Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
Bab 68


__ADS_3

Ratu menghela nafas lega setelah kepergian Leo dan juga Kiara. Ini pasti bukan suatu kebetulan, sudah beberapa kali setiap Ratu melihat Kiara pasti perutnya langsung bergejolak. Ratu berpikir kalau dirinya terkena penyakit sindrom kebencian. Ratu membuang jauh-jauh pikiran itu, penyakit dari mana itu.


"Kantin yuk!" ajak Panji. Semuanya pun mengangguk setuju.


Raja menggandeng tangan Ratu dan berjalan bersama ke kantin. Sesampainya di kantin Raja dan yang lainnya memesan makanan


masing-masing. Ratu meminta Raja untuk memesan bakso tiga mangkok.


"Buat siapa aja, Dek. Banyak banget?" tanya Raja.


"Buat aku semua lah!" jawab Ratu dengan entengnya. Raja membekalkan matanya, begitu juga dengan yang lainnya.


Ratu tersenyum bahagia, matanya berbinar melihat tiga mangkok bakso sudah ada di hadapan Ratu.


"Alan, suapin gue!" Alan langsung tersedak jus jeruk yang sedang ia minum, sedangkan yang lainnya membelalakkan matanya termasuk Raja.


"Gue nyuapin lo?" Alan menunjuk dirinya sendiri. "Siapa lo?" tolak Alan mentah-mentah.


"Kok gitu sih. Lo katanya Abang gue," rengek Ratu yang makin membuat semuanya heran.


"Tuh suami lo, minta suapin sama dia aja sana!" Alan masih tetap menolak yang langsung membuat Ratu menangis.


"Udah deh Lan, tinggal suapin aja apa susah nya. Lo mau dia ngadu ke bokap Lo?" Raja tahu Ratu sedang dalam mode manja. Meski merasa aneh, gak biasanya Ratu seperti itu.


Alan bukannya tak mau menyuapi adik tirinya itu tetapi dia merasa tak enak hati pada Raja dan Suci. Alan menghela nafas berat, sekilas juga melihat ke arah Suci seolah minta pendapat tunangannya itu. Setelah mendapat persetujuan dari tunangannya, Alan bergerak mengambil sendok dan mulai menyuapi bakso ke mulut Ratu.


Ratu bertepuk tangan karena kemauannya terpenuhi. Sementara yang lainnya menatap heran pada Ratu, terutama Raja dan juga Suci. Beberapa saat kemudian, tiga mangkok bakso sudah berpindah ke perut Ratu.


"Kenyang." Ratu mengusap perut rata nya.


"Kesurupan, lo?" tanya Angga yang langsung mendapat tatapan horor dari Ratu.


Setelah memakan tiga mangkok bakso, dua gelas jus jeruk milik Angga dan Alan pun lenyap seketika. Alan dan Angga di buat melongo oleh ulah Ratu.

__ADS_1


"Kurang, Dek?" Raja memberikan gelas berisi jus mangga miliknya.


"Gak mau, itu bekas kamu!" Raja menarik satu alisnya ke atas, ada apa dengan istrinya. Raja mengira jika Ratu marah karena istri nya itu sempat melihat Kiara mendekatinya.


Selesai dengan istirahat, Raja dan yang lainnya kembali ke lapangan untuk berkumpul dengan calon mahasiswa yang lainnya. Acara ospek kembali berlangsung. Sesuai janji Leo, siapa yang mendapat tanda tangan paling banyak dari para senior, maka mereka akan mendapatkan hadiah dari panitia ospek.


Salah satu dari panitia ospek menyebut nama Ratu dan Suci sebagai pemenang dari lomba itu. Ratu dan Suci saling bertukar pandang, mereka tak menyangka akan jadi pemenang dari begitu banyak peserta lainnya. Sebenarnya itu hanya alasan dari salah satu panitia ospek, karena beberapa panitia ospek tertarik dengan kedua perempuan itu, terutama Ratu yang ingin mereka dekatkan dengan Leo.


Ratu dan Suci maju ke depan untuk menghampiri para panitia untuk mengambil hadiah. Ratu dan Suci menerima kotak kecik yang tak tahu apa isinya. Leo dan salah satu temannya belum tahu jika perempuan yang mereka incar sudah memiliki suami dan tunangan. Ratu dan Suci dan dua panitia ospek itu tak tahu, jika Alan dan Raja sedang menatap tajam seperti melihat mangsa yang siap untuk diterkam.


