Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
RBR 109


__ADS_3

Jantung Raja dan Ratu sedang berdegup kencang menantikan hasil tes kehamilan di rumah sakit. Keduanya duduk berdampingan di ruangan Dokter Marisa.


Tok tok tok.


Seorang perawat baru saja masuk ke dalam ruangan Dokter Marisa. Di tangannya ada amplop putih yang langsung diberikan kepada Dokter Marisa.


"Ini hasil tes milik ibu Ratu," ucap perawat itu.


"Terimakasih, Sus," ucap Dokter Marisa.


"Sama-sama, Dok. Saya permisi dulu," pamit perawat itu.


Setelah perawat itu pergi, Dokter Marisa membacakan hasil laporan tes kehamilan Ratu. Dokter Marisa membuka lipatan kertas dan mulai membaca apa yang tertulis di atas kertas.


"Ratu maaf ...."


Raja dan Ratu melihat wajah Dokter Marisa berubah sendu. Melihat itu keduanya semakin merasa cemas.


"Kenapa, Tante?" tanya Raja.


"Ya ...."


"Apa hasilnya?"


"Hasil tes nya menyatakan jika kamu positif hamil." Raut sedih pada wajah Dokter berganti dengan raut kebahagiaan.


"Positif? Ini beneran 'kan, Tante?" Ratu benar-benar merasa bahagia sampai dirinya tidak mempercayai hal itu.


Baru semalam ia merasa sudah putus asa menantikan kehamilannya. Dan pada pagi harinya, mereka mendapatkan kabar baik.


Dokter Marisa menyerahkan hasil tes kehamilan Suci pada Raja, lalu dirinya beranjak dari kursi untuk mengucapkan selamat pada Raja dan juga Ratu.


"Selamat ya, Nak." Dokter Marisa bergantian memeluk Raja maupun Ratu.


"Terimakasih, Tante," ucap Ratu.


Kini giliran Raja yang memeluk Suci, akhirnya penantian mereka selama 2 tahun berakhir juga.


"Tante sudah tuliskan beberapa vitamin, kamu tebus itu untuk Ratu," suruh Dokter Marisa kepada Raja.


"Iya, Tante."


"Ratu, jaga kondisi kamu, tidak boleh stres, kecapean, dan gak boleh angkat yang berat-berat." Dokter Marisa berpesan kepada Ratu. "Dan untuk kamu, Raja ... bantu jaga kondisi Ratu."


"Tentu, Tante."


Raja mengulurkan tangannya kepada Ratu lalu menggenggamnya. Kedua saling berbalas senyum kebagian dan setelah itu berpamitan kepada Dokter Marisa.


"Kami permisi, Tante dan sekali lagi terimakasih banyak," ujar Raja.


"Sama-sama, Nak," balas Marisa.


Raja dan Ratu keluar dari ruangan Dokter Marisa dengan senyuman kebagian. Keduanya sama-sama melangkah ke ruang rawat Suci untuk menjenguk saudara ipar mereka.


"Dek, kamu busa 'kan ke sana sendiri? Aku mau tebus vitamin kamu dulu," ucap Raja.

__ADS_1


"Bisa, kok," jawab Ratu.


Raja mengusap sisi wajah Ratu dan berlalu ke arah apotik di rumah sakit itu.


Ratu berjalan menyusuri koridor dengan senyum yang mengembang. Rasa bahagia terlihat begitu jelas di aura wajah Ratu. Sepanjang perjalanan itu pula, Ratu menyapa orang-orang yang ia lihat meskipun tidak mengenal mereka. Ratu ingin memberitahukan pada semua orang jika dirinya sedang merasa bahagia.


Sampai di depan ruang rawat Suci, Ratu mendengar tawa di dalam ruangan itu. Ratu mulai menarik gagang pintu dan mendapati keluarganya sedang tertawa bersama Egi. Melihat tawa pada mereka terutama Suci, membuat rasa lega pada diri Ratu.


Ratu tidak busa menahan dirinya untuk masuk ke dalam ruang rawat itu.


"Wah, bahagia banget layaknya," ucap Ratu.


"Eh, Ratu kamu sudah datang?" tanya Anita.


"Iya, Mah." Ratu menyalami Anita dan juga Mahendra secara bergantian.


"Kamu sendiri, Nak?" tanya Anita.


"Sama Raja," jawab Ratu.


"Terus, suami kamu di mana?"


"Lagi ke apotik sebentar. Tebus vitamin aku," jawab Ratu.


Mendengar itu Anita dan yang lainnya merasa khawatir pada Ratu.


"Kamu sakit, Nak?" tanya Anita merasa cemas.


