
Keesokan paginya Raja dan Ratu bersiap ke kampusnya, mereka ingin membuktikan jika Raja tidak bersalah.
"Yank, udah siap?" tanya Ratu.
"Udah, Dek."
"Yuk, berangkat!" ajak Ratu. Ratu mengulurkan tangannya kepada Raja dan disambut oleh Raja.
Mereka berdua keluar dari kamar mereka. Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan. Mereka berharap semua ini cepat selesai.
Sementara di dalam hotel, Kiara mulai terbangun dari tidur pulasnya. Kiara merasakan tubuhnya lengket bekas pergulatan panas dirinya dan Leo semalam.
Kiara membuka matanya, ia merenggangkan tubuhnya dan tiba-tiba tangannya merasakan seseorang berada di sampingnya.
"Leo?" Mata Kiara terbelalak saat melihat dirinya dan Leo sama telanjang tanpa sehelai benang pun kecuali selimut yang menutupi tubuh keduanya. "Leo." Kiara mengguncang tubuh Leo hingga membuat Leo terbangun.
"Apa sih?" kesal Leo karena merasa tidurnya terganggu.
"Lo ngapain di sini?" tanya Kiara dengan nada kesal.
"Lo tanya gue ngapain di sini?"Leo mengambil posisi duduk. "Lo gak inget semalam? Lo minta bantuan gue buat ngejebak Raja, terus kenapa malah lo yang minum obat perangsang itu?"
Kiara menggeram kesal saat ingatannya kembali ke kejadian semalam. "Semalam ternyata Raja datang sama Ratu. Dia berhasil ngambil video asli kejadian waktu itu setelah itu mereka pergi. Gue kesel nggak sengaja minum air yang sudah gue kasih obat perangsang."
"Ogeb. Bisa-bisanya lo salah, ini namanya senjata makan tuan."
Kiara mendengus kesal. "Ini semua gara-gara lo juga, kenapa lo pake acara telat segala."
"Sorry gue tadinya masih ragu."
"Terus kenapa lo bisa telanjang?"
Leo tersenyum sinis, "Lo nggak inget semalam maksa gue buat...." Leo menghentikan ucapannya karena Kiara pasti sudah tahu apa maksud kelanjutan dari ucapannya.
Kiara memukul tubuh Leo menggunakan bantal. "Sialan Lo," maki Kiara.
"Udah lah. Kita sama menikmatinya juga kan." Leo tersenyum miring. Leo turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
"Mau mandi bareng nggak?" goda Leo.
"Najis. Nggak usah macem-macem," sungut Kiara.
"Najis? nggak salah! semalem aja minta nambah."
__ADS_1
Kiara terbelalak dan melempar dua bantal ke arah Leo.
"Sialan," umpat Kiara. "Kenapa jadi gue yang kejebak sama Leo,"gumamnya.
-
-
Raja memarkirkan mobilnya di area parkir kampusnya. Pesona Raja tidak akan luntur meski masalah dirinya dan Kiara sudah tersebar luas di seluruh kampus. Raja menyapa Angga, Aldo dan Panji saat mereka bertemu di parkiran itu. Tidak lama datang Leo dan juga Kiara.
"Gimana, lo udah dapat bukti kalo lo nggak salah?" tanya Angga.
"Udah."
"Ya sudah, tunggu apa lagi. Sekarang lebih baik kita ke ruangan rektor," usul Aldo yang langsung di angguki oleh Raja dan juga Ratu serta kedua temannya.
Saat akan ke ruangan Rektor, kelima anak muda itu di hadang langkahnya oleh Kiara dan juga Gea dan di belakang mereka ada Leo dan juga Adit.
"Masih berani lo dateng ke kampus, Ja," tanya Adit dengan nada sinisnya.
"Gue nggak salah ngapain gue takut?"
Tatapan mereka beradu dan saling menatap tajam. Namun adu pandang itu terhenti saat suara Gea terdengar di seluruh penjuru kampus.
Raja memang nggak salah, Kiara yang sengaja menjebak Raja. Video yang Kiara kasih waktu itu sudah dia edit dan video aslinya ada di hp Kiara. Dan setelah malam ini Raja sendiri yang akan mengakhiri hubungannya dengan Ratu karena Kiara akan membuat Raja benar-benar menyentuhnya.
Maksud Lo?
