
Raja dan Ratu sedang berada di rumah Anita. Keduanya sedang bersiap untuk pergi ke pesta perpisahan di sekolahnya. Ratu tengah memakai kebaya dibantu oleh Anita. Tak lupa Anita memesan penata rambut langganannya.
Ratu sedang melihat dirinya di cermin membolak-balikkan badannya ke kanan dan ke kiri untuk melihat penampilannya. Kebaya warna merah muda yang dipilihkan oleh Anita nampak pas di badannya.
"Cantiknya, anak Mama," puji Anita.
"Berasa cewek banget ya, Ma?" keluh Ratu.
Anita langsung melotot ke arah Ratu. Tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Lah memang kamu cewek tulen, 'kan?" Anita memang tahu anaknya sedikit tomboy dan memakai pakaian seperti itu sudah pasti Ratu merasa tak nyaman karena Ratu tak akan bebas bergerak.
"Memangnya kamu mau pake setelah jas kaya suami kamu itu?" tanya Anita.
"Boleh apa, Ma?" Ratu membalas ledekan mamahnya.
"Ya ampun, Mama punya anak perempuan kok begini amat ya!" ucap Anita yang merasa gemas. Ia merasa punya anak laki-laki bukan perempuan.
Ratu dan ibunya sedang berdebat, tetapi di sisi lain rumah itu Raja baru saja keluar dari kamar mandi yang ada di kamar Ratu. Raja berjalan ke arah ranjang, ia melihat setelah jasnya sudah siap di sana. Raja tersenyum dan segera memakai pakaian yang sudah disiapkan itu. Tinggal sentuhan terakhir, yaitu memakai jam tangan di pergelangan tangannya.
Setelah dirinya siap, Raja keluar dari kamar Ratu, ia menuju kamar ibu mertuanya. Sampai di sana Raja bendiri di depan kamar Anita lalu mengetuk pintu berwarna putih itu. Tak berselang lama pintu kamar dibuka dari dalam menampakan wajah ibu mertuanya dari baliknya.
"Eh, Raja. Ayo masuk!" ajak Anita.
"Iya, Ma!"
Raja masuk ke dalam kamar bernuansa putih dan melihat Ratu sedang ditata rambutnya. Raja memilih untuk duduk di sofa bermain dengan ponselnya.
"Raja!" panggil Ratu.
"Apa, Dek?" tanya Raja tanpa mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
"Raja, liat sini dong!" pinta Ratu dengan nada manja.
Raja menghela napas lalu melihat ke arah Ratu. "Ada apa sih?"
Raja terperangah melihat dandanan Ratu yang sangat berbeda. Meskipun bukan pertama kali melihat Ratu memakai kebaya, namun Ratu terlihat sangat cantik saat itu.
"Raja, kok malah bengong. Aku cantik gak?" tanya Ratu.
"Cantik!" jawab Raja dan langsung mengembangkan senyum Ratu. "Bajunya!" ucap Raja yang langsung melunturkan senyum di bibir Ratu.
"Issssh, Raja jahat!" Ratu kesal dan membuang mukanya tak mau melihat ke arah Raja.
"Raja, kamu seneng banget ya godain Ratu." Anita menghampiri Raja dan duduk di sebelah menantunya itu.
"Emang benerkan, Ma? Bajunya cantik!" ucap Raja semakin membuat Ratu kesal.
"Dasar kamu ini." Anita terkekeh mendengar ucapan menantunya.
__ADS_1
Raja tersenyum melihat wajah kesal Ratu. Baginya Ratu selalu cantik meskipun tak berdandan sekalipun.
Pandangan Raja dan Ratu bertemu di cermin yang ada di hadapan Ratu. Raja bisa melihat Ratu menatap dirinya dengan kesal. Raja merasa dirinya belum puas menggoda Ratu, ia memberikan senyum manisnya lalu mengedipkan sebelah matanya, membuat Ratu seketika salah tingkah.
"Raja sini Sayang, Mama bantu kamu buat rapiin rambut kamu," ucap Anita.
"Iya, Ma." Raja menghampiri Anita dan penata rambut dari salon langganan mertuanya.
Anita melihat pantulan wajah menantunya di cermin, ia pun tersenyum bahagia. "Aduh Mama memang gak salah nih pilih mantu. Udah ganteng, baik, pinter lagi," puji Anita dengan menarik kedua pipi Raja.
"Makasih, Ma," ucap Raja.
"Sama-sama, Sayang!" balas Anita.
"Mama jangan banyak muji dia. Bisa makin gede kepalanya," ucap Ratu.
"Sirik saja," balas Raja.
Ratu ingin sekali menarik rambut Raja, tetapi karena pakaiannya membuatnya tidak bisa bergerak dengan bebas.
"Kalian ini masih saja bertengkar, kapan akunnya. Ya sudah, Mama juga mau siap-siap," lanjutnya.
Raja dan Ratu bersamaan. Kemudian Raja meminta izin pada ibu mertuanya untuk berangkat ke sekolah terlebih dahulu, karena dirinya adalah salah satu panitia di acara sekolahnya.
Anita mengangguk dan mencium pipi Raja juga Ratu. "Hati-hati di jalan!"
"Iya, Ma."
"Kenapa sih, Dek. Kok cemberut aja, cantiknya ilang loh nanti," goda Raja.
"Biarin, yang cantik bajunya ini, bukan aku," ketus Ratu.
