Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
Welcome Jogyakarta


__ADS_3

Mohon dukungannya


Happy reading all


Satu Minggu kemudian


Raja dan Ratu sedang berkemas untuk pergi ke Jogjakarta. Acara pernikahan Anita dan Hendra akan dilangsungkan di sana di tempat kedua orang tua Anita.


"Udah semua, Dek?" tanya Raja.


"Udah kayaknya!" jawab Ratu.


"Ya sudah ayo kita berangkat, anak-anak juga udah pada kumpul di bawah," ajak Raja.


Ratu mengangguk. Ratu mengambil tas kecil di atas ranjang, lalu melangkah menyusul suaminya.


Di ruang tamu rumahnya sudah ada Egi, Panji, Aldo, Rini, dan Angga. Mereka sengaja ikut ke acara pernikahan itu untuk memanfaatkan liburan mereka sebelum masuk ke gerbang universitas.


"Sudah siap semua?" tanya Raja kepada teman-temannya.


"Sudah dong, " jawab Egi sumringah.


"Cie-cie yang udah gak jomblo, semangat banget," goda Ratu.


"Belum, masih dalam masa pendekatan," sambar Angga diikuti gelak tawa teman-temannya.


Egi mencibir teman-temannya karena meledek dirinya yang sedang dalam masa pendekatan dengan Rini.


"Udah deh, berangkat sekarang yuk," ajak Rini yang malu karena terus-menerus digoda oleh teman-temannya.


Mereka berangkat menggunakan tiga mobil, Raja bersama dengan Ratu, Egi bersama Rini sedangkan satu mobil lagi diisi oleh Angga, Aldo, dan Panji. Mereka memilih untuk menggunakan mobil ketimbang pesawat supaya bisa melihat dan mampir ke tempat-tempat lainnya.


Mobil yang ditumpangi oleh mereka pun mulai melaju meninggalkan gedung apartemen. Jarak tempuh Jakarta ke Jogjakarta sekitar 6 sampai 7 jam saja.


Sudah beberapa jam mereka melintasi jalan tol yang di jalur Utara Jawa, dan kini mereka sudah sampai di kota Purwokerto. Raja meminta Ratu untuk mengirim pesan kepada teman-temannya untuk mampir ke rumah makan terlebih dahulu.


Ketiga mobil itu memasuki parkiran sebuah restauran yang menyediakan makanan khas daerah itu, salah satunya adalah soto sokaraja.


"Kita makan di sini saja ya," ajak Raja setelah mereka turun dari mobilnya.


"Bolehlah, gue juga udah kelaparan!" jawab Egi dengan konyolnya.


Ketujuh anak muda itu berjalan memasuki restauran dan langsung disambut oleh pegawai di restauran itu.

__ADS_1


"Selamat datang, Mas, Mbak," sambut pegawai tersebut.


Mereka membalas dengan senyuman. Pegawai restauran itu menuntun semuanya ke meja makan, lalu memberikan buku menu kepada mereka. Mereka semua memesan menu yang sama yaitu soto sokaraja.


Mereka menunggu pesanan mereka dengan mengobrol. Egi mengatakan jika dirinya tak menyangka Alan yang merupakan musuh besar mereka semua akan menjadi saudara bagi Ratu. Masih ada rasa tak suka pada laki-laki itu, mengingat apa yang sudah dilakukan Alan selama ini kepada dirinya dan juga teman-temannya.


"Mungkin memang udah jalannya begitu, Gi," jelas Ratu.


"Lagian Alan juga udah minta maaf ke kita semua. Jadi ... kenapa gak kita coba untuk berteman dengan dia," sambung Raja.


"Ya, kita lihat saja nanti. Kalo sampai dia berulah lagi, gue gak akan segan-segan sama dia lagi," ucap Egi.


"Terserah lo, Gi!" ucap Raja.


Obrolan mereka terhenti saat pesanan mereka datang. Nasi+ soto dan berbagai minuman sudah ada di meja di hadapan mereka dan siap untuk disantap.


Mereka baru melihat dan merasakan makanan itu. Selama ini mereka hanya melihat di televisi saja.


"Ternyata begini rasa soto ini?" ucap Raja pada teman-temannya.


"Enak juga," sambung Aldo.


"Enak, orang kita tinggal makan," ucap Egi diikuti tawa kecil yang teman-temannya.


Mereka menghabiskan waktu satu jam untuk makan dan beristirahat di restoran itu, dan kini mereka kembali melanjutkan perjalanan.


"Perut kamu masih sakit, Dek?" tanya Raja.


"Udah enggak kok, ini kan udah seminggu" jawab Ratu.


