
Takut bosan sama kisah Raja dan Ratu. Author kasih sedikit kisah teman-temannya Raja ya...
Happy reading...
Gelak tawa teman-teman Raja terdengar keras di kamar hotel yang di tempati Alan. Mereka semua menertawakan Raja. Panji menceritakan pada Alan, Angga, dan Aldo saat semalam ia berpapasan dengan Raja. Panji melihat wajah kesal Raja semalam dan tidak sengaja melihat kantong plastik berwarna putih yang Raja bawa. Panji yang merasa penasaran mengambil kantong plastik itu tanpa persetujuan dari Raja lalu melihat isinya. Panji pun tidak bisa menahan tawanya.
"Sia-sia dong kita nyiapin kamar spesial buat lo sama Ratu jika akhirnya kejadiannya kaya gini," ledek Panji.
"Nggak ikhlas lo?" sungut Panji.
"Yang nggak ikhlas itu lo, Raja. Puasa lagi," ledek Panji lagi dan langsung membangkitkan ledakan tawa Aldo, Alan, dan juga Angga.
"Setan emang kalian semua." Lemparan bantal Raja tepat mengenai wajah Panji yang makin membuat Panji tertawa lebar bahkan sampai memegangi perutnya.
"Dah lah ketawanya. Kita turun yuk, udah waktunya sarapan. Yang lain pasti udah nunggu kita," ajak Alan.
"Yuk, bisa mati ketawa gue di sini," ledek Aldo.
Alan beranjak dari sofa yang ada di kamar hotel itu. "Sabar, Ja. Cuma satu Minggu ini," ucap Alan disertai tawanya dan Raja hanya bisa mendengus kesal.
"Gue nggak ikutan sarapan ya," ujar Angga tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Panji mewakili semuanya.
"Gue mau nganter Rini ke rumah sakit, katanya hari ini jadwal dia check up," jawab Angga.
"Oh, oke."
Sebenarnya ada rasa yang mengganjal di pikiran Raja tentang kedekatan Angga dengan Rini yang menurutnya tidak biasa.
Setelah kepergian Angga, Panji menepuk pundak Raja. Ternyata apa yang dipikirkan oleh Raja dipikirkan juga oleh Panji.
"Gue kok ngerasa Angga sama Rini ada sesuatu ya?"
"Gue juga," jawab Raja yang langsung diikuti anggukan Alan dan Aldo.
"Dah lah, ini kita pikirin nanti. Sekarang pikirin perut dulu. Gue udah laper gara-gara ngetawain Raja."
__ADS_1
Raja langsung menoyor kepala Panji dan menarik kaos nya. "Sekali lagi lo bahas ini lagi, gue ceburin lo ke kolam buaya," ancam Raja.
Panji bergidik lalu menarik kepala Panji dan berusaha mencium pipi Raja. Raja langsung menghadang wajah Panji dengan tangannya, "Najis Lo."
Sementara di kamar yang ditempati oleh Ratu, Suci, Rini, serta Ratu turut menertawai Raja.
"Yah sayang banget kita udah hias kamarnya kalo akhirnya gagal," tawa Suci.
"Raja pasti kecewa banget," ledek Rini.
"Banget!" Ratu benar-benar ingat jelas saat Raja tahu jika dirinya datang bulan, wajahnya cemberut bahkan tidur pun Raja tidak mau memeluknya.
"Udah yuk, turun. Udah waktunya sarapan," ajak Suci.
"Yuk," balas Ratu.
"Gue nggak ikut ya, Angga udah nunggu gue di loby. Dia mau nganterin gue check up ke rumah sakit."
Suci dan Ratu saling pandang saat Rini beranjak dari tepi ranjang. Rini memang sudah membaik hanya saja berjalan masih dibantu dengan tongkat.
"Rin, gue anterin yuk ke loby," ucap Ratu.
"Oke." Ratu beranjak dari duduknya lalu membantu Rini membuka pintu kamar hotelnya.
Ratu menutup pintu kembali setelah Ratu memastikan jika Rini sudah masuk ke dalam lift.
"Ratu, lo punya pikiran yang sama kaya gue nggak soal kedekatan Angga sama Rini?"
