Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
Pertengkaran Ratu Dan Suci


__ADS_3

Pertandingan basket antar sekolah kembali di gelar dan sedang dimulai. Semua bersorak saling menyemangati tim basket dari sekolah masing-masing. Seperti biasa Raja selalu menjadi pusat perhatian karena memang dia selalu bermain bagus. Alan duduk di kursi pemain cadangan, hatinya memanas ketika nama Raja selalu disebut-sebut.


Alan mengepalkan tangannya menahan amarahnya. "Kenapa selau Raja? Apa kurangnya aku?" tanya Alan dalam hatinya.


Pertandingan selesai dan seperti biasa tim di bawah pimpinan Raja pasti selalu menang. Angga, Egi, dan Panji tak heran jika akan kalah bertanding dengan sahabatnya itu. Karena selalu saja saat Raja masih satu sekolah dengan mereka, tim basket mereka tak pernah kalah karena masih ada Raja bersama mereka.


"Ini baru babak awal, Ja. Selanjutnya kita gak akan ngebiarin tim basket lo menang," ucap Angga diikuti anggukan Egi dan Panji.


Raja tersenyum miring, meski ketiganya adalah sahabat mereka tapi saat di lapangan mereka adalah lawan.


"Oke! Gue tungguin saat itu tiba," sahut Raja.


Ini masih babak awal dan masih ada pertandingan selanjutnya. Mereka berharap akan bertemu lagi di babak final. Setelah pertandingan selesai, Raja mengajak ketiga temannya untuk ke kantin sekolahnya. Dalam perjalanan menuju kantin, Raja dan yang lainnya dibuat heran melihat siswa berlarian. Raja menghentikan langkah salah satu teman sekolahnya untuk bertanya.


"Ada apa? Kenapa pada berlarian."


"Katanya Ratu sama Suci sedang berkelahi di kantin," jawab siswa itu.


Raja dan ketiga temannya membelalakkan matanya. Tanpa berpikir panjang ke empatnya berlari ke kantin. Raja menerobos segerombolan siswa yang sedang menonton perkelahian itu. Terlihat Rini kesulitan memisahkan Ratu yang sedang dikeroyok oleh Suci dan ketiga temannya. Rini mencoba memisahkan mereka tetapi justru didorong dan terjatuh bahkan kepalanya terbentur sudut meja.


Ratu yang melihatnya seketika menjadi murka. Ratu meraih tangan Amel dan memelintirnya ke belakang. Amel meronta-ronta, dua orang temannya, Gina, dan Lisa mencoba menolong Amel. Namun, dengan cepat Ratu mendorong tubuh Amel ke arah Gina dan Lisa membuat mereka bertiga jatuh bersama.


Suci menarik rambut Ratu, membuatnya meringis kesakitan. Ratu yang sedang marah nampak menakutkan, Ratu berontak dan barhasil melepaskan tangan Suci dari rambutnya. Ratu langsung menonjok wajah Suci meninggalkan warna biru di pipinya.


Suci yang tak terima langsung melayangkan tangannya ke wajah Ratu namun berhasil di tahan oleh Ratu. Tanpa pikir panjang Ratu melayangkan tangannya untuk menampar Suci, namun tangannya tertahan oleh Raja yang sudah berada di sampingnya.


Ratu meronta melepas tangan yang ditahan Raja. Ratu masih berusaha menampar Suci, tetapi lagi-lagi Raja menahannya.


"Lepasin gue Ja, lepas!" Ratu terus meronta.


Raja melepaskan tangan Ratu, "Ratu berhenti!" bentak Raja.


Akan tetapi Raja harus merasakan kemarahan Ratu. Raja harus merasakan sakit di pipinya oleh tamparan Ratu.

__ADS_1


Tamparan keras mendarat di pipi Raja. Ratu yang dalam mode emosi, kesal saat Raja membentaknya dan langsung saja menampar wajah Raja.


Semua orang terkejut melihatnya termasuk Angga, Egi, dan Panji. Egi sampai memegangi pipinya seolahmerasakan betapa perihnya pipi Raja ditampar oleh Ratu.


Dengan napas yang tak beraturan serta mata yang berkaca-kaca. Ratu menunjuk Raja dengan jari telunjuknya.


"Jangan pernah berani lo ngebentak gue, Ja. Dan lo bilang ke cewek murahan lo ini, jangan pernah berani ngehina nyokap gue," lanjut Ratu.


Raja terdiam, ia tak tahu awal permasalahan yang sebenarnya. Raja juga heran Ratu yang memang tomboi tetapi tak sekalipun bersikap kasar seperti itu. Ada apa sebenarnya?


"Emang bener kok, nyokap lo itu gak bener. Bisa-bisanya suaminya lagi koma tapi malah jalan sama laki-laki lain."


Raja yang mendengar ucapan Suci menarik tangan Suci membuat mereka berhadapan.


"Maksud kamu apa?" tanya Raja.


