Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
RBR 58


__ADS_3

Mohon dukungannya, Like, Rate, tipsπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚, favorit.


Happy reading....


Ratu dan Panji sudah sampai di taman dekat rumah lama Ratu. Setelah melewati satu belokan, maka mereka akan sampai di rumah. Ratu terheran saat ia sampai di rumah, Ratu melihat ada mobil lain, seperti mobil Citra dan pakde Agung. Ya, itu mobil kakak dari almarhum papanya yang juga papanya Citra.


Ratu dan Panji segera berlari ke dalam rumah saat mendengar kegaduhan dari dalam rumah. Ratu terbelalak saat melihat Raja diseret oleh pakde Agung dan melemparkan tubuh Raja ke lantai. Belum puas dengan itu pakde Agung juga memukul wajah Raja.


"Raja!" teriak Ratu.


Panji dan Ratu segera berlari ke arah Raja dan menjauhkannya pakde Agung.


"Pakde, ini ada apa? Kenapa pakde mukulin Raja?" tanya Ratu. Ratu bahkan matanya sudah mulai berkaca-kaca melihat suaminya diperlakukan kasar oleh pakdenya.


"Kamu tanya saja sendiri sama suami kamu, Ratu!" Agung memandang wajah Ratu dengan garang.


Ratu heran apa yang sebenarnya sudah dilakukan oleh suaminya sehingga membuat pakde nya itu marah.


"Ada apa ini sebenarnya, Ja?" tanya Ratu lirih.


"Aku juga gak tahu, Dek. Pakde mu datang ke sini terus tiba-tiba dia nyeret dan mukulin aku kayak gini." Raja mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya.


"Jangan pura-pura tidak tahu kamu, laki-laki brengsek!" Agung membuang ludah seakan jijik melihat Raja.


"Maaf Pakde, Ratu mohon jangan menghina suami Ratu. Pakde bisa jelasin sama Ratu, apa yang dilakukan Raja sehingga Pakde marah seperti ini?" tanya Ratu masih dengan nada sopan.


"Kamu tidak malu menyebut dia, sebagai suami kamu, setelah dia berusaha untuk menodai Citra, anak pakde!" garang Agung.

__ADS_1


"Apa?" Ratu, Raja, dan Panji langsung mengalihkan pandangannya ke Citra yang sedang duduk di sofa dan memeluk mamahnya.


Kini Raja tahu alasan kenapa pakde Agung marah padanya. Raja langsung menatap tajam ke arah Citra yang sedang tersenyum miring ke arahnya. "Sialan, nih cewek. Ternyata dia mau ngejebak gue!"


"Bohong," elak Raja cepat. "Menodai apa? Dia sendiri yang datang ke kamar saya, memaksa agar saya menceraikan Ratu dan menikah sama dia." Ratu langsung memicik tajam ke arah Citra yang sedang menangis di pelukan wanita yang Ratu panggil bude.


"Bohong, Pah. Citra ke sini cuma mau jenguk Raja yang kata Bule jika Raja sakit!" kilah Citra. "Citra cuma pengin anterin makanan ke kamar Raja, tapi pas Citra mau keluar dari kamar, Raja gak ngebolehin. Raja minta Citra buat tetep di kamar. Citra udah nolak, tapi Raja terus maksa Citra, dan Raja, dia ... dia ... mau nodain aku," ucap Citra panjang lebar.


Raja terbelalak, sudah pasti itu cerita bohong, karena memang kejadiannya tidak seperti itu.


(Kilas balik)


Saat Raja ingin melempar keluar Citra dari kamarnya, Citra sengaja menyobek pakaiannya sendiri. Mengacak-acak penampilannya, lalu berlari berpura-pura meminta bantuan kepada mbok Sari dan pak Urip. Citra mengatakan pada mbok Sari dan pak Urip jika dirinya akan dinodai oleh Raja. Tentu saja kedua pekerja di rumah Ratu itu tidak percaya begitu saja, meski mereka melihat keadaan Citra yang berantakan.


Citra sempat kesal pada kedua pekerja di rumah Ratu karena mereka tidak percaya pada ucapannya. Citra segera menghubungi kedua orang tuanya serta eyang Murti dan eyang Bagus.


