
Raja berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, sambil mengacak-acak rambutnya serta mengusap wajahnya. Raja bingung dengan sikapnya sendiri. Dia tidak bisa melepas Suci, tetapi tidak bisa juga untuk menyakiti Ratu bahkan kalau boleh jujur, Raja sangat tidak bisa melihat Ratu bersama laki-laki lain.
Rasa nyaman yang tumbuh saat bersama Ratu, dengan segala tingkah konyolnya, apa-adanya dan tidak ada kepura-puraan, justru itu yang membuatnya begitu bahagia.
"Aaaaargh! Kok gue jadi kacau gini?" racau Raja. "Masa iya gue udah mulai suka sama Ratu? Parah nih penyakit playboy gue datang lagi."
Jiwa playboy dalam dirinya kembali memberontak dan menolak kesetiaannya.
Ingin rasanya Raja mencurahkan isi hatinya kepada tiga sahabatnya, Egi, Panji, dan Angga, tetapi Raja urungkan niatnya, karena pasti ia akan menjadi bahan lelucon ketiga temannya.
Membayangkannya saja sudah sangat malas. Raja akhirnya menjatuhkan dirinya ke atas ranjang lalu memijit pangkal hidungnya. Mendakak suara ketukan pintu berhasil membuyarkan semua lamunannya, jantungnya kembali berdegup kencang mendengar suara Ratu di balik pintu kamarnya. Raja beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju ke arah pintu lalu membukanya.
"Ngapain, Dek?" tanya Raja yang heran melihat Ratu berdiri di depan kamarnya sambil memeluk bantal.
"Ja gue takut mati lampu lagi, gue tidur sama lo yah, please," mohon Ratu dengan menyatukan kedua tangannya serta memasang wajah memelas di hadapan Raja.
Raja mendesah, baru saja perempuan itu berhasil mengacaukan pikirannya dan sekarang perempuan itu sudah berdiri di hadapannya. Raja membuka pintu kamarnya lebar-lebar untuk mempersilakan Ratu masuk.
Dengan senyum sumringah Ratu berlari ke arah tempat tidur dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Raja menghela napas berat. Keberadaan Ratu di kamarnya membuat hatinya gundah gulana. Raja mengucapakan doa, meminta kekuatan supaya tidak ada setan di antara dirinya dan Ratu.
Berbeda dengan Ratu yang tersenyum puas saat melihat ekspresi Raja, ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan hati Raja. Bahkan Ratu sudah siap jika Raja meminta haknya sebagai suami.
"Ja, kenapa masih berdiri di situ? Ini udah malam, lo gak mau tidur?" tanya Ratu.
"Eh iya … gue belum ngantuk. Lo tidur aja dulu," jawab Raja sedikit kaku.
"Tenang aja gue gak bakal bilang ke Suci, kalo kita tidur satu kamar bahkan satu ranjang."
Bukan itu yang sedang dipikiran oleh Raja saat itu. Raja ragu akan dirinya sendiri. Dirinya laki-laki normal, tidur satu ranjang dengan perempuan yang sudah halal tentu sangat menggoda. Akan tetapi api dilarang untuk macam-macam karena mereka masih sekolah. Dia berpikir papanya, Gunawan berencana melenyapkannya pelan-pelan.
Raja terdiam lalu melempar buku yang ia pegang ke sisi sebelahnya. Raja berjalan menghampiri Ratu di atas ranjang lalu merebahkan dirinya dengan posisi tengkurap menyembunyikan wajahnya di atas bantal.
Ratu tersenyum lalu ikut merebahkan dirinya. Susana sangat sunyi, Ratu menerawang langit-langit kamar lalu menoleh ke samping saat Raja memanggilnya.
"Dek, lo gak takut tidur berdua sama cowok?" tanya Raja yang sudah mengubah posisinya dan menjadikan tangan sebagai bantal.
"Kalo saat ini bukan lo, mungkin gue bakalan takut, Ja," Jawab Ratu seraya memberi senyuman manisnya kepada Raja.
"Tapi gue masih normal, Dek. Apalagi lo itu udah halal buat gue."
Ratu terkekeh, "Emang lo siap dicincang sama mama dan daddy?"
"Itu kalau mereka tahu." Raja menoleh ke arah Ratu yang wajahnya sudah memerah.
__ADS_1
"Emang sebelumnya lo udah pernah melakukan hal itu?" tanya Ratu.
"Gue bukan cowo murahan yang menjajakan diri gue ke setiap cewek. Gue memang playboy, tapi gue gak pernah melakukan hal yang lebih dari ciuman," aku Raja.
Ratu bahagia mendengar pengakuan Raja.
Raja diam lalu matanya memandang langit-langit kamarnya, Raja menutup mata sekilas.
"Dek perasaan lo sebenarnya ke gue gimana?" tanya Raja tanpa melihat ke arah Ratu.
Suasana kembali menjadi hening, tidak ada respon juga dari Ratu. Raja melihat ke sampingnya dan pandangannya bertemu dengan Ratu. "Kenapa gak jawab?"
"Gue suka sama lo sejak pertama kali gue liat lo di Jogja, dan sekarang gue tambah sayang sama lo."
Ratu memandang lekat-lekat mata Raja sebelum akhirnya Ratu tertawa lepas.
"Lo serius amat, Ja."
Raja mendengkus kesal, merasa salah menanyakan hal serius itu kepada cewek seperti Ratu yang susah untuk diajak serius.
"Menyebalkan," umpat Raja, lalu berbalik memunggungi Ratu dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut untuk menutupi rasa kesal dan malunya.
Ratu menghentikan tawanya dan melihat tubuh Raja yang tertutup selimut.
