Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
Ratu Vs Citra


__ADS_3

Ratu kembali ke rumah omanya dengan hati yang riang. Namun saat tiba di sana Ratu melihat pemandangan yang menyayat hatinya. Ratu melihat Raja berdansa dengan Citra. Ratu berdiri dengan kedua tangannya yang mengepal untuk menahan amarahnya. Hatinya memanas dan kemarahannya bagai bon waktu yang bisa meledak kapanpun.


"Ratu." Raja berhenti berdansa saat matanya tidak sengaja melihat istrinya sedang melihat ke arahnya dengan sorot mata tajam. Setelah itu Raja melihat Ratu pergi.


Raja ingin mengejar Ratu, tetapi Citra menahan langkahnya.


"Lepas, Citra!" suruh Raja.


"Mau ke mana sih, Ja? Biarin saja Ratu pergi kamu di sini saja sama aku," ucap Citra dengan suaranya yang manja.


Raja tidak punya pilihan lain selain berbuat sedikit kasar pada Citra. Raja menghempaskan tangan Citra yang sedang menahan lengannya membuat Citra mundur beberapa langkah. Raja langsung berlari untuk mengejar Ratu dan meninggalkan Citra.


"Awas lo, Raja … gue bakalan lakuin apapun buat misahin lo sama Ratu," ucap Citra dalam hati. Matanya menatap tajam penuh kemarahan pada Raja yang sedang berlari mengejar Ratu.


Raja mencari keberadaan Ratu di sekitar rumah, namun tidak menemukannya. Raja berpapasan dengan bibi Ayu dan menanyakan pada beliau.


"Bibi Ayu lihat Ratu gak?" tanya Raja.


"Non Ratu ada di meja makan lagi makan sate," jawab bibi Ayu.


Raja mengerutkan keningnya mendengar istrinya sedang memakan sate.


"Terima kasih ya, Bi. Kalau begitu aku masuk dulu," ucap Raja.


Raja melangkah masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan terima kasih kepada bibi Ayu. Ua tersenyum melihat istrinya sedang memakan sate dengan sangat lahap. Itulah kebiasaan Ratu, jika sedang merasa kesal istrinya pasti akan melampiaskan ke makanan.


"Kamu di sini, Dek?" Raja mengambil posisi duduk di sebelah Ratu.


Ratu tidak menjawab, ia lebih memilih untuk menikmati sate di hadapannya.


"Dek, kamu marah sama aku?" Raja mengulurkan tangannya untuk menyentuh lengan Ratu, namun Ratu menepisnya.


Raja mengerutkan keningnya, "Kenapa, Dek?"


"Jangan sentuh aku. Tangan kamu ini bekas pegang Citra," tolak Ratu.


"Maaf, Dek. Aku gak enak nolak ajakan Citra. Apalagi keluarganya juga memintaku," jelas Raja.


"Emang dasarnya kamu suka, 'kan dansa sama si centil itu?" tuduh Ratu.


"Gak, Dek. Beneran!"


Ratu sudah mengira memang Citra lah yang memaksa Raja. Namun, ia tetap merasa kesal pada Raja, merasa cemburu melihat suaminya berdansa dengan wanita lain.


"Cuci tangan kamu dulu. Baru kamu boleh pegang aku," perintah Ratu.


Raja menghela napas pasrah dan hanya bisa menuruti perintah istrinya. Raja beranjak dari meja makan menuju wastafel yang tidak jauh dari meja makan untuk mencuci tangannya. Setelah itu Raja kembali duduk di samping Ratu yang masih belum selesai makan.


"Udah dong, Dek … jangan ngambek terus," mohon Raja.


"Bodo," cuek Ratu.


"Kayaknya aku harus ngelakuin kaya tadi pagi lagi deh, biar kamu gak ngambek terus," ancam Raja.


Seketika Ratu tersedak sate yang sedang ia makan. Ratu tahu apa maksud dari ucapan Raja. Ratu khawatir Raja akan menggempur tubuhnya saat ini juga dan sialnya dirinya tidak bisa menolaknya. Ratu meminum air yang diberikan oleh Raja, ia meminum dengan begitu cepat untuk menetralkan rasa gugupnya.

