
Pertandingan basket antar sekolah berakhir dan tentu tim basket dari sekolah Raja lah yang memenangkan kejuaraan itu. Raja yang merasa bersalah kepada Ratu berlari kesana kemari untuk mencarinya. Raja menemukan Ratu sedang duduk sendiri melamun di dalam kelasnya. Raja mengatur napasnya dan berjalan menghampiri Ratu.
Bukan hanya Raja yang kelimpungan mencari keberadaan Ratu, sosok Egi pun juga sedang mencarinya. Sejak di babak kedua pertandingan Egi tak mendapati Ratu di antara para siswa siswi yang menonton. Egi berjalan menyusuri koridor sekolah itu, dia ingin menuju kelas Ratu yang sebelumnya telah ia tanyakan pada salah satu murid di sekolah itu.
Egi terus berjalan menyurusi lorong-lorong sekolah itu sampai dia berbelok ke arah kelas Ratu. Egi terkejut saat melihat Raja dan Ratu sedang berciuman. Rasanya api cemburu berkobar di dalam tubuh Egi seketika. Ingin rasanya Egi memisahkan keduanya lalu memukul wajah Raja yang sudah berani mencium Ratu.
Egi mengepalkan tangannya kuat, tetapi tiba-tiba dia teringat sesuatu yang pernah Angga katakan padanya. Perlahan Egi molonggarkan kepalan tangannya. Dia mengatur napasnya yang memburu. Dia masih waras untuk tidak bertindak lebih jauh. Apalagi mengingat status keduanya adalah suami istri yang sah.
Tersirat di pikiran Egi untuk mengusili kedua sahabatnya itu.
"Woi! Ini masih di sekolah. Kalau mau mesra-mesraan di rumah aja."
Dan saat itu juga Raja dan Ratu melepas tautan bibir mereka, dan pada saat itu juga Egi tertawa geli melihat ekspresi keduanya.
Raja mengumpat kesal mendengar suara lantang itu yang sangat familiar di telinganya. Ratu langsung menelusup wajahnya ke dada bidang Raja karena merasa malu ketahuan sedang berciuman dengan Raja.
Sumpah malu banget.
"Kampret! Ngapain lo ke sini? Ganggu saja!" tanya Raja kesal. Tangannya masih betah melingkar di pinggang Ratu.
"Mau tahu aja. Yah sayang, coba gue tadi datang nya telat dikit pasti kalian udah main kuda-kudaan di sini." Egi berdecak untuk meledek Raja dan Ratu.
Raja langsung mendelik ke arah Egi begitu juga dengan Ratu langsung menatap tajam ke arahnya. Egi tergelak kembali bahkan sambil memegangi perutnya.
"Sumpah gue gemes liat muka kalian merah gitu."
"Egi!” teriak Raja dan Ratu bersamaan.
Melihat adanya bahaya di depan matanya, Egi langsung melesat dari kelas itu.
"Kabur!"
Raja tak tinggal diam, dia langsung mengejar Egi. Ratu yang sudah merasa sangat malu memilih pulang kembali ke apartemennya, dia tak sanggup untuk berhadapan langsung dengan Egi kembali.
Raja sedang berkumpul bersama tim basketnya serta tim basket dari sekolah lamanya. Mereka sedang merayakan kemenangan tim basket Raja. Kedua tim yang menjadi lawan di lapangan tetapi menjadi kawan ketika di luar sedang berkumpul di salah satu cafe.
__ADS_1
Raja berjalan mondar-mandir dengan ponsel di tangannya, berulangkali Raja menempelkan benda pipih hitam itu ke telinganya. Lalu beberapa saat kemudian dia berdecak kesal karena panggilannya tak dijawab oleh Ratu.
"Lo kenapa, Ja?" tanya Angga yang melihat tingkah aneh sahabatnya.
Raja kembali berdecak kesal lalu dengan kasat menarik kursi dan duduk di sebelah Egi.
"Ratu gak angkat telepon gue."
"Kenapa? Lo ada masalah sama Ratu?" tanya Angga lagi.
"Nih … gara-gara si kunyuk," tunjuk Raja ke arah Egi.
Dan tentu saja membuat Angga dan Panji terheran-heran. Egi melipat bibirnya untuk menahan tawanya. Namun pertanyaan Angga kembali mengingat kejadian di kelas Ratu tadi yang sebenarnya sangat menyayat hatinya.
"Ratu marah sama Raja tadi. Mereka ke gep gue lagi ngadu bibir di kelas tadi," jawab santai Egi.
