Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
RBR 61


__ADS_3

Happy reading...


Raja dan Ratu berjalan menuruni anak tangga untuk bergabung bersama teman-temannya. Semua teman-temannya sudah siap dengan barang-barang bawaan mereka sendiri. Delapan hari liburan di Jogjakarta membuat mereka malas kembali ke Jakarta. Apalagi mereka harus kembali belajar, melanjutkan pendidikan mereka di perguruan tinggi.


Mereka sudah mendapat kabar kalau mereka sudah diterima di Universitas pilihan mereka sendiri.


Mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat ke rumah eyang Merti dan eyang Bagus.


"Raja, Ratu, lo berdua keliatan seger banget, ampe berapa ronde semalam?" ledek Egi dengan tawanya, dan kepalanya langsung mendapat toyoran dari Anita.


"Kamu ini suka sekali kalo ngeledek mereka," tawa Anita.


"Au tuh, Bun. Egi sukanya sirik," balas Raja.


"Ya sudah, kalian sarapan dulu," suruh Anita.


Raja dan Ratu sarapan lebih cepat, karena mereka akan pergi ke makam keluarga mereka. "Mah, aku sama Raja duluan ya, aku mau mampir ke makan kakak, papah, sama mamanya Raja." Ratu membersihan mulutnya dari sisa makanan di bibirnya dengan tisu. "Kalian kalo mau ke rumah eyang duluan aja, nanti aku sama Raja nyusul kalian ke sana."


Teman-teman Raja mengangguk. Ratu dan Raja terlebih dahulu beranjak dari meja makan. Raja kembali menyeret koper dan memasukannya ke bagasi mobil. Raja berjalan masuk ke mobil setelah menutup pintu bagasi mobilnya.

__ADS_1


"Beneran sudah tidak ada yang ketinggalan?" Raja bertanya saat ia memakai safety belt nya.


Ratu berfikir sejenak mengingat-ingat lagi. "Kayaknya gak ada deh."


"Oh ya udah, kita langsung berangkat sekarang!" Ratu mengangguk.


Raja memundurkan mobilnya ke luar garasi rumah dan langsung melajukan mobilnya menuju taman pemakaman umum. Ratu melihat ke luar jendela, mengingat kenangan lama di jalanan komplek perumahan itu. Ratu memejamkan matanya mengingat masa kecilnya bersama almarhum papanya serta kakak perempuannya.


Hampir setiap hari Ratu dan keluarganya bermain sepeda di komplek perumahan itu. Sampai pada hari di mana hari terakhirnya bertemu dengan papahnya dan juga Queen, kakak perempuannya. Pada saat itu, Queen merengek meminta untuk membeli boneka baru. Awalnya Anita dan suaminya Hendra menolak keinginan Queen karena Ratu sedang sakit. Namun Queen sangat keras kepala dan tak mau mendengar siapapun bahkan menolak untuk makan. Anita dan Hendra akhirnya mengalah, Queen pergi bersama Hendra sedangkan Anita tetap di rumah untuk menjaga Ratu yang sedang sakit.


Namun sampai malam, Queen dan Hendra belum juga sampai ke rumah. Berulang kali Anita menghubungi nomer ponsel suaminya, namun tak bisa tersambung. Sampai akhirnya polisi datang ke rumahnya dan mengabari jika anak dan suaminya mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat kecelakaan. Ratu kecil bisa melihat pada saat itu, Anita mamahnya sangat sedih atas peristiwa itu. Mamahnya hampir tak bisa menjalani hidupnya tanpa suami dan anak pertama. Beruntung keluarga besarnya memberi pengertian pada mamahnya saat itu, kalau mamahnya masih punya satu anak lagi yaitu dirinya.


Tiga bulan setelah peristiwa itu, mamahnya kembali bangkit untuk mengurus perusahaan peninggalan papahnya yang kini perusahaan itu sudah maju menjadi sangat besar. Ratu merasa sangat sedih saat harus tinggal bersama eyang Murti dan eyang Bagus dan harus jarang bertemu dengan mamahnya. Namun, setiap melihat kelelahan pada wajah mamahnya, Ratu mencoba mengerti dengan kondisinya sekarang.