__ADS_1


Raja yang melihat tingkah istrinya tertawa puas merasa gemas pada istrinya meskipun sudah beberapa kali melakukan hubungan suami istri, namun istrinya itu masih saja merasa gugup.


"Duh gemesin deh kamu kalo lagi cemburu," ledek Raja. Ditariknya tengkuk Ratu dari samping dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di pipi Ratu, membuat Ratu tertawa lepas.


"Jangan ngambek lagi ya. Aku punya hadiah untuk kamu. Tapi nanti setelah pesta selesai dan semuanya sudah pergi," bisik Raja.


Malam semakin larut, resepsi pernikahan Anita dan Hendra sudah selesai. Semua keluarga melepas kepergian Anita dan Hendra ke tempat untuk malam pertama mereka setelah menikah.


Ratu sangat berbahagia untuk ibunya. Ratu akhirnya bisa bernapas lega, sang ibu sudah menemukan kembali pasangan hidupnya yang akan menjaganya di hari tua nanti.


Ratu memeluk erat ibunya sebelum beliau masuk ke dalam mobil yang sudah di persiapkan untuk mengantar mereka.


"Mama hati-hati di jalan ya. Jangan lupa bikinin Ratu adik," bisik Ratu.


"Huuust, ngawur kamu. Kamu sama Raja yang cepat bikinin mamah cucu," balas Anita.


"Lagi proses kok, Ma!" imbuh Raja.


Wajah Ratu memerah, ia pun menyikut Raja dengan sikunya. "Jangan diomongin, aku malu," bisiknya, tetapi masih bisa di dengar oleh Anita.


"Bagus kalau gitu. Mama tunggu kabar baik dari kalian," ucap Anita.


Anita menghapus air mata di sudut matanya. Diraihnya tangan sang menantu sambil berkata, "Mama nitip Ratu sama kamu. Mama percayakan anak Mama sama kamu," ucap Anita.


"Mama jangan khawatir, sebisa mungkin Raja akan jaga Ratu," janji Raja.


"Terima kasih, Sayang. Mama pergi dulu," pamit Anita. Anita masuk ke dalam mobilnya setelah mencium kening anak dan menantunya.


Anita menurunkan kaca mobilnya dan melambaikan tangan pada semua orang dan semua orang membalasnya. Anita kembali menaikan kaca mobilnya, saat mobil yang ia naiki melaju dan membawanya serta sangat suami pergi.


"Kita balik dulu," pamit Angga.


"Jangan lupa, calon ponakan buat gue!" sambar Egi.


"Beres," balas Raja. Wajah Ratu langsung bersemu merah.


"Cieee, yang baru jadian!" ledek Ratu. "Traktirannya mana?"


"Bereslah," Egi mengacungkan jempol tangannya pada Ratu.


"Ingat anak orang tuh, jangan di macem-macemin," cibir Raja, Egi pun balas mencibir Raja. "Lo tuh yang harus ingat, anak orang jangan disakitin." Egi menaikturunkan kedua alisnya seolah sedang mengejek Raja.


Setelah mobil yang membawa teman-temannya pergi, Raja melingkarkan tangannya ke pundak Ratu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Ratu pergi ke dapur untuk mengambil air putih dan membawanya ke dalam kamar. Belum sempat Ratu meninggalkan dapur, langkahnya terhenti oleh keberadaan Citra yang berdiri di hadapannya.


"Bahagia banget, lo!" sindir Citra.


"Tentu saja, alasan apa yang membuat gue untuk tidak bahagia?" Ratu balik menyindir Citra.


Citra tersenyum miring. "Gue! Gue adalah alasan lo untuk tidak merasa bahagia. Karena gue bakalan ngerebut Raja dari lo."


Ratu tersenyum datar, ia mencoba untuk bersikap tenang. "Mending lo belajar yang rajin. Gue denger lo lulus sekolah karena dukungan dari pakde Agung, iya, 'kan, Citra?" Ratu menekan kata-katanya. "Jangan cuma belajar buat jadi pelakor," sindir Ratu.


Ratu melangkah melewati Citra, tetapi Citra tak membuat langkah Ratu mulus. Citra mencekal lengan Ratu, membuat air yang dibawa Ratu tumpah dan mengenai tangannya.


"Apaan sih?" tanya Ratu yang mulai marah.