Hening seketika saat mendengar pengakuan Egi, namun beberapa saat terdengar gelak tawa teman-teman di sekitarnya. Sungguh ini memalukan, ingin rasanya Raja menyumpal mulut Egi yang kaya ember bocor.
"Dan untungnya gue datangnya gak telat. Coba kalo gue telat mungkin mereka sudah main kuda-kudaan di kelas tadi."
Egi meminta bantuan teman-temannya, mengisyaratkan ada yang menyangkut di tenggorokannya. Raja dan yang lain langsung menolong Egi, Raja menepuk keras punggungnya dan seketika bakso yang nyakut di lehernya melompat keluar dan mengenai wajah Panji. Gelak tawa tak bisa mereka tahan.
"Gila lo pada, mau bikin gue mati keselek bakso," ujarnya kesal. Egi masih merasa sakit di tenggorokannya.
"Makanya mulut bocor itu di tambal. Jadi gak sembarangan kalo ngomong," balas Raja.
Egi memasang wajah sedih dan manyun majukan bibirnya, berpura-pura kesal di hadapan Raja.
"Gak usah sok imut dech, jijik gue," cibir Raja yang di sambut gelak tawa teman-temannya.
"Ini udah sore, gue balik dulu," pamit Raja.
Raja langsung melesat ke apartemennya setelah berpamitan pada teman-temannya.
Raja duduk di atas motor gedenya, dia melajukan mobilnya santai, sampai dia teringat sesuatu yang membuat dirinya mengumpat kesal pada dirinya sendiri. Raja kembali berbelok ke arah berlawanan dia mencari sesuatu yang dia butuhkan. Dan akhirnya setelah berputar-putar akhirnya Raja menemukan sesuatu yang dia cari.
__ADS_1
Di apartemen, Ratu sedang duduk di atas ranjangnya, dia duduk sambil menggerutu kesal kepada Raja. Bisa-bisanya dia mencium dirinya di sekolah dan bodohnya dirinya malah menikmati itu semua. Ratu meraba bibirya, rasanya bekas bibir Raja masih menempel di bibirnya. Ratu memejamkan matanya dengan jari yang masih berada di bibirnya, sungguh rasanya sangat manis saat mengingat saat itu.
Namun kembali bayangan Egi yang sedang menertawai dirinya langsung membuat moodnya hancur.
"Sial," gerutu Ratu. Dan setelah itu mata Ratu terpejam menandakan dia akan masuk ke alam mimpi.
Tak terasa waktu sudah semakin sore dan juga semakin malam. Ratu duduk di ruang tv menunggu kedatangan suaminya yang belum juga pulang. Saat Ratu terbangun dirinya melihat ada puluhan kali dan puluhan chat dari Raja. Handphonenya sedang dalam mode silent membuat Ratu tak menyadari jika ada panggilan masuk.
Ratu mencoba menghubungi Raja balik tetapi tak tersamabung. "Balas dendam nih," ucap Ratu saat Raja tidak mengangkat panggilannya.
Ratu menghela napas berat saat melihat jam di dinding sudah menunjukkan 12 malam. Dan pada saat itu juga lampu mendadak mati, membuat Ratu berteriak kencang memanggil nama Raja.
"Happy Birthday To You, Happy Birthday To You, Happy Birthday, Happy Birthday Happy Birthday To Youuuuu."
Dan lampu pun kembali menyala.
Ratu yang trouma dengan gelap masih menangis meringkuk di sofa ruang TV, dia belum menyadari kehadiran suaminya di sebelahnya dengan membawa kue ulang tahun dengan lilin angka 18
Raja meletakan kue ulang tahun itu ke meja. Lalu menarik pundak Ratu untuk menghadapkan Ratu ke arahnya.
"Dek … ini aku." Suara yang familiar di telinganya membuat Ratu memberanikan diri untuk membuka telapak tangan yang menutupi wajahnya.
"Raja… kapan kamu pulang?" tanya Ratu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku sudah pulang dari tadi kok, cuma aku ngumpet di kamar dari tadi," jelasnya.
"Oh iya." Raja langsung mengambil kue ulang tahun dia atas meja, lalu mempersembahkan kepada Ratu.
"Happy birthday, Dek."
"Kamu inget, Ja?" tanya Ratu.
"Inget dong. Raja tersenyum manis. "Make a whis dulu, baru tiup lilinnya."
Ratu mengangguk lalu menutup mata dan menyatukan kedua tangannya dan berdoa. Ratu membuka matanya lalu meniup lilin ulang tahun itu. Ratu memotong kue itu dan memberikannya kepada Raja, dan begitu juga sebaliknya.
__ADS_1