
Salah satu kampus ternama di Jakarta, tempat di mana Raja, Ratu serta teman-temannya melanjutkan pendidikannya kini sudah mulai ramai. Hari itu adalah hari terakhir acara ospek. Dan setelah acara ospek itu selesai, maka resmilah mereka semua menjadi mahasiswa dan mahasiswi kampus itu.
Acara ospek kali ini adalah pengenalan kampus, seluruh peserta ospek dibagi menjadi beberapa grup dan masing-masing grup dipandu oleh dua panitia ospek. Ratu dan Suci satu grup dan di pandu oleh Leo dan Adit. Sedangkan Raja satu grub dengan Alan dan Aldo dengan Kiara yang memandu mereka. Ratu, Alan mengumpat di dalam hatinya, pasti Leo dan Adit sudah merencanakan ini semua. Sama halnya dengan Suci dan Ratu, yang menebak kalau Kiara sengaja memisahkan mereka berdua dari Raja dan Alan, agar Kiara dan salah satu temannya bisa mendekati dua laki-laki itu.
"Menyebalkan," umpat Raja, Ratu, Alan, dan Suci di dalam hati mereka.
Para panitia ospek mulai menunjukan setiap sudut kampus itu pada para peserta ospek. Hampir satu jam para peserta dan panitia ospek itu berjalan mengelilingi kampus. Para peserta ospek kembali berkumpul di lapangan samping kampus itu dan Leo selalu ketua panitia ospek meminta para junior nya untuk beristirahat.
"Oke, buat kalian semua, kalian langsung istirahat dan juga bisa langsung pulang. Tapi jangan lupa nanti sore kalian kembali ke sini untuk acara penutupan acara ini, Oke!" seru Leo dengan pengeras suara di tangannya.
"Oke, kak!" balas semua.
Para peserta ospek langsung berhamburan setelah Leo membubarkannya. Semuanya menuju kantin ada juga yang langsung menuju area parkir dan pintu keluar kampus. Raja, Ratu, Alan, Suci, Angga, Aldo, dan Panji masih berkumpul di lapangan itu. Mereka sudah sepakat untuk pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Egi, sahabat mereka yang hampir satu bulan koma.
Saat mereka akan meninggalkan lapangan itu, langkah mereka terhenti saat mendengar suara yang memanggil Ratu dan Suci. Ketujuh sahabat itu langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah yang memanggil Ratu dan Suci. Raja dan Alan langsung mendengus kesal melihat Leo dan Adit sedang berjalan menghampiri mereka. Alan dan Raja langsung memasang sikap posesif pada masing-masing pasangannya. Raja dan Alan langsung melingkarkan tangan mereka ke pundak istri dan tunangan mereka.
"Hai Ci, Ratu suka gak sama hadiahnya kemarin?" tanya Adit.
Raja dan Alan langsung tersenyum remeh melihat dua seniornya mencoba mendekati istri dan tunangannya itu.
"Eeeem"
Ratu dan Suci nampak bingung untuk menjawab. Beruang kali Ratu dan Suci melihat ke arah Raja dan Alan berharap kedua laki-laki itu tidak marah lagi karena masalah hadiah itu. Ratu dan Suci juga tak bisa mengatakan jika mereka sudah membuangnya, mereka takut akan melukai perasaan dua seniornya itu.
__ADS_1
"Uda....."
"Udah gue buang!" Raja dan Alan langsung memotong ucapan Ratu.
Ratu dan Suci langsung menoleh ke arah suami dan tunangan mereka. Alan menarik tangannya dari pundak Suci. Alan berjalan beberapa langkah menghampiri adit. Dengan senyum miring dan gerakan cepat, Alan menarik jacket almamater yang dipakai Adit, membuat tubuh seniornya tertarik ke depan.
"Gue peringatin sama lo, jangan pernah deketin Suci dia tunangan gue," ucap Alan penuh penekanan.
