Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
RBR 105


__ADS_3

Sedih banget, karya ini view-nya kesalip sama karyaku Cinta beda usia. Like nya dong......


Happy reading


Raja, Ratu beserta teman-temannya sedang duduk di meja bundar besar untuk memakan hidangan yang sudah di sediakan. Tidak lama sepasang pengantin baru itu datang dan bergabung dengan mereka.


"Wiih pengantin baru, keliatan banget tuh bahagianya," goda Panji.


"Sirik aja lo, makanya cepet halalin Gea," balas Angga.


"Tahu tuh sirik aja," imbuh Egi membuat Panji mendengus malas.


Pandangan Panji mengarah pada buket bunga yang tidak lepas dari tangan Egi. "Gi, itu bunga mau lo kasih ke siapa? Mending lo kasih ke gue aja." Panji mencoba merebut buket bunga itu dari yang Egi. Namun dengan cepat Egi menyembunyikannya ke belakang tubuhnya.


"Mau gue kasih ke siapapun itu urusan gue," sungut Egi.


"Emang lo udah punya cewek?" goda Aldo.


"Nanti gue cari," balas Egi.


"Keburu layu kali tuh bunga," ledek Aldo lagi.


"Bodo amat," cuek Egi.


Tiba-tiba suara tangis anak kecil mengalihkan pandangan mereka. Ternyata baby Al, sedang mengamuk kembali. Suci bahkan kewalahan untuk menangani Alvin yang sedang mengamuk.


Ratu segera menghampiri Suci dan mencoba membantunya, namun sama saja Alvin masih tetap menangis. Egi merasa kasihan melihat tangis Alvin yang tidak berhenti menangis. Egi beranjak dari duduknya untuk menghampiri Suci.


"Ci," Egi memberikan bunga itu pada Suci. "Tolong pegangin ini, gue coba bawa Alvin ke luar mungkin dia merasa sesak di sini."


Egi mengambil alih Alvin dari gendongan Ratu dan membawanya keluar dari ballroom itu. Suci mengikuti Egi dari belakang. Egi dengan sabar mencoba menenangkan Alvin. Egi membawanya ke taman di samping hotel itu. Dan usahanya tidak sia-sia karena Alvin berhasil Egi tenangkan.


Suci akhirnya bisa bernafas lega melihat Alvin berhasil tenang bahkan ia tertidur di gendongan Egi. "Syukurlah," ucap Suci.


Suci berniat mengambil alih Alvin dari gendongan Egi namun tidak disangka Alvin memegang kuat kemeja Egi.


"Sepetinya dia lebih tenang sama Lo," ucap Suci.


"Biarkan dia untuk terlelap dulu."

__ADS_1


"Apa nggak ngerepotin lo?" tanya Suci yang merasa tidak enak kepada Egi.


"Nggak lah."


Egi mengambil posisi duduk di bangku taman. Alvin nampak nyaman di gendongan Egi. Suci tidak menyangka jika orang urakan seperti Egi bisa menenangkan seorang anak kecil yang sedang mengamuk.


"Anak lo mirip banget sama Alan ya." Egi tidak berhenti memandangi wajah polos anak kecil yang ada di dalam gendongannya.


"Ya iya lah, dia kan anaknya Alan yang jelas mirip sama papanya."


Egi berdecak, "Beruntung banget si Alan, cowok berengsek kaya dia punya anak semanis ini," ledek Egi. "Oh iya, gue nggak liat Alan dari tadi, kemana tuh anak nggak kangen apa sama gue."


"Dia lagi keluar kota, besok baru kembali." Mendadak Suci terlihat murung entah kenapa yang jelas Suci merasa tidak tenang.


"Lo kenapa, Ci. Kok gelisah banget?" tanya Egi.


"Nggak tahu, Gi. Dari tadi perasaan gue nggak enak banget?"


"Pantes anak lo rewel, lo nya aja keliatan nggak tenang gitu."


"Apa hubungannya?"


"Kata nyokap gue, suasana hati anak akan ngikutin suasana hati orang tuanya."


Suci mengambil ponsel dari dalam tasnya. Suci mengerutkan keningnya saat ada nomer tidak di kenal menghubungi dirinya. Suci merasa penasaran lalu menerima panggilan itu. Suci menempelkan benda pipih itu ke telinganya, Suci terlihat bingung siapa yang sedang berbicara di sebrang sana namun beberapa saat kemudian tubuhnya melemah dan ponselnya jatuh dari tangannya.


