
Semua orang sudah berkumpul di area parkir tempat wisata Candi Prambanan. Hari sudah semakin sore dan sudah menunjukan pukul tiga sore. Raja, Ratu serta teman-temannya, satu persatu meminta izin untuk langsung kembali ke Jakarta, karena waktu liburan mereka sudah hampir habis.
Semua sudah berkumpul di parkiran area parkir. Ratu memeluk eyang kakung serta eyang putrinya. "Ratu balik ke Jakarta dulu ya Eyang."
Eyang Murti langsung memeluk Ratu, "Iya, hati-hati di jalan ya, Nak."
"Iya, Eyang." Ratu menarik diri dari tubuh eyang putrinya. Murti, eyang putrinya Ratu, mengecup kening Ratu. Begitu juga dengan eyang kakung nya, Bagus.
Raja pun juga meminta izin pada kedua orang tua itu. Kini giliran Egi yang pamit kepada eyang Bagus dan eyang Murti.
"Egi pulang ya Eyang. Maaf kalo selama Egi dan yang lain di sini bikin repot dan bikin pusing kalian," ucap Egi.
"Tidak apa-apa, Eyang malah seneng kalian datang. Rumah eyang 'kan jadi tidak sepi lagi," balas eyang Bagus yang diangguki setuju oleh eyang Murti.
"Kalian hati-hati di jalan. Bawa mobilnya jangan ngebut-ngebut. Ingat ...." Belum sempat eyang Bagus melanjutkan kata-katanya. Egi sudah lebih dulu memotongnya.
"Utamakan keselamatan dari pada kecepatan." Detik itu juga, Egi kembali merasakan pukulan dari tongkat eyang Bagus.
"Sakit eyang, hobi banget mukul Egi," rengek Egi.
"Kamu ini anak kurang ajar. Main potong omongan orang tua, tidak sopan," omel eyang Bagus.
Semua orang tergelak melihat tingkah konyol, Egi dan eyang Bagus.
Ratu dan Raja menghampiri oma Anna dan juga opa Romi.
"Ratu pulang ke Jakarta dulu, Oma, Opa," pamit Ratu.
"Iya Sayang, kalian hati-hati di jalan. Cepat kasih kabar baik buat kami semua di sini?" Oma Anna mengusap perut rata cucunya itu.
"Do'ain Ratu sama Raja ya Oma," pinta Ratu, wajahnya bersemu merah dan memancarkan aura kebahagiaan.
Kini Ratu beralih ke Citra dan Pakde serta bulik(bibi) nya, Lisa.
"Ratu pamit pulang dulu ya Pakde!" pamit Ratu.
"Iya Sayang, maafin sikap pakde kemarin ya. Pakde benar- benar khilaf." Sesal Agung.
"Iya, Pakde. Yang terpenting kalian sudah tahu siapa yang benar dan siapa yang salah." Mata Ratu melirik sinis ke arah Citra.
__ADS_1
"Iya, Nak." Wajah Agung nampak sangat menyesal.
Ratu beralih ke hadapan Citra. "Hai, Citra. Gue balik dulu ke Jakarta, gue harap lo gak kangen sama gue ataupun su-ami gue!" Ratu sengaja menekan kata 'suami'.
Citra langsung tersenyum miring. Citra mengulurkan tangannya dan diterima oleh Ratu. Mereka bersalaman, namun Ratu menggenggam erat tangan Citra, membuat Citra meringis.
"Awwww!" pekik Citra.
"Kenapa, Citra?" tanya Lisa, mamanya Citra yang berdiri tepat di belakangnya.
"Gak apa-apa, Mah." Citra tak bisa mengadukan ini pada mamahnya, saat melihat tatapan tajam dari mata Raja.
"Maaf, mungkin aku terlalu bersemangat." Ratu menampakan wajah sesalnya di hadapan semua orang, kecuali pada Citra. Yang Ratu tunjukan adalah senyum kemenangannya.
"Belajar yang rajin ya." Ratu berpura-pura memeluk Citra dan membisikan sesuatu di telinganya. "Jangan belajar jadi pelakor," bisiknya.
Citra yang mendengar bisikan Ratu, serasa hatinya terbakar api kemarahan. Citra mengepalkan tangannya di kedua samping tubuhnya.
Kini giliran Raja yang berdiri di hapadan Citra. Citra langsung memasang wajah manisnya dan berpura-pura menyesali perbuatannya. "Raja, maaf untuk perbuatan aku yang kemarin. Aku benar-benar nyesel."
Dasar cewek uler. Ratu dan Raja berucap dalam hatinya.