__ADS_1


"Denger Ratu … gue bakalan ngambil Raja dari lo, bagaimana pun caranya. Gue bakalan bikin lo ngerasain apa yang gue rasain," ancam Citra.


"Denger juga Citra … gue gak pernah merebut Doni dari lo, dia yang ngejar-ngejar gue," jelas Ratu.


"Lo pikir gue percaya sama lo," ucap Citra.


"Terserah!" Ratu menghempaskan tangan Citra dengan keras.


"Gue gak bakalan ngebiarin lo untuk ngancurin rumah tangga gue. Oh iya Citra, gue ini kesayangan dua keluarga ini, kalau mereka tahu lo bakalan macem-macem sama gue, apa lo pikir mereka bakal diem saja?" ancam Ratu dengan senyum miringnya.


"Lo takut berhadapan sama gue, makanya lo mau minta bantuan dari orang-orang!"


Ratu memilih pergi meninggalkan Citra yang mulai tidak terkendali. Ratu takut kalau dirinya juga akan lepas kontrol jika terus-terusan meladeni Citra.


"Mau kemana, lo. Takut sama gue?" terikat Citra.


Beruntung tidak ada yang mendengar pertengkaran keduanya.


Ratu menghentikan langkahnya dan berbalik, "Karena gue merasa masih waras, makanya gue memilih pergi," ucap Ratu.


Ratu kembali berjalan dan menaiki anak tangga menuju kamar yang sudah disediakan oleh oma Anna. Meninggalkan Citra yang sudah dalam keadaan kesal.


"Awas lo, Ratu. Gue bakal bales ini," ancam Citra. Gadis itu pun pergi meninggalkan rumah itu.


Sementara Ratu sedang berjalan menuju ke kamarnya dengan hati dongkol. Citra benar-benar membuat moodnya hancur. Ratu sampai di depan pintu kamarnya perlahan ia membuka pintu kamar dan setelah masuk ke dalam, Ratu terkejut melihat kamar itu di hiasi bunga mawar merah. Sudah seperti kamar pengantin.


"Bagaimana, suka gak?" tanya Raja.


Ratu menutup mulutnya karena merasa tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat. "Ini apa, Ja?" Ratu tersenyum bahagia.


"Kamar pengantin kita! Hadiah yang aku janjikan sama kamu." Raja memeluk Ratu dari belakang dan mencium tengkuk Ratu.


"Kapan kamu buat ini semua?" tanya Ratu masih dengan nada tak percaya.


"Aku sudah rencanain ini dari kemarin," jawab Raja.


Raja melepas pelukannya lalu ia bersimpuh di hadapan Ratu. "Mau berdansa?" tanya Raja. Raja mengulurkan tangannya kepada Ratu.


"Ratu tersipu malu, ia meletakkan air minum di meja rias di dekatnya, lalu menyambut uluran tangan Raja. Ratu menggenggam tangan Raja. Keduanya berdansa tanpa adanya musik, hanya alunan nada dari mulut Raja. Raja dan Ratu tertawa kecil bersama.


"Tapi ini bukan malam pertama kita lagi," ucap Ratu.


"Aku tahu!" sahut Raja.


"Terus?"


Raja berbisik di telinga Ratu, "Kita buat malam ini berbeda."


Ratu mengerutkan keningnya, dirinya tak tahu maksud dari ucapan Raja.


Raja tertawa kecil melihat wajah bingung istinya. Raja mencium punggung Ratu. Perlahan ia menurunkan resleting gaun Ratu dan meloloskan gaun itu dari tubuh Ratu. Kecupan Raja berikan di pundak polos Ratu berulang-ulang.


Ratu pasrah dengan apa yang dilakukan Raja. Ratu memejamkan matanya merasakan tiap sentuhan Raja. Sampai ia baru menyadari saat tubuhnya melayang diangkat oleh suaminya dan merebahkan tubuhnya ke ranjang.


Raja kembali menjalankan aktivitasnya. Disentuhnya setiap inci tubuh istrinya. Jejak merah keunguan ia tinggalkan di dada istrinya. Sentuhan demi sentuhan yang Raja berikan pada Ratu membuat istrinya itu mulai terpancing. Ratu mulai membalas permainan suaminya. Bahkan Ratu yang mengambil kendali permainan panas mereka.

__ADS_1


__ADS_2