Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
Permainan Ratu


__ADS_3

Bunyi alarm mengusik tidur Ratu. Dengan mata yang masih terpejam Ratu mencoba meraih jam weker di meja nakas yang ada di sebelahnya.


"Berisik banget sih!"


Pekikan Raja mengejutkannya, Ratu buru-buru mengambil jam weker dan langsung mematikannya. Suasana kamar kembali tenang, Ratu menaruh kembali jam itu ke tempat semula. Pandangannya mengarah ke samping, senyumnya mengembang saat melihat wajah Raja ada di hadapannya. Ratu tidak tahu kapan wajah babyface itu mencuri perhatiannya.


Andai waktu bisa dihentikan Ratu ingin lebih lama lagi memandangi wajah Raja. Meskipun waktu baru menunjukkan pukul 5 pagi Ratu harus bergegas, ada banyak pekerjaan lain yang harus ia selesaikan sebelum berangkat sekolah. Perlahan Ratu menyingkirkan tangan Raja yang melingkar di atas perutnya.


Ratu menyibakkan selimut lalu menurunkan kakinya hawa dingin langsung terasa saat kakinya menginjak lantai. Ia memakai alas kaki lalu berjalan keluar kamar dengan mengendap-endap agar tidak membangunkan Raja.


Ratu pergi ke kamar Raja untuk menyiapakan seragam sekolah Raja. Setelah itu Ratu masuk kembali ke kamarnya sendiri untuk membangunkan Raja.


"Ja, bagun! Sudah pagi." Ratu menepuk-nepuk pelan lengan Raja. "Ja, wake up!"


Tidak ada respon dari Raja. Ratu memikirkan cara lain untuk membangunkan Raja. Setelah mendapatkan ide Ratu menjentikkan jarinya. Ratu pun langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Raja, "Ja … lo gak mau bangun gue cium bibir lo."


Entah apa yang membuat Raja langsung membuka matanya. Raja memalingkan wajahnya dan bertemu tatapan dengan Ratu. Senyum mengembang di bibir Raja ditariknya pinggang Ratu membuat Ratu jatuh tepat di atas tubuhnya.


"Emang lo berani cium gue, Dek?''


Lah kenapa jadi gue yang kejebak?


Ratu benar-benar merasa gelisah setiap kali dekat dengan Raja. Pada saat itu ratu mulai sadar ada yang salah dengan dirinya.


"Jantung gue mau lompat, Ja. Kalau lo terus natap gue kaya gitu," guman Ratu dalam hati.


Ratu memutuskan pandangan itu, ia memalingkan wajahnya ke sisi lain untuk membunyikan rona merah di wajahnya.


Raja tersenyum penuh kemenangan melihat Ratu merasa malu. Selalu saja ada kesenangan tersendiri saat menggoda Ratu.


''Idiiiih … udah merah aja nih pipi," ledek Raja sambil menarik pipi Ratu.


"Nyebelin!" Ratu bangun dari atas tubuh Raja dan berlari ke kamar mandi.


Raja menggelengkan pelan kepalanya, bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Bersama Ratu selalu membuat mood-nya menjadi baik.


Raja keluar dari kamar Ratu untuk kembali ke kamarnya sendiri. Keningnya mengerut melihat seragamnya sudah siap di atas tempat tidur.


Senyum tiba-tiba saja mengembang saat teringat teringat ucapan Ratu semalam.


'selamat malam hubby'


Raja tersenyum-senyum sendiri seraya menggelengkan kepalanya. Tingkah Ratu selalu saja membuat Raja terkejut. "Dasar, Chubby," gumamnya.


Setengah jam Raja bersiap di dalam kamarnya. Setelah siap, Raja keluar dari kamarnya. Ia Raja berjalan menuruni anak tangga, pada saat yang sama indra penciumannya menangkap aroma lezat. Aroma itu menuntun Raja sampai ke dapur. Ternyata Ratu sedang membuat nasi goreng.


"Tumben masak?"


"Biar lo gak ngadu lagi sama mama."


Tidak lama dua porsi nasi goreng sudah siap di atas meja makan. Keduanya sarapan bersama, tidak ada ocehan Ratu melainkan dentingan sendok dan piring yang saling beradu. Setelah selesai sarapan keduanya berangkat ke sekolah bersama-sama, tetap dengan mobil yang berbeda.

