
Tinggalkan jejak kalian........
Ratu sedang mondar-mandir di dalam ruang tamu apartemennya menunggu kepulangan Raja. Pikirannya kacau setelah menerima kiriman foto dari Gea yang memperlihatkan jika suaminya sedang berdansa mesra dengan Kiara. Rasa kesal dan khawatir bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Rasa kesal karena suaminya sudah membohongi dirinya yang mengatakan jika ia akan pulang telat karena lembur, namun kenyataannya Raja malah sedang berada di diskotik dan berdansa dengan Kiara. Rasa khawatir pada suaminya karena Ratu takut jika ini akan menambah masalahnya dengan Kiara.
Ratu berhenti mondar-mandir saat telinganya mendengar bel apartemennya berbunyi. Ratu langsung membuka pintu apartemennya dan menampakan suaminya sedang berdiri di hadapannya dengan luka di sudut bibirnya.
"Ya ampun, Yank. Kamu kenapa?"
Ratu langsung membawa Raja masuk dan mendudukkannya di sofa ruang tamu. "Kamu duduk di sini, Aku ambil kompresan dulu." Raja pun mengangguk.
Ratu berjalan ke dapur untuk mengambil air es dan handuk kecil untuk mengompres luka di bibir Raja. Ratu mencelupkan handuk kecil ke air es dan memerasnya lalu menempelkan handuk itu ke luka Raja.
Raja meringis menahan perih di sudut bibirnya. "Sakit ya?" tanya Ratu. Raja pun menggelengkan kepalanya. "Kok bisa kaya gini, kamu berantem sama siapa?"
"Alan"
"Hah, Alan. Kok bisa sih kalian berantem kaya gini?" Ratu berdecak lalu menggelengkan kepalanya. Raja hanya mengangkat kedua bahunya.
Ratu meletakan baskom berisi air es di atas meja yang ia gunakan untuk mengompres luka Raja. "Terus kenapa kamu juga bohong sama aku, kamu nggak lembur kan tapi ketemu sama Kiara?"
"Dari mana kamu tahu?"
"Gea ngirim foto kamu sama Kiara lagi dansa," jawab Ratu.
Raja menghela nafasnya lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Ratu. Ratu dengan senang hati memberikan pangkuannya untuk di jadikan bantal oleh suaminya itu.
"Maaf. Aku nggak mau kasih tahu kamu takutnya nanti malah kamu jadi khawatir sama aku."
Ratu mengusap kening Raja, "Terus kenapa kamu mau nemuin dia, kamu kan bisa nolak?"
"Kiara ngancem aku, Dek. Dia bakalan ngasih video itu sama bunda."
Mata Ratu terbelalak terkejut mendengar penuturan Raja. "Sialan banget tuh cewek. Sebenarnya mau dia apa sih?" geram Ratu.
"Ngancurin hubungan kita." Raja meraih salah satu tangan istrinya dan menggenggamnya. "Dia juga bilang kalau akan meng-upload video itu ke medsos."
Belum sempat Ratu menjawab, ponsel Raja berbunyi. Raja memiringkan tubuhnya untuk meraih ponsel miliknya di meja. Raja melihat panggilan dari nomer tidak dikenal. Raja meletakan kembali ponselnya ke atas meja karena malas mengangkat panggilan itu.
"Kok nggak diangkat, Yank?" tanya Ratu.
"Males, Dek. Lagian nggak ada nama penelponnya." Raja menutup matanya sejenak dengan tangannya untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Namun beberapa detik kemudian terdengar bunyi notifikasi di ponsel Raja. Raja meraih ponselnya kembali dan membaca pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Mata Raja terbelalak saat membaca pesan yang baru saja menghubunginya ternyata itu adalah nomer Kiara.
Lo berani blok nomer gue, lo akan tanggung akibatnya.
Raja akhirnya menghubungi kembali nomer itu.
(Percakapan di telepon)
"Mau lo apa, Kiara?" senga Raja saat panggilannya sudah tersambung dengan Kiara.
__ADS_1
"Temui gue di hotel anggrek sekarang!"
"Gila"
"Gue gila gara-gara lo."
Tidak berselang lama Raja memutus panggilan itu dan melempar ponselnya ke sebrang sofa. Ratu baru kali ini melihat kemarahan suaminya itu.
"Yank, kamu mau pergi?"
"Nggak tahu, Dek."
"Aku temenin yuk!"
"Kamu nggak apa-apa nemenin aku ke sana?"
"Nggak lah, Yank. Tanganku udah gatel pengin ngerontokin rambut dia," kekeh Ratu.
"Dasar kamu ini." Raja menarik hidung Ratu.
