
Raja dan Ratu sedang membersihkan dapur bersama. Keduanya tertawa geli saat melihat betapa kacaunya perbuatan mereka yang hampir saja membuat dapur terbakar.
Awalnya Ratu ingin memasak. Ratu pergi ke dapur dan membuka lemari pendingin, masih ada ayam dan beberapa sayuran di dalamnya. Ratu mengambil ayam dan sayuran itu lalu membersihkannya. Ratu berniat memasak ayam kecap dan sayur sop.
Setelah setengah jam, sayur sop dan ayam kecap sudah hampir matang. Saat Ratu sedang merapikan meja dapur, Raja datang dan memeluknya dari belakang.
"Masak apa, Dek?" tanya Raja.
"Ayam kecap sama sayur sop," jawab Ratu ia tak menghentikan tangannya yang sedang membersihkan sisa kotoran di meja dapur.
Merasa tak diperhatikan, Raja sengaja menggoda Ratu. Raja mencium perpotongan leher Ratu membuat istrinya itu merasa geli.
Ratu meminta Raja untuk menghentikan aksinya, namun Raja malah semakin ber-ulah. Ratu yang sudah tak tahan dengan rasa geli itu, mengambil toples tepung di hadapannya. Lalu membaluri wajah Raja dengan tepung di tangannya.
Raja tak terima, ia juga mengambil tepung dari toples yang dipegang Ratu dan akhirnya perang tepung terjadi. Raja berlari ke ruang tamu diikuti lemparan tepung dari tangan Ratu.
Raja berbalik ke arah Ratu yang sudah kehabisan tepung. Raja menarik tangan Ratu yang bersiap untuk berlari lalu menggelitik pinggang Ratu. Ratu yang tak tahan dengan rasa geli itu kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terjatuh ke sofa. Raja pun ikut terjauh karena Ratu menarik kaos Raja.
Ratu berada di bawah tubuh Raja saat itu. Keduanya saling beradu pandang sampai akhirnya Raja mendekatkan wajahnya ke wajah Ratu. Belum sampai Raja mencium bibirnya, Ratu lebih dulu mencium bau gosong.
Ratu terbelalak saat mengingat masakannya. Segera ia mendorong tubuh Raja dan berlari ke dapur. Ratu langsung mematikan dua kompor yang sedang menyala. Rasa sedih di hati Ratu datang seketika melihat masakan yang susah payah dia buat untuk suaminya sudah tak bisa diselamatkan.
Ratu membersihkan meja dapur dan membuang masakan yang gosong ke tempat sampah.
"Yah, sayang banget ya, Ja," ujar Ratu kecewa.
Ratu yang berniat memasak semur ayam dan sop terpaksa gagal. Karena ulah Raja yang terus menggodanya.
"Coba liat!" Raja melihat semur ayam yang akan dibuang oleh Ratu.
"Ini masih bisa dimakan, Dek!" ucap Raja.
Raja mengambil piring dari rak piring. Ia mengambil ayam yang tidak gosong dan meletakkan ke piring. Raja membawa piring berisi ayam semur setengah gosong dan satu piring nasi ke meja makan. Raja mulai memasukan satu suap ke mulutnya, meski ada sedikit rasa pahit, Raja tetap memakannya. Ia tidak ingin melihat Ratu merasa kecewa.
Ratu menghampiri Raja dan duduk di sebelah Raja. "Jangan dimakan kalo gak enak, Ja!"
Raja mendongak menghentikan gerakan mulutnya yang sedang mengunyah makanan. "Ini enak kok, Dek!"
"Makasih, Ja!" Ratu menyunggingkan senyum terpaksanya. Ia tahu Raja hanya ingin menghibur dirinya.
Raja tersenyum ke arah Ratu dengan mulut yang penuh makanan. Antara lapar atau sedang menjaga perasaan sang istri yang sudah susah payah memasak untuk dirinya.
Ratu kembali ke dapur untuk memasak mie instan karena perutnya sudah berteriak minta diisi. Setelah mie instan siap, Ratu kembali ke meja makan, tetapi sudah tak mendapati Raja di sana.
Raja kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dari sisa tepung di pakainya. Baru selesai berganti pakaian, Raja mendengar ponselnya berdering. Ada nomor ibu mertuanya di layar ponselnya. Tidak menunggu waktu lagi bagi Raja untuk menerima panggilan itu.
Beberapa menit berbicara dengan ibu mertua, Raja mengakhiri sambungan telepon itu. Raja kembali keluar dari kamarnya dan menghampiri Ratu yang baru selesai membersihkan dapur.
"Udah selesai, Dek?" tanya Raja.
__ADS_1
"Udah kok," jawab Ratu.
Raja menarik kursi yang berada di meja makan sambil memerhatikan sangat istri. "Mama tadi telepon, katanya entar malam mama ngundang kita makan malam. Katanya ada yang mau ketemu sama kamu."
Ratu mengerutkan keningnya, dalam hatinya ia bertanya, siapa yang ingin menemui dirinya?
"Siapa yang ingin bertemu denganku?" tanya Ratu.
"Mama tidak mengatakan siapa? Kalau mau tahu ya kita harus datang," jawab Raja.