Tadi Kiara chat gue, dia sudah meminta Raja untuk datang ke hotel Anggrek. Dia mau ngejebak Raja dengan obat perangsang supaya Raja benar-benar mau nyentuh Kiara. Dan Lo tahu siapa yang ngebantuin Kiara?
Siapa?
Leo
Dan Suara Gea pun menghilang seketika.
Mata Raja dan Ratu langsung memicik tajam ke arah Leo, Gea, dan juga, Kiara. Raja yang sudah emosi langsung mencengkram jacket yang dikenakan Leo.
"Jadi lo ada di balik semua ini?"
Leo tidak menjawab. Leo memalingkan wajahnya tidak berani menatap kemarahan Raja. Emosi Raja yang sudah memuncak membuat Raja menghadiahi wajah Lao dengan pukulannya.
"Brengsek Lo, Leo. Gue kira lo bisa gue jadiin temen, tenyata gue salah nilai lo." Raja membuang ludahnya di hadapan Leo.
__ADS_1
"Dan lo, Kiara,,,," Raja menunjuk Kiara. "Lo emang cewek menjijikan."
Detik itu juga tangan Ratu melayang ke wajah Kiara. Tubuh Kiara jatuh ke lantai akibat tamparan Ratu yang sangat keras.
"Dasar cewek murahan."
Aldo, Angga, dan Panji menahan Raja serta Ratu agar tidak berbuat yang lebih dari itu.
"Udah Raja, Ratu, mending kita ke ruang Rektor sekarang," ucap Angga. Ketiganya pun menarik Raja dan Ratu menjauh dari tempat itu.
Sepeninggal Raja dan Ratu serta teman-temannya, Kiara langsung menghampiri Gea dan menampar wajahnya.
"Ini semua gara-gara lo. Kenapa lo ngebocorin rencana gue," maki Kiara.
Gea terdiam, dia merasakan perih di pipinya bekas tamparan Kiara. Bukan hanya pipinya yang sakit tetapi juga hatinya. Gea tahu siapa yang menyebabkan suara dirinya yang sedang berbicara dengan Alan kalau tidak Akan sendiri.
Gea tidak berbicara apapun untuk membela dirinya pada Kiara. Gea langsung pergi ke tempat di mana dia bisa menemukan Alan.
'Sialan lo Alan,' guman Gea dalam harinya.
Leo bangun dari lantai dengan dibantu oleh Adit. Leo merasakan perih di sudut bibirnya akibat pukulan keras Raja. Leo mengusap sudut bibirnya yang ternyata mengeluarkan darah. Leo menghampiri Kiara dan mencengkram pipi perempuan yang sudah menemaninya semalam.
"Ini semua gara-gara temen lo yang Ogeb itu. Bisa-bisanya dia mau di manfaatkan oleh Alan," teriak Leo.
Kiara tidak tinggal diam, dia berontak dan melepaskan cengkraman tangan Leo dari wajahnya. "Diem Lo."
Leo dan Adit memilih untuk pergi meninggalkan Kiara. Leo sudah merasakan akan mendapat masalah setelah ini.
Kiara menghentakkan kakinya berulangkali karena merasa marah. Rencana yang disusun rapi gagal total dan malah berbalik menyerang dirinya.
Gea berjalan dengan memegangi pipinya yang masih terasa perih. Gea berjalan menuju ruang audio untuk mencari Alan. Gea yakin jika yang menyebarkan percakapannya dengan Alan semalam tidak lain dan tidak bukan adalah Alan.
Gea menitihkan air matanya sepanjang perjalanannya. Ia merasa dirinya begitu bodoh sudah dibodohi oleh Alan. Rasa cinta pada Alan membuat dirinya tidak sadar sudah dimanfaatkan oleh Alan.
Gea sampai di depan ruang audio, tanpa permisi Gea langsung menerobos masuk ke dalam ruangan itu. Gea melihat Alan ada di sana memberikan senyum liciknya saat melihat kedatangan Gea.
"Jadi lo yang benar-benar menyebarkan suara gue ini?"tanya Gea pada Alan.
"Yes." Alan menjawabnya tanpa rasa berdosa sedikitpun.
"Lo jahat, Alan." tangis Gea. "Jadi semua yang lo lakuin sama gue itu bohong, Lo berantem sama Raja juga bohong?"
"Jelas itu acting, Sayang," ucap Alan dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Kenapa lo tega ngelakuin ini sama gue, Lan?"
"Karena gue nggak mau rumah tangga adek dan sahabat gue hancur."