Raja bersyukur mempunyai istri seperti Ratu yang selalu ada di saat dirinya berada dalam masalah. Keduanya kini bersiap untuk menemui Kiara di tempat yang Kiara minta.
"Aku yang bawa mobil, ya," pinta Ratu.
"Oke"
Raja dan Ratu masuk ke dalam mobil bersama-sama. Ratu sebenarnya sudah tidak sabar ingin melihat ekspresi wajah Kiara saat mengetahui jika Raja tidak datang sendiri melainkan bersama dirinya.
"Ini bener tempatnya, Yank?" tanya Ratu.
"Bener kayaknya." Raja memastikan alamat serta peta di layar ponselnya.
"Coba deh Yank, kamu hubungi Kiara lagi!" suruh Ratu.
"Sebentar." Raja mengambil ponsel dari saku jasnya dan menghubungi nomer baru Kiara.
Raja memutus panggilannya setelah beberapa detik berbicara dengan Kiara. "Bener, Dek ini tempatnya."
"Ya sudah ayo masuk!" ajak Ratu.
Ratu membuka safety belt nya dan akan membuka pintu mobilnya, namun Raja menahannya. "Kamu beneran yakin mau ikut masuk?" tanya Raja penuh keraguan.
"Ya iya lah, Yank. Tujuan utama aku ikut kamu kan karena aku ingin memberi pelajaran sama Kiara."
"Tap...."
Ratu menaruh jari telunjuknya di depan bibir Raja. "Yank, aku cuma nggak kamu kena masalah lagi sama Kiara."
"Maaf ya, untuk semua masalahku ini."
"Yank, sekarang itu masalah kamu ya masalah aku juga." Ratu meraih salah satu tangan Raja."Kita hadapi sama-sama oke, suamiku yang genteng." Ratu menarik kedua pipi Raja.
__ADS_1
"Makasih ya, Dek."
"Sama-sama. Tapi setelah masalah ini berakhir aku mau kamu kasih aku hadiah."
"Deal"
Raja dan Ratu turun dari mobil bersama-sama setelah mereka bertos ria.
Sementara di tempat lain, Alan sedang berkonsentrasi mengendari mobilnya sesekali ia meringis merasakan sakit di bibirnya.
'Sial, Raja mukulnya keras banget. Awas aja, gue bales nanti.' umpat Alan dalam hatinya.
Gea yang berada di samping Alan merasa kasihan melihat Alan yang merasa kesakitan.
"Sakit ya?" tanya Gea.
"Dikit," jawab singkat Alan.
"Nanti mampir ke rumah gue ya. Gue obatin luka lo dulu." Alan tidak menjawab dengan kata-kata, Alan hanya menganggukkan kepalanya.
Alan membunyikan klakson mobilnya setelah sampai di depan rumah Gea. Seorang satpam di rumah Gea membukakan pintu gerbang untuk anak majikannya itu.
Alan memberhentikan laju mobilnya di halaman rumah Gea.
"Yuk, turun!" ajak Gea yang langsung di angguki oleh Alan.
Gea mengajak masuk Alan ke dalam rumahnya namun Alan menolak. Alan lebih memilih untuk menunggu Gea di depan rumah.
Gea masuk ke dalam rumah untuk mengambil peralatan p3k nya. Beberapa saat kemudian Gea keluar dengan membawa kotak obat untuk mengobati luka di sudut bibir Alan.
Gea menuangkan cairan pemberi luka di atas kapas lalu membersikan luka di sudut bibir Alan. Alan meringis saat merasakan perih di sudut bibirnya.
"Sorry. Sakit ya?"
"Lumayan"
Gea merapikan kembali kotak p3k nya setelah selesai mengobati luka Alan.
"Sial banget emang Raja."
"Lo lagi ada masalah ya sama Raja?" tanya Gea. Sebenarnya Gea merasa ada yang aneh karena biasanya Raja dan Alan itu sangat dekat.
"Lo tahu sendiri gue sama Raja dulu musuh bebuyutan."
Gea mengangguk mendengar penuturan Alan. "Gue sebenarnya ngerasa aneh sama lo. Setahu gue lo sama Raja itu deket banget kan ya, kok sekarang kembalikan jadi musuh."
"Gue sebel aja. Bokap gue selalu ngebandingin gue sama Raja. Selalu Raja yang bokap gue banggain."
"Oh." Gea manggut-manggut menanggapi ucapan Alan. "Lo tenang aja karena dua hari lagi Kiara bakal bikin hubungan Ratu dan Raja hancur."
Alan membelalakkan matanya. "Maksud lo?"
__ADS_1