
Ratu dan Suci sedang berada di kantin kampus. Ratu memberitahukan pada calon istri kakak tirinya itu, hasil tes yang ia lakukan pagi tadi.
"Garis 2," ucap Ratu. Suci langsung bersinar. Dan langsung mengucapkan selamat pada Ratu.
"Selamat ya." Keduanya pun saling memeluk satu sama lain. Mendadak raut wajah Suci berubah sendu, ia mengingat calon bayinya dulu.
Ratu melihat perubahan wajah Suci, Ratu tahu pasti Suci mengingat calon anaknya dulu. Ratu meraih tangan Suci dan menggenggamnya. "Maaf." Hanya kata itu yang mampu Ratu ucapkan.
"Sudahlah, itu sudah masa lalu." Suci tersenyum pada Ratu dan mengatakan untuk tidak terlalu menyalahkan dirinya, itu hanya kecelakaan. "Apa Raja sudah tahu?" Suci mengaduk jus alpukat lalu meminumnya.
"Belum. Nanti sehabis pulang dari sini, aku mau kasih tahu dia." Ratu menghela nafas. "Dia pasti bahagia banget ya?" Ratu ingat saat berada di Jogja, Raja sangat berharap benihnya segera tumbuh di rahimnya.
"Cie cie, bumil. Bahagia banget," goda Suci.
"Cepetan donk, nikah sama Alan. Biar cepet nyusul," balas Ratu membuat Suci tersipu malu.
Keduanya beranjak dari kantin untuk menemui laki-laki pujaan mereka. Namum, langkah Ratu berhenti saat Kiara mendadak berhenti tepat di hadapannya.
"Gue mau ngomong!" Kiara menahan pundak Ratu. Ratu melirik wajah Kiara sekilas lalu menjauhkan tangan Kiara yang ada di pundaknya.
"Mau ngomong apa lagi?" Ratu merasa aneh pada dirinya sekarang, ia sudah tidak merasakan mual lagi saat melihat Kiara.
"Jauhin Raja!" Detik itu juga Ratu dan Suci tersenyum remeh pada Kiara.
"Atas dasar apa, lo nyuruh gue buat jauhin suami gue sendiri." Kiara dan dua temannya terbelalak mendengar ucapan Ratu.
"Suami, mimpi lo?" Kiara dan dua temannya tertawa. Namun, tawa mereka luntur saat Ratu menunjukan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Gue udah nikah sama Raja, sejak kelas dua SMA," terang Ratu. "Jadi yang pantas untuk jauhin Raja itu lo." Ratu melangkah pergi. Namun tanpa Ratu duga, salah satu teman Kiara mencekal kakinya membuat Ratu terjatuh.
"Aaaaaaaa" Ratu berteriak karena perutnya mengenai meja.
__ADS_1
"Ratu." Suci terkejut dan langsung menghampiri Ratu. "Ratu, lo gak apa-apa kan?" tanya Suci panik.
"Suci perut gue sakit banget." Ratu mengerang sambil memegangi perutnya.
Suci panik apalagi saat Ratu tak sadarkan diri. "Lo bakalan bertanggung jawab kalau ada apa-apa sama Ratu dan calon anaknya," ancam Suci pada teman Kiara yang mencekal kaki Ratu.
Suci melihat Panji dan Aldo yang baru saja tiba di kantin. "Panji!" Suci berteriak memanggil Panji, membuat sahabat Raja itu terkejut.
Dengan segera Panji dan Aldo berlari menghampiri Suci dan Ratu. "Ci, Ratu kenapa?" tanya Panji yang panik melihat Ratu pingsan.
"Nanti gue jelasin. Cepat bawa Ratu ke rumah sakit?" Tanpa berpikir panjang, Panji mengangkat tubuh Ratu dan membawanya ke mobilnya. Suci langsung meminta Aldo untuk memberi tahukan pada Raja yang masih ada kelas.
Panji mengangkat tubuh Ratu dan membawanya ke area parkir. Panji meminta Suci untuk mengambil kunci mobilnya dari dalam tas nya. Setelah mendapatkan kunci mobil Panji, Suci langsung membuka kunci mobil dan membuka pintu belakang mobil itu. Panji membaringkan tubuh Ratu di jok belakang dan diikuti oleh Suci. Panji langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
Panji segera melesat ke rumah sakit, beruntung saat itu jalanan sedang tidak padat membuat mereka sampai ke rumah sakit tak terlalu lama. Suci dan Panji langsung membawa Ratu ke ruang UGD.
Di tempat lain, Raja merasa dirinya tak tenang. Rasanya hatinya sangat gelisah. Beruntung kelasnya selesai lima menit lagi. Mata Raja melihat Aldo di luar pintu. Raja mengerutkan keningnya saat Aldo menggerakkan tubuhnya seperti mengisyaratkan sesuatu, tetapi Raja tak mengerti apa yang diisyaratkan oleh Aldo.
"Apa," lirih Raja. Di luar pintu, Aldo menepuk keningnya, dan mengumpat sendiri.
"Ja, Ratu pingsan!" Raja yang sedang membereskan buku-bukunya langsung terkejut, begitu juga dengan Alan.
"Apa? Kok bisa?" tanya Alan dan Raja bersamaan.
