
Tinggalkan jejak kalian
Like, Rate, vote, favorit, dan komentarnya.
Happy reading....
Raja dan Ratu berada dalam perjalanan menuju apartemen mereka setelah mengantar Radit dan Aldo ke rumah masing-masing. Dalam perjalanan Raja melihat Ratu terdiam dengan tatapan kosong.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Raja, dan Ratu hanya menggelengkan kepalanya.
Raja membuang napas, percuma dirinya memaksa Ratu untuk bicara, karena Ratu selalu menyimpan masalahnya sendiri. Raja tahu jika tak dipaksa Ratu tak akan pernah mengatakannya.
Ratu terheran dan tersadar dari lamunannya saat Raja menghentikan laju mobilnya di tepi jalan. "Kenapa berhenti, Ja?" tanya Ratu.
"Kamu kenapa, Dek. Aku perhatiin dari tadi saat di rumah sakit sikap kamu aneh?" tanya Raja. "Kamu diem terus, bahkan kamu gak mau aku sentuh?" tanya Raja dengan penuh kelembutan.
Ratu masih terdiam dan menundukkan wajahnya, ia tak berani menatap wajah laki-laki berstatus suaminya itu.
Raja mengulurkan tangannya untuk menyentuh kedua sisi wajah Ratu. Namun, dengan cepat Ratu berpaling seolah tak ingin Raja menyentuhnya.
"Kamu gak diapa-apain sama Alan, 'kan?" tanya Raja.
Ratu memandang wajah Raja seketika, tidak berselang lama tangisannya pecah.
"Hampir, Ja?" jawab Ratu di tengah isak tangisnya.
Mendengar jawaban Ratu, seketika Raja mengenggam erat gagang setir menahan amarah yang siap meledak itu.
Raja langsung menarik tubuh Ratu ke dalam pelukannya. Raja merasa gagal dirinya sudah gagal menjaga Ratu seperti janjinya pada ibu mertuanya.
"Kalau Suci gak datang waktu itu, aku gak tahu apa yang bakal terjadi, Ja. Dan kecelakaan Suci terjadi itu semua karena aku, karena Suci nolongin aku," ungkap Ratu.
"Ini mungkin takdir, Dek. Jangan terus nyalahin diri kamu sendiri." Raja mengusap punggung Ratu, mencoba untuk menenangkannya.
Raja melepas pelukannya, dan menghapus air mata di pipi Ratu. Tak lupa Raja juga mengecup kening Ratu untuk sedikit memberi ketenangan pada sang istri.
"Kita pulang dulu, nanti kita bahas ini lagi di rumah," ucap Raja diikuti anggukan kepala Ratu.
Raja melajukan kembali mobilnya dengan tangan kirinya masih menggenggam tangan Ratu.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan air mata Ratu tak berhenti mengalir, meskipun sudah berapa kali Ratu mengusapnya. Ratu masih tak bisa membayangkan jika kegadisannya direnggut secara paksa oleh Alan.
Raja menghentikan laju mobilnya saat mereka tiba di parkiran gedung apartemen mereka. Raja dan Ratu keluar dari dalam mobil bersamaan. Keduanya berjalan bersama dengan tangan yang menyatu.
Raja menekan tombol passcode untuk membuka pintu apartemennya. Masih dengan menggenggam tangan Ratu Raja segera membawa istrinya itu masuk ke dalam kamarnya.
"Dek, kamu ganti baju dulu geh. Aku keluar sebentar," suruh Raja dan langsung diangguki oleh Ratu.
Raja sedang berada di kamarnya sendiri untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai berganti pakaian, Raja mendengar ponselnya. Raja melihat ada nama Egi di layar ponselnya. Segera Raja menggeser tombol hijau, untuk menerima panggilan itu.
"Hal—" Raja menjauhkan ponsel itu dari telinganya saat mendengar teriakkan Egi dari seberang panggilan itu.
"Raja, gimana Ratu udah ketemu belum?" tanya Egi dari seberang panggilan.
"Bisa gak, gak usah teriak-teriak? Gendang telinga gue bisa rusak!" ucap Raja sewot.
"Sorry, gue khawatir banget sama Ratu," ujar Egi. "Terus gimana, Ratu udah ketemu?" tanya Egi.
"Udah, kita udah di apartemen kok. Dia lagi istirahat di kamarnya," jawab Raja.
"Terus gimana keadaannya, dia gak di apa-apain sama tuh bocah tengil, 'kan?" tanya Egi.
"Hampir." Raja pun akhirnya menceritakan semua tentang kejadian itu sekaligus tentang kecelakaan yang dialami oleh Suci.