Anita memeriksa suhu tubuh anaknya dengan tangannya.


"Aku gak sakit kok, Mah," ulang Ratu.


"Lalu?"


"Ratu hamil, Mah."


"Hamil?" ucap Mahendra, Egi, Suci, dan Anita secara bersamaan.


Keempat orang itu saling bertukar pandang dan sama-sama melihat ke arah Ratu. Melihat Ratu mengangguk dengan senyuman yang merekah, mereka langsung ikut tersenyum bahagia dan memberikan ucapan selamat pada Ratu.


Bersamaan dengan itu, Raja masuk ke dalam ruangan itu.


"Raja, Nak ...." Anita menghampiri Raja dan memberikan ucapan selamat juga pada menantunya.


"Selamat, Nak. Bunda nitip jagain Ratu sama calon cucu bunda," ucap Anita.


"Pasti, Bun," sahut Raja.


"Ratu, selamat ya. Akhirnya penantian kamu berakhir juga."


Ratu menoleh ke arah Suci dan mendekati iparnya. Ratu langsung memeluk Suci dan menangis haru.


"Thanks, ya Ci."


Waktu sudah semakin siang dan Raja berpamitan untuk kembali ke kantornya.

__ADS_1


"Gi, lo mau di sini apa ikut gue?" tanya Raja.


Raja berharap Egi mayikut dengan dirinya. Sebenarnya ada alasan Raja mengajak Egi untuk ikut bersamanya. Jika ia sendiri di kantornya, pasti Megan akan seenaknya masuk ke dalam ruangannya untuk mengganggunya.


Egi tahu arti isyarat Raja karena setiap hari sahabatnya mengadu pada dirinya.


"Oke." Egi akhirnya menerima ajakan Raja.


"Ratu, suami lo gue sewa dulu ya." Egi meledek Ratu.


Ratu langsung menatap tajam pada Egi. Namun, disambut gelak tawa oleh Egi.


"Ayo sekalian saya juga mau mengurus administrasi Suci," ujar Mahendra.


Raja dan Egi serta Mahendra keluar bersama dari ruangan itu. Raja dan Egi langsung berjalan ke arah pintu keluar.


"Kami duluan, Pah," pamit Raja.


"Hati-hati, Nak. Bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut."


"Siap, Pah." Egi dan Raja menyalami tangan Mahendra secara bergantian.


Ketiganya pun berpisah di koridor rumah sakit. Mahendra pergi ke bagian administrasi untuk mengurus administrasi untuk kepulangan menantunya, Suci. Keadaannya sudah jauh lebih baik dan juga sudah diperbolehkan untuk pulang.


Setelah semuanya beres, Mahendra kembali ke ruang rawat Suci.


"Kalian sudah siap?" tanya Mahendra setelah sampai di ruang rawat Suci.


"Sudah," jawab Anita.


Mehendra mendorong kursi roda yang diduduki oleh Suci, sedangkan Ratu serta Anita mengikutinya dari belakang.


Sampai di lobi rumah sakit mereka langsung masuk ke mobil yang sudah menjemput mereka.


"Pah, Mah, Ratu gak ikut ke rumah ya. Ratu mau ke kantor Raja," ujar Ratu.


"Dan Ratu naik taxi saja," lanjut Ratu.


"Jalur kita searah, Nak. Kamu tidak perlu naik Taxi. Nanti kamu turun saja di depan kantor suami kamu," ucap Mahendra.


"Ya, Nak. Mamah juga gak bisa ngebiarin kamu pergi sendiri," imbuh Anita.


"Iya, Mah. Makasih udah khawatir Ratu," ucap Ratu.


"Ya sudah, ayo masuk," ucap Mehendra.


Keluarga itu masuk ke dalam satu mobil Alphard warna hitam dan melaju meninggalkan rumah sakit itu.


Sepanjang perjalanan Ratu terus menggenggam tangan Suci. Seolah memberikan kekuatan pada iparnya untuk tetap tegar. Ratu bisa tahu pasti saat tiba di rumah, Suci pasti mengingat kembali kenangannya bersama Alan.


Ratu merasa sangat iba dengan nasib Suci. Namun, Ratu tidak bisa membantu apapun selain memberikan support untuk Suci.


Tidak lama mobil yang dinaiki Ratu berhenti di lobi kantor Raja. Ratu berpamitan pada kedua orang tuanya serta Suci.


"Kamu yang kuat ya, Ci." Ratu mengusap pundak Suci sebelum turun dari mobil itu.

__ADS_1


Suci mengangguk, meskipun menangis, tetapi Suci mencoba untuk tersenyum kepada Ratu.


__ADS_2