Raja terkekeh mendengar ucapan istirnya. Ternyata istrinya itu masih marah karena ia menggoda dirinya.
Raja mendadak berhenti dan berbalik menatap Ratu. Raja meraih kedua sisi wajah Ratu. Raja menatap lurus ke mata Ratu.
"Kamu selalu cantik di mata aku, Dek. Bukan cuma wajah, tapi hati kamu juga cantik dan itu yang membuat aku sayang sama kamu," ucap Raja di akhiri kecupan lembut di kening Ratu.
Jantung Ratu berlari kencang seakan ingin melompat keluar. Hatinya berbunga-bunga, ia seakan merasakan banyak kupu-kupu berterbangan di dalam tubuhnya.
"Sudah jangan ngambek lagi ya," bujuk Raja.
Ucapan dan sikap Raja membuat Ratu salah tingkah dan wajahnya bersemu merah.
"Kalo wajah kamu merah kaya gini, bikin aku gemes deh!"
"Isssh, kamu ...." Ratu benar-benar tak bisa meneruskan ucapannya lagi. Laki-laki di hadapannya benar-benar membuat dirinya kehilangan kata-kata.
Raja melepaskan tawanya. Dari dulu hingga saat itu menggoda Ratu adalah hal yang paling menyenangkan untuk Raja.
__ADS_1
"Ayo berangkat nanti kita telat." Raja memutuskan untuk segera pergi ke sekolah karena teman-temannya sudah menunggu dirinya. Bersama Ratu memang bisa membuat dirinya lupa segalanya.
Suasana di sekolah Tuntas Bangsa sudah sangat ramai. Banyak wali murid sudah mulai berdatangan. Di antaranya ada Hendra dan Gunawan. Keduanya nampak berbincang dengan sangat akrab.
"Terima kasih, Gun. Kamu sudah mempertemukan wanita baik seperti Anita," ucap Hendra.
"Sama-sama, Hen. Aku juga nitip Anita sama kamu. Dia sudah aku anggap seperti adikku sendiri," balas Gunawan.
Saat keduanya tengah mengobrol, Alan dan Ratu datang menghampiri keduanya.
"Daddy," sapa Ratu. Ratu memeluk tubuh Gunawan dengan manjanya.
"Hallo cantik," sapa balik Gunawan.
"Loh kok yang disapa cuma Gunawan. Om gak disapa?" protes Hendra.
"Eh iya Om. Om Hendra apa kabar?" tanya Ratu sambil menyalami tangan Hendra serta mencium punggung tangan calon ayah tirinya.
"Baik, Sayang!" jawab Hendra, tangannya mengusap pipi Ratu.
Semua tamu undangan sudah datang ke sekolah Tunas Bangsa. Dari wali murid sampai para dewan sekolah. Acara demi acara pun sudah terlewati, kini tinggal acara pemberian penghargaan untuk murid berprestasi.
Kepala sekolah naik kd atas panggung dan berdiri di podium. Beliau memanggil Raja Adi Gunawan untuk naik ke atas panggung. Kepala sekolah itu memberikan penghargaan untuk Raja sebagai murid berprestasi.
Raja sangat senang menerima penghargaan itu, ia persembahkan penghargaan itu untuk sang ayah.
Pukul delapan malam acara di sekolah Tunas Bangsa berakhir. Satu persatu para tamu undangan sudah meninggalkan area sekolah.
Raja dan keluarganya berkumpul di parkiran sekolah. Mereka sepakat untuk makan malam bersama. Gunawan, Hendra dan Anita sudah lebih dulu meninggalkan area sekolah . Mereka menuju restoran yang sudah mereka pesan.
Raja dan Ratu pun bersiap menyusul mereka. Saat mereka akan masuk ke dalam mobil, Alan memanggil keduanya.
"Raja, Ratu!" panggil Alan.
Raja dan Ratu menoleh ke belakang, dan melihat Alan berjalan menggandeng tangan Suci. Raja dan Ratu pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil dan berjalan menghampiri Alan juga Suci.
"Ada apa?" tanya Raja.
"Gue mau minta maaf sama loe berdua. Maaf atas apa yang pernah gue lakuin ke kalian, terutama loe, Ratu!" pandangan Alan beralih ke Ratu.
"Gue tahu kesalahan gue ke loe tuh gak bisa dimaafin semudah itu. Loe boleh benci sama gue, tapi gue mohon supaya loe mau tetep nyetujuin hubungan orang tua kita. Gue bisa jamin, bokap gue itu orang baik," ucap Alan.
"Gue juga mau minta maaf ke loe berdua. Gue juga salah sama kalian, gue berusaha buat bikin kalian berantem terus. Gue juga sering manfaatin kebaikan loe, Ja!" Suci menunduk malu.
"Gue udah maafin kalian kok. Dan buat loe, Lan. Gue emang benci banget sama loe, gue belum bisa maafin loe sepenuhnya atas apa yang mau loe lakuin ke gue saat di villa. Tapi gue juga gak akan mengorbankan kebahagiaan nyokap gue untuk masalah kita yang terjadi di antara kita," ucap Ratu.
"Dan gue juga minta maaf jika selama ini perkataan gue sama Raja pernah menyinggung perasaan loe," lanjut Ratu.
Dan obrolan mereka berakhir dengan saling memeluk.
__ADS_1