Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
Sepupu Ratu


__ADS_3

Mohon dukungannya, like, Rate, vote, favorit, tips, komentarnya.


Happy reading 😘😘😘😘


Raja dan Ratu sedang berkumpul di taman belakang rumah orang tua Anita yang sudah disulap seperti sebuah garden party. Duduk bersama mengitari dua meja bundar, ketujuh anak muda itu bersenda gurau. Namun, saat Alan dan Suci menghampiri mereka, suasana berubah tegang. Egi masih saja menganggap Alan hanya berpura-pura bersikap baik.


"Lo berdua ke sini juga," tanya Raja.


"Iya, kita bosen di hotel terus," jawab Suci.


"Ya sudah mending kalian gabung di sini," ajak Ratu.


Alan dan Suci ikut duduk di meja bundar itu, mereka mulai mengobrol.


"Widih, si Suci sudah pake cincin nih!" seloroh Egi.


Egi mengangkat tangan Suci dan menunjukan cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Eh singkirin tangan lo dari tunangan gue," suruh Alan. Alan memukul tangan Egi yang sedang memegang tangan Suci.


"Pelit banget lo," cibir Egi.


"Sekali lagi lo berani pegang tangan Suci, gue patahin tangan lo, nyet," ancam Alan.


Bukannya takut pada ancaman Alan, Egi malah dengan sengaja menarik kedua pipi Suci. Membuat Alan membelalakkan matanya.


"Nyari gara-gara, lo?" Alan menarik kerah kemeja Egi.


Bukannya memisahkan Egi dan Alan, malah mereka menertawakan tingkah keduanya.


"Lo berdua cocok. Sekalian aja kalian berdua nikah bareng sama nyokap gue besok," ucap Ratu, diikuti suara gelak tawa teman-temannya.


Alan dan Egi yang mendengar ucapan Raja, langsung bergidik geli.


"Gue masih normal," ucap Egi dan Alan bersamaan.


Kebersamaan anak-anak muda itu dipenuhi canda dan tawa. Egi selalu bisa membuat tawa Teman-temanya dengan tingkah konyolnya. Apalagi dengan keberadaan Alan di sana, Egi seperti mendapatkan mainan baru.


Rasa kantuk sudah menghampiri anak-anak muda itu, mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah Murti dan Bagus. Sedangkan Alan dan Suci kembali ke hotel tempat mereka menginap.

__ADS_1


Raja dan Ratu bergantian masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi mereka sebelum tidur. Raja. menghampiri Ratu yang sedang membaca buku novel. Raja merebahkan dirinya di pangkuan Ratu.


"Serius banget baca novelnya, Dek?" tanya Raja.


Ratu meletakan buku novel di atas meja di samping ranjang, ia kesal karena Raja tak membiarkan dirinya membaca buku dengan tenang.


"Kok udahan baca bukunya?" tanya Raja.


"Aku udah mulai ngantuk, Ja!" jawab Ratu.


Raja memindahkan kepalanya dari pangkuan Ratu ke dada Ratu lalu melingkarkan tangannya ke perut Ratu. Selang beberapa menit Raja tertidur dengan posisi nyaman itu.


Keesokan paginya, Ratu terbangun dari tidurnya, ia melihat jam di dinding kamar itu yang sudah menunjukkan pukul lima pagi. Saat Ratu akan bangun, ia merasakan sesuatu yang berat. Ratu tersenyum, ternyata dari semalam Raja menjadikan dadanya sebagai bantal. Perlahan Ratu memindahkan kelapa Raja ke atas bantal, tak lupa kecupan sayang ia berikan di kening Raja.


Ratu keluar dari kamar mandi setelah mencuci mukanya. Ia berniat untuk lari pagi mengelilingi rumah besar eyang nya itu. Ratu mengganti piyama tidurnya dengan kaos hitam ketat serta celana training, tak lupa sneaker berwarna putih ia pakaikan ke kakinya.


Sampai di lantai dasar, Ratu melihat pengasunya sedang menyiapkan sarapan, Ratu dan bibi Ayu pun saling berbalas sapaan. Ratu keluar dari pintu belakang dan mulai berlari mengelilingi rumah besar itu.


Satu jam Ratu gunakan untuk berolah raga pagi, keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya. Ratu merasa badannya terasa sangat segar dan memutuskan masuk kembali ke dalam rumah. Namun saat ia baru akan masuk ke dalam rumah, Ratu melihat seorang perempuan seumuran dengannya sedang duduk di meja makan. Perempuan yang sangat tidak ingin Ratu lihat, Citra Mikaila Putri, sepupunya.


Citra menoleh saat mendengar suara pintu belakang tertutup. Ia melihat Ratu sedang berjalan ke arah dirinya. Dengan senyum sinis, Citra menyapa Ratu.


