
Raja dan Ratu serta teman-temannya sedang berkemas. Rencananya mereka akan menginap di rumah lama milik keluarga Ratu.
Setelah semuanya bersiap dan berpamitan kepada eyang Bagas dan eyang Murti mereka menuju mobil masing-masing. Ratu meminta untuk berangkat beberapa saat lagi karena ia sedang menunggu seseorang.
"Kita nunggu siapa lagi?" tanya Egi pada Ratu.
Belum sempat Ratu menjawab, sebuah mobil Honda city warna hitam membunyikan klakson dan berhenti tepat di harapan mereka. Tanpa harus menebak mereka tahu siapa yang ada di dalam mobil itu.
"Mereka yang lo tunggu?" tanya Egi kembali pada Ratu lagi.
"Iya," jawab singkat Ratu. "Lo pikir siapa? Cewek cantik?" ledek Ratu.
Egi langsung mendengkus kesal, tetapi justu membuat Ratu terkikik geli.
"Sorry, gue mau telat," ucap Alan saat ia dan Suci keluar dari mobil.
"Apa? Gue gak salah denger. Seorang Alan bisa ngucapin kata maaf. Gue jadi ragu, lo Alan bukan sih?" tanya Egi dengan nada menyindir.
Ada rasa kesal yang mengganjal di hati Alan. Rasa kesalnya membuat Alan ingin memberikan bogem mentah pada Egi. Jika saja Suci tak menahan Alan sudah di pastikan akan terjadi perkelahian.
"Gi, lo jangan begitu dong," ucap Ratu. "Mereka datang ke sini juga baik-baik."
"Tahu tuh Egi," sambung Panji.
"Gue cuma bicara kenyataan," ucap Egi.
"Terserah lo!" Rasa kesal jelas menyelimuti hati Alan. Ia berusaha untuk dekat dengan mereka, tetapi selalu saja mendapatkan respon negatif dari Egi. Akan tetapi hati kecilnya memaklumi itu. Alan sadar betul dengan masa lalu yang ia lakukan kepada Egi.
"Udah deh, kita mau berangkat sekarang atau nunggu kalian akur?" tanya Raja.
"Gue milih pergi sekarang, Ja!" ucap Angga.
"Gue juga," sambung Panji dan juga Aldo.
"Udah biarin aja, kalo mereka berdua masih pengin ribut," ucap Angga.
Raja, Ratu, dan yang lainnya memilih bersikap netral. Bagi mereka, selama Alan tak berulah, maka mereka juga akan diam.
Egi dan Alan masih berdiri dengan saling menatap tajam satu sama lain sedangkan yang lainnya sudah masuk ke dalam mobil masing-masing. Egi dan Alan pun akhirnya ikut masuk ke dalam mobil masing-masing saat pasangan mereka menariknya.
Ratu dan Raja memerhatikan Egi dan Alan dari dalam mobil. Keduanya akhirnya bisa bernapas lega saat tak ada perkelahian di antara teman-temannya.
__ADS_1
Ratu sangat tahu jika Egi belum bisa sepenuhnya menerima keberadaan Alan dan Suci mengingat apa yang pernah terjadi di antara mereka. Namun, Ratu tetap mengajak Alan dan Suci untuk ikut bergabung, agar teman-temannya bisa mengenal mereka lebih dekat lagi.
Setelah menempuh waktu selama dua jam, akhirnya mereka sampai di rumah lama Ratu. Rumah dengan desain modern namun bergaya minimalis itu terlihat sangat bersih dan terawat. Meskipun rumah itu sudah tak di tinggali oleh keluarga Ratu, namun Anita sudah menugaskan seseorang untuk merawat rumah itu, rumah yang menyimpan banyak kenangan bersama mendiang papahnya serta saudaranya yang meninggal dalam kecelakaan sepuluh tahun yang lalu.
Gambar hanya pemanis
Mobil yang dinaiki oleh Ratu dan teman-temannya berhenti di depan jalanan depan rumah itu, sebab hanya dua mobil yang bisa masuk ke dalam garasi.
Raja dan Ratu beserta teman-temannya turun dari mobil masing-masing. Mereka semua mulai masuk ke dalam rumah. Ratu berjalan dengan langkah gontai. Kakinya mendadak lemas saat mulai memasuki rumah lamanya. Jika saja Raja tak segera menahan tubuh Ratu, mungkin saja tubuh Ratu akan terjatuh ke lantai.
"Dek, kamu gak apa-apa?" tanya Raja yang terkejut saat tubuh Ratu mulai kehilangan keseimbangannya.
Tak hanya Raja, teman-temannya pun terkejut. "Lo gak apa-apa, Ratu?" tanya Angga.
"Gak kok, mungkin aku cuma kecapean aja!" jawab Ratu lemas.
"Ya sudah mending kamu langsung istirahat aja!" suruh Raja, Ratu pun mengangguk lemas.
Raja dan yang lainnya masuk ke dalam rumah itu setelah ada seseorang yang membuka pintu. Mbok Sari dan juga pak Urip. Mereka adalah suami-istri yang di tugaskan oleh Anita untuk merawat rumah itu.
