
Pertandingan basket antar sekolah sudah selesai. Sebagian besar murid sudah pergi dari sekolah. Dari toilet sekolah Ratu kembali ke dalam kelasnya untuk mengambil tasnya. Ia juga mencari keberadaan Raja, tetapi tidak menemukannya. Ratu menebak jika Raja pergi bersama Suci.
Ratu berjalan menyusuri koridor sekolah menuju tempat parkir. Dalam perjalanan ia melihat Alan yang baru saja keluar dari ruang ganti. Awalnya Ratu tidak berminat menyapa Alan, tetapi untuk sekedar basa-basi boleh saja.
"Hai, Alan," sapa Ratu.
"Oh, Hai." Alan membalas sapaan Ratu dengan tidak bersemangat.
"Emm, Lan sekali lagi gue minta maaf ya. Gue berharap lo gak marah karena kejadian tadi di lapangan," ucap Ratu.
"Gak kok. Lupakan saja." Dalam hati Alan, ia marah kepada Ratu yang sudah merendahkan harga dirinya.
"Gue harap ini tidak akan memperngaruhi pertemanan lo sama gue." Padahal dalam hati, Ratu tidak peduli akan hal itu.
"Gak, tenang saja," ucap Alan.
"Oh iya, lo liat Suci gak?" tanya Ratu.
"Pergi sama Raja tadi. Gue tahu lo sebenarnya mau tanya keberadaan Raja bukan Suci, 'kan?" tebak Alan.
"Tebakan lo tepat. Ya sudah gue pulang dulu ya."
Ratu melangkah kembali, tetapi Alan mencegahnya.
"Ratu, gue mau ngajak lo jalan. Mau gak?" tanya Alan. "Anggap saja untuk mengobati kekecewaan gue karena lo nolak gue."
Ratu berpikir sejak sebelum menerima ajakan Alan. Bukan tanpa alasan menerima ajakan Alan. Ratu merasa kesal dengan Raja yang pergi dengan Suci tanpa mengabarinya.
Mereka berjalan bersama menuju tempat kendaraan mereka terparkir. Sepanjang perjalanan masih saja ada murid yang berkomentar tentang penolakan Ratu. Akan tetapi Ratu tidak memperdulikannya.
"Lo mau ke mana?" tanya Alan.
"Terserah lo," jawab Ratu.
"Nonton mau gak?" tanya Alan lagi.
"Boleh," jawab Ratu. "Lo yang bawa mobil ya." Ratu melempar kunci mobilnya ke arah Alan dan berhasil ditangkap oleh Alan.
Sebelum Ratu masuk ke mobil ia mendengar ponselnya berdering. Ratu mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Ada nomor ibunya di layar ponsel. Tidak menunggu lagi Ratu menerima panggilan itu. Sangat mengejutkan tubuh Ratu tiba-tiba saja kehilangan keseimbangan.
Alan yang berada di sisi lain mobil Ratu menghampiri Ratu untuk menanyakan kondisinya.
"Lo baik-baik saja?" tanya Alan.
Ratu mengangguk lalu meneteskan air mata. "Daddy kecelakaan?"
"Daddy, siapa?" tanya Alan.
"Bokapnya Raja," jawab Ratu.
Ratu menghapus air matanya lalu mengambil kunci mobil di tangan Alan. "Gue harus segera ke rumah sakit."
"Tunggu! Gue antar," cegah Alan.
"Gak usah. Gue bisa bawa mobil sendiri," tolak Ratu.
"Kondisi lo sekarang gak aman buat bawa mobil sendiri," bujuk Alan.
__ADS_1
"Tapi —" Ucapan Eatu langsung dipotong oleh Alan.
"Kali ini gue maksa. Lagi pula gue bawa motor akan lebih cepat sampai ke sana," bujuk Alan.
"Baiklah. Ayo." Ratu berjalan cepat ke motor Alan tanpa berpikir panjang Ratu segera naik ke motor bersama Alan.
"Pakai ini!" Alan memberikan helm kepada Ratu.
Alan melajukan motornya dengan cepat dan tiba-tiba berhenti karena jalanan padat.
"Kenapa berhenti?"
"Di depan macet, mungkin ada lampu merah," jawab Alan. "Tenang ya gue bakal cari celah."
Tanpa mereka tahu ada dua pasang mata melihat mereka. Meskipun Alan dan Ratu mengenakan helm, tetapi dua orang yang kini duduk di dalam mobil mengenali mereka. Kedua orang itu adalah Raja dan Suci. Keduanya menatap Ratu dan Alan dengan menahan perasaan tidak suka.
"Raja, mereka yang duduk di motor Alan dan Ratu, 'kan?" ucap Suci yang langsung dianggukki oleh Raja.
"Hmmm." Raja merasa tidak suka melihat Ratu dekat dengan Alan.
"Mau ke mana mereka?" tanya Suci.
"Gak tahu. Biarkan saja," jawab Raja sambil menahan rasa kesalahan di dalam hatinya.
Alan berhasil mencari celah untuk melewati kemacetan. Mereka akhirnya sampai di rumah sakit. Ratu dan Alan dengan cepat masuk ke dalam rumah sakit. Alan sebenarnya malas, tetapi Alan berpikir itu adalah kesempatan bagus untuk terlihat baik di mata Ratu.