"Gak mikirin apa-apa, cuma waktu kok cepet banget ya. Perasaan baru kemarin kita ke sini, sekarang kita udah mau balik lagi ke Jakarta." Ratu kembali memandang keluar mobil. "Rasanya malas banget," keluhnya.


"Ya mau bagaimana lagi, Dek. Masa liburan kita udah hampir selesai." Raja tersenyum, diraihnya tangan Ratu dan ia kecup punggung tangannya. "Kapan-kapan kita main kesini lagi deh." Janji Raja. Ratu pun tersenyum bahagia.


Raja menghentikan langkahnya saat mereka sudah sampai di taman pemakaman umum. Ratu dan Raja keluar dari mobil bersama-sama, tak lupa mereka juga membeli bunga untuk mereka taburkan di makam keluarga mereka.

__ADS_1


Ratu berjalan dengan tangan yang digenggam oleh Raja. Keduanya sama-sama memakai pakaian serba hitam. Mereka menuju makam Queen, dan juga Hendra terlebih dahulu. Ratu menaburkan bunga di atas makam papannya dan juga Queen yang bersebalahan.


"Maaf pah, kak Queen, Ratu baru datang lagi. Ratu datang gak sendiri tapi sama Raja, suami Ratu. Papah sama kak Queen yang tenang ya di sana. Ratu sama mamah baik-baik saja di sini." Ratu mengusap batu nisan bertulisan Hendrata Bagus Wijaya dan Queen Amora Wijaya.


Setelah membacakan doa untuk Hendra dan Queen, Raja dan Ratu pergi dan menuju makan mamahnya Raja yang tak jauh dari makam Hendra dan Queen.


"Raja sama Ratu pamit pah, kak Queen. Kapan-kapan Ratu sama Raja ke sini lagi." Raja melingkarkan tangannya Ke pundak Ratu dan menuntunnya menuju makam mamahnya.


Setelah berjalan melewati beberapa puluh makam di taman pemakaman umum itu, Raja dan Ratu sampai di makam almarhumah mamahnya Raja. Raja dan Ratu langsung berjongkok di samping makam sang mamah. Batu nisan bertulisan Dewanti Maharani masih jelas terukir di atas batu nisan itu. Makamnya masing sangat rapi dan juga bunga segar yang masih terlihat di atas makam itu. Raja sudah bisa menebak siapa yang menaburkan bunga itu, pastinya papah dan juga ibu mertuanya.


"Mah, Raja datang sama istri Raja, namanya Ratu. Dia anaknya bunda Anita, temen mamah dulu. Katanya mamah sama bunda Anita sudah merencanakan perjodohan kami, dan sekarang Raja sudah menuhin keinginan terakhir mamah, Mamah senang kan?"


"Raja ngucapin makasih buat mamah, karena udah berkorban nyawa buat lahirin Raja. Raja janji bakal jadi anak dan suami yang baik. Mamah yang tenang ya disana!"


Raja selalu menganggap mamahnya adalah penyelamat dirinya, wanita terbaik dan terhebat di hidupnya. Meski dirinya tak pernah merasakan pelukan hangat Almarhumah namanya itu.


Ratu mengusap pundak suaminya saat melihatnya sedih. Ratu tahu apa yang dirasakan Raja selama ini, hidup tanpa kasih sayang dari mamahnya, pasti hidupnya sangat berat.


"Ayo kita pulang, Ja!" ajak Ratu karena dirinya sudah tak tahan jika melihat Raja sedih seperti itu.

__ADS_1


Raja menoleh ke arah istinya, tersenyum lalu mengangguk. "Raja pulang dulu, Mah!"


Raja kembali merangkul pundak Ratu, keduanya kembali ke mobil mereka untuk menuju rumah eyang Murti dan eyang Bagus. Keduanya masuk ke dalam mobil. Ratu mengusap wajah Raja yang masih terlihat sedih. Tentu Ratu tahu bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang yang disayangi. Apalagi ditinggal oleh seorang ibu. Ratu pernah mendengar cerita dari Raja tentang kematian mamahnya. Setelah melahirkan Raja ternyata mamahnya Raja mengalami pendarahan hebat dan tidak bisa tertolong. Raja dari lahir dibesarkan oleh neneknya, namun saat Raja berumur lima tahun, neneknya meninggal dunia dan Raja di besarkan oleh pengasuhnya yang sampai sekarang masih bekerja di rumahnya.


__ADS_2