Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
RBR 86


__ADS_3

Alan dan Gea, kedua masih berada di mobil Alan. Gea merasa sangat bahagia saat melihat Alan bersikap kasar pada Suci.


"Apa lo nggak kenapa-kenapa bersikap kaya gitu sama Suci?" tanya Gea tiba-tiba.


"Maksud lo?" tanya balik Alan.


"Ya, gue ngerasa aneh saja. Kenapa lo mendadak bisa bersikap kasar sama cewek lo itu. Soalnya yang gue tahu, lo sama Suci kan deket banget."


"Oh itu. Ya sebenarnya gue sudah tahan-tahanin ini dari dulu. Gue nerima Suci juga karena terpaksa, gue ngerasa kasihan saja sama dia yang selalu ngejar-ngejar gue. Tapi lama-kelamaan gue bosan sama dia," jelas Alan. "Dan setelah tiga hari ini rasa-rasanya gue lebih nyaman sama lo deh." Alan memberikan senyum manis pada Gea.


Hati Gea mendadak menjadi taman bunga setelah mendengat ucapan manis yang keluar dari mulut Alan. "Lo serius, Lan?" Alan pun langsung mengangguk.


"Lo tahu nggak, Lan. Gue merasa jadi cewek yang paling bahagia sekarang." Gea meraih salah satu tangan Alan dan menggenggamnya.


Alan tersenyum lalu mengusap sisi kepala Gea. "Aku juga."


Alan kembali berkonsentrasi menyetir mobilnya dan mengantar Gea pulang ke rumahnya.


Sementara di pusat perbelanjaan, Ratu dan Suci baru keluar dari salon kecantikan. Penampilan mereka pun lebih terlihat lebih segar.


"Yuk, kita shopping," ajak Ratu.


"Mentang-mentang suaminya bos muda shopping terus," ledek Suci. Ratu hanya terkekeh mendengar ledekan sahabatnya itu. Suci akhirnya pasrah saat tangannya di tarik oleh Ratu untuk mengikuti langkahnya.


Ratu masih asik memilih pakaian dan sepatu. Tidak lupa juga Ratu membelikan kemeja dan setelan jas kerja untuk Raja. Ratu melirik ke arah Suci yang berdiri dengan tatapan kosong. Ratu mendekat lalu menepuk pundak Suci dan membuatnya tersentak.


"Eh, Ratu. Lo sudah selesai belanjanya?" tanya Suci gugup.


"Lo masih mikirin Alan, ci?" tanya balik Ratu. Tidak ada alasan untuk lagi bagi Suci untuk mengelak. "Lo harus kuat, Ci. Gue yakin Alan bakalan balik lagi sama lo," hibur Ratu.


"Jujur gue takut banget kalau kehilangan dia lagi, Ratu."


"Gue yakin suatu saat nanti Alan pasti balik lagi sama lo."


"Kenapa lo yakin banget, Ratu?"


"Gue yakin, kemanapun Alan pergi pasti balik ke juga ke lo, 'kan?"

__ADS_1


"Thank's ya." Suci tersenyum setidaknya ada masih ada harapan untuk itu.


Ratu mengangguk, "Yuk, kita mau makan dulu atau mau ke mana?" tanya Ratu.


"Kita langsung pulang saja, ya. Gue lagi nggak mood makan," jawab Suci.


"Oke. Gue anterin lo," ajak Ratu.


"Nggak usah Ratu. Arah rumah kita berlawanan," tolak Suci.


"Tapi gue nggak bisa ngebiarin lo pulang sendiri dalam keadaan seperti ini."


"Ratu, gue nggak akan ngelakuin hal bodoh kok. Gue cuma pengin sendiri dulu."


"Oke, ya sudah."


Keduanya akhirnya berpisah jalan, Ratu menuju parkiran bawah tanah sementara Suci berjalan mengarah ke pintu keluar untuk menunggu taxi online yang sudah ia pesan.


Ratu sudah berada di dalam mobil dan bersiap untuk melajukan mobilnya. Ratu sebenarnya tidak tega membiarkan Suci pulang sendiri mengingat keadaannya saat ini. Namun Suci tetap menolak ajakannya dan ingin sendiri dulu.


'Semoga, dia akan baik-baik saja' guman Ratu dalam hatinya.


'Kamu jahat, Alan'


Tidak berselang lama, taxi online yang Suci tunggu datang. Segera Suci memasukan ponsel miliknya ke dalam tasnya dan masuk ke dalam taxi itu.