"Gina ngeliat nyokapnya Ratu jalan sama laki-laki lain, sedangkan semua orang tahu kalau papa kamu masih belum sadarkan diri. Apa coba kalau bukan wanita murahan mananya."


"Dan asal lo tahu Ci, nyokap gue mau jalan sama laki-laki manapun gak ada hubungannya sama papanya Raja."


Suci membelalakkan matanya, "Maksud lo? Lo bukannya dulu bilang nyokap lo mau nikah sama bokapnya Raja?"


Ratu menatap Raja sekilas dengan napas yang masih memburu. Ia ingin sekali mengatakan jika bukan orang tuanya yang menikah. Namun Ratu masih waras untuk tidak mengatakan hal itu.


"Kalo gak tahu gak usah sok tahu. Nyokap gue gak jadi nikah sana papanya Raja," jelas Ratu kesal.


"Bagus karena nyokap lo emang gak pantes buat papanya Raja," ucap Suci tak mau kalah.


Ratu kembali menjambak rambut Suci dengan sangat kuat. Angga maju dan memisahkan Ratu dari Suci. Angga menahan tubuh Ratu dibantu oleh Panji dan juga Egi, tetapi mereka kewalahan.


"Gila nih, Ratu kuat banget kalo lagi marah," guman Angga.


Pertikaian itu berakhir setelah beberapa guru datang ke kantin. Dan tak menunggu waktu lama Ratu, Suci, dan teman-temannya untuk datang ke ruang BP, sedang Rini sudah dibawa ke UKS.

__ADS_1


Ratu menjelaskan kepada guru BP kenapa dirinya berani memukul Suci dan teman-temannya. Suci terus berkilah tetapi guru BP menyayangkan Suci yang tak lain adalah ketua OSIS serta ketua kedisiplinan melakukan tindakan seperti itu. Sampai pada akhirnya Ratu diskors selama satu Minggu, sedang Suci langsung di turunkan jabatannya dari ketua OSIS serta dari ketua kedisiplinan serta mendapatkan skors.


Ratu merasa tak adil karena dirinya diskors selama satu minggu, sedang Suci dan ketiga temannya hanya di skors tiga hari saja. Akan tetapi Ratu juga puas karena Suci dipecat dari jabatannya.


Ratu keluar dari ruang BP, diluar ada Angga, Egi, Panji, Rini, dan juga Raja. Ratu sama sekali tak mau melihat Raja sedikitpun rasa kesalnya masih terasa di hatinya karena Raja membentaknya. Ratu pergi dari ruang BP tanpa menghiraukan siapapun termasuk saat berpapasan dengan Alan, Ratu sama sekali tak meresponnya. Angga dan yang lain mengikuti Ratu kecuali Raja yang masih menunggu Suci.


Suci keluar dari ruang BP dan memasang wajah sedih ketika melihat Raja. Suci langsung melingkarkan tangannya ke lengan Raja dan merengek.


"Ja, aku diskors dan aku gak lagi jadi ketua OSIS. Ini semua gara-gara Ratu," rengek Suci manja.


Raja melepaskan tangan Suci yang melingkar di lengannya. "Wajarlah Ratu marah, kamu yang keterlaluan, Ci. Bisa-bisanya kamu ngatain nyokapnya Ratu wanita murahan."


Suci merasa sangat kesal karena ternyata Raja membela Ratu. "Kamu kok jadi belain Ratu?"geram Suci. "Lebih baik kita putus Ja."


Suci kesal dan pergi setelah menghentak kakinya. Gina, Amel, Lisa mengikuti Suci dari belakang.


"Suci, Suci, Suci," panggil Raja namun tak di hiraukan oleh Suci. Raja meremas rambutnya kasar dan menggeram pelan.


Sementara di kantin Ratu sedang melahap 2 mangkok bakso, siomay, dan, dua gelas jus alpukat. Angga dan yang lain melihat takjub ke arah Ratu.


"Gila bener lo. Doyan apa lapar, Tu?" tanya Angga.


Bukan jawaban melainkan tatapan mata tajam yang Angga dapat. Angga nyengir kuda mendapat mengerikan dari Ratu. Rini, Angga, Egi, dan Panji duduk di satu meja bersama Ratu justru tertawa dibuatnya.


"Wah bahaya ya kalo cewek lagi marah," ledek Egi.


Ratu tak merespon apa-apa dia lebih memilih menikmati semua makanannya.


"Lo bener-bener sadis, Tu. Mukulin anak orang ampe segitunya." Egi membayangkan saat Ratu menghantam wajah Suci serta ketiga temannya.


Ratu kembali mengeluarkan tatapan mautnya kepada Egi.


"Gak usah lo natap gue kaya gitu. Ngeri gue." Seketika Egi bergidik ngeri melihat tatapan Ratu yang terlihat sangat menakutkan. Sontak mengundang tawa teman-temannya.

__ADS_1


__ADS_2