Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
RBR 73


__ADS_3

Malam semakin larut semua para peserta ospek berkumpul di lapangan. Mereka membuat api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka. Berkumpul, bernyanyi bersama menambah keseruan untuk acara itu. Mata Alan menatap tajam ke arah Adit yang sedang memandang Suci.


'Ngajak perang tuh cowok!' guman Alan di dalam hatinya.


Suci mengikuti arah pandang Alan. Suci mengusap lengan Alan untuk meredam emosi di dalam diri tunangannya itu. Alan merasakan usapan lembut di lengannya membuat api amarah di dalam tubuhnya kian padam. Apalagi senyum tulus Suci, bisa dengan cepat menyejukkan hatinya. Alan menarik tengkuk Suci dan menempelkan keningnya ke kening Suci. Sekarang giliran Adit yang merasa panas melihat kemesraan Alan dan Suci.


"Oke, semua mohon perhatiannya!" seru Leo, sambil menepuk tangannya meminta semua untuk melihat ke arahnya. "Yang tadi dapetin bendera adalah timnya Raja, jadi mereka dapet hadiah dari kami." Leo meminta Raja maju ke depan dan menghampiri dirinya. Leo memberikan satu kotak yang ternyata isinya satu lusin donat.


"Thank's!" ucap Raja, diangguki oleh Leo.


"Jangan dilihat dari isinya." ucap Leo pelan tapi penuh penekanan pada Raja. Keduanya saling memberikan tatapan tajam. Raja berbalik dan kembali ke tempat semula, bersama Ratu dan teman-temanya.


"Nih buat lo. Lo 'kan yang ngambil benderanya tadi." Raja memberikan kotak itu pada panji.


"Dan untuk kalian semua tepuk tangan untuk keberanian kalian menjelajah kampus ini malam-malam semoga kalian menikmati permainan tadi," seru Leo. Dan beberapa saat suara tepukan tangan dari semua orang terdengar nyaring di telinga masing-masing.


Raja, Ratu dan yang lainnya berkumpul untuk memakan donat pemberian dari Leo. Panji terlihat sangat lahap memakan donat itu.


"Lo laper apa doyan, Nyet?" tanya Alan sambil cekikikan.


"Laper dia habis ketemu cewek penghuni kampus ini," sahut Angga.


"Penghuni kampus?" Alan nampak bingung. "Maksudnya?"


"Tadi pas kita nemuin bendera, Panji ngambil tuh bendera. Dia kira hantu jadi-jadian kerjaannya tuh para senior. Kagak tahunya setan beneran," tawa Angga.


"Seriusan lo?" tanya Aldo pada Angga yang langsung di angguki oleh Angga. "Kasihan banget lo. Udah gak ada cewek yang ngedeketin lo, sekalinya ada yang deketin, medi," ledek Aldo. Raja dan yang lainnnya pun tak tahan untuk tidak tertawa.


"Makan nih donat." Panji mengambil sepotong donat dan memasukkannya ke mulut Aldo.


"Coba kalo Egi di sini sama kita. Pasti dia yang paling gencar buat ledekin lo ya, Nji." Ratu berucap saat tawa mereka mereda.


Tawa yang tadinya lebar, kini kian surut dari bibir masing-masing. Semuanya kini merasa sangat merindukan sosok konyol Egi.


Raja melingkarkan tangannya ke pundak Ratu dan mengusapnya. "Kita do'ain aja supaya Egi cepet sadar dan pulih seperti sedia kala. Dan bisa berkumpul dengan kita lagi," ucap Raja.

__ADS_1


"Amiin"


Malam semakin larut banyak orang yang di kampus yang mengikuti acara ospek sudah masuk dan beristirahat di tenda masing-masing. Namun, Raja dan Alan memilih untuk tetap di luar berjaga di depan tenda Ratu dan Suci.


"Ngapa lo berdua gak masuk tenda?" tanya Leo yang sedang berjalan ke arah Raja dan juga Alan.


"Belom ngantuk," jawab Alan datar.


Leo tersenyum miring dan memasukan kedua telapak tangannya ke dalam saku jaket nya. "Lo berdua belom ngantuk atau takut gue sama Adit masuk ke tenda Ratu dan Suci diam-diam?" tanya Leo dengan nada menyindir.


Alan mendengus sedangkan Raja masih bisa bersikap tenang. "Mending lo berdua masuk ke tenda kalian sendiri, dari pada bikin suasana gak enak di sini!" suruh Raja.


"Yang harusnya balik ke tenda itu kalian bukan kami. Kami panitia. Kami yang tanggung jawab kalo ada apa-apa di sini."


"Terserah lo berdua mau ngapain gue gak peduli. Gue cuma pengin mastiin Suci, calon istri gue gak kenapa-kenapa." Alan sengaja menekan ucapannya, matanya melirik tajam ke arah Adit.


"Lo ngajakin gue ribut?" Adit yang ingin melangkah ke Alan, di tahan oleh Leo. Begitu juga dengan Alan yang sudah siap menerima tantangan Adit di tahan oleh Raja.


