
Maaf gaes, up lama. Authornya banyak kegiatan di dunia nyata dan sekarang malah badan lagi gak vit.🙏🙏🙏
Satu minggu setelah kejadian itu, Ratu mulai kembali ke kampus. Raja sempat melarang Ratu untuk pergi ke kampus, namun Ratu ingin tetap pergi dengan alasan bosan di apartemen.
"Kamu yakin sudah benar-benar baikan, Dek?" Raja khawatir jika Ratu mengingat kembali kejadian yang membuat dirinya keguguran jika Ratu bertemu kembali dengan Gea.
"Sudah, Yank. Lagian aku bosen kalau di apartemen terus," rengek Ratu.
Raja hanya bisa menghela nafas dan akhirnya mengangguk untuk mengizinkan Ratu untuk ikut ke kampus.
"Ya sudah, ayo kita berangkat," ajak Raja.
"Naik, motor ya. Please ...."
"Oke, baiklah," pasrah Raja.
Raja mengganti kunci mobil dengan kunci motor, serta mengambil jacket serta helm untuk dirinya dan juga Ratu. Setelah semuanya siap, kedua nya langsung berjalan keluar dari apartemen menuju parkiran di gedung apartemen mereka.
"Sudah siap, Dek?" tanya Raja saat keduanya sudah duduk di atas motor gede nya.
"Sudah, Yank" Ratu membuka kaca helmnya supaya suaranya bisa terdengar jelas di telinga Raja.
Raja mulai menyalakan mesin motornya lalu melajukan motornya menuju kampus mereka. Raja melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Ratu melingkarkan tangannya di tubuh Raja, keduanya merasa seperti kembali ke masa-masa dulu saat mereka baru pertama kali mengungkapkan rasa cinta mereka dan itu pun setelah mereka menikah.
Ratu sendiri tidak ingin terus berlarut-larut dalam kesedihan karena kehilangan calon bayi nya. Kini yang ada di pikirannya adalah kebahagian dirinya sendiri dan juga orang-orang yang berada di sekitarnya.
Raja dan Ratu sudah memasuki kawasan kampus. Raja berbelok menuju parkiran motor di kampus nya. Setelah memarkirkan motornya keduanya turun dari atas motor. Seperti biasa Raja pasti akan selalu menjadi pusat perhatian orang-orang di kampus terutama kamu hawa.
Ratu melihat ke sekeliling dan melihat banyak mahasiswi di kampusnya sedang memperhatikan Raja, suaminya.
"Wow, Yank. Sepertinya ada yang beda selama aku nggak masuk ke kampus."
"Maksudnya apa sih?"
Ratu menunjuk dengan matanya ke arah para mahasiswi yang sedang memperhatikan Raja.
Raja tersenyum tipis dan langung merangkul pundak istrinya. "Namanya juga Raja, pasti selalu jadi pusat perhatian orang-orang," ucap Raja dengan rasa percaya diri dan langsung dihadiahi cubitan di perutnya.
"Ganjen banget sih." Raja terkekeh melihat istirnya merasa cemburu.
"Cemburu ya," goda Raja. "Tenang saja, Dek, 'kan Raja hanya untuk Ratu." Raja menyentuh hidung Ratu dengan hari telunjuknya.
"Gombal."
Raja dan Ratu berjalan di sepanjang koridor kampus. Mereka bercanda dan menunjukan kemesraan mereka tanpa memperdulikan orang-orang yang sedang melihat ke arah mereka.
"Sudah sampai," ucap Raja saat sudah berada di depan kelas Ratu. Raja mengantar Ratu ke ekelasnua. "Aku tungguin kamu di sini."
"Tapi kelas aku lama, Yank. Kalau kamu mau pulang nggak apa-apa kok."
"Nggak apa-apa." Raja menyelipkan rambut Ratu ke belakang telinga nya. "Sudah sana masuk," suruh Raja.
"Oke." Ratu masuk ke kelas nya dan duduk di bangkunya. Ratu langsung di sambut pelukan oleh Suci.
"Calon adik ipar gue." Ratu membalas pelukan calon kakak iparnya itu.
__ADS_1
"Ratu, lo sudah sembuh?" tanya Aldo yang satu kelas dengan Ratu.
"Sudah, Do."
Tidak lama Dosen yang mengajar mereka masuk ke dalam kelas.
"Pagi anak-anak," sapa sang Dosen.
"Pagi, Pak," balas semuanya.
Sementara di luar kelas, Raja dengan setia menunggu kelas Ratu selesai. Tidak lama Alan datang menghampiri Raja dan duduk di sebelahnya.
"Lo ngapain di sini?" tanya Alan.
"Ngemis." Raja menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
"Nyesel gue nanya," sungut Alan.
"Ya, lo. Sudah tahu gue lagi main game, pake acara nanya gue lagi ngapain."
"Gue cabut aja lah."
"Idih ngambek. Lagi PMS lo? cepet banget emosi."
"Asem." Alan menoyor kepala Raja.
