Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
RBR 65


__ADS_3

Selamat Tahun Baru Hijriah 1442 H


Happy reading....


Ratu berdiri di depan kaca besar tepat di samping ruang ICU. Ratu bisa melihat Egi terbaring dengan selang oksigen terpasang pada mulut hingga hidungnya. Ratu masih merasa bersalah telah mengajak Egi dan Rini ke Jogjakarta.


"Rini di mana?" tanya Ratu pada Angga.


"Ada di ruang ICU juga, di samping tempat ini," tunjuk Angga ke arah pintu di sebelah ruangan Egi berada.


Ratu dan Raja bergeser menuju ruang ICU di mana Rini dirawat. Ratu dan Raja melihat keadaan Rini yang tak beda jauh dari keadaan Egi.


"Kenapa bisa kaya gini sih?" sesal Ratu. Ratu tak kuasa melihat keadaan dua sahabat nya. Ratu akhirnya menangis sejadi-jadinya di pelukan Raja. Raja mengusap pundak Ratu untuk menenangkan Ratu dan mengusap air mata yang mengalir di matanya sendiri.


Angga mengajak Ratu dan juga Raja ke kantin untuk sekedar minum kopi. Angga adalah orang pertama yang tahu kalau Egi dan Rini kecelakaan dan kejadian itu terjadi tepat pukul delapan malam, tepat setelah Raja mengirim pesan pada semua teman-temannya. Angga melihat jelas kecelakaan itu dengan mata kepalanya sendiri, karena saat itu mobil Angga berada tepat di belakang mobil Egi. Angga menceritakan pada kedua sahabatnya itu. Mobil Egi terlihat melaju tak terkendali sampai akhirnya mobil Egi menabrak pembatas jalan dan masuk ke jalur di sebelahnya, setelah itu mobil Egi tertabrak mobil yang sedang melaju kencang karena posisi mereka masih berada di jalan tol. Mobil Egi terbalik dan berguling beberapa kali.


Angga langsung memutar arah laju mobilnya ke jalur di sebelahnya. Angga yang pada saat itu satu mobil dengan Panji dan Aldo melihat mobil Egi yang sudah terbalik dan melintang di jalan tol yang langsung menyebabkan kemacetan panjang. Ketiganya pun langsung turun dari mobil dan segera meminta bantuan kepada pengendara lainnya.


Angga tak kuasa melihat keadaan Egi dan Rini saat itu. Beruntung saat itu ada mobil polisi yang sedang melakukan patroli di jalan tol dan langsung mengevakuasi mobil Egi. Polisi langsung membawa Egi dan Rini ke rumah sakit terdekat. Angga langsung menghubungi Papah dan mamahnya Egi dan juga orang tua Rini.


Orang tua Egi dan Rini langsung melesat ke rumah sakit terdekat dari tempat kejadian itu. Setelah mereka datang, orang tua Egi meminta untuk memindahkan Egi dan Rini ke rumah sakit di Jakarta. Angga merasa ini adalah sebuah keajaiban, Rini dan Egi bisa selamat dari kecelakaan itu. Meski luka mereka cukup parah.


Raja merasa bersalah karena telat mengetahui tentang kecelakaan yang menimpa sahabat baiknya.


"Ya udah, Ngga. Mending lo balik aja, biar gue sama Ratu yang gantian jaga di sini." Suruh Raja diikuti anggukan kepala Ratu.


Angga mengangguk, memang sejak semalam Angga belum istirahat bahkan belum kembali ke rumahnya. Sementara Panji dan Aldo sudah lebih dulu pulang karena Angga yang menyuruh mereka. Angga tak tega melihat kedua temannya yang terlihat sangat lelah.

__ADS_1


"Alan dan Suci sudah tahu tentang Egi?" tanya Ratu.


"Sudah! Aldo sudah memberi tahu mereka. Semalam mereka juga sudah mampir ke sini kok!" Ratu dan Raja mengangguk.


"Ya udah, gue anterin lo pulang. Gue gak mungkin ngebiarin lo pulang sendiri dengan keadaan lo yang kaya gini." Wajah Angga memang terlihat sangat lelah, dan tak mungkin Raja membiarkan Angga untuk mengendarai mobilnya sendiri.


"Gak usah. Gue udah suruh sopir buat jemput gue kok," tolak Angga.


Angga, Raja, dan Ratu kembali ke ruangan ICU. Ternyata di sana sudah ada Dokter Marisa, mamahnya Egi serta Dokter Pramuja, papahnya Egi.


"Tante, Om," sapa Raja, Angga dan Ratu bersamaan.


"Raja, Ratu. Kalian di sini. Angga kok kamu belum pulang?" tanya Marisa.


Ratu langsung memeluk tubuh Marisa dan menangis di pelukan Marisa. "Maafin Ratu ya, Tante. Ini semua gara-gara Ratu.


