
Mohon dukungannya, berikan like, Rate, vote, favorit serta saran dan kritiknya.
Happy reading.....
Raja dan Ratu keluar dari kamar secara bersama-sama. Keduanya menuruni anak tangga dan langsung disapa oleh pekerja di rumah oma Anna.
"Pagi, Den Raja, pagi Non Ratu," sapanya.
"Pagi, Bi," ucap Ratu dan Raja.
"Oma sama Opa di mana, Bi?" tanya Ratu
"Lagi sarapan di meja makan, Non."
"Oh, ya udah makasih ya, Bi."
Ratu dan Raja berjalan ke arah meja makan. Benar saja, di meja makan sudah ada oma dan opa nya. Mereka pun menyapa kedua orang tua itu secara bergantian.
"Pagi, Oma, Opa," sapa Ratu dan Raja.
"Pagi juga, Sayang," sapa balik oma Anna dan opa Roni.
"Maaf kami terlambat bangun," ucap Raja. Raja menarik kursi di meja makan bersamaan dengan Ratu.
"Ah, tidak apa-apa. Kami memaklumi. Lagi pula kami juga sudah ingin menggendong cicit," ucap opa Roni dan dibenarkan oleh oma Anna, istrinya.
"Siap Opa, Oma. Doain aja biar cepat dikasih kepercayaan buat kami," ucap Raja penuh semangat.
"Amin," ucap Ratu.
Ratu tersenyum, melihat Raja sudah tak lagi merasa terbebani jika membahas masalah anak. Sang suami justru terlihat sangat bersemangat untuk itu.
"Ayo cepat sarapan. Obrolannya kita sambung nanti," ucap oma Ana.
Keempatnya mulai memakan sarapannya bersama. Oma Anna dan opa Roni sangat menyukai Raja. Keduanya merasa beruntung Anita menjodohkan Ratu dengan Raja dan juga sangat berterimakasih pada Gunawan sudah mempertemukan Anita dengan Mahendra. Sejak pertama Anita memperkenalkan Mahendra, keduanya langsung menyetujui hubungan mereka.
Setelah sarapan, Raja dan Ratu pamit untuk kembali ke rumah eyang Murti dan Bagus untuk menemui teman-temannya.
"Salam, buat kedua eyang kamu ya, Ratu," ucap oma Anna.
Ratu pun mengangguk. Setelah menyalami oma dan opanya, keduanya langsung melesat menuju rumah eyang Murti dan Bagas.
__ADS_1
Raja membukakan pintu mobil untuk Ratu setelah itu Raja berjalan memutar mobilnya menuju kursi kemudi di samping Ratu. Raja mulai menyalakan mesin mobilnya dan mobil itu melaju meninggalkan pekarangan rumah itu.
Sepanjang perjalanan keduanya nampak sangat bahagia. Senyum selalu menghiasi bibir keduanya. Apalagi saat keduanya mengingat malam panas semalam. Keduanya benar-benar merasakan hal yang berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Jalanan saat itu tidak padat membuat mereka sampai dengan cepat ke rumah eyang Murti. Mobil yang Raja kendarai memasuki jalanan komplek perumahan di mana rumah eyang Murti dan Bagus berdiri kokoh. Keduanya berhenti di depan rumah berpagar besi warna hitam. Raja membunyikan klakson mobilnya, tak berselang lama pak Asep datang untuk membuka pintu gerbang.
Raja kembali melajukan mobilnya untuk masuk ke dalam pekarangan rumah besar itu. Keduanya turun dari mobil dan langsung melihat teman-temannya sedang duduk di pendopo kecil bersama eyang Bagus. Raja menghampiri teman-temannya, sedangkan Ratu masuk ke dalam rumah untuk menemui eyang putrinya.
"Pagi semua?" sapa Raja.
"Eh, pagi, cucu mantuku." Eyang bagus menjawab salam Raja tanpa melihatnya.
Raja nampak bingung, teman-temannya tak membalas salamnya. Mereka fokus melihat papan catur di antara eyang Bagus dan Egi.
"Kusut banget muka kalian?" tanya Raja.
"Eh, Ja … kapan lo dateng?" tanya Egi.
Raja mendesah, "Lo pada baru nyadar gue datang?" kesal Raja.
Raja menggelengkan kepalanya, ternyata teman-temannya tak menyadari kedatangannya. Bahkan mereka juga tak menyadari jika dirinya dan eyang Bagus sudah berbalas sapaan.
"Maklumin saja, Raja. Mereka sedang berpikir bagaimana caranya mengalahkan eyang main catur ini." Eyang Bagus menunjuk papan catur yang ada di hadapannya.
