
Jangan lupa Like, Vote, Rate, dan komentarnya....
Happy reading...
Malam harinya Raja dan Ratu sedang berada di kediaman Mahendra. Anita mengundang anak dan menantu nya itu untuk makan malam. Ratu belum menceritakan apapun pada Anita dan Mahendra tentang apa yang sedang menimpa suaminya itu.
Raja sedang duduk di taman belakang rumah mertuanya itu sambil menunggu makan malam siap. Raja duduk di gazebo d samping kolam berenang sambil bersandar di tiang gazebo.
"Ngapa lo, sok pusing banget sih?" ledek Alan.
Raja tidak berbicara apa-apa selain mendengus. "Sial banget hidup gue, dua kali gue hampir dilecehkan sama Cewek."
Gelak tawa Alan terdengar jelas di telinga Raja. "Nggak usah lebar-lebar ketawanya. Keselek angin tahu rasa lo," sungut Raja.
"Gimana gue nggak ketawa, Ja. Bisa-bisanya lo dilecehkan sama cewek-cewek." Alan menghentikan tawa nya saat melihat tatapan tajam Raja. "Ratu gimana, marah sama lo?"
"Gue bersyukur Ratu percaya sepenuhnya sama gue."
"Bagus dong!"
"Iya, cuma gue lagi heran aja, dari mana Kiara dapat video itu. Gue yakin banget, cuma ada gue sama Kiara waktu itu." Pikiran Raja melayang mengingat kejadian waktu itu.
"Lo yakin?"
Raja langsung mengangguk penuh keyakinan. "Gue yakin banget."
"Kalau begitu pasti Kiara sendiri yang merekam kejadian itu dan dia sudah mengeditnya. Semua ini pasti sudah direncanakan sama Kiara.
"Kalau begitu, dia juga pasti punya video aslinya."
"Pasti."
"Gue harus dapetin video itu buat buktiin kalau gue nggak bersalah."
"Bagaimana cara nya?"
Alan dan Raja nampak berpikir keras, beberapa saat kemudian, keduanya menjentikkan jari mereka.
"Gea." ucap Raja dah Alan bersamaan. Raja dan Alan kemudian saling tos dan siap menjalankan misi mereka.
Alan dan Raja menoleh saat Anita memanggil keduanya untuk makan malam. Raja dan Alan pun beranjak dari gazebo dan masuk ke dalam rumah nya.
__ADS_1
"Kayaknya enak nih, Mah." Alan duduk di meja makan setelah mencuci tangannya. Alan tidak ingin jika dirinya terkena marah lagi oleh adik dirinya.
"Jelaslah kan gue yang masak," ucap Ratu penuh percaya diri dan Alan memutar bola matanya jengah.
Alan langsung diam dan tidak ingin berkomentar apapun melihat tatapan horor dari Ratu.
"Ya sudah, ayo kita mulai makan malam nya, saya sudah lapar," ajak Mahendra.
Semuanya pun duduk di tempat masing-masing dan mulai menyantap makanan yang sudah di sediakan. Rasa makanannya memang sangat enak dan semua masakan itu yang dimasak oleh Anita dan Ratu. Ratu juga sudah belajar banyak cara memasak dari internet maupun dari anita sendiri.
Setelah acara makam malam, Mahendra, Alan, dan Raja memilih untuk duduk di ruang keluarga. Para lelaki itu berkumpul untuk mengobrol masalah bisnis. Mahendra yang juga bekerja sama dengan perusahaan Gunawan memuji pekerjaan Raja, proposal yang diajukan Raja pun menurutnya sangat bagus.
Sementara di dapur, Ratu sedang membereskan dapur dan meja makan di bantu oleh Anita dan asisten rumah tangga di rumah itu.
"Sayang," panggil Anita pada Ratu.
"Iya, Mah. Ada apa?" tanya Ratu. Ratu melihat sekilas ke arah anita sebelum melanjutkan untuk mencuci piring.
"Kamu sama Raja pindah ke rumah kita ya. Sayang loh rumah itu kosong. Lagian jarak rumah sama kampus lebih deket," usul Anita.
"Iya, Mah. Nanti Ratu bicarakan dulu sama Raja." Ratu mengeringkan tangannya yang basah menggunakan lap yang tergantung di samping kulkas.
"Iya, Sayang. Kamu nginep kan di sini?" tanya Anita.
"Oh ya sudah."