Adit membalas senyuman miring Alan, di hempaskan tangan Alan dari jas almamater nya. "Gue gak peduli dia mau tunangan lo atau bahkan istri lo, gue bakalan rebut dia dari lo."
Alan sudah bersiap mengangkat tangannya dan akan melayangkan pukulan ke wajah Adit. Raja mencoba menahannya namun ia kalah cepat dengan gerakan Alan. Satu pukulan berhasil mendarat di wajah Adit. Saat Alan kembali mencoba untuk memukul Adit, Raja dan Angga menahannya dan menjauhkan Alan daru Adit.
"Lepasin gue, biar gue hajar tuh cowok biar tahu rasa." Alan terus meronta dan masih ingin menghajar Adit.
"Stop, Lan. Biarin aja mereka berbuat semau mereka," ucap Angga.
"Gue masih menghormati kalian sebagai senior gue. Jangan sampai gue lupa akan hal itu. Dan buat lo Leo, Ratu istri gue. Jangan pernah terbayang untuk memiliki dia," ucap Raja penuh penekanan.
Leo hanya berdiri mematung setelah mendengar ucapan Raja. Ternyata perempuan yang dia sukai sudah bersuami. Mata Leo melihat ke arah Ratu yang sedang ke berjalan menghampiri Raja.
Ratu sudah berdiri di samping Raja dan melirik sekilas ke arah Leo. "Yank, kita pergi aja yuk!" ajak Ratu. Ratu melingkarkan tangannya ke lengan Raja dengan manjanya. Raja tak bergeming, matanya masih menatap lurus wajah Leo. Ratu menarik tangan suaminya agar menjauh dari Leo. Ratu khawatir jika di biarkan maka suasana akan semakin panas.
Alan dan yang lainnya pun menyusul Ratu dan juga Raja. Ada rasa tidak enak di hati Ratu dan Suci kepada dua senior mereka, tetapi mungkin ini lebih baik dari pada mereka harus berharap pada sesuatu yang tidak mungkin. Empat mobil yang di kendarai oleh Raja dan teman-temannya meninggalkan area kampus dan meluncur ke rumah sakit tempat di mana Egi dirawat.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit mereka semua menuju ruang ICU untuk melihat sahabat mereka yang masih terbaring dan belum sadarkan diri. Mereka melihat pintu ruang ICU terbuka dan muncul seseorang yang sangat mereka kenal, Rini.
"Rin, lo di sini?" tanya Ratu. Ratu berjalan menghampiri Rini yang duduk di kursi roda.
"Maaf ya kita belum sempet jenguk lo," lanjut Ratu.
Rini mengangguk lalu meraih tangan Ratu. "Gak apa-apa kok, aku tahu kalian lagi sibuk." Rini tersenyum dan tak lama ia menitihkan air matanya. Dengan segera Ratu menghapus air mata sahabatnya.
"Egi bagaimana?" tanya Ratu.
"Masih sama, Tu. Ini semua salah gue. Gue yang nyebabin kecelakaan ini. Jika saja aku gak ngajakin dia bercanda waktu itu, kecelakaan ini pasti gak terjadi, dan Egi gak akan kaya gini." Rini menangis saat kembali mengingat kejadian itu, rasa bersalah selalu menyelimuti dirinya.
"Udah Rin, ini musibah. Jangan salahin diri lo sendiri. Kita berdoa aja supaya Egi cepat sadar!" ucap Raja.
"Amiin"
"Raja!" Angga menepuk pundak Raja. Namun matanya menatap kaca besar di hadapannya. yang memperlihatkan jelas tubuh Egi.
"Kenapa lo?" tanya Raja.
"Gue liat jari Egi bergerak!" ujar Angga yang langsung mengejutkan semuanya.
"Seriusan, lo?" tanya Panji.
__ADS_1
"Serius gue?" jawan Angga penuh keyakinan.
Raja langsung mengambil ponsel dan menghubungi papanya Egi, Dokter Pramuja.