
Raja menyiapkan seragam sekolah untuk Ratu, terdengar lucu memang, tetapi itu gara gara jam sudah menunjukan pukul 6.30 dan Ratu baru membuka matanya.
"Dasar cewek punya jiwa cowok begini jadinya, cueknya gak ketulungan." Raja menggerutu sendiri saat Ratu dengan santainya memerintahkan dirinya untuk menyiapkan seragam sekolahnya hingga pakaian dalamnya.
Raja keluar dari kamar Ratu dan segera menyiapkan bekal untuk mereka ke sekolah, karena pasti mereka tidakkan punya waktu kalau harus sarapan terlebih dahulu.
"Kok jadi berasa gue yang jadi istri," gerutu Raja, tetapi tetap ia menyunggingkan senyumnya.
Raja mendengar suara gaduh dan melihat ke arah tangga, ternyata Ratu sedang berlarian.
"Ja, gue berangkat dulu." Ratu langsung mencomot Roti di meja makan dan memasukannya ke dalam mulut.
Raja melongo melihat tingkah laku Ratu. "Dia cewek jenis apa sih?"
Ratu berangkat ke sekolah menggunakan mobilnya sendiri yang ia ambil dari rumahnya. Dia tidak mau menanggung malu kalau harus di sangka sebagai pengganggu pacar perempuan lain.
"Dia suami gue woy! Kapan gue bisa ngomong kaya gitu ke semua orang," pikirnya.
Ratu memarkirkan mobilnya saat sudah sampai di sekolah. Ratu membuka mobil dan bertepatan dengan datangnya mobil Alan.
"Ratu," panggil Alan buru-buru, saat Ratu berjalan melewati mobilnya.
Ratu menoleh dan tersenyum terpaksa, "Eh ya, Lan."
Alan memaksa untuk mengantar Ratu ke kelasnya, Ratu tersenyum canggung merasa tak enak jika menolaknya, dan dengan terpaksa Ratu pun menganggukkan kepalanya.
"Ratu … maaf soal kemaren di rumah kamu. Aku gak ngira mama kamu bakal semarah itu sama kamu."
"Lupain aja."
"Mama kamu gak ngebolehin kamu pacaran?"
"Hmmmm."
Alan masih merasa penasaran kenapa orang tua Ratu, bisa semarah itu saat dirinya menggenggam tangan Ratu.
Ratu melambaikan tangannya kepada Alan saat sudah berada di depan kelasnya.
"Halo, Alan …."
Alan langsung tersentak saat Ratu menepuk pundaknya.
"Ada apa?" tanya Alan.
"Gue udah sampai, gue masuk dulu," ujar Ratu.
"Oke, sampai ketemu lagi," ucap Alan.
__ADS_1
Ratu masuk ke dalam kelasnya berjalan ke bangkunya yang sudah ada Rini di sebelahnya.
"Pagi, Rin," sapa Ratu.
"Pagi juga, Ratu."
Tidak lama Raja masuk ke dalam kelasnya dan tertegun saat melihat Ratu. Raja melihat Ratu memakai kaca mata milik Rini.
"Kaya pernah liat tapi di mana ya?" tanya Raja dalam hatinya.
Jam pelajaran dimulai. Namun Raja sama sekali tidak menyimak pelajaran itu. Ia masih memikirkan sesuatu. Raja tersadar saat bel istirahat berbunyi dan guru matematika keluar dari kelasnya. Raja menepuk pundak teman sebangkunya yang juga satu tim basket dengannya.
"Aldo, ibu Mely tadi jelasin apaan aja sih?" tanya Raja.
Aldo mengerutkan keningnya, seorang Raja yang biasanya konsentrasi di setiap mata pelajaran sekarang bertanya kepadanya.
"Gue juga gak tahu, Ja." Aldo terkekeh karena memang dia juga tidak terlalu menyimak pelajarannya.
"Lah lo ngapain dari tadi?" tanya Raja.
"Lah lo juga ngapain dari tadi?" tanya balik Aldo.
Sekarang giliran Raja yang nyengir kuda, dan Aldo hanya menggelengkan kepala.
"Kantin yuk!" ajak Aldo.
Aldo keluar kelas dan berjalan menuju kantin bersama yang lain. Raja menatap punggung Ratu dan masih bergelut di dalam pikirannya. Dia yakin pernah melihat Ratu, jauh sebelum dia datang ke rumah Ratu. Raja tersenyum sumringah saat mengingatnya.
"Ratu," panggil Raja.
Ratu dan Rini menoleh ke arah Raja yang sedang berjalan menghampiri mereka.
"Rin … pinjem kacamata lo sebentar." Rini mengerutkan keningnya lalu melepaskan kacamatanya dan memberikannya kepada Raja.
Raja menerima kacamata itu dan langsung memakaikannya ke Ratu. Ratu terkejut saat Raja memakaikan kacamata ke wajahnya. Ratu mengerutkan keningnya saat melihat Raja memperhatikan wajahnya yang sudah memakai kacamata.