"Iya, Ja. Do'ain aku ya, semoga aku bisa dapat cowok baik kaya kamu." Citra nengulurkan tangannya ke hadapan Raja. "Oh ya, hati-hati di jalan ya, semoga sampai tujuan dengan selamat."
"Amiin!" Raja nampak ragu untuk menerima uluran tangan Citra. Dan untungnya Ratu langsung menurunkan tangan Citra.
"Bukan muhrim," ucap Ratu, dibalas dengusan oleh Citra.
Ratu dan Citra seolah saling menabuh genderang perang. Kebencian dan kecemburuan Citra pada Ratu semakin bertambah karena tamparan papanya kemarin malam. Citra tidak terima saat itu dan tetap menyalahkan Ratu.
Anita dan Mahendra meminta Raja dan Ratu untuk diantar oleh supir yang sudah mereka siapkan. Namun Raja menolaknya.
"Kamu yakin, kamu kuat bawa mobil sampai Jakarta. Kamu 'kan baru sembuh kemarin?" Anita masih sangat mengkhawatirkan kondisi menantunya.
"Yakin kok, Bun. Raja kan bisa gantian nyetir sama Ratu," tolak Raja. Raja sebenarnya merasa canggung, jika ada orang lain di antara dirinya dan Ratu.
"Tante Anita mah gak peka." Anita mengerutkan keningnya, tak mengerti maksud ucapan Egi. "Kalo ada orang lain di mobil, Raja gak bebas mau ngapa-ngapain Ratu, Tan," seloroh Egi.
Raja dan Ratu mendelikan matanya saat mendengar ucapan Egi.
__ADS_1
"Egi, kamu hobi banget ya ngeledekin Raja sama Ratu." Anita tertawa kecil.
"Ya sudah. Beneran kamu kuat nyetir mobil sampai Jakarta?" tanya sekali lagi Anita pada Raja. Namun lagi-lagi, Egi menyambarnya sebelum Raja menjawabnya.
"Jangankan nyetir mobil ke Jakarta. Gendong Ratu keliling nih tempat 100 kali putaran juga kuat." Egi dan yang lain pun tergelak.
"Egi, lo mau gue kutuk juga jadi batu?" ancam Ratu.
"Dih, lo pikir gue Malin Kundang," balas Egi.
Detik itu juga, Egi harus merasakan panas pada rambut bahkan sampai kulit kepalanya karena Ratu menjambak rambut Egi dengan kuat.
"Ratu, sakit. Rambut gue bisa rontok," keluhnya di sela-sela ringisannya.
Rati pun melepaskan cengraman tangannya di rambut Egi. "Gila, istri lo sadis banget, Ja!"
"Egi, mau gue botakin tuh rambut lo sekalian?" ancam Ratu.
Egi bergidik ngeri mendengar ancaman Ratu. "Singa betina, lo gangguin," ujar Raja. Kini giliran Raja yang mendapat tatapan horor dari Ratu.
"Jadi kamu ngatain aku singa? Hah!" Semua tergelak saat Raja merasa ngeri melihat tatapan maut dari Ratu.
"Sudah,sudah," lerai Anna, omanya Ratu. "Kalo kalian ngeledekin cucu oma yang cantik ini, bisa-bisa kalian bener-bener diterkam singa betina, loh."
"Oma." kesal Ratu. Ratu menghentakan kakinya berulang-ulang ke tanah. Ratu merasa kesal, karena menjadi bahan ledekan teman-temnnya. Ratu berjalan ke arah eyang putrinya untuk mencari pembelaan.
"Eyang, Ratu dibully kok eyang putri diem aja," rengek Ratu.
"Sayang nya eyang, kasihan sekali. Nanti eyang jewer telinga mereka ya," ucap eyang Murti.
Selalu cara itu yang dari dulu eyang Murti gunakan untuk menenangkan Ratu kecilnya saat teman-teman Ratu meledek cucunya gendut dan membuat Ratu kesal.
"Ya sudah kalian berangkat nanti malah kemalaman. Hati-hati di jalan ya semua," ucap eyang Murti.
"Iya Oma," seru Raja dan teman-temannya.
Raja menggandeng tangan Ratu, setelah menyalami semuanya, Raja dan teman-temannya berjalan menuju mobil masing-masing. Egi berjalan di antara Angga dan Panji lalu ia berseru.
"Good bye Jogjakarta, welcome back Jakarta!"
__ADS_1
"Yuhuuuuuuuu!" sorak semuanya sambil mengangkat tangan masing-masing ke atas.