"Nanti aja penjelasannya. Sekarang kita susul Panji sama Suci ke rumah sakit," ajak Aldo.
Tak menunggu waktu lama, Raja, Alan, dan Aldo langsung melesat menuju rumah sakit di mana Suci dan Panji membawa Ratu. Raja melesat cepat dengan mobilnya disusul mobil Alan dan Aldo di belakangnya. Raja cemas memikirkan Ratu, kenapa Ratu bisa pingsan. Raja mengumpat saat laju mobilnya berhenti karena lampu merah.
"Kenapa lama sekali?" Raja memukul gagang setir. Raja mengambil ponsel dan menghubungi Panji untuk menanyakan keadaan Ratu. Sambungan telepon tersambung bertepatan dengan nyalanya lampu hijau. Raja memasang handfree ke telinganya untuk mempermudah bicara saat mengemudi.
Raja mendengar suara Panji telinganya yang mengatakan jika Ratu masih di tangani oleh Dokter. Raja tidak puas dengan jawaban Panji, setelah gedung rumah sakit terlihat, Raja memutus panggilan teleponnya dengan Panji.
__ADS_1
Raja mencari parkiran kosong di area rumah sakit dan setelah menemukannya Raja langsung memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam rumah sakit. Raja menyusuri lorong-lorong rumah sakit mencari ruang UGD.
"Eh, Ja lo udah sampe?" tanya Suci yang hanya diangguki oleh Raja.
"Kok Ratu bisa kayak gini, kenapa Ci?" tanya Raja dengan penuh rasa kekhawatiran.
"Tadi pas kita di kantin dan mau ke kelas lo, Kiara sama teman-temannya nyamperin kita. Kiara nyuruh Ratu buat jauhin lo, terus Ratu bilang ke Kiara kalo lo sama dia suami istri dan nyuruh Kiara yang mesti jauhin lo. Kita mau pergi dari kantin, tapi salah satu teman Kiara nyekal kaki Ratu. Ratu jatuh perutnya nabrak meja," jelas Suci. "Gue takut banget kalo ada apa-apa sama bayi di dalam kandungan dia!"
Raja langsung melebarkan matanya, "Apa? Ratu beneran hamil, kok dia gak bilang gue?" Ratu mengusap wajahnya, sekarang kekhawatiran Raja bertambah mengingat Suci mengatakan jika perut Ratu menabrak meja.
"Dia juga baru tahu tadi pagi, Ja dan rencananya dia mau bilang sama lo pas pulang dari kampus," ucap Suci lirih dengan air mata mengalir di pipinya.
Selang beberapa lama, Dokter yang menangani Ratu yang ternyata Dokter Marisa, keluar dari ruang UGD dan bertepatan dengan itu, Alan dan Aldo sampai.
"Raja," panggil Dokter Marisa.
"Tante Marisa. Tante, bagaimana keadaan Ratu?" tanya Raja.
Marisa mengusap lengan Raja, matanya pun sudah berkaca-kaca. "Sabar ya, Ratu sudah melewati masa kritisnya. Tapi ...." Marisa menjeda kata-katanya. "Ratu keguguran," lirih Marisa.
Raja menunduk satu tetes air mata meluncur dari mata Raja. Marisa menarik Raja ke pelukannya, mengusap punggung Raja yang sudah sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri. "Sabar ya, Nak."
Raja menarik diri dari pelukan Dokter Marisa dan mengusap air matanya. "Raja bisa nemuin Ratu gak, Tan?" tanya Raja.
"Boleh. Tante sudah suruh perawat untuk memindahkan Ratu ke ruang perawatan. "Ya sudah, tante masih ada pasien. Kalau ada apa-apa hubungi tante saja." Raja pun mengangguk.
Setelah kepergian Dokter Marisa Alan menghampiri Raja dan mengusap punggungnya. Alan tahu bagaimana perasaan Raja, karena dirinya juga pernah mengalaminya. Meski Alan belum menginginkan anak yang dikandung Suci dulu, namun rasa sakit ia rasakan saat mendengar Suci keguguran.
"Lo harus bisa kuat untuk Ratu. Kalo Ratu liat lo kaya gini, itu pasti akan membuat Ratu lebih sedih lagi," ujar Alan di angguki oleh Raja.
Kelima anak muda itu menuju ruangan VIP tempat Ratu di rawat. Perlahan Raja membuka pintu ruang perawatan Ratu dan melihat istrinya itu masih memejamkan matanya dengan harum infus terpasang di kanan kirinya, serta selang oksigen terpasang di hidungnya.
__ADS_1
"Ja, kita pergi liat Egi dulu ya." Angga mengajak yang lainnya menjenguk Egi untuk memberi ruang pada Raja dan juga Ratu.
Raja masuk ke dalam ruangan itu. Raja menyeret kursi dan duduk di samping tempat tidur Ratu. Digenggam dan diciumnya punggung tangan Ratu berharap istrinya akan segera bangun. Namun Ratu tak juga mau membuka matanya. Mungkin karena pengaruh obat yang di berikan oleh Dokter Marisa. Satu jam, dua jam, Ratu tak kunjung membuka mata membuat rasa kantuk datang ke diri Raja. Raja merebahkan kepalanya di tepi ranjang dan menutup matanya masih dengan menggenggam erat tangan istrinya.