"Ya gue juga ngerasa ada sesuatu aja sama mereka. Semenjak Egi dibawa ke Singapura, Rini sama Angga jadi deket banget." Ratu segera membuang jauh-jauh pikiran itu. "Nggak mungkin mereka mengkhianati Egi. Kan kita tahu sendiri, tiap kali Egi sama Rini ada masalah mereka pasti akan lari ke Angga."
Suci sedikit berpikir, ia mencoba untuk mencerna kata-kata Ratu. "Bener juga kata, lo."
"Dah lah, nggak usah mikir kejauhan soal mereka. Yuk kita sarapan," ajak Ratu yang langsung diangguki oleh Suci.
Sementara di loby hotel, Angga sedang nampak sedang bermain dengan ponselnya. Angga sedang berbalas chat dengan Egi. Angga sedikit kesal dengan ucapan Egi yang meminta untuk menggantikan posisinya di hati Rini.
Angga : "Lo gila!"
__ADS_1
Egi : "Gue harus lakuin ini, Ngga. Cuma Lo yang bisa gue percaya buat jagain Rini. Gue nggak tahu sampai kapan kondisi gue seperti ini."
Angga : "Lo nggak boleh pesimis kaya gitu. Lo pasti bisa kembali seperti sedia kala."
Egi :"Itu pasti akan lama. Dan gue nggak mau Rini nungguin ketidakpastian dari gue."
Angga: "Kalo dia bener-bener cinta sama Lo, dia pasti bakalan terima Lo apa adanya, Gi."
Egi : " Gue nggak sanggup liat kesedihan Rini saat tahu keadaan gue yang sebenarnya."
Angga tidak lagi membalas chat dari Egi. Angga memang belum memberitahukan keadaan Egi yang sebenarnya pada teman-temannya termasuk Rini.
Kecelakaan itu membuat Egi lumpuh, meski bisa dipastikan Egi bisa kembali berjalan namun tidak tahu sampai kapan. Angga diminta oleh Egi untuk tidak menceritakan keadaan Egi pada teman-temannya, karena tidak ingin merusak kebahagiaan Raja saat ini. Bukan hanya itu saja, Egi meminta Angga untuk menggantikan posisinya di hati Rini. Angga tidak mungkin bisa melakukan itu.
Angga menyandarkan kepalanya ke tembok di belakangnya. Angga mengusap wajahnya merasa bingung dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Lamunan Angga terbuyar saat suara Rini memanggilnya.
"Angga."
Angga langsung menoleh ke arah samping dan mendapati Rini sedang berjalan ke arahnya.
"Sorry, lo udah nunggu lama ya?"
Angga tersenyum, "Belum kok." Angga mengulurkan tangannya pada Rini, "Yuk berangkat!"
Rini nampak ragu untuk menerima uluran tangan Angga. Namun karena merasa tidak enak, Rini akhirnya menerima uluran tangan Angga. "Yuk"
Rini bisa merasakan genggaman tangan Angga yang terasa hangat. Hatinya sedikit tenang saat Angga bersama dirinya. Sedangkan Angga, dia bisa merasakan keringat dingin di telapak tangan Rini yang sedang ia genggam.
"Lo tegang banget kayaknya Rin sama gue," goda Angga.
"Emm, nggak kok," bohong Rini.
Angga mendadak menghentikan langkahnya, "Keringat di telapak tangan lo nggak bisa bohongin gue." Angga memperlihatkan tangan mereka yang saling menggenggam. Rini hanya bisa memberikan senyum canggung kepada Angga.
"Iya, soalnya selain Egi belum ada yang genggam tangan gue."
Angga langsung melepas genggaman tangan mereka, "Sorry, kalo gue udah bikin lo merasa nggak nyaman." tanpa mengalihkan pandangannya dari Angga, Rini menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Angga lebih dulu berjalan menuju mobilnya yang terparkir di samping hotel itu. Pikirannya benar-benar kacau setiap melihat wajah Rini. Bukan merasa tidak suka, tetapi perempuan yang sekarang bersamanya itu adalah pacar sahabatnya dan Angga tidak mau merasakan hal lain yang melebihi sebuah pertemanan.