Raja mengakhiri panggilannya setelah cukup lama ia berbicara dengan Egi. Raja memasukkan ponsel ke saku celananya lalu kembali ke kamar Ratu. Perlahan Raja membuka pintu kamar Ratu. Ia menutup kembali pintu itu saat dirinya sudah berada di dalam kamar itu. Raja bisa melihat Ratu duduk di atas ranjang bersandar pada punggung ranjang dengan tatapan kosong.
Raja menghampiri Ratu, ia duduk di sebelahnya. Diusapnya rambut lembut dan pipi istrinya membuat Ratu tersadar akan keberadaan Raja. "Kok belum tidur?"
"Ja, sentuh aku sekarang!" pinta Ratu tiba-tiba.
"Apa?" Raja terkejut, ia tahu apa yang diminta oleh Ratu.
"Kenapa? Kamu gak mau? Apa karena aku habis disentuh oleh Alan, kamu jijik sama aku sekarang?" bentak Ratu.
"Jangan ngaco!"
"Terus kenapa?"
"Belum waktunya!"
__ADS_1
"Bohong?"
"Gak!
Raja melihat Ratu sedang menatap dirinya penuh kebencian, seakan tak percaya apa yang baru saja diucapkan olehnya. Raja menghela napasnya. Di raihnya dua sisi wajah Ratu membuat mereka saling beradu pandang.
"Kamu yakin siap untuk aku sentuh malam ini?" tanya Raja,
Ratu mengangguk diiringi air mata yang mengalir di pipinya. "Aku harap kamu tidak akan menyesal setelah ini."
Raja mendorong tubuh Ratu pelan ke atas ranjang. Raja menindih tubuh Ratu, dan ia mulai mencium bibir istrinya dengan penuh kelembutan.
Keesokan paginya....
Jam menunjukkan pukul delapan pagi. Raja dan Ratu masih terlelap di atas ranjang yang sama. Cahaya matahari menembus dari celah gorden dan menerpa wajah Ratu. Perlahan Ratu membuka matanya. Beberapa kali Ratu mengedipkan matanya untuk beradaptasi dengan cahaya di sekitarnya.
Hal yang pertama di lihat Ratu adalah jam di dinding yang sudah menunjukkan angka delapan, sudah terlambat untuk ia pergi ke sekolah.
Ratu bangun dari tidurnya mengambil posisi duduk dan bersandar di kepalanya ranjang. Ratu melihat ke sampingnya, ia tersenyum melihat Raja yang masih tertidur pulas seperti bayi. Bibirnya tak tahan untuk tidak tersenyum mengingat kejadian semalam.
Awalnya Ratu mengira Raja akan benar-benar menyentuh dirinya. Rasa takut ketika mengingat Alan akan menodai dirinya, membuat Ratu berpikir untuk menyerahkan keperawanannya kepada Raja malam itu juga.
Namum, saat Raja mulai mencumbui dirinya, Ratu yang sejatinya belum siap, menangis dan mengingat saat Alan berusaha menodai dirinya, meskipun yang sedang mencumbu dirinya adalah Raja, suaminya.
Ratu bersyukur memiliki suami seperti Raja yang mengerti kondisi dirinya. Saat melihat dirinya menangis, Raja langsung menghentikan aksinya. Rasa kagum pada laki-laki di hadapannya sekarang bertambah, meskipun terlihat nakal, namun ternyata Raja memiliki pengendalian diri yang luar biasa.
"Belum puas liatin wajah tampan aku, Dek?" Suara itu membuyarkan lamunan Ratu.
Ratu terkejut melihat Raja perlahan membuka matanya.
"Sejak kapan kamu bangun?" tanya Ratu gugup.
"Sejak kamu senyum-senyum sendiri liatin wajah aku," jawab Raja mengerlingkan satu matanya untuk menggoda Ratu
"Raja! Jangan begitu dong, aku malu," ucap Ratu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Malu? Semalam kamu gak malu minta aku buat nyentuh kamu?" goda Raja.
"Iiisssh! Raja jangan diomongin lagi, aku benar-benar malu," ucap Ratu yang masih menutup kedua wajahnya.
__ADS_1
Raja tersenyum jahil lalu menarik kedua telapak tangan Ratu yang menutupi wajah cantik istrinya. Ratu terkejut, ia tetap berusaha untuk menutupi wajahnya.
Raja berhasil menarik kedua telapak tangan Ratu. Ia tersenyum lalu mencium pipi dan leher istrinya berulang-ulang, membuat Ratu tertawa lepas, merasa geli karena ulang Raja.