Malam harinya Ratu sudah selesai menyiapkan makan malam tepat saat Raja baru pulang dari kantor. Segera Ratu melangkah menghampiri Raja dengan segelas air putih di tangannya.


Ratu tersenyum saat melihat wajah lelah suaminya, "Capek, Yank?" Ratu memberikan air putih kepada Raja.


"Makasih, Dek." Raja mengendurkan ikatan dasinya sebelum ia meminum air yang di berikan oleh istrinya.


Raja menaruh gelas kosong ke meja di hadapannya, lalu menarik tangan istrinya. Ratu duduk di samping Raja bersandar pada tubuh suaminya itu. Raja sendiri melingkarkan tangannya ke tubuh Ratu. Raja memejamkan matanya seakan mencurahkan semua rasa lelahnya pada perempuan yang amat ia cintai itu.


"Yank, aku sudah siapin makan malam buat kamu."


"Sebentar lagi, Dek. Aku lagi nyaman banget sama kamu."

__ADS_1


"Ya udah nanti di lanjutin lagi. Kamu mandi dulu gih, nanti makanannya keburu dingin."


"Oke, Oke, Sayangku." Raja mengendurkan lingkaran tangannya di tubuh Ratu. Lalu ia pun melangkah menuju kamarnya.


Ratu kembali melangkahkan kakinya menuju dapur untuk kembali menata makan malamnya ke meja makan. Setelah selesai Ratu melepas aerprone nya dan berniat untuk memanggil Raja. Namun baru satu anak tangga ia naiki, mata Ratu sudah lebih dulu melihat Raja yang keluar dari kamar mereka.


Raja melangkah menuruni anak tangga, matanya melihat sang istri sedang menunggunya di lantai bawah.


"Sudah selesai, Yank. Baru aku mau manggil kamu." Raja melingkarkan tangannya ke pinggang Ratu, lalu keduanya berjalan ke meja makan.


Ratu mengambilkan makanan untuk Raja lalu untuk dirinya sendiri. Keduanya makan dengan tenang sampai akhirnya Ratu melihat wajah murung suaminya.


"Kamu kenapa, Yank?" tanya Ratu.


"Nggak kenapa-napa kok, Dek. Cuma capek saja," jawab Raja.


"Bohong." Ratu meletakan garpu dan sendok di atas piringnya. "Wajah kamu keliatan banget kalau lagi ada masalah."


Raja menyerah, ia menarik nafasnya sebelum berbicara. "Aku bingung, Dek. Waktu kita tinggal tiga hari lagi. Bagaimana jika aku nggak bisa buktiin kalau aku gak salah?"


Ratu meraih tangan suaminya, "Yank, kita jangan pesimis. Kalau kita benar pasti akan ada jalan buat kita," hibur Ratu. "Kamu ingat kan kejadian sama Citra waktu di Jogja."


"Iya, Dek."


"Ya sudah, habisin makanan kamu dulu setelah itu istirahat. Pasti kamu capek banget seharian kerja di kantor." Raja mengangguk. "Sini aku suapin saja."


Raja pasrah saat Ratu mengambil alih piringnya lalu menyuapi makanan ke mulutnya. Ratu selalu saja tahu bagaimana caranya membuat mood Raja kembali. Keduanya akhirnya makan malam dengan saling menyuapi.


Selesai makan malam Raja terlebih dahulu masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat sedangkan Ratu membereskan sisa makan malam mereka dan mencuci piring di dapur. Selesai cuci piring di dapur Ratu kembali ke kamarnya. Rasa lelah seakan melanda seluruh tubuhnya. Namun rasa lelah hilang saat melihat wajah polos suaminya saat tidur.


Ratu bejalan ke arah ranjang. Ratu merebahkan tubuhnya dan mengudap kening Raja. Mata Raja perlahan terbuka saat merasakan usapan lembut di keningnya.


"Maaf aku membangunkan mu," ucap Ratu.


Senyum Raja terukir di bibirnya. Di raihnya tengkuk Ratu lalu mengecup bibir merah itu.


"Tidak," balas Raja. "Aku belum benar-benar tidur jika aku tidak memelukmu."

__ADS_1


"Genit."


Raja terkekeh lalu meraih tubuh Ratu dan membawa ke pelukannya.


__ADS_2