
Rezeki, jodoh, hidup dan mati semua itu ada di tangan Sang Pencipta.
Kepergian Alan secara mendadak memang membuat keluarga dan para sahabat terpukul. Suci yang tidak kuat menahan duka itu bahkan sampai jatuh pingsan berulangkali dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit.
Sudah terhitung 3 hari Alan pergi dan Suci masih di rawat di rumah sakit. Keluarga dan para sahabat bergantian menjaganya dan berusaha menghiburnya. Namun, tetap saja tidak dapat membuat keadaan Suci menjadi lebih baik.
Ratu dan keluarganya pun sudah hampir putus asa melihat kondisi Suci seperti itu, ia takut jika akan mempengaruhi kondisi janin yang sedang Suci kandung.
"Ci, gue emang gak tahu apa yang lo rasain sekarang karena kehilangan suami lo. Tapi ... lo juga gak bisa kaya gini terus. Ada nyawa di dalam perut lo yang harus lo jaga," bujuk Ratu.
Ratu mencoba kembali menyendok makanan dan mengantarnya ke depan mulut Suci. Namun, Suci masih menolak untuk membuka mulutnya.
"Ci, please ... ayo makan. Bayi dalam kandungan lo pasti laper, sudah dari sejak kemarin kamu belum makan," bujuk Ratu.
"Gue gak laper, Ratu," tolak Suci.
"Tapi bagaimana dengan bayi yang ada di dalam kandungan lo. Dia butuh makan untuk tumbuh. Kalau kamu gak makan bagaimana dia bisa makan," bujuk Ratu.
Ratu meletakan tempat makan ke atas meja di samping tempat tidur Suci. Ia raih salah satu tangan Suci lalu menggenggamnya.
"Ci, kalau kamu kaya gini terus ... Alan juga pasti tidak suka. Ingat Ci, kamu masih punya baby Al dan bayi yang masih ada di dalam kandungan lo." Ratu berucap dengan air mata yang mengalir deras dari matanya.
"Lo harus kuat untuk anak-anak lo," lanjut Ratu.
"Gue gak tahu apa gue bisa ngurus anak-anak gue nantinya tanpa Alan di sisi gue," ucap Suci dengan suara seraknya.
"Lo pasti bisa dan lo harus bisa. Demi keluarga lo demi anak-anak lo dan juga demi diri lo sendiri."
Suci langsung memeluk Ratu dan menangis di pelukan saudari iparnya.
"Gue gak tau nanti bagaimana hidup gue tanpa Alan. Bagaimana masih anak-anak gue tanpa dirinya," ucap Suci di sela isak tangisnya.
"Lo gak perlu khawatir, Ci. Kami semua akan selalu ada buat lo. Meski kami gak akan bisa jaga lo seperti Alan, tapi kami akan mencoba berbuat yang terbaik untuk lo dan juga anak-anak lo," ucao Ratu. "Yang terpenting untuk sekarang adalah diri lo bangkit, kasihan anak-anak lo nantinya."
Suci mengangguk sebelum ia menarik diri dari pelukannya bersama Ratu.
"Thank, Ratu."
"Sudah jangan menangis lagi." Ratu mengusap air mata yang mengalir pada pipi Suci. "Sekarang lo makan ya."
Ratu kembali menyendok makan dan menyuapinya ke mulut Suci. Kali ini Suci mau membuka mulutnya. Ratu tersenyum melihat itu. Meski belum mau makan banyak yang terpenting Suci mau makan.
"Ci, lo keluar dari rumah sakit lamaan dikit ya."
__ADS_1
Suara yang mendadak masuk ke indra pendengaran Ratu dan Suci membuat keduanya menoleh ke asal suara dan ternyata Egi lah yang baru saja masuk ke dalam ruang perawatan Suci.
"Apa kata lo tadi?" tanya Ratu.
"Suci keluar dari rumah sakit lamaran dikit," ulang Egi.
"Sembarangan! Bukannya doain biar cepet sembuh ... ini malah sebaliknya," omel Ratu.
"Kan gue jadi punya banyak waktu buat main sama baby Alvin," ucap Egi disambut delikan mata oleh Ratu.
"Oh ya ngomong-ngomong soal Alvin ... di mana dia tadi sama lo, 'kan?" tanya Ratu.