"Ma." Ratu langsung memeluk Anita ketika sampai di ruang ICU.
"Ratu, kamu datang sendiri, Nak?"
Bukannya tidak suka dengan Alan. Hanya saja mengingat status Ratu yang sudah memiliki suami mengharuskan sangat anak menjaga jarak dengan laki-laki manapun.
"Siang, Tante," sapa Alan.
"Alan yang mengantar Ratu ke sini, Ma," ucao Ratu.
"Lalu di mana Raja? Mama sudah berulang kali menghubunginya, tetapi nomornya tidak aktif," tanya Anita.
"Ratu gak tahu, Ma," jawab Ratu dengan wajah yang tertunduk. "Keadaan daddy bagaimana?"
"Daddy kamu masih belum sadarkan diri," jawab Anita. "Kamu yang sabar ya. Do'ain daddy kamu supaya cepat sadar."
"Iya, Ma. Aku coba telepon Raja dulu."
Ratu menjauh dari sang ibu, ia mencoba menghubungi Raja berulang kali, tetapi nomornya tidak aktif. Ratu menghubungi nomor Suci tetapi tidak diangkat. Ratu tidak menyerah, tetapi nomor Suci sudah tidak aktif. Awalnya ia ingin meminta Alan untuk menghubungi Suci, tetapi percuma saja nomornya sudah tidak aktif.
"Masih tidak aktif, Ma," ucap Ratu kecewa.
"Ratu sebaiknya kamu pulang. Takutnya Raja sudah pulang," suruh Anita.
"Belum, Ma. Aku sudah coba menghubungi rumah," jawab Ratu.
"Ya sudah. Kamu pulang saja ganti pakaianmu lalu beristirahat," suruh Anita.
"Mama tidak apa-apa di sini sendiri?"
"Tidak. Nanti asisten pribadi daddy kamu juga akan datang."
__ADS_1
"Ya sudah, Ratu pamit." Ratu mencium punggung tangan Anita.
"Kamu pulang diantar sopir saja," bisik Anita.
"Tidak, Ma. Aku akan kembali ke sekolah untuk mengambil mobilku." Ratu balas berbisik agar Alan tidak mendengar pembicaraannya dengan sang ibu.
"Tapi—"
"Tidak apa-apa, Ma. Alan hanya teman."
"Ya sudah. Kamu hati-hati di jalan,". ucap Anita dibalas anggukan oleh Ratu.
"Ayo, aku minta tolong antar aku ke sekolah lagi," punya Ratu pada Alan.
"Saya pamit, Tante," pamit Alan.
"Tante nitip Ratu ya," ucap Anita.
"Iya, Tante," balas Alan.
Ratu kembali membonceng motor Alan dan kembali ke sekolah. Awalnya Alan memaksa untuk mengantarkan Ratu pulang, tetapi Ratu bersikeras untuk pulang sendiri.
Ratu sampai di apartemen ia melihat apartemen masih sepi. Itu berarti Raja masih belum pulang. Ratu mengela napas berat, ia melangkah ke kamarnya dengan langkah berat seolah semua beban di dunia berada di pundaknya.
Selesai mandi dan berganti pakaian Ratu keluar kamar ia berjalan menuruni anak tangga. Sampai di lantai dasar ia melihat pintu terbuka dari luar memunculkan Raja dari baliknya.
"Pulang juga lo."
Ratu terlihat sangat marah, tetapi ia mencoba untuk menahannya.
"Iya tadi ngantar Suci pulang dulu. Waktu jalan balik jalanan macet, Dek."
Raja menjawab tanpa melihat ke arah Ratu. Justru ia sibuk dengan ponselnya. Raja mengabari Suci jika dirinya sudah pulang dengan selamat.
"Suci, Suci, Suci, dan Suci! Apa di kepala lo itu cuma ada Suci!"
Raja terdiam lalu menoleh ke arah Ratu. Ada kemarahan yang Raja lihat di wajah sang istri dan itu membuat dirinya merasa bingung.
"Lo kenapa tiba-tiba marah?"
"Kenapa nomor lo gak aktif? Puluhan kali gue mencoba menghubungi nomor lo tapi tidak bisa. Dan gue menelpon pacar lo itu tapi dia gak angkat dan justru mematikan ponselnya."
"Handphone gue kehabisan daya. Kenapa? Bukannya lo juga jalan sama Alan!"
Ratu terdiam kenapa Raja justru balik marah padanya. Ratu menarik napasnya berulang kali mencoba untuk menahan gejolak amarah yang ada di dalam dadanya.
"Lo mau tahu ke mana Alan bawa gue?"
"Gue gak peduli ke mana Alan bawa lo!" Raja melangkah melewati Ratu begitu saja.
Cukup sudah, Ratu sudah kehabisan kesabaran.
"Alan nganterin gue ke rumah sakit, Ja. Bokap lo kecelakaan bahkan sampai saat ini beliau belum sadarkan diri." Ucapan Ratu membuat Raja berdiri mematung.
"Saat lo gak ada, Alan ada buat gue. Sekarang gue merasa menyesal sudah menolak Alan."
Setelah mengatakan kalimat itu Ratu kembali ke kamarnya ia mengunci diri di dalam kamar sambil menangis.
__ADS_1