
Ratu merasa kepalanya sangat berat akibat kurang tidur. Akan tetapi ia terpaksa bangun saat melihat jam di dinding menunjukan pukul 6.30. Ratu masuk kamar mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah tetapi ia mengurungkan niatnya saat mengingat jika dirinya masih diskors.
Ratu keluar dari kamar dan melihat kamar Raja masih tertutup. Ratu ingin masuk tetapi perasaanya menahannya. Ratu memutuskan untuk turun lebih dulu. Ratu duduk di sofa karena kepalanya terasa sakit. Ia menoleh saat mendengar pintu kamar Raja terbuka. Ratu melihat Raja turun dan langsung berjalan ke pintu keluar tanpa melihat ke arahnya. Ratu merasa luka di hatinya makin melebar.
"Dia masih marah," gumamnya.
Sudah hampir setengah jam Ratu masih duduk termenung sambil memikirkan sikap Raja padanya pagi tadi. Namun kesedihan Ratu terobati saat ia mendapatkan pesan dari Rini. Sahabatnya itu mengirimkan video pertengkaran Raja dan Suci.
Yes! Ratu bersorak dalam hatinya.
*****
Suasana hening terjadi di dalam kelas Raja. Semua murid sedang konsentrasi mengerjakan soal ulangan. Bagi Raja itu soal di hadapannya sangatlah mudah. Setelah selesai Raja menaruh kertas ulangannya di atas meja guru di depan kelas.
Raja kembali ke bangkunya dan pandangannya berhenti di bangku Ratu. Raja baru menyadari kalau bangku Ratu kosong.
"Ke mana itu anak?" tanya Raja dalam hati. Raja mengenal Ratu, dia tak akan bolos sekolah tanpa alasan yang jelas, apalagi saat ada ulangan. Raja tidak mengingat jika Ratu di sedang di skors.
Raja masih resah memikirkan Ratu dan untungnya bell istirahat berbunyi. Raja langsung menghampiri Rini, teman sebangku Ratu.
"Rin, Ratu ke mana?" tanya Raja.
"Kamu lupa kalau Ratu diskors?" jawab Rini yang juga merasa cemas. "Tapi aku khawatir aku chat tapi dia gak balas. Gak biasanya Ratu seperti ini."
Raja masih sangat cemas, dia takut terjadi sesuatu dengan Ratu. Raja meminta Rini untuk menyampaikan izinnya kepada Guru pelajaran selanjutnya.
"Do, gue pinjem motor lo."
Aldo mengangguk lalu melempar kunci motornya ke arah Raja. "Thanks, Do."
Raja bergegas berlari ke parkiran. Namun di jalan Suci menahannya.
"Ja, aku mau ngomong sama kamu," pinta Suci.
"Gue lagi gak ada waktu," ketus Raja.
"Ja, please, kasih aku kesempatan jelasin semuanya."
Raja menjauhkan tangan Suci dengan kasar. Raja bergegas pergi ke parkiran sekolah tanpa memperdulikan panggilan Suci. Raja langsung melesat menggunakan motor Aldo dengan kecepatan penuh menuju apartemennya.
Raja sampai di apartemennya lalu bergegas menuju unit apartemennya. Raja segera membuka pintu dan melihat Ratu tertidur di sofa ruang tamu. Raja melihat keringat mengalir di wajah Ratu bahkan tubuhnya terlihat menggigil.
Raja menempelkan tangannya di kening Ratu untuk mengecek suhu tubuh Ratu, ternyata Ratu demam. Raja langsung pergi ke dapur untuk membuatkan Ratu bubur. Setelah siap Raja membangunkan Ratu.
"Dek, bangun makan buburnya dulu." Raja menepuk-nepuk pipi Ratu.
Perlahan Ratu mulai membuka matanya. Kepalanya terasa sangat sakit hingga ia berat untuk membuka matanya.
__ADS_1
"Raja ...." Ratu mengira dirinya sedang berhalusinasi.
"Iya, ini gue." Raja membantu Ratu untuk bangun.
Ratu bersandar di punggung sofa sambil terus memegangi kepalanya.
"Raja?" tanya Ratu untuk memastikan kalau Raja di sampingnya itu nyata, bukan bayangannya saja.
"Lo sakit kenapa gak bilang sama gue?" tanya Raja kesal. "Sekarang makan buburnya, habis itu minum obat," lanjut Raja.
Raja meniup bubur yang masih panas, setelah memastikan bubur di sendok dingin Raja menyuapkannya ke mulut Ratu. Baru beberapa sendok Ratu merasa kenyang. Mulutnya yang terasa pahit membuatnya tak berselera untuk makan.
"Ya sudah sekarang minum obatnya!"
Ratu melihat obat di tangan Raja. Ratu menggeleng saat Raja memberikan obat itu kepadanya.
"Gak mau Ja, pahit." Ratu menggelengkan kepalanya dan menutup mulutnya saat Raja memaksanya untuk meminum obat itu.
"Namanya juga obat, pasti pahit lah."
Raja masih berusaha memaksa Ratu untuk meminum obat, tetapi Ratu tetap menolaknya.
"Kalo gak minum obat, panasnya gak turun-turun, Dek," bujuk Raja tetapi Ratu masih saja keras kepala.