Raja akhirnya tertawa karena sudah tidak bisa menahan tawanya lebih lama lagi saat melihat wajah bodoh alean. Keduanya pun akhirnya duduk bersama menunggu pasangan mereka masing-masing.
"Lan, gue ke toilet dulu ya," pamit Raja pada Alan.
"Iya, cerewet lo, kaya istri gue." Alan mendelik dan mendengus kesal.
Raja berjalan menuju toilet yang lumayan jauh dari jelas Ratu. Saat Raja akan masuk ke dalam toilet laki-laki, ia berpapasan dengan Kiara dan Gea.
"Hai, Ja," sapa Kiara.
Raja mendengus dan tak membalas sapaan Kiara. Raja masuk ke dalam toilet, namun langkahnya ditahan oleh Kiara.
"Apa sih lo?"
"Buru-buru amat sih."
"Minggir gak lo," bentak Raja.
"Oke, Oke." Kiara membuka jalan untuk Raja.
Kiara menyeringai licik pada temannya dan membisikkan sesuatu ke telinga Gea. Kiara memiliki ide licik untuk menjebak Raja.
"Serius lo?' tanya Gea.
"Serius gue."
Setelah beberapa menit Raja di dalam toilet, Kiara menyusul masuk. Kiara mengunci pintu toilet itu dari dalam lalu mencabut kuncinya. Raja yang sudah selesai cuci muka ingin keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat Kiara sudah berdiri di belakangnya.
"Ngapain lo, ini toilet cowok."
__ADS_1
"Gue tahu kok." Raja menaikan satu alisnya saat Kiara berjalan mendekati dirinya. "Gue sengaja kok masuk ke sini."
"Gila."
Raja memilih keluar dan tidak memperdulikan akan keberadaan Kiara, namun sayang ternyata pintu toiletnya terkunci.
"Mana kuncinya, Kiara." Raja berbalik namun ia malah melihat hal gila yang dilakukan oleh Kiara. "Apa-apaan lo, Kiara?"
Kiara berjalan menghampiri Raja dengan membuka satu-persatu kancing kemejanya. Kini kancing kemeja Kiara sudah terlepas dan menampakan pakaian dalamnya.
Raja langsung memalingkan wajahnya.
Dengan rasa tidak tahu malunya, Kiara mendekat ke arah Raja memaksa Raja untuk melihat ke arahnya. "Kok malu sih, Ja."
Raja memilih memejamkan matanya tidak ingin melihat tubuh perempuan gila di hadapannya. "Minggir lo!" Raja mendorong tubuh Kiara membuat tubuh Kiara mundur beberapa langkah. "Mana kuncinya?"
"Nggak sabaran banget sih," ucap Kiara dengan nada centil nya.
"Gila, Lo. Mau lo apa sih?"
Kiara menyeringai licik, "Gue mau lo, Sayang."
Raja membuang ludahnya. "Jijik gue."
"Kuncinya sama gue, kalo lo mau kuncinya, kasih aku satu kecupan saja." Kiara menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya.
"Cewek gila, lo."
"Ya terserah, kalau lo nggak mau berarti lo pengin lama di sini bareng sama gue."
"Jangan bercanda, Kiara."
"Gue nggak becanda, Sayang." Kiara mengambil kunci dan memasukan kembali ke dalam saku celananya. "Ambil saja kalau bisa."
Raja berjalan mendekat pada Miara. "Kasih kuncinya sama gue."
"Ambil saja sendiri kalau bisa." Kiara merentangkan kedua tangannya menantang raja.
Raja sendiri sudah tidak ingin berlama-lama di dalam toilet bersama Kiara. Raja berusaha untuk mengambil kunci dari saku belakang celana jeans yang di pakai Kiara, namun tanpa di duga, Kiara langsung tubuh memeluknya. Raja yabg terkejut berusaha berontak dan mencoba melepaskan tangan Kiara yang melingkar di tubuhnya.
"Kiara, lepas!"
"Ayolah, Ja. Apa sih kurang gue, tubuh gue jauh lebih montok dari istri lo si Ratu itu."
"Kiara jangan gila."
"Gue memang sudah gila karena lo." Kiara menarik tengkuk Raja dan memaksa mencium bibir Raja, beruntung Raja langsung memalingkan wajahnya dan mendorong tubuh Kiara. Tubuh Kiara mundur dan menabrak dinding. Raja langsung mendekat dan membalik tubuh Kiara untuk mengambil kunci dari dalam saku belakang celana jeans yang dipakai Kiara.
"Gue makin jijik sama lo, Kiara dengan tingkah murahan lo ini."
Raja berjalan ke arah pintu namun segera Kiara menyusulnya dan memeluknya dari belakang.
"Ja, please jangan tinggalin gue, gue cinta banget sama lo."
Raja tidak memperdulikan ucapan Kiara, Raja langsung melepas tangan Kiara yang melingkar di perutnya. Raja langsung membuka pintu kamar mandi dan meninggalkan Kiara di dalam toilet dalam keadaan menangis. Sementara di toilet, Kiara menghapus air matanya dan menyeringai licik.
__ADS_1