Ratu dan Suci kembali ke dalam barisan, sekilas Ratu dan Suci melirik ke arah Alan dan Raja yang juga sedang melihat ke arah mereka dengan tatapan horor.


Waktu sudah semakin sore, acara ospek pun sudah selesai untuk hari ini. Raja dan teman-teman pulang ke rumah masing-masing. Rencana untuk menjenguk Egi pun mereka urungkan karena rasa lelah di tubuh mereka.


"Yuk, balik!" ajak Raja.


"Ja, aku ke toilet dulu ya," izin Ratu.


"Gue temenin." Suci mengejar Ratu yang akan pergi ke kamar mandi.


Kiara dan temannya menghentikan langkah Ratu dan Suci. Di tatapnya dua juniornya itu dengan tatapan remeh.


"Ratu, kita udah lama gak ketemu. Apa kabar?" tanya Kiara dengan nada mengejek.


"Hueeeeek, Hueeeek." Ratu kembali merasakan mual yang luar biasa. Ratu segera berlari ke kamar mandi meninggalkan Suci dan juga Kiara.


"Heh, kenapa temen lo?" tanya Kiara.


"Gue gak tahu!" Suci segera menyusul Ratu ke ke toilet kampus.


Suci berjalan dengan langkah cepat untuk menyusul Ratu. Suci takut terjadi sesuatu pada adik tiri tunangannya itu. Suci segera masuk ke dalam toilet dan melihat Ratu sedang mencuci wajahnya.


"Lo gak apa-apa?" tanya Suci pada Ratu.

__ADS_1


Ratu menggelengkan kepala dan menatap Suci. "Ada apa, lo mau ngomong apa sama gue?" tanya Suci, tangannya terulur untuk mengusap pundak Ratu.


Ratu membalik badannya, menyenderkan badannya di meja wastafel. "Sebenarnya gue mau cerita ini sama lo, tapi gue takut dikira aneh," ucap Ratu.


"Maksud lo?" Suci mengerutkan Keningnya bingung.


"Gue juga gak tahu, Ci. Gue ngerasa bingung aja. Dari tadi pagi, setiap gue liat Kiara, gue langsung mual. Gue tadinya gak percaya, mungkin itu cuma kebetulan aja. Tapi ini sudah terjadi beberapa kali, dan kali ini gue yakin, gue mual jika bertemu atau bahkan cuma sekedar melihat Kiara," keluh Ratu.


"Iya sih, gue juga sudah merhatiin lo dari tadi pagi, tingkah lo aneh. Lo mual pas liat Kiara, lo nangis minta disuapin sama Alan." Suci nampak ikut berpikir.


"Atau kayaknya lo hamil deh. Soalnya biasanya orang hamil tingkahnya aneh-aneh."


Ratu terkejut mendengar ucapan Suci. Masa iya dirinya hamil d cepat itu.


"Hei kok, bengong.Perempuan hamil gak boleh bengong, bisa kesambet," ucap Suci.


"Masa iya gue hamil secepat ini, Ci?" ucap Ratu masih tidak percaya.


"Bulan ini lo udah datang bulan, belom?"


"Belum waktunya. Masih tiga hari lagi."


"Coba Lo beli alat tes kehamilan, terus lo coba cek sendiri di rumah!"


Ratu mengangguk, ia berfikir untuk membeli alat tes kehamilan seperti kata Suci.


"Ya udah yuk, kita balik. Kasihan yang lain nungguin kita lama," ajak Suci yang langsung di angguki oleh Ratu.


Ratu dan Suci kembali ke area parkir untuk menghampiri yang lain. Ratu masih saja memikirkan apa yang dikatakan Suci. Jujur Ratu masih ragu jika dirinya hamil secepat itu. Ratu masih terus memikirkan semua itu sampai ia tak menyadari jika ia sudah sampai di area parkir.


"Kenapa, Dek. Kok dari tadi aku perhatiin kamu dari sini, kayaknya kamu lagi mikirin sesuatu?" tanya Raja.


"Gak kok, aku lagi capek aja!" jawab Ratu. Raja memperhatikan wajah Ratu yang nampak pucat. Ada rasa khawatir jika terjadi sesuatu pada diri istrinya, mengingat Ratu sempat merasa mual beberapa kali.

__ADS_1


"Ya udah, pulang yuk. Nanti kamu langsung istirahat di rumah." Ratu mengangguk lalu masuk ke dalam mobil bersama Raja.


__ADS_2