Egi yang melihat itu nampak bingung apalagi setelah Suci mulai kehilangan keseimbangan tubuhnya. Egi berlari dengan Alvin yang masih didalam gendongannya.


"Ci, bangun!"


Tidak ada respon, Suci pingsan, Egi tidak tahu apa yang terjadi, segera Egi mengambil ponsel Suci yang masih tersambung dengan sang penelfon untuk mengetahui apa yang terjadi. Egi mulai menempelkan ponsel milik Suci ke telinganya Egi pun terkejut saat orang dari seberang mengatakan jika Alan kecelakaan. Segera Egi mematikan sambungan telepon itu dan langsung menghubungi Raja.


Egi tidak bisa berbuat apapun karena Alvin masih ada di dekapnya. Egi baru menyadari, pantas saja Alvin rewel ternyata anak kecil itu punya firasat buruk tentang papanya.


Setelah menunggu beberapa menit Raja dan yang lainnya datang.


"Suci, bangun!" Ratu mencoba menepuk-nepuk pipi Suci namun tidak ada respon.


"Kita pindahin Suci ke bangku taman dulu," usul Panji.

__ADS_1


Tidak menunggu waktu lama Panji langsung membopong tubuh Suci ke bangku yang ada di taman. Ratu duduk untuk menjadikan pangkuannya sebagai bantal kepala Suci.


Berulang kali Ratu dan yang lainnya mencoba untuk membangunkan Suci.


"Coba pake minyak angin." Maura memberikan minyak angin yang ia bawa dan memberikannya pada Ratu.


Ratu membuka tutup minyak angin itu dan menaruhnya di depan hidung Suci, sepertinya berhasil. Suci mulai bergerak.


"Ci, bangun."


Suci mulai membuka matanya, namun yang langsung dia ingat adalah Alan.


"Ratu ... Alan. Alan kecelakaan."


"Suci tenang."


Suci semakin histeris, Egi mengajak Raja dan Ratu untuk ke rumah sakit yang baru saja menghubungi Suci.


"Kita jangan pergi semua harus ada yang tetap di sini untuk menemani Angga sama Rini," ujar Egi.


"Panji, Aldo, kalian tetap di sini. Gue sama Raja, Ratu, dan Suci yang pergi, nggak enak sama Angga kalau kita pergi semua," lanjut Egi.


"Oke, kalian hati-hati di jalan. Kabari kita kalau ada apa-apa," pesan Aldo.


Raja, Ratu, Suci, serta Egi pergi ke parkiran mobil. Keempatnya masuk ke dalam satu mobil dan menuju rumah sakit terdekat dengan lokasi kejadian dan itu ada di luar kota.


Di dalam perjalanan Suci tidak berhenti menangis. Beruntung baby Alvin anteng di gendongan Egi.


"Dek, kamu sudah hubungi papi sama bunda belum?" tanya Raja.


"Udah, aku udah kirim pesan tadi," jawab Ratu.


Oke itu hanya perasaan Raja atau memang Ratu menjawab dengan nada dingin.


Raja tidak ingin membahas itu, karena yang terpenting adalah melihat keadaan Alan.


Suci masih belum percaya jika Alan kecelakaan. Suaminya bilang akan pulang esok hati kenapa tiba-tiba suaminya kecelakaan di jalan tol.


(Kilas balik)

__ADS_1


Saat Alan melihat anak kesayangannya menangis karena merindukan dirinya, Alan memutuskan untuk menyelesaikan pekerjaannya hari itu juga. Alan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan jagoan kecilnya. Tanpa menghiraukan rasa lelah di tubuhnya Alan tetap memaksa untuk pulang hari itu juga.


Alan memasuki jalan tol di daerah Jawa barat. Namun, Alan tetap memaksa untuk terus melaju tanpa menghiraukan rasa kantuknya. Alan mendadak tidak bisa mengendalikan laju mobilnya dan kehilangan keseimbangan laju mobilnya. Mobil Alan melaju keluar jalur dan masuk ke jalur yang berlawanan. Di jalur itu mobil Alan tertabrak oleh mobil yang sedang melaju kencang. Alhasil mobil Alan terguling dan melintang di tengah jalan tol yang langsung membuat kemacetan panjang di jalan tol itu.


__ADS_2