"Dit, mending lo balik ke tenda kalo lo mau ribut di sini!" ucap Leo, tangannya masih menahan tubuh Adit.


Alan yang yang tak terima di panggil cecunguk langsung menyingkirkan tangan Raja dan melangkah untuk untuk menghajar Adit, namun berhasil di halau oleh Raja kembali.


"Lan stop, sayang tenaga lo cuma buat ngehajar cowok kaya dia!" Mata Raja memicik tajam ke arah Adit dan Leo.


Adit masih berontak dan tetap ingin menghajar Alan. Leo yang sudah kehilangan kesabaran langsung mendorong tubuh Adit membuat tubuh Adit mundur beberapa langkah.


"Lo ini panitia di sini, jangan bikin malu dengan ngajakin junior lo berantem. Lo juga harusnya sadar, Suci udah punya Alan dan lo stop buat ngejar dia. Jangan bikin diri lo jadi rendah gara-gara ngejar sesuatu yang bukan milik lo!" tegas Leo.


Adit yang merasa kesal dengan ucapan Leo langsung pergi dari tempatnya berdiri setelah melirik tajam ke arah Alan dan Raja.


"Awas lo berdua, gue bakal bikin perhitungan sama kalian nanti!" ancam Adit.


"Dit ... Adit," panggil Leo saat Adit pergi dengan amarah di dalam dirinya.


Leo menghela nafas panjang, lalu membalikan badannya ke arah Raja dan Alan. "Sorry. Dia memang keras kepala," ucap Leo.

__ADS_1


Leo berjalan ke dekat api unggun dan duduk di rerumputan menghadap api unggun untuk menghangatkan tubuhnya.


"Lo berdua kalo mau tidur, ya tidur aja. Gue yang jaga karena ini tugas gue," ucap Leo tanpa melihat ke arah Leo atau pun Raja.


Raja dan Alan mendengus dan tersenyum sinis. Raja dan Alan duduk kembali ke tempat semua. Mereka berdua sama-sama duduk di depan api unggun untuk menghangatkan tubuh mereka juga. Ketiga laki-laki itu duduk di satu tempat namun saling diam, kecuali Raja dan Alan yang sesekali tertawa di sela obrolan mereka.


"Gue ke toilet dulu, Ja!" pamit Alan.


"Berani lo sendirian?" ledek Raja.


Alan tahu apa maksud Raja. "Gue ajak kenalan kalo nanti gue ketemu!" tawa Alan.


Raja menggelengkan kepalanya, Alan pun melangkah menuju toilet tak jauh dari tempat mereka bermalam. Kini cuma ada Raja dan Leo. Keduanya diam, namun sesekali saling berbalas senyuman sinis.


"Lo beneran udah nikah sama Ratu?" tanya Leo yang akhirnya membuka suaranya terlebih dahulu.


Raja langsung memperlihatkan cincin pernikahannya dengan Ratu. "Gak perlu gue jelasin lagi, 'kan?"


Setelah melihat sendiri cincin yang melingkar di jari manis kanan Raja, Leo kini percaya akan status pernikahan mereka. "Sorry, gue kira lo saudara kembar sama Ratu karena nama kalian Raja sama Ratu, ditambah wajah lo hampir mirip sama dia," jujur Leo.


"Itu tandanya gue berjodoh sama Ratu," ucap Raja dengan percaya dirinya.


Leo terkekeh mendengar ucapan Raja. Leo memang tidak tahu jika Ratu dan Raja sudah menikah.


"Kenapa lo gak tanya sama Kiara soal status hubungan gue sama Ratu. Gue sama Ratu udah kenal lama sama dia?" tanya Raja.


"Gue gak deket sama dia, kalo gak karena acara ospek ini, gue juga gak pernah ngobrol sama dia," jawab Leo.


"Kiara Fans berat gue dulu, mungkin sampai sekarang masih," ucap Raja. Raja menaruh kayu bakar lagi di atas api unggun yang mulai padam. "Dan dia juga mungkin benci banget sama Ratu. Karena Ratu pernah kalahin Kiara di balapan motor," lanjut Raja.


"Pantes, gue perhatiin Kiara kayaknya gak suka banget sama Ratu. Tapi Ratu keren juga bisa ngalahin Kiara balapan motor," ucap Leo yang tak tak percaya Ratu bisa balap motor.


"Gue aja hampir gak percaya jika itu dulu itu Ratu." Raja terkekeh saat mengingat Ratu balapan motor. Raja mengira Ratu hanya anak manja makanya Raja tak pernah memiliki perasaan apa-apa. Namun sekarang, Raja sangat menyukai sikap manja Ratu pada dirinya.


Alan sudah kembali dari toilet. Alan heran melihat Raja dan Leo nampak akrab. Alan kembali duduk di samping Raja. Ketiganya berbincang sampai rasa kantuk menghampiri diri mereka.

__ADS_1


__ADS_2