompok sendiri, masing-masing 3 orang boleh lebih. Setelah itu, kalian harus mencari satu satu bendera berlogo kampus kita, yang sudah kami sembunyikan di suatu tempat. Kelompok mana dulu yang menemukan, merek lah pemenangnya. Siap semua?"


"Siap," sorak semua.


"Oke, kita mulai sekarang!"


Semua menyebar, Raja, Ratu, dan Angga menjadi satu kelompok. Sedangkan Alan bersama Suci dan juga Aldo.


"Raja, gue ikut lo aja. Masa iya gue di tinggal sendiri. Gue berasa gelandangan," rengek Panji. Raja, Ratu dan Angga, memutar bola matanya jengah.

__ADS_1


Masing-masing kelompok itu, menyebar ke area kampus. Ini berasa kaya uji nyali, mencari sesuatu di gedung sebesar itu dan malam-malam pula. Mending terang, ini semua penerangan sengaja dimatikan dan hanya diberikan satu penerangan di setiap lorong kampus.


Teriakan terdengar dari setiap lorong kampus yang ternyata sudah dipersiapkan jebakan berupa hantu jadi-jadian.


"Di mana kira-kira tuh bendera. Gila kali ya, tuh para senior. Kita disuruh nyari jarum di atas jerami," keluh Panji.


"Udah deh, ikutin aja apa kata mereka itung-itung kita lagi uji nyali," ucap Raja. Raja dengan santainya berjalan di lorong yang cukup gelap. Kedua tangannya ia masukan ke dalam saku jaketnya dengan tangan Ratu yang melingkar di lengannya.


Angga mengarahkan senter di tangannya ke sudut lorong dan melihat bendera bergantung di sana.


"Tuh benderanya," tunjuk Angga menggunakan senter di tangannya.


"Ya elah, kita udah muter-muter kesana-kemari kemari tuh bendera gantung di situ," ucap Panji.


Panji segera mengambil bendera yang tergantung di langit-langit di sudut lorong itu. Panji terkejut saat melihat sesosok wanita berbaju putih panjang dengan rambut hitam panjang dan menutupi mukanya sedang duduk di kursi tak jauh dari tempat Panji berdiri.


"Ngagetin aja. Dandan sereman dikit, Mbak kalo mau nakut-nakutin gue." Panji menoleh ke arah bendera untuk melepas tali yang mengikat bendera itu. Namun saat Panji kembali menoleh ke samping, sosok perempuan itu sudah tidak ada. "Cepet banget tuh cewek pergi, guman Panji.


Panji kembali ke teman-temannya yang sudah menunggu tak jauh dari dirinya. "Yuk balik, bendera nya udah gue ambil," ajak Panji. Ratu, Raja, dan Angga mengangguk.


"Panji," panggil Angga. "Lo tadi ngobrol sama siapa di sana?" Angga dan Panji menoleh ke belakang.


"Sama cewek yang nyamar jadi hantu," jawab Panji. "Dia tadi duduk di sana." Panji mengarahkan senternya ke arah di mana sosok perempuan itu duduk. "Tapi dia ngilang cepet banget."


"Seriusan lo?" tanya Angga lagi.


"Serius gue," sahut Panji.


"Tapi sumpah, gue gak liat ada siapa-siapa tadi." Panji langsung mengerutkan keningnya.


"Bercanda lo?"


"Serius. Lo tanya aja sama Raja sama Ratu." Panji langsung bertanya pada dua sahabatnya yang berjalan di hadapannya.


"Serius Panji, memang kita bertiga gak liat apa-apa di sana tadi," jawab Ratu di angguki oleh Raja.


Memang benar, Angga, Ratu dan Raja tak melihat siapa-siapa di bangku yang di tunjuk oleh Panji tadi. "Berarti gue tadi ketemu setan beneran?"


WEEEEES


Hawa dingin langsung melintas dan menerpa tubuh keempatnya, ditambah bulu kuduk mereka berdiri. Keempatnya saling pandang dan langsung berteriak.

__ADS_1


"HANTUUUUUUU"


__ADS_2