Agung dan Lisa sangat geram ketika mendapat kabar itu dari Citra. Mereka langsung melesat menuju rumah lama yang pernah ditinggali oleh Anita, mantan adik iparnya.


Raja yang sedang berbicara dengan papanya di sambungan telepon, terlonjak kaget, saat ada yang menggedor pintu kamarnya. Raja langsung memutuskan panggilan teleponnya dengan papanya. Raja segera membuka pintu kamarnya. Raja terkejut saat Agung mendadak menarik kerah baju Raja dan menyeretnya menuju ruang keluarga


(Kilas balik selesai)


Ratu mengepalkan tangannya menahan amarah mendengar penuturan Raja dan Citra. Jangan dipertanyakan lagi, tentu saja Ratu lebih percaya pada ucapan Raja dari pada gadis centil yang sudah terang-terangan ingin merebut suaminya itu.


"Kamu denger sendiri Ratu apa yang diucapkan oleh Citra. Dan kamu juga sudah liat melihat bukti yang nyata pada diri Citra." Agung berbicara dengan penuh penekanan.


"Dek, sumpah. Aku gak ngelakuin apa-apa sama dia?" ucap Raja. Ratu tersenyum penuh arti pada Raja.

__ADS_1


"Mana ada maling ngaku!" timpal Lisa, mamahnya Citra. Lisa yang sedari tadi hanya diam dan menenangkan Citra kini mulai membuka suaranya.


"Saya tidak mau tahu, kamu harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kamu lakuin pada anak saya. Kamu harus ceraikan Ratu dan menikahi anak saya!" lanjut Lisa.


"Maaf, Bulik. Saya tidak akan bertanggungjawab atas apa yang saya tidak pernah lakukan!" tolak Raja dengan tegas.


Raja terus membujuk Ratu agar percaya pada dirinya. Namun, tanpa Raja membujuknya pun, Ratu jelas akan percaya pada ucapan Raja.


Agung benar-benar sudah sangat emosi. Agung lebih memilih percaya pada kebohongan anaknya. Agung kembali meraih baju Raja dan melayangkan pukulan ke wajah Raja. Untung saja Panji memegangi tubuh Raja dan tak membiarkan Raja jatuh ke lantai. Raja tak bisa membalas pukulan pakde Agung karena Raja masih menghormatinya sebagai orang tua


Belum puas, Agung lagi-lagi melayangkan pukulannya ke wajah Raja. Namun kali ini berhasil dihalau oleh Egi. Angga dan Aldo menjauhkan Raja dari Agung.


"Minggir, kalian. Jangan ikut campur urusan saya sama anak brengsek itu!" Egi dan Aldo masih berusaha menahan tubuh Agung yang masih ingin menghajar Raja.


"Maaf Om, ini sebenarnya ada apa?" tanya Egi.


"Dia sudah menodai anak saya Citra!"


"Apa? Gak mungkin, Om. Saya kenal sama Raja. Dia bukan laki-laki seperti itu." Egi, Angga, dan Aldo sempat terkejut dengan penuturan dari Agung. Namun mereka percaya seratus persen jika Raja tak mungkin melakukan hal hina itu.


"Pakde, saya bersumpah, saya tidak melakukan apapun kepada Citra."


"Mana Buktinya, jika kamu tidak melakukan apapun pada Citra?"


Raja terdiam, ia pun bingung. Bagaimana caranya untuk membuktikan jika dirinya tidak melakukan apapun pada Citra. Karena ada siapapun di sana kecuali dirinya dan Citra.


Agung tersenyum sinis, melihat Raja terdiam. Agung masih saja terus menekan Raja untuk membuktikan dirinya tidak bersalah. Dan jika Raja tak bisa membuktikannya, maja Raja harus menikahi Citra. Suka atau tidak suka.

__ADS_1


"Aku punya buktinya, Mas Agung!"


Semuanya menoleh ke arah pintu masuk yang ternyata ada Anita serta Mahendra sedang berjalan masuk ke dalam rumah.


__ADS_2