Raja segera mendudukkan tubuh Ratu ke sofa di ruang tamu. Raja meminta secangkir teh hangat kepada mbok Sari.
"Makasih, Mbok." Raja menerimanya dan segera membantu Ratu untuk meminumnya.
"Udah mendingan, Dek?" tanya Raja dengan lembut.
"Udah mendingan kok, Ja," jawab Ratu dengan suara lirih.
"Wah parah lo, Ja. Ratu dibuat ampe lemes gitu. Berapa ronde semalam maen sama Ratu?" seloroh Egi dan langsung mendapat lemparan bantal dari Raja.
"Suci, nanti malam lo tidur sama Rini ya. Gue takut Rini bakalan di apa-apain sama Egi," gurau Raja, diikuti gelak tawa semua orang terkecuali Egi yang mendengkus.
Mbok Sari datang dengan membawa beberapa cangkir teh yang langsung menghentikan gelak tawa Raja dan teman-temannya.
"Silahkan, di minum semua!" ucap Mbok Sari.
"Terima kasih, Mbok Sari," ucap mereka serempak.
"Sama-sama, Mas, Mbak!"
__ADS_1
Pandangan Mbok Sari beralih ke Ratu memandanginya dengan seksama. "Ini pasti Mbak Ratu?"
"Iya, Mbok!" jawab Ratu.
"Bagaimana kabarnya Mba Ratu?"
Ratu tersenyum, lalu meminta Mbok Sari ikut duduk bersama dirinya dan teman-temannya.
"Kabar Ratu baik kok, Mbok! Kabar Mbok Sari sama Pak Urip bagaimana?" tanya balik Ratu.
"Allhamdulillah kami juga baik, Mba!"
"Terima kasih ya Mbok sudah mau merawat rumah ini," ucap Ratu.
"Sama-sama, Mbak Ratu. Saya dan suami saya yang harusnya berterimakasih pada keluarganya Mba Ratu. Berkat keluarganya Mba Ratu saya dan suami saya bisa punya tempat tinggal dan juga pekerjaan," balas Mbok Sari.
Ratu memperkenalkan teman-temannya kepada Mbok Sari, terutama Raja dan juga Alan. Mbok Sari yang tak menghadiri acara pernikahan Anita belum mengetahui wajah suami serta anak tiri dari majikannya. Kalau Mahendra, mbok Sari sudah melihatnya beberapa kali karena pernah datang ke rumah itu bersama majikannya.
Obrolan mereka berlanjut dengan canda tawa, apalagi dengan pertengkaran antara Egi dan Alan yang meributkan hal-hal kecil, namun menambah suasana hangat di dalam obrolan mereka.
"Ya sudah … mbak-mbak sama Mas-Mas … silahkan istirahat! Sudah mbok siapin kamar-kamarnya," ucap mbok Sari.
Setelah mengucapkan terima kasih pada mbok Sari, Raja dan teman-temannya menuju kamar masing-masing dengan diantar oleh Pak Urip.
Rumah itu mempunyai empat kamar. Satu kamar utama ada di lantai bawah. Kamar yang dulu di tempati oleh Anita dan suaminya, dan tiga kamar berada di lantai atas. Dua kamar yang dulu di tempati oleh Ratu dan juga saudaranya Queen serta satu kamar tamu.
Ratu dan teman-temannya menaiki anak tangga menuju lantai atas. Ratu merasa sedih ketika mengingat kenangan di rumah itu. Namun, ia mencoba kuat karena dengan bersedih juga tak akan bisa mengembalikan saudara dan papannya kembali.
Ratu membuka pintu kamar masa kecilnya bersama dengan Raja. Tidak ada yang berubah di kamar itu. Tanpa terasa tetesan air mata mengalir dari sudut matanya. Raja yang melihat itu mendekap istrinya dari belakang.
"Kenapa tiba-tiba kamu nangis, Dek?" tanya Raja.
"Gak aps-apa. Aku hanya mengingat masa lalu, banyak kenangan manis di rumah ini bersama kakakku dan juga papah," jawab Ratu.
Raja membalik badan Ratu. Raja mengusap jejak air mata di pipi Ratu dan kecupan lembut Raja berikan di kening Ratu.
"Jangan sedih. Aku akan selalu ada di sisi kamu," ucap Raja. "Sekarang kamu istirahat, oke!" lanjut Raja.
Ratu mengangguk dan tersenyum cantik. Raja mengantar Ratu ke kasur berukuran tak terlalu besar. Belum sempat Ratu merebahkan tubuhnya di kasur empuknya, suara klakson mobil yang sangat keras yang memekikkan telinganya.
Ratu berdecak kesal, ia dan Raja berjalan menuju jendela kamarnya. Dari tempat itu keduanya bisa melihat ke jalanan di depan rumahnya. Ratu membuka gorden dan melihat mobil yang baru saja datang. Dua baru saja turun dari dalam mobil warna merah itu. Ratu membelalakkan matanya melihat dua orang yang sedang berjalan masuk ke pekarangan rumahnya.
__ADS_1
"Bagus. Mood ku sekarang benar-benar hancur," guman Ratu dalam hatinya.
Tinggalkan jejak kalian🙏