
Mohon dukungannya....
Like, Vote, Tips, favorit, Rate dan komentarnya.
Happy reading...
Ratu menunggu Raja di depan kelasnya dengan rasa tidak tenang.
"Kenapa Raja lama sekali sih?" tanya Ratu pada dirinya sendiri.
"Tenang saja, Ratu. Lagian Raja sudah gede, nggak bakal ada yang culik kok," ucap Alan bermaksud untuk mencarikan suasana.
"Nggak lucu," sungut Ratu.
Ratu berjalan mondar-mandir di depan kelasnya. Entah kenapa perasaan tidak enak sepeti masalah antara Raja dan Citra waktu di Jogja muncul kembali.
"Tuh Raja," tunjuk Aldo.
Ratu, Alan, dan Suci langsung menoleh ke arah Raja yang sedang berlari kecil ke arah meraka.
"Ya ampun, Yank. kamu kemana saja, aku cemas tahu," ucap Ratu saat Raja sudah berada dekat dengan dirinya.
"Maaf."
"Kok kamu bau parfum lain sih?" tanya Ratu yang mencium bau parfum berbeda dari yang biasa dipakai Raja.
Mendadak raut wajah Raja berubah dan itu di sadari oleh Alan. "Kenapa, lo?"
Raja hanya bisa menghela nafas, ia ragu untuk menceritakan pada istri dan juga teman-temannya, apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan Kiara.
Ratu yang menyadari perubahan wajah suaminya mencoba bertanya pada suaminya itu. "Yank, kamu kenapa?"
Raja memandang wajah istrinya dan mengusap pipinya. "Ada yang ingin gue ceritakan pada kalian."
Ratu, Alan, Suci, dan Aldo penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh Raja. Raja, Ratu, dan yang lainnya berjalan menuju parkiran kampus. Raja memilih untuk duduk di bawah pohon besar yang ada di area parkir. Raja menarik nafas sebelum menceritakan apa yang sudah terjadi di toilet bersama kiara.
"Brengsek tuh cewek, kenapa sih tuh cewek masih saja nggak tahu malu," umpat Alan.
Raja melihat Ratu yang tidak berkomentar dan malah terdiam. Namun, Raja menyadari jika Ratu dalam keadaan emosi hanya dengan melihat tangan Ratu yang mengepal.
"Dek ...." Belum sempat Raja berbicara kepada Ratu, seseorang lebih dulu memanggil namanya.
"Raja ...."
Raja dan yang lain nya menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah Leo.
__ADS_1
"Lo dipanggil ke ruangan Rektor." Raja menaikan satu alisnya, ada apa dirinya di panggil ke ruangan rektor.
'Apa ini ada hubungannya dengan kejadian di toilet tadi.' pikir raja.
"Oke, gue ke sana." Raja mengusap wajahnya frustasi.
"Aku temenin ya, Yank." ucap Ratu dan di angguki oleh Raja.
Raja dan Ratu berjalan menuju ruangan Rektor. Mereka berjalan dengan saling men genggaman tangan satu sama lain. Ratu bisa melihat pandangan sinis para mahasiswa dan mahasiswi di kampus itu. Namun Ratu tidak memperdulikan mereka.
Raja dan Ratu sampai di ruang Rektor disusul ketiga temannya, Alan, Suci dan Aldo.
Raja mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan Rektor.
"Permisi, Pak. Bapak memanggil saya?" tanya Raja.
"Saya mendapat laporan jika kamu berlaku tindakan kurang ajar pada Kiara di toilet laki-laki." Rektor itu menunjuk ke arah Kiara, yang sedang duduk menangis di pelukan Gea.
"Bohong itu, Pak. Dia sendiri yang menghampiri saya ke toilet itu dan meminta saya untuk menciumnya." Raja menjelaskan kejadian waktu itu pada Rektor dan wakil Rektor.
"Bohong, Pak. Raja sendiri yang menyeret saya masuk ke dalam tempat itu. Dan dia memaksa saya untuk ...." Kiara tidak melanjutkan ucapannya dan langsung menangis di pelukan Gea. "Kalau Bapak tidak percaya saya punya buktinya."
Kiara mengambil sesuatu dari dalam tas nya. "Aku mendapat kiriman video ini dari seseorang. Dia yang melihat semua kejadian itu."
Kiara memberikan video di ponselnya ke wakil rektor. Di video itu Raja terlihat memaksa untuk mencium Kiara. Apalagi Di tambah suara Kiara yang seolah meminta tolong pada Raja untuk melepaskannya.
"Bohong, Pak. Itu Bohong. Jelas-jelas perempuan ini yang sudah menghampiri saya sendiri ke sana." Raja tidak mau kalah, karena memang semua yang terjadi di video itu semuanya bohong.