Malam sudah tiba, Ratu dan Raja sudah bersiap ke acara makan malam bersama Anita. Ratu masih tetap memikirkan siapa gerangan yang ingin menemui dirinya. Saudara, teman, atau jangan-jangan calon ayahnya yang baru?
"Kok melamun, Dek?" tanya Raja.
"Aku masih penasaran aja siapa yang mau ketemu sama aku," jawab Ratu.
"Ya nanti juga kamu bakalan tahu. Jangan terus memikirkannya," ucap Raja. "Yuk berangkat! Kamu sudah siap, 'kan?"
"Sudah."
Raja mengulurkan tangannya dan Ratu langsung menerima uluran tangan itu. Keduanya berjalan bergandengan tangan menuju mobil mereka yang terparkir di parkiran bawah tanah. Sampai di sana Raja membukakan pintu mobil untuk Ratu.
"Silahkan, Ratuku!"
"Terima kasih, Rajaku."
Setelah keduanya berada di dalam mobil, mereka melesat menuju tempat yang sudah dipesan oleh Anita.
Raja berjalan ke sisi lain mobil untuk menghampiri sang istri. Keduanya memandang sejenak tempat itu dengan perasaan ragu.
"Ini beneran tempatnya, Ja?" tanya Ratu, matanya melihat sekeliling restauran itu.
"Bener kok. Tuh ada papan namanya." Raja menunjuk papan nama di atap restauran itu.
"Masuk, yuk!" Ratu yang merasa penasaran membuatnya tidak sabar untuk masuk ke dalam restoran.
Raja dan Ratu masuk ke dalam restauran. Mereka bertanya kepada staf restoran itu meja yang sudah dipesan atas nama Anita Wijaya. Staf restoran itu mengecek data di komputernya lalu mengantar Raja beserta Ratu ke salah satu ruangan VVIP.
"Silahkan masuk," ucap Staf itu.
Ratu masuk diikuti oleh Raja, mereka merasa bingung tidak ada orang di dalam. Apa mereka salah masuk ruangan?
"Coba deh telepon Mama," suruh Ratu.
Raja mengambil ponsel yang ada di saku celananya lalu menghubungi nomor Anita. Ternyata Anita masih dalam perjalanan. Raja mengakhiri sambungan teleponnya lalu menyusul Ratu yang sudah lebih dulu duduk.
"Mama masih dalam perjalanan katanya," ucap Raja.
"Ya sudah kita tunggu saja. Aku sudah gak sabar pengen lihat orang itu," ucap Ratu.
__ADS_1
Keduanya menunggu Anita dengan mengobrol. Mereka membicarakan soal anak yang ingin mereka miliki nantinya.
Saat sedang asyik mengobrol, pintu ruangan VVIP itu terbuka. Anita datang dengan seorang laki-laki kira-kira seumuran dengan Gunawan.
"Maaf, membuat kalian menunggu lama," ucap Anita.
"Kami juga belum lama dateng," balas Raja.
Anita memeluk anak dan menantunya lalu memperkenalkan seorang laki-laki di sampingnya.
"Ini, Hendra. Teman Mama," ucap Anita.
Ratu dan Raja menyalami tangan Hendra secara bergantian.
"Ratu, Om."
"Raja, Om."
"Saya Hendra."
"Ayo silahkan duduk," ucap Hendra.
Keempatnya pun duduk di sofa berbentuk lingkaran. Mereka mengobrol sambil menunggu makanan datang.
"Baiklah, Mama gak akan membuat ini jadi lama. Mama menyuruh kalian ke sini untuk memperkenalkan Hendra pada kalian," ucap Anita mengawali pembicaraan.
"Apa Om Hendra laki-laki yang akan menjadi pengganti papa, Ma?" tanya Ratu tanpa basa-basi.
Anita mengangguk pelan. Ada sedikit rasa takut jika anaknya itu tak menyetujui jika dirinya berhubungan dengan laki-laki di sampingnya.
"Iya, Ratu. Mungkin ini terkesan terburu-buru. Tapi Mama merasa sangat nyaman jika berada di samping Hendra. Menurut Mama Hendra ini pria yang baik." Ada kode keras di dalam ucapan Anita. Ia berharap jika Ratu mengerti akan maksud dari kata-katanya.
"Ma, Ratu pernah bilang. Siapapun pilihan Mama, asal dia baik dan sayang sama Mama, Ratu pasti akan setuju," ucap Ratu.
"Terima kasih, Sayang." Anita menatap haru wajah putri tunggalnya itu. Anita mendekat dan memeluk Ratu.
"Baiklah jika semua sudah setuju, mari kita rayakan sekarang," ucap Raja diangguki oleh ketiga orang di dekatnya.
"Eh, tunggu. Mas Hendra bukankah anak kamu akan datang, 'kan?" tanya Anita. "Lalu di mana dia?"
"Oh iya, dia sebentar lagi akan sampai," balas Hendra.
Dan tak lama, orang yang mereka tunggu akhirnya datang.
"Maaf, aku terlambat," ucap orang itu.
Raja dan Ratu menoleh secara bersamaan. Keduanya terkejut melihat siapa yang kini ada di hadapannya.
"Lo?"
__ADS_1
"Kalian?"
Tinggalkan jejak kalian