"Gak, Sayang. Mungkin ini takdir Egi sama Rini." Marisa mengusap lembut punggung Ratu. "Jangan menyalahkan diri kamu."


Marisa melepaskan pelukannya dari Ratu. Marisa mengusap air mata di wajah Ratu. "Jangan nangis lagi, ya. Do'ain semoga Egi dan Rini cepat melewati masa kritisnya."


Setelah berpamitan pada kedua orang tua Egi, pada Ratu serta Raja, Angga pun kembali pulang untuk beristirahat. Ratu dan Raja duduk di kursi tunggu di depan ruang ICU. Ratu menghubungi kedua orang tuanya, ayah mertuanya, juga keluarganya yang berada di Jogja. Mereka semua terkejut mendengar kabar kecelakaan itu, apalagi Bagus, eyang kakung nya Ratu.


Eyang Bagus dan juga eyang Murti langsung mengatakan akan segera ke Jakarta, begitu juga dengan oma Anna dan juga opa Roni. Meski baru beberapa hari mengenal Egi, namun sikap Egi membuat tempat di hati mereka.


❤❤❤❤


Detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam sudah berganti hari. Sudah dua hari Egi dan Rini masih terbaring di rumah sakit dalam keadaan masih sama, belum ada perubahan sedikitpun. Kini bahkan Keluarga Ratu dari Jogja sudah berada di dalam rumah sakit itu. Mereka langsung berangkat malam harinya setelah mendengar kabar dari Ratu. Mereka menaiki pesawat pribadi yang sudah disiapkan oleh Mahendra.

__ADS_1


Marisa dan Pramuja sangat senang, anaknya yang menurut mereka nakal, ternyata banyak yang menyayangi dan peduli padanya.


"Yang sabar ya, Nduk (Nak). Egi pasti akan baik-baik saja," ucap eyang Bagus.


"Terimakasih buat kalian semua, sudah mau jauh-jauh datang ke sini untuk melihat keadaan anak saya." Marisa tak kuasa membendung air matanya karena terharu dan bahagia, Egi begitu banyak yang menyayangi.


"Jangan sungkan. Egi sudah saya anggap seperti cucu kami. Apalagi kenakalannya dan keusilannya sudah membuat tempat di hati kami." ucap eyang Bagus di selingi tawa kecil. Marisa dan Pramuja pun ikut tertawa kecil. Eyang Bagus bermaksud ingin menghibur Marisa dan juga Pramuja dan ternyata berhasil.


Eyang Bagus dan eyang Murti meminta izin kepada Marisa dan juga Pramuja untuk melihat kondisi Egi. Dan tentu saja mereka mengizinkannya dengan senang hati. Setelah memakai pakaian khusus, kedua orang tua itu masuk kedalam ruang ICU untuk melihat kondisi Egi dari dekat.


"Baru kemarin kamu pamit pulang pada kami semua dengan penuh semangat, kenapa sekarang kondisi kamu seperti ini?" Eyang Bagus mengusap kening Egi yang terbalut perban.


Eyang Bagus tak kuasa menahan tangisnya melihat kondisi Egi. Eyang Murti pun sama tak tega melihat kondisi Egi seperti sekarang.


"Kalau nanti kamu bangun, saya janji tidak akan mukul kamu pake tongkat saya lagi." Seketika mereka berdua tertawa kecil di sela tangisannya.


"Sudah, ayo kita keluar. Biarkan Egi istirahat," ajak eyang Murti.


Keduanya pun memutuskan untuk keluar dari ruangan ICU itu. Setelah eyang Murti dan eyang Bagus keluar dari ruangan ICU, Dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruang ICU untuk memeriksa keadaan Egi.


Namun, tak lama seorang perawat memberitahukan kepada Dokter Pramuja dan Dokter Marisa jika keadaan Egi semakin kritis dan langsung mengejutkan semuanya. Pramuja dan Marisa langsung masuk kedalam ruangan ICU untuk melihat keadaan Egi. Pramuja melihat ke layar yang memperlihatkan detak jantung anaknya itu semakin lemah. Pramuja meminta perawat untuk menyiapakan alat kejut jantung. Setelah semua siap, Pramuka langsung menempelkan alat itu ke dada Egi untuk memacu detak jantung Egi. Marisa histeris saat melihat tak ada respon sama sekali dari Egi.


Pramuja tak tega melihat kondisi istirnya dan meminta perawat untuk membawa Marisa keluar dari ruangan ICU. Pramuja masih terus mencoba untuk memacu detak jantung Egi, namun masih tetap gagal. Dalam hatinya Pramuja berharap kalau Egi akan baik-baik saja. Sampai saat Pramuja melihat ke layar monitor yang menunjukan detak jantung Egi berubah menjadi lurus.


Niiiiiiiiiiiiiiit


Tubuh Pramuja lemas seketika. Jika saja tak ada Dokter lain yang menahan tubuh Pramuja, mungkin tubuh Pramuja akan tergeletak di lantai.

__ADS_1


__ADS_2