Raja mengambil posisi duduk di sebelah Egi, tangannya ia sandaran di pundak sahabatnya. Raja ikut memperhatikan papan catur di hadapannya yang hanya tinggal beberapa pion saja. Raja ikut menggigit ujung ibu jari tangannya, dirinya ikut berpikir untuk langkah selanjutnya.
Raja mulai menggerakkan satu pionnya. Di susul eyang Bagus. Beberapa detik kemudian, Raja menyeringai senang.
"Eyang yakin gak mau merubah jalan lagi?" tanya Raja.
"Gak dong, eyang yakin," jawab eyang dengan rasa percaya dirinya.
"Oke!" Raja mulai menggerakkan kembali pionnya. "Skak mat!"
Eyang Bagus dan teman-teman Raja memperhatikan papan catur. Beberapa detik kemudian, mereka semua bertepuk tangan untuk Raja.
"Wah, keren lo, Ja. Baru maen udah bisa ngalahin nih aki-aki," puji Egi.
"Biar aki-aki, tapi jiwa masih muda dong," balas eyang Bagus dengan mengangkat kedua tangannya bergaya seperti olahragawan.
"Awas Kek, jangan kebanyakan tingkah. Encok itu pinggang," ledek Egi.
__ADS_1
Eyang bagas melirik wajah Egi yang baru saja meledek dirinya. Diambilnya tongkat yang biasa eyang Bagus gunakan untuk berjalan lalu mengarahkannya ke leher Egi. Eyang Bagus menarik kepala Egi menggunakan tongkat di tangannya.
"Kamu berani ngatain eyang?" Wajah eyang Bagus dibuat segarang mungkin.
"Ampun, Eyang!" mohon Egi.
Gelak tawa eyang Bagus, Raja, Aldo, Angga, dan Panji meledak saat melihat ekspresi wajah Egi yang memelas itu.
Eyang Bagus sama sekali tak merasa tersinggung atau pun marah dengan ucapan Egi. Justru eyang Bagus merasa senang jika teman-teman cucunya itu bisa berbicara bebas dengan dirinya.
"Ya ampun Eyang, kalo Egi mati gimana? Egi 'kan belum nikah, Eyang," ujar Egi dengan tangan mengusap lehernya dan wajahnya dibuat sesedih mungkin.
"Makanya cepet lamar si Rini," ucap Angga.
"Nyambar aja lo Ngga, kaya gledek," ucap Egi. Dan lagi-lagi tawa terdengar di pendopo mini itu.
"Raja! sini Nak!" perintah eyang Bagus.
"Ada apa Eyang?" tanya Raja.
Raja berpindah duduk di samping eyang Bagus. Eyang Bagus merangkul cucu mantunya. "Anita memang tidak salah memilih kamu untuk mendampingi Ratu. Selain kamu baik, kamu juga pintar," puji Eyang Bagus.
Tepukan tangan kecil diberikan oleh teman-temannya. Aldo, Angga, Panji, dan Egi pun senang memiliki teman sebaik dan sepintar Raja.
"Jelas dong Eyang.Si Raja sangat bisa diandalin. Apalagi kalau masalah ujian sekolah," ucap Angga.
Keenam laki-laki itu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Eyang Bagus dan Raja berjalan bersebelahan, tangan Bagus masih melingkar di pundak cucu mantunya itu.
Keenamnya berjalan menuju ruang tengah di mana ada sofa panjang untuk duduk sekitar sepuluh orang, serta tv besar dan karpet di lantai yang tergelar rapi. Ruangan tengah itu seperti home teater.
Mereka melihat Ratu, Rini, dan eyang Murti sedang duduk sambil menikmati buah yang sudah terpotong-potong di atas piring. Tiga perempuan itu menoleh saat menderang suara ramai.
"Eh, sudah selesai main catur nya?" tanya eyang Murti dengan lembut.
"Sudah dong!" jawab Egi.
"Siapa yang menang?" Kini Ratu yang bertanya.
"Nih!" Eyang Bagus menepuk bangga pundak Raja. "Suamimu!"
"Wah, ini baru pertama kalinya loh, Eyangmu itu kalah main catur," ucap Eyang Murti.
__ADS_1
"Ini tandanya eyang juga percayakan cucu eyang yang cantik ini pada Raja," ucap Eyang Bagus.
Ratu tersenyum bahagia jika kedua eyangnya menyukai Raja. Dulu kedua eyangnya sangat over protektif pada dirinya mengenai pasangannya kelak. Tak sekalipun mereka membiarkan Ratu untuk dekat dengan lelaki yang menurut mereka tak baik. Namun kini, segala tentang dirinya mereka percayakan sepenuhnya pada sosok Raja.