__ADS_1


Raja dan Ratu memarkirkan mobil mereka saat tiba di sekolah di tempat yang berjauhan. Ratu malas jika harus melihat wajah marah Suci yang akan merusak mood-nya.


"Siap berakting lagi," guman Ratu seraya menghela napas panjangnya.


Ratu membuka pintu mobil dan melihat Alan sudah ada di samping mobilnya. Ingin menghindari Suci, tetapi justru bertemu dengan Alan. Ratu menggerutu di dalam hatinya.


"Pagi Ratu," sapa Alan.


"Pagi Alan," sapa balik Ratu.


Ratu melihat Raja berjalan melewati dirinya dan Alan untuk menghampiri Suci di gerbang sekolah. Ratu sedikit kecewa, tetapi misi untuk mendapatkan Raja akan dimulai dari detik itu juga. Ratu tidak akan mendekati Raja di sekolah melainkan sasarannya adalah Alan. Karena Ratu yakin Alan adalah kelemahan Suci.


Ratu juga tidak memberi tahu perihal video yang dia ambil di ruang penyimpanan kepada Suci maupun Alan, belum saatnya.


Ratu melingkarkan tangannya di lengan Alan dan langsung membuat Alan tersenyum sumringah. Keduanya berjalan beriringan menuju kelas Ratu. Di sepanjang koridor sekolah keduanya menjadi sorotan seluruh murid yang melihatnya. Banyak yang bergosip mengenal hubungan mereka.


Sesampainya di depan kelas Ratu melambaikan tangannya kepada Alan, lalu masuk ke dalam kelasnya. Rini sudah menanti Ratu dengan sangat khawatir. Dipegangnya kening Ratu untuk memastikan suhu badannya.


"Lo sehat, 'kan?" tanya Rini. "Bukannya lo benci banget sama Alan? Kenapa lo bisa mesra kaya tadi sama Alan?" tanya Rini penuh selidik.


Ratu menghembuskan napas berat lalu menatap Rini, "Kadang kalo kita mau mendapatkan sesuatu, kita harus mengorbankan sesuatu juga Rin," jawab Ratu yang semakin membuat Rini bingung.


"Gue gak ngerti maksud lo?"


"Gue gak bisa cerita ke lo sekarang, Rin," ucap Ratu.


Rini mengangguk dan tersenyum kepada Ratu dan memberikan semangat untuk temannya itu.


Hari-hari di sekolah dengan ritual yang sama yaitu belajar, istirahat, dan pulang dilewati oleh para siswa dengan penuh semangat. Jam istirahat adalah waktu yang paling dinanti setiap siswa untuk beristirahat sejenak dari kepenatan saat jam pelajaran.


Ratu dan Rini berjalan beriringan menuju kantin. Di jalan Ratu melihat Alan, Ratu pun melambaikan tangannya kepada Alan.


Di sudut lain Suci dan Raja yang melihatnya sama-sama merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hati mereka. Entah itu apa, hanya mereka yang tahu.


Ratu duduk di sebelah Alan begitu juga dengan Rini. "Yah seperti biasa gue jadi obat nyamuk,'' keluh Rini.


Alan dan Ratu terkekeh.


"Kasihannya sahabat gue ini. Gue traktir bakso deh," ucap Ratu.


"Nanti gue kenalin lo sama cowok deh, biar lo gak jomblo lagi,'' lanjut Alan dibalas cibiran oleh Rini.


Waktu berputar begitu cepat, tidak terasa sudah sore hari dan waktu belajar pun telah usai. Ratu berjalan di koridor sekolah sendiri. Tanpa sengaja Ratu melihat Suci berjalan dengan menarik lengan Alan dan mereka masuk ke dalam ruang Osis.


Ratu memutuskan untuk mengikuti keduanya. Sampai di depan ruang osis Ratu menempelkan telinganya untuk menguping pembicaraan antara Alan dan juga Suci.


Samar-samar Ratu mendengar pembicaraan keduanya, Ratu bisa sedikit mendengar kalau Suci tidak suka jika Alan dekat dengannya. Ratu tertawa dalam hatinya senjatanya tepat mengenai sasaran. Ratu juga mendengar Alan berbicara kepada Suci, kalau dirinya mendekati Ratu hanya untuk menyakitinya. Kalau Ratu sudah jatuh cinta padanya, Alan akan langsung meninggalkannya.