"Tuh kan bener, lo si Cubby. Cewek gendut yang dulu sekolah di Jogja." Raja menarik kedua pipi Ratu.
Rini mengerutkan keningnya, ia tidak tahu ada apa dengan dua temannya, ia pun hanya bisa bertanya di dalam hatinya.
"Gak jelas lo berdua." Rini meminta balik kacamatanya.
"Ratu … gue ke kantin dulu, gue gak mau jadi obat nyamuk di sini," ledeknya.
Ratu tersenyum dan memandang ke arah Raja. "Lo inget, Ja sama gue? Si Cubby?"
Raja tersenyum, "Inget lah, lo dulu, 'kan imut banget, Dek. Dan sekarang liat!" Raja membolak balik tubuh Ratu ke kanan dan ke kiri serta mencubit pipinya. "Lo berubah 180°, Dek."
__ADS_1
"Lo pikir gue power ranger? Bisa berubah." Ratu cengengesan. Jelas lah Ratu berubah total, gendut menjadi langsing. Dengan pipi bak bakpou sekarang menjadi tirus.
"Issh … serius Dek," ujar Raja.
Raja pura-pura berpikir dan terlintas ide jahil di kepalanya. Raja mendekatkan wajahnya ke sisi wajah Ratu lalu membisikan sesuatu.
"Lo jadi cantik banget."
Ratu merinding mendengar bisikan Raja di telinganya, untung saja hanya ada mereka berdua di dalam kelas. Wajah Ratu berubah merah, saat pandangan mereka bertemu. Raju tertawa terbahak-bahak melihat wajah Ratu bersemu merah, meskipun itu bukan pertama kali melihatnya, tetapi Raja selalu senang melihat itu.
"Wajah lo merah banget, Dek."
"Raja, lo jahat banget sama gue," rengek Ratu.
Ratu menyembunyikan wajahnya di pundak Raja dan mendorong pelan pundak suaminya itu.
"Raja!"
Raja dan Ratu menoleh ke suara di depan kelasnya dan ternyata di sana ada Suci. Segera Ratu menjauhkan tubuhnya dari Raja.
Suci terlihat sangat marah, lalu menghentakkan kakinya dan berlari meninggalkan Raja dan Ratu. Dengan segera Raja berlari mengejar Suci. Namun Raja tak menemukan Suci dimana-mana.
"Sial," umpatnya.
Raja memutuskan untuk pergi ke lapangan basket menemui teman-temannya. Tim basket mereka ada pertandingan dengan tim dari sekolah Raja yang dulu, dan tentunya ia akan melawan ketiga sahabat baiknya.
Raja mengambil bola yang sedang menggelinding ke arahnya dan melemparkannya ke dalam ring, Namun sayang tembakannya meleset. Berulang kali Raja mencoba namun tetap sama. Aldo mengambil bola dari tangan Raja, lalu ia lemparkan ke dalam ring dan masuk dengan tepat.
"Kalo cara lo maen kaya gini terus, udah pasti kita akan kalah, Ja."
Raja menggelengkan kepalanya lalu duduk di kursi dipinggir lapangan.
"Lo kenapa, Ja? Gak biasanya lo main jelek kaya gini."
"Lagi gak mood gue," jawab Raja singkat.
Aldo menggelengkan kepalanya, tersenyum kecil kemudian duduk di sebelah Raja.
"Gue emang belom kenal lo lama, tapi gue perhatiin dari diri lo kaya bukan Raja yang gue sering denger. Gue juga sering merhatiin lo pas lagi sama Suci atau pun pas lagi sama Ratu, jujur gue lebih seneng pas lo lagi sama Ratu," ucap panjang lebar Aldo.
Raja masih terdiam memikirkan apa yang sudah dikatakan Aldo. Aldo merangkul pundak Raja membuat Raja sedikit tersentak.
"Ja, lo jangan mau dikendalikan sama Suci."
Setelah mengucapkan itu Aldo kembali ke lapangan untuk bermain bersama teman-temanya. Raja masih memikirkan semua perkataan Aldo, memang ada sedikit yang mengganjal di hatinya, Raja merasa Suci yang sekarang berbeda dari Suci yang pertama kali dia lihat dulu.
Raja menunduk dengan kedua tangannya yang dia satukan di depan, bayangan senyum Suci yang dulu hilang menjadi bayangan Suci yang sedang marah. Namun bayangan Ratu dengan segala tingkah konyol tiba-tiba melintas begitu saja, dan berhasil membuat Raja menarik bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman.
__ADS_1
Raja membuang napasnya pelahan dan berlari menuju ke tengah lapangan untuk ikut bermain basket bersama timnya. Aldo akhirnya bisa melihat Raja bermain penuh dengan semangat seperti biasanya.