******
Keesokan paginya, Ratu dan Raja tengah bersiap ke sekolah di kamar masing-masing. Hari itu ada pertandingan basket di sekolah mereka, Raja sudah sangat antusias menantikan hari itu.
"Dek, yuk jalan!" ajak Raja saat melihat Ratu sedang mengikat tali sepatunya di ruang tamu.
"Duluan aja," sahut Ratu tanpa mengalihkan pandangan dari sepatunya.
"Oh … oke ..." Ada rasa kecewa di dalam diri Raja.
Raja pun pergi lebih dulu ke sekolah. Sampai di sekolah Raja pergi ke ruag club basket. Raja mengadakan briefing sebelum pertandingan bersama anggota lainnya. Selesai dengan itu Raja pergi ke lapangan basket bersama tim basketnya.
Suara riuh di lapangan basket terdengar sangat keras, sekolah Raja sedang bertanding basket dengan sekolah lain untuk maju ke babak selanjutnya hingga sampai ke babak final. Seperti biasa Raja selalu bermain penuh semangat dan dengan kerja sama tim yang baik membawa mereka menuju kemenangan.
Suara riuh kembali terdengar saat Alan tiba-tiba maju ke tengah lapangan dan menyatakan cintanya kepada seseorang.
"Semuanya … gue di sini pengin nyatain perasaan gue ke seseorang. Gue mohon nama cewek yang gue sebut, tolong maju ke hadapan gue!" Alan menghela nafas lalu bibirnya kembali berucap, "Ratu Amelia Wijaya … please maju ke hadapan gue."
Rini membelalakan matanya karena terkejut, lain halnya dengan Ratu yang biasa saja karena memang ia sudah memikirkan tentang hal ini yang pasti akan terjadi. Dengan santainya Ratu beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju ke tempat Alan berdiri dan kini Ratu berdiri tepat di hadapan Alan.
Alan memegang salah satu tangan Ratu, dan bersimpuh di hadapan Ratu. "Ratu … gue tahu awal kita ketemu itu gak bagus, bahkan gue rasa gue benci sama lo. Tapi setelah gue mulai kenal sama lo, gue rasa gue udah mulai suka sama lo. Dan sekarang di hadapan mereka semua, gue pengin nyatain perasan gue ke lo."
__ADS_1
Alan menarik napas dalam-dalam sebelum kembali berbicara. "Ratu … lo mau gak jadi pacar gue?"
Ratu tersenyum tipis sambil berpura-pura terkejut.
"Jago akting juga lo ternyata, Lan," ucap Ratu dalam hatinya.
"Sebelumnya gue ngucapin makasih sama lo, Lan. Lo udah berani nyatain perasaan lo ke gue di depan semua orang. Tapi lo udah tahu, 'kan, kalo nyokap gue ngelarang gue buat pacaran sebelum gue lulus sekolah. Jadi … maaf kita sahabatan aja ya, Lan."
Kena lo
Senyum Alan terlihat luntur dari bibirnya karena penolakan dari Ratu.
Malu? Iya!
Marah? Sangat!
Kecewa? Banget!
Itulah yang sedang dirasakan oleh Alan saat itu. Alan memasang wajah kecewa dan menahan marah di dalam hatinya. Alan kemudian berdiri dengan rasa kesal yang ia sembunyikan di dalam hatinya.
"Huuuuuuuuuuuuu." Semua bersorak rusuh lalu membubarkan diri.
Para siswa di sekolah itu berbisik satu sama lain. Ada yang menganggap Ratu sok karena sudah menolak Alan dan menganggap Ratu menyukai Raja. Ada juga yang sedang mengembangkan senyumnya di sudut lapangan, atas penilaian Ratu, mereka adalah Raja dan juga Suci.
Ratu berpura- pura memasang wajah sedih di hadapan Alan agar laki-laki itu percaya padanya.
"Lan, sorry ya, gue gak ada maksud buat bikin lo kecewa ataupun malu. Gue cuma gak mau melanggar kepercayaan nyokap sama gue."
"Gak apa-apa kok, gue ngerti." Padahal dalam hatinya Alan ingin tidak terima dengan semua itu. "Sialan nih cewek berani nolak gue," ucap Alan dalam hatinya.
Dalam hati Ratu, Ratu tersenyum penuh kemenangan. "Sebelum lo mulai, gue akhiri duluan, Lan," guman Ratu dalam hatinya.
"Gue cabut dulu, ya Lan. Gue sekali lagi minta maaf sama lo." Setelah mengucapkan kalimat itu, Ratu berjalan meninggalkan Alan di lapangan basket.
Ratu masuk ke dalam toilet setelah kembali dari lapangan Ratu sedang mencuci wajahnya di wastafel di dalam kamar mandi. Mood-nya sangat baik setelah berhasil membuat Alan malu Namun mendadak mood Ratu berubah saat melihat pantulan wajah Suci di cermin yang di hadapannya. Ratu tersenyum sinis saat melihat wajah Suci yang terlihat sangat senang.
"Lo tahu diri juga ya dengan gak terima cintanya Alan. Lo emang gak pantes buat dia," ucap Suci tiba-tiba.
Ratu berbalik dan menghadap Suci, "Terus menurut lo yang lebih pantas jadi pacar Alan itu lo? Gue tahu kok lo suka, 'kan sama Alan?" tegas Ratu, dan berhasil membuat Suci tak bisa berkutik.
"Tenang saja gue gak bakalan ngadu sama Raja. Gue bakalan biarin Raja tahu dengan sendirinya."
Setelah mengatakan kalimat itu Ratu pergi dari toilet meninggalkan Suci dengan perasaan gelisah.
Ada kesalahan up date harusnya bab ini ada di sini malah ada di bab 14.
__ADS_1