"Tapi di video ini menunjukan hal yang berbeda dari cerita kamu Raja. Dan saya tidak akan bisa mentolerir ini lagi. Apalagi ini terjadi di lingkungan kampus, kamu bisa mencoret nama baik kampus," ujar wakil Rektor.
"Ini tidak adil, Pak. Saya dihukum untuk tindakan yang saya tidak lakukan."
"Sudahlah Raja, lo sudah tidak bisa mengelak lagi. Gue mau lo bertanggung jawab atas apa yang sudah lo lakukan ke gue."
"Apa maksud lo?" tanya Raja.
"Nikahin gue."
"Mimpi. Gue sudah punya istri dan lagi pula gue nggak bakalan bertanggung jawab dengan apa yang nggak pernah gue lakukan."
"Terserah. Aku kasih kamu waktu satu minggu untuk berpikir."
"Nggak perlu satu minggu. Detik ini juga gue jawab, dan jawaban gue tetep sama, Gue nggak akan bertanggung jawab dengan apa yang nggak pernah gue lakuin sama lo," ucap Raja penuh penekanan.
"Terserah lo, kalau lo gak mau gue bawa masalah ini ke jalur hukum."
__ADS_1
"Terserah lo."
"Permisi, Pak. Saya akan buktikan jika saya tidak pernah melakukan hal yang dituduhkan oleh perempuan ini." Mata Raja melirik ke arah Kiara. Setelah mengucapkan kata-kata itu Raja keluar dari ruangan itu dan menyusul Ratu yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan rektor itu.
Raja berlarian untuk mengejar Ratu. Raja cemas jika Ratu percaya dengan apa yang ada di dalam video itu. Raja berlari, namun tidak juga menemukan Ratu. Raja akhirnya berlari ke arah parkiran motor dan menemukan istrinya sedang duduk di atas motornya.
"Ya ampun, Dek. Aku cari-cari kamu ternyata kamu di sini."
"Kita pulang, Yank," ajak Ratu.
"Dek, please. Dengerin penjelasan aku dulu." Mohon Raja.
"Kita pulang sekarang, Yank."
"Tapi.."
"Please."
"Oke."
Raja pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia akan berusaha untuk membuktikan jika dirinya memang tidak bersalah, apapun caranya.
Raja mulai menyalakan mesin dan melajukan motornya meninggalkan area kampus. Raja dan Ratu sama-sama diam di atas motor. Raja benar-benar takut jika Ratu lebih percaya dengan apa yang ada di dalam video itu.
Raja membelokkan motornya dan masuk ke dalam parkiran gedung apartemennya. Ratu turun dari motor begitu saja dan langsung melesat meninggalkan Raja.
"Ratu."
Raja mencoba memanggil Ratu, namun tidak dipedulikan oleh istri nya itu. Raja hanya bisa menghela nafas dan berjalan menyusul Ratu. Sesampainya di depan pintu apartemennya Ratu menekan pasccode dan setelah pintu terbuka Ratu segera masuk ke dalam apartemen lalu meletakan helm nya secara kasar di sofa ruang tamu.
"Dek sumpah, aku nggak melakukan itu dengan Kiara, please. Dek percaya sama aku." Raja memohon kepada Ratu bahaikan sampai rela berlutut di hadapan perempuan yang amat di cintai nya itu.
"Yank, kamu apa-apaan sih. Bangun dong, jangan kaya gini." Ratu membantu Raja berdiri. "Kamu apa-apaan sih, Yank?"
"Dek, aku beneran nggak melakukan apa yang dituduhkan Kiara sama aku," ucap Raja. Raja masih memohon kepada Ratu untuk mempercayai dirinya.
Ratu memegang kedua sisi wajah Raja dan tersenyum. "Yank, aku percaya sama kamu bahkan aku percaya sepenuhnya sama kamu. Meski kamu nggak menjelaskannya sama aku." ucap Ratu penuh keyakinan
"Beneran?" Ratu pun mengangguk. "Tapi kenapa kamu ninggalin aku kaya tadi, dan sikap kamu dingin sama aku?"
"Aku ninggalin kamu karena aku lagi emosi, Yank. Kalau aku terus-terusan di sana bisa-bisa aku lepas kendali dan mencakar wajah Kiara." Ratu mengepalkan tangannya dan menghentakkan kakinya berulang-ulang saat ia harus mengingat perempuan penggoda itu.
"Maaf ya," ucap Raja. Raja memeluk Ratu dari samping.
"Iya ,Yank. Aku akan kasih pelajaran sama tuh cewek biar tahu rasa," geram Ratu.
__ADS_1
"Singa betinaku ini sungguh menggemaskan." Raja mencubit kedua pipi Ratu dengan gemas, dan berhasil membuat keduanya tertawa lebar.