"Hai, Ratu apa kabar?" tanya Citra yang hanya sekedar basa-basi.


"Apa yang membawa lo ke sini pagi-pagi seperti ini?" tanya Ratu.


"Gue cuma pengin lihat seperti apa suami lo, seberapa tampan cowok yang mau menjadi suami lo," jawab Citra.


Ratu tersenyum sinis mendengar jawaban Citra. Ia sudah menebak kalau itu yang membuat Citra pagi-pagi datang ke sana yang sudah berhasil membuat hancur moodnya.


"Oh ya Ratu, badan lo terlihat lebih berisi dari sebelum lo pindah ke Jakarta."


Ratu melirik sekilas ke arah Citra, ia tahu ucapannya mengandung ejekan.


"Tentu saja, Suami gue gak ngebiarin gue kekurangan makanan," balas Ratu diiringi senyum miringnya.


Citra menatap sinis Ratu, ia sangat membenci Ratu dari dulu. Ratu selalu menjadi kesayangan Murti dan Bagus. Bahkan semenjak penampilan Ratu berubah, sepupunya itu selalu menjadi pusat perhatian di sekolahnya. Ia merasa posisinya sebagai siswi top di sekolahnya di geser oleh Ratu. Perasaan benci pada Ratu bertambah saat Citra tahu kalau laki-laki yang ia sukai, ternyata menyukai Ratu. Dan semenjak itu Citra terus menerus mengganggu ketenangan Ratu.


Ratu sebenarnya tak ingin bersikap seperti ini pada Citra, mengingat Citra adalah sepupunya sendiri. Namun, kelakuan Citra selama ini membuat Ratu terpaksa untuk bersikap dingin seperti ini pada Citra.

__ADS_1


Suasana di meja makan itu makin memanas, Citra dan Ratu saling memberikan tatapan kebencian. Ratu tersentak saat merasakan seseorang memeluk dirinya dari belakang.


Kedua perempuan itu saling berdebat tanpa mereka sadari keberadaan Raja di dekat mereka.


"Pagi, Sayang," bisik Raja di telinga Ratu.


"Pagi juga. Kamu ngejutin aku, Sayang," ucap Ratu. Ratu melirik sekilas ke arah Citra dan memberikan senyum remeh pada sepupunya itu.


"Aku mencarimu, ternyata kamu ada di sini!" keluh Raja.


Raja mencium tengkuk, bahu, serta pipi Ratu tanpa menghiraukan keberadaan perempuan di hadapannya.


"Dia siapa, Dek?" tanya Raja tiba-tiba tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Ratu.


"Dia .... Citra, sepupu aku," jawab Ratu malas.


"Oh"


Raja melepaskan lingkaran tangannya di perut Ratu, lalu menarik kursi di sampingnya untuk ia duduki.


"Aku hangatin susu buat kamu dulu ya," pamit Ratu. Ratu berjalan ke arah dapur yang ada di hadapan meja makan.


Raja melihat kepergian Ratu. Mata Raja menangkap sebuah senyuman dari bibir Citra.


"Hai, kenalin aku Citra sepupunya Ratu," ucap Citra. Citra pun mengulurkan tangannya pada Raja.


Raja tersenyum tipis, ia menyambut uluran tangan Citra. Raja merasakan remasan tangan Citra di tangannya. Raja tahu Citra tak berniat untuk melepaskan tangannya. Dengan terpaksa Raja menarik tangannya dari genggaman tangan Citra membuat Citra terkejut.


Raja tersenyum melihat Ratu berjalan kembali ke meja makan dengan membawa dua gelas susu hangat.


"Ini, Sayang." Ratu sengaja bersikap manja dan mesra pada Raja untuk membuat Citra semakin kesal.


Raja sengaja menarik tubuh Ratu yang sedang berdiri mengoles roti di sampingnya. Ratu pun kini duduk di pangkuan Raja. Raja menahan tubuh Ratu dengan kedua tangannya yang melingkar di pinggang Ratu.


Apa yang dilakukan Raja jelas membuat Ratu terkejut sekaligus malu. Ratu meminta Raja melepaskan dirinya, tetapi Raja memberinya isyarat. Tahu arti isyarat sang suami, Ratu melipat bibir untuk menahan tawanya.


"Dek, suapin dong," manja Raja.


Ratu mulai menyuapi roti ke mulut Raja sambil terus berusaha menahan tawanya.

__ADS_1


"Ada-ada saja Raja," batin Ratu.


Keduanya tertawa mesra di hadapan Citra. Mereka tak menghiraukan Citra yang sedang menatap mereka dengan wajah merah. Antara menahan amarah atau menahan rasa malu, melihat Ratu dan Raja bermesraan di hadapannya. Citra tidak tahu pasangan suami istri itu sedang sekuat tenaga menahan tawa mereka.


__ADS_2