Raja menghela napas panjang, Raja memikirkan cara agar Ratu mau meminum obat di tangannya. Raja memasukan obat dan air ke mulutnya. Tanpa permisi Raja meraih tengkuk Ratu dan memasukan obat dari mulutnya ke mulut Ratu. Ratu melebarkan matanya, terkejut dengan apa yang dilakukan Raja.
"Lo apa-apaan, Ja?" tanya Ratu setelah berhasil menelan obat itu bulat-bulat.
Wajah Ratu berubah menjadi merah merasa malu atas tindakan Raja. Kalau Raja memberinya obat dengan cara seperti itu Ratu merasa demamnya akan berubah menjadi sakit jantung.
"Lo sering kaya gini sama mantan-mantan lo dulu?" tanya Ratu.
"Gak usah banyak ngomong!" Raja menyentil kening Ratu. "Istirahat gih di kamar," perintah Raja pada Ratu.
Raja membereskan piring bekas makan Ratu, saat Raja akan melangkah ke dapur, Ratu menahan tangan Raja.
"Makasih, Ja."
Raja tersenyum lalu mengacak-acak rambut Ratu. Ratu lagi-lagi menahan tangannya dan akhirnya Raja duduk kembali di samping Ratu.
"Kenapa, Dek?"
"Maafin gue, soal video itu. Gue gak bermaksud nyembunyiin dari lo soal hubungan mereka," ucap Ratu
Raja meraih tangan Ratu dan menggenggamnya. Raja merasa bersalah kepada Ratu karena sudah marah padanya. Padahal itu bukanlah kesalahannya.
"Gue yang harusnya minta maaf ke lo, Dek. Gak seharusnya gue bentak-bentak lo kaya kemarin." Raja menghapus jejak air mata di pipi Ratu.
__ADS_1
"Jadi lo udah gak marah Ja sama gue?" Raja menggelengkan kepalanya. "Tapi kenapa tadi pagi lo cuekin gue, gue nungguin di sini tapi lo sama sekali gak mau lihat gue dan pergi gitu aja?"
Raja mengangkat satu alisnya. Bukan maksudnya untuk mengacuhkannya, tetapi Raja memang tidak mengetahui kalau Ratu menunggunya di ruang tamu karena Raja sedang fokus dengan ponselnya.
"Memang? Gue gak tahu lo ada di sini," ucap Raja. " Sudahlah lupakan saja. Aku antar kamu ke kamar."
Raja mengantar Ratu ke kamarnya untuk beristirahat. Setelah Ratu berbaring di ranjangnya, Raja menyelimuti tubuh Ratu dengan selimut.
"Ja gue udah gak apa-apa kok. Lo balik aja ke sekolah!"
"Ya sudah. Aku balik ke sekolah nanti kalau lo sudah tidur."
Ratu tersenyum dan mengangguk. Ratu mulai mengantuk karena pengaruh obat yang dia minum. Perlahan Ratu mulai memejamkan matanya merasakan nyaman saat Raja mengusap-usap keningnya.
Raja melihat Ratu sudah tertidur. Raja terus memperhatikan wajah Ratu kala tertidur, Raja merasa bersalah pada perempuan yang telah menjadi istrinya. Raja mengingat jelas pengakuan Ratu semalam, karena sebenarnya dia belum benar-benar tertidur.
"Maafin gue Dek. Gue udah nyakitin lo."
Raja mencium kening Ratu lalu ikut memejamkan matanya di samping Ratu. Raja tertidur sambil melingkarkan tangannya di atas perut Ratu. Terlihat keduanya tertidur dengan begitu nyaman.
Ratu mendengar suara dering di ponselnya. Ratu mengucek matanya dengan punggung tangannya. Saat akan meraih ponsel di meja samping ranjangnya, Ratu merasakan beban di atas perutnya.
"Raja?" guman Ratu. Ratu mengira kalau Raja kembali ke sekolah dan ternyata malah ikut tertidur di sampingnya.
Ratu menyingkirkan tangan Raja yang ada di atas perutnya. Ratu meraih ponsel di sampingnya untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Mama?"
Ratu menekan tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Halo, Ma?"
"Apa? Mama serius?" Ratu berteriak kegirangan mendengar kabar dari Anita kalau Daddy kesayangannya sudah sadar.
Ratu segera membangunkan Raja yang masih terlelap. "Ada apa sih, Dek. Aku masih ngantuk."
"Raja ayo bangun!" Ratu merasa gemas Raja masih tidak ingin bangun, ia terus menggoyang-goyangkan tubuh Raja.
"Raja bangun, ayo bangun!" seru Ratu.
"Ada apa sih, Dek? Masih ngantuk." Raja meraih pinggang Ratu dan membuat Ratu berbaring di ranjangnya, kemudian Raja membaringkan kepalanya di atas perut Ratu.
Ratu refleks langsung mendorong kepala Raja. "Raja, ayo bangun! Daddy Gun udah sadar"
Raja langsung membelalakan matanya dan mengambil posisi duduk. "Serius, Dek?"
Ratu langsung mengangguk semangat dan menarik Raja untuk segera turun dari ranjang.
__ADS_1
"Eh tunggu!" Raja manarik tangan Ratu lalu menempelkan punggung tangannya di kening Ratu memeriksa apa Ratu masih demam apa tidak. "Sudah gak demam, syukurlah."
Tak menunggu waktu lama Raja langsung melesat ke rumah sakit setelah mengembalikan motor Aldo dan mengambil mobilnya di sekolah.