Ratu mengepalkan tangannya, setelah mendengar itu. "Awas lo, Lan. Akan ada senjata yang makan tuannya nanti."


Ratu segera melarikan diri dari ruang OSIS saat mendengar ada yang memutar kunci dari dalam. Ratu berlari ke arah parkiran dan saat sampai di samping mobilnya Ratu mencoba menetralkan napasnya yang tersengal-sengal.

__ADS_1


"Untung gak ketahuan.''


Ratu segera masuk ke dalam mobil dan melesat menuju apartemennya. Sepanjang perjalanan, Ratu tidak henti-hentinya mengumpat, mengucapkan sumpah serapah untuk Alan dan Suci.


"Emang dasar tuh orang. Berani ganggu suami gue, bakal berhadapan sama gue."


Rasa kesal Ratu bertambah saat mengingat betapa bodohnya Raja yang sangat percaya kepada Suci. "Bodoh banget lo, Ja. Apa segitu sayangnya lo sama Suci, sehingga lo nutup mata hati lo."


Ratu menambah laju mobilnya untuk melampiaskan kekesalannya. Gedung apartemen sudah terlihat di mata Ratu. Ratu mulai mengurangi kecepatan laju mobilnya membelokan setir dan masuk ke basmant.


Ratu memarkirkan mobilnya di parkiran bawah tanah. Melepas safety belt yang melingkar di tubuhnya, mematikan mesin mobil dan keluar dari mobil. Ia meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju lift yang akan mengantar dirinya ke unit apartemen yang ia tinggali. Sesampainya di depan pintu apartemennya, Ratu menekan passcode lalu membuka pintu itu.


Saat Ratu masuk ke dalam apartemen, Ratu tidak mendapati Raja di dalam apartemennya, mungkin sedang jalan sama Suci, pikirnya.


Ratu masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Rasa lelah seharian berada di sekolah membuat Ratu perlahan terlelap.


Pukul 6 sore Ratu terbangun . Berulang kali Ratu mengedipkan matanya untuk beradaptasi dengan cahaya di sekelilingnya. Saat kesadarannya sudah terkumpul Ratu beranjak dari ranjangnya dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Ratu kembali teringat keberadaan Raja, Ratu memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan mendapati Raja baru memasuki apartemennya. Ratu melihat raut wajah Raja yang begitu senang.


"Seneng banget lo, Ja?" tanya Ratu seraya berjalan mendekati Raja di ruang tamu lalu duduk di sampingnya.


"Abis jalan sama Suci?" tanya Ratu lagi.


"Hmmmmm," jawab singkat Raja.


Sakit memang mendengarnya, tetapi Ratu berpura-pura untuk tetap bahagia. "Oleh-olehnya mana? Gue laper," rengek Ratu.


Raja memutar bola matanya jengah baru saja datang dan langsung dirampok oleh Ratu. Raja akhirnya memesan makanan lewat online. Setelah itu Raja kembali menaruh ponsel miliknya di atas meja, tatapannya mengarah ke Ratu.


"Lo ngapa liatin gue kaya gitu?" tanya Ratu.


"Dek … lo serius jadian sama Alan?" tanya Raja.


"Gak, cuma lagi deket aja."


"Dek, lo harus hati-hati sama Alan, dia gak baik."


"Kata Suci?" tanya Ratu kepada Raja.


Raja mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dek, gue gak mau lo kenapa-napa."


"Ja … gue bisa jaga diri gue sendiri kok. Lo gak perlu repot-repot ngurusin urusan gue. Lo urus aja cewek lo, si Suci itu." Ratu mendengkus kesal, tetapi dalam hatinya bahagia ternyata Raja masih mengkhawatirkannya.


"Dasar … Suci bilang ke Raja kalau Alan gak baik, tapi sendirinya suka."


Ratu menatap Raja, ia ingin sekali menggoda Raja. "Ja, lo gak suka gue deket sama Alan karena khawatir sama gue, apa lo cemburu?"


Raja tidak menjawab pertanyaan Ratu, Raja menatap lekat-lekat wajah Ratu lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Ratu. Ia menyatukan keningnya dengan kening Ratu. Pandangan matanya bertemu dengan Ratu, tetapi perlahan Raja menutup kedua matanya.


"Gue gak tahu," ucap Raja lirih.

__ADS_1


__ADS_2