"Bibi, tolong lanjutkan beres-beresnya ya." ucap Anita yang langsung diangguki oleh asisten rumah tangga. Anita dan Ratu melangkah bersama untuk bergabung dengan para laki-laki di ruang tengah.
Kelima orang itu mengobrol dan bercanda di ruang keluarga. Ratu sangat bersyukur mamahnya mendapatkan suami sebaik sekarang. Kini Ratu bisa merasa sangat tenang mamahnya tidak salah memilih suami. Hubungannya dengan Alan pun sangat baik, rasanya Ratu hampir tidak percaya jika Alan yang sekarang menjadi saudara tirinya adalah Alan yang dulu hampir merenggut kesuciannya.
Tidak terasa waktu semakin larut, Raja melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Bunda, Papih . Raja sama Ratu pulang dulu ya, ini sudah malam," ujar Raja.
"Loh kalian nggak nginep?" tanya Mahendra.
"Enggak, Pih. Besok Ratu ada kelas pagi," jawab Ratu. "Ya sudah, Ratu sama Raja pulang dulu," pamit Ratu.
"Iya, Sayang. Kamu sama Raja pikirin usul mamah tadi ya ,nak."
"Iya, Mah. Nanti Raja sama Ratu pikirin itu lagi."
__ADS_1
"Ya sudah. kalian pulangnya hati-hati ya." Raja dan Ratu mengangguk bersama lalu bergantian untuk menyalami Anita juga Mahendra.
Mahendra dan Anita serta Alan mengantar Raja dan Ratu sampai ke halaman rumah meraka. Ratu dan Raja melambaikan tangan setelah masuk ke mobil mereka, Raja pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Mahendra.
Di tengah perjalanan, Raja bertanya pada Ratu maksud dari ucapan Anita tadi.
"Oh itu Mamah nyuruh kita menempatin rumah lama yang dulu itu. Kata mamah sayang kalau rumahnya kosong." jelas Ratu pada Raja. "Kamu gimana, Yank. Aku ikut kamu saja."
"Aku sih setuju saja, lagipula jarak ke kampus lebih deket dari rumah kamu ketimbang dari apartemen kita."
"Kamu beneran mau, Yank?" tanya Tatu.
"Iya ,dek?"
Ratu langsung memeluk tubuh suaminya serta mencium pipinya. "Jadi kapan kita pindah?" tanya Ratu.
"Nanti deh, Dek. Nunggu masalah aku sama Kiara kelar." Raja menoleh ke arah Ratu. "Kamu nggak apa-apa kan?" Raja khawatir jika Ratu tidak setuju dan marah.
"Oh iya aku hampir sama si Kiara." Ratu nampak berpikir dan mencoba mencari solusi untuk masalah suaminya. "Yank, kita kayaknya harus cari orang yang sudah mengambil video itu deh," usul Ratu.
"Nggak, Dek. Aku yakin kalau saat itu aku cuma berdua sama Kiara. Dan aku yakin Kiara sendiri yang sudah merekam video itu tanpa sepengetahuan aku. Dan dia juga sudah merencanakan semuanya untuk ngejebak aku."
Ratu makin geram saat mendengar penjelasan dari Raja. "Dasar cewek pecun." Ratu mengepalkan kedua tangannya. " Berarti dia sudah edit vidio itu, Yank."
"Aku yakin seratus persen, Dek."
"Kita harus ambil video aslinya di ponsel Kiara."
"Tenang, Dek. Aku sama Alan sudah ada rencana. Yang penting nantinya kamu sama Suci dukung rencana itu dengan tetap percaya sama kami. Oke, Sayangku." Raja menjiwit gemas pipi Ratu yang sedikit tirus.
Ratu melirik sekilas ke arah Raja. "Rencana apaan, Yank?"
"Ada deh, nanti juga kamu tahu. Yang terpenting apapun yang aku sama Alan lakukan tetep percaya sama kami."
Ratu menghela nafas panjang dan mengikuti apa kata suaminya. "Ya sudah. Tapi awas kalau macam-macam," ancam Ratu.
"Iya cerewet."
"Idih malah ngatain." Ratu mencubit lengan Raja membuat suaminya itu meringis.
"Sakit, Dek. KDRT nih," tawa Raja.
__ADS_1
Tidak lama, Raja memasuki kedung apartemennya dan memarkirkan mobilnya sebelum keduanya masuk ke dalam unit apartemen mereka.