"Dia lagi tidur di ruangan mamah." Egi mengambil posisi duduk di tepi ranjang rumah sakit.
"Sama tante Marisa?" tanya Suci yang langsung diangguki oleh Egi. "Kenapa gak dibawa ke sini, nanti malah ngerepotin mama kamu."
"Gak apa-apa, lagian tadi tante Anita datang kok," sahut Egi.
"Oh iya, bagaimana keadaan lo?" tanya Egi.
"Sudah mendingan," sahut Suci.
"Makan yang banyak biar lo cepet sembuh. Lihat nih ...." Egi mengangkat tangan Suci. "Lo kurus banget."
Egi mengedarkan pandangnya dan melihat susu yang diberikan khusus untuk Suci masih utuh.
"Susunya kok masih utuh." Egi mengambil susu yang ada di atas meja.
"Gue udah kenyang," sahut Suci.
"Kenyang dari mana, lo 'kan biasanya makan banyak." Tanpa mau mendengarkan alasan Suci untuk menolak, Egi menyodorkan gelas berisi susu ke mulut Suci.
"Buka mulut lo!" suruh Egi.
"Gue kenyang, Egi," tolak Suci.
"Gak usah banyak alasan." Egi terus saja memaksa Suci untuk meminum susu itu.
"Lo mau minum atau mau gue cium," tawar Egi.
Satu cubitan diberikan oleh Ratu di lengan Egi, membuat Egi memekik.
"Awwww! Sakit, Ratu. Lo mah dari dulu demen banget nyubit gue," keluh Egi.
__ADS_1
Raut wajah Egi dibuat se-sedih mungkin membuat Ratu dan Suci tertawa.
"Gak usah sok tersiksa deh," ledek Suci.
"Gue emang tersiksa," ujar Egi. "Hati gue tersiksa dari dulu. Lo pada tahu 'kan, dulu gue suka sama Ratu, eh ternyata dia istrinya Raja. Dan waktu gue suka sama Rini, tuh cewek nikah sama Angga."
"Itu sih derita lo," ledek Ratu disambut anggukan kepala Suci.
Egi mencebikkan bibirnya membuat tawa Ratu dan Suci makin kencang.
"Jangan ketawa mulu, habisin susunya! Sayangkan lo udah bayar rumah sakit mahal-mahal, tapi makanan lo buang-buang," ucap Egi dibalas anggukan kepala Suci.
Kedatangan Egi membuat suasana hati Suci lebih baik, itu terbukti Suci mau makan lebih banyak.
"Sudah cukup, Gi ... gue udah kenyang banget." Suci menolak saat Egi kembali memberikan potongan buah apel pada dirinya.
"Oke." Egi menaruh potongan buah apel kembali ke atas meja.
Ratu merasa lega karena Suci sudah mau makan dan sudah mau tertawa.
"Gue keluar dulu ya, mau lihat baby Al sudah bangun apa belum," pamit Egi.
"Gi, gue boleh minta tolong gak?" tanya Suci.
"Minta tolong apa?" tanya Egi.
"Bawa anak gue ke sini sebentar ya, gue kangen sama Alvin," sahut Suci yang langsung dianguki oleh Egi.
Egi berjalan keluar dari ruang perawat diantar oleh Ratu.
"Gi, makasih banget ya ... lo udah mau datang dan hibur Suci," ucap Ratu.
"Sama-sama. Gue juga ngerasa kasihan sama dia, pasti dia terpukul banget," ucap Egi.
"Ya sudah gue balik dulu ke ruangan mama ambil Alvin," pamit Egi yang langsung diangguki oleh Ratu.
Ratu kembali masuk ke dalam ruang rawat Suci setelah Egi pergi. Tarikan napas lega terlihat pada diri Ratu, sebelum ia melangkah menghampiri Suci yang sedang duduk di atas tempat tidur.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Ratu.
"Iya, Ratu. Thanks, ya," ucap Suci seraya menguap. "Kok gue mendadak jadi mengantuk?"
"Sekarang lo istirahat, jika Alvin datang nanti gue bangunin," ucap Ratu yang langsung diangguki oleh Suci.
__ADS_1
Ada kesamaan nama tokoh di sini sama CBU. Memang awalnya aku bingung cari nama tokoh untuk CBU jadi aku ambil dari karya ini saja.