"Ya sudah kamu istirahat gih, nanti kalau udah sampai aku bangunin," suruh Raja. Ratu pun menganggukkan kepalanya.


Pukul delapan malam tepat, ketujuh anak muda itu sampai di rumah besar keluarga almarhum ayahnya Ratu. Mereka ke sana atas permintaan nenek Ratu karena sebelum Ratu pindah ke Jakarta di sanalah Ratu tinggal.


Ketiga mobil itu sudah terparkir rapi di halaman luas rumah besar itu. Ratu dan teman-temannya turun dari mobil masing-masing.


"Ratu, ini rumah lo?" tanya Angga yang terkagum melihat betapa besar dan luasnya rumah di hadapannya kini.


"Bukan, ini rumah nenek gue," jawab Ratu.


"Ini rumah apa lapangan? Luas banget," heran Panji.


"Liat-liatnya besok saja. Kita masuk dulu yuk!" ajak Ratu.

__ADS_1


Mereka berjalan ke pintu utama dengan membawa barang bawaan masing-masing. Semua disambut oleh pak Asep yang bekerja di rumah itu.


"Wah, non Ratu, apa kabar?" tanya pak Asep dengan logat Jawa kentalnya.


"Baik, Pak Asep," jawab Ratu. "Oh iya ini kenalin teman-temannya Ratu," lanjut Ratu. Satu persatu Ratu memperkenalkan teman-temannya pada pak Asep.


"Jadi ini Den Raja suaminya, non Ratu. Aduh gagah pisan."


"Terima kasih Pak Asep," ucap Raja.


"Pak Asep tamunya jangan diajak ngobrol, ajak mereka masuk dulu. Kasihan mereka pasti capek."


Mereka semua menolehkan pandangan ke asal suara tenyata seorang wanita paruh baya yang merupakan pengasuh Ratu. Beliau datang menghampiri mereka.


"Bibi Ayu!" Ratu menghampiri pengasuhnya dan berhambur ke pelukannya.


"Sudah, non Ratu. Ayo masuk dulu, kasihan teman-temannya pasti pada capek," ajak bibi Ayu.


Raja dan Ratu mengajak teman-temannya masuk ke dalam rumah masa kecilnya. Meskipun baru dua tahun meninggalkan rumah ini, namun Ratu merasa seperti sudah lama.


Di dalam rumah sudah ada orang tua yang sudah menunggu di ruang tamu. Mereka adalah kakek dan neneknya Ratu.


"Eyang putri, Eyang kakung," sapa Ratu. Ratu pun langsung sungkem pada orang tua dari almarhum ayahnya.


Ratu bersimpuh di hadapan Murti, eyang putrinya, "Ratu, eyang putri kangen," ucap Murti.


"Ratu juga kangen sama eyang putri."


"Sama eyang kakung enggak?" Ratu langsung menoleh ke sampinnya.


Ratu bergeser ke hadapan Bagus, eyang kakungnya. "Ratu juga kangen sama eyang kakung."


"Kamu di kota tambah cantik saja." Bagus tersenyum lalu mencium kening cucunya dengan lembut.


Kini giliran Raja yang sungkem kepada Murti dan Bagus. Murti mengusap wajah Raja. "Ini anaknya Gunawan toh, gagah( dalam bahasa Indonesia artinya Ganteng) pisan," puji Murti.


"Gagahan saya waktu masih muda loh," ucap Bagus dan membuat semua orang di sekitarnya tertawa kecil.


Setelah Raja, Ratu dan teman-temannya menyapa Murti dan Bagus kini mereka digiring ke meja makan karena sudah lewat jam makan malam.


Makam malam berlangsung tidak seperti biasanya di rumah itu. Biasanya makan malam berlangsung tenang, namun setelah kedatangan anak-anak muda itu, makan malam berlangsung dengan canda tawa.


"Wis- wis, makan dulu keburu dingin makanannya," perintah Bagus.

__ADS_1


Bagus dan Murti bahagia melihat anak-anak muda di hadapan mereka. Bersyukur Ratu tidak salah memilih teman di Jakarta. Sempat ada rasa kekhawatiran sebelum Anita meminta izin pada mereka untuk membawanya ke Jakarta apalagi setelah Anita mengatakan akan menjodohkan cucu kesayangannya itu dengan anak sahabatnya. Sempat mereka menolaknya dengan keras, namun saat tahu Anita menjodohkan Ratu dengan anak dari Gunawan, keduanya langsung setuju mengingat Gunawan berasal dari keluarga yang baik-baik.


Setelah acara makan malam bersama, Murti menyuruh semuanya untuk beristirahat di kamar-kamar yang sudah di sediakan.


__ADS_2