Raja Bertemu Ratu

Raja Bertemu Ratu
Perasaan Rasa Gado-gado


__ADS_3

Ratu masuk ke dalam kamar setelah membanting pintu keras-keras. Rasa kecewa bercampur amarah menjadi satu, membuat hatinya terasa begitu sakit. Tubuh Ratu merosot di balik pintu dan menangis sesegukan. Ratu benar-benar kecewa dengan Raja saat itu.


Beberapa saat kemudian Ratu menghapus air matanya setelah mendengar seseorang membuka pintu apartemen. Ratu membuka pintu kamarnya kembali, ia berjalan terburu-buru ke ruang tamu dan tidak menemukan keberadaan Raja di sana. Ratu mengedarkan pandangannya, helm dan juga kunci motor milik Raja tidak ada di tempatnya.


Raja tidak berpikir panjang lagi dan langsung melesat ke rumah sakit untuk melihat kondisi papanya. Raja mengendari motornya dengan sangat cepat untuk segera sampai ke rumah sakit. Bahkan Raja tidak berpikir akan keselamatan dirinya.


Sesampainya di rumah sakit Raja langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit dan berpapasan dengan Anita.


"Raja …," panggil Anita.


Raja menoleh dan melihat ibu mertuanya. "Ma, papa … bagaimana keadaan papa?"


"Ayo Mama antar untuk melihat papa kamu," ajak Anita.


Anita merangkul pundak Raja mengantarkannya untuk melihat kondisi Gunawan.


Raja menangis saat melihat kondisi papanya dari balik kaca besar. Raja tidak kuasa melihat kondisi papanya yang masih terbaring tidak sadarkan diri, dengan berbagai macam alat medis terpasang tubuhnya.


"Pa … bangun, Pah. Jangan tinggalin Raja sendiri." Raja takut kalau terjadi sesuatu pada papanya mengingat hanya tinggal Gunawan yang menjadi orang tuanya.


"Yang sabar ya, Nak. Doa'in papa kamu biar cepat sadar dan bisa berkumpul lagi sama kita." Anita mengusap punggung Raja, mencoba memberi kekuatan kepada Raja.


Anita merasa kasihan kepada Raja, dari kecil tumbuh tanpa sosok ibu dan sekarang harus melihat kondisi papanya seperti itu.


"Papa kamu masih belum boleh dijenguk. Sebaiknya kamu pulang dulu," suruh Anita disambut gelengan oleh Raja


Raja menolak untuk pulang karena ingin menemani papanya di rumah sakit.


"Raja ... kamu barus istirahat, Nak! Jangan sampai kamu sakit. Kasian papa kamu kalau tahu kamu sakit."


Raja akhirnya mengangguk. Anita mengantar Raja pulang dan meninggalkan motor Raja di rumah sakit. Anita tidak bisa membiarkan Raja mengendarai motor sendiri dalam keadaan yang tidak baik.


"Raja, kamu harus kuat ya. Berdoa buat papa kamu ya, Nak!" ucap Anita sebelum Raja turun dari mobilnya.


"Iya Bun. Makasih udah mau nganterin Raja sama buat jagain papa."


Anita mengangguk lalu meraih kepala Raja dan mencium kening menantunya. "Ya sudah kamu baik-baik ya di rumah."


Raja mengangguk sebelum turun dari mobil Anita. Raja masuk ke dalam gedung apartemennya. Raja masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke unit apartemennya.

__ADS_1


Raja membuka pintu setelah menekan tombol passcode apartemennya. Saat Raja sudah masuk, ia melihat Ratu tertidur di sofa.


Ratu perlahan membuka matanya saat mendengar pintu tertutup dan melihat Raja berdiri di sana.


Ratu mengedipkan matanya berulang kali, lalu berjalan menghampiri Raja. "Ja, lo udah pulang. Bagaimana kondisi daddy?" tanya Ratu.


Raja menunduk sedih. "Masih sama, Dek," jawab Raja.


"Lo yang sabar ya." Ratu mengusap lengan Raja. "Lo mending istirahat dulu ini udah malam."


Ratu berjalan meninggalkan Raja, tetapi Raja lebih dulu menahan tangan Ratu membuat langkah Ratu terhenti. Ratu berbalik menghadap Raja kembali dan tiba-tiba Raja langsung memeluk tubuh Ratu. Ratu merasakan kalau Raja sedang menangis di pelukannya.


"Gue takut, Dek …kalo papa ninggalin gue kaya mama."


Ratu membalas pelukan Raja, hatinya ikut merasakan sakit melihat kondisi Raja yang begitu lemah. "Lo gak boleh ngomong kaya gitu. Daddy pasti baik-baik saja kok."


Cukup lama mereka saling memeluk dan menangis. Ratu membawa Raja ke kamarnya untuk beristirahat.


"Lo sebaiknya mandi dulu," suruh Ratu.


Raja masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi dan mengganti pakaian. Beberapa menit kemudian Raja keluar dari kamar dan berjalan menghampiri Ratu yang sedang membalas chat teman-temannya.


"Raja!" panggil Ratu.


Raja menoleh ke arah Ratu membuat pandangan mereka bertemu. "Gue minta maaf tadi udah marah-marah sama lo."


"Gue yang harusnya minta maaf." Raja tersenyum lalu mengusap pipi Ratu.


Ratu membalas senyuman Raja sambil memejamkan matanya sejenak sebelum kembali menatap Raja.


Raja memindahkan kepalanya di atas dada Ratu membuat jantung Ratu berdetak kencang.


Semoga Raja gak denger detak jantung gue.


"Ja bangun! Berat ini." Ratu berniat memindahkan kepala Raja dari atas dadanya.


"Gak mau! Gue merasa nyaman seperti ini," tolak Raja.


"Tapi berat."

__ADS_1


"Diem ngapa, Dek."


Mereka saling berdiam diri bergelut dalam pikiran masing-masing kemudian mereka memejamkan matanya bersama-sama dan pergi ke alam mimpi.


Pada esok harinya Ratu terbangun, Ratu melihat kepala Raja masih ada di atas dadanya. Perlahan Ratu memindahkan kepala Raja ke atas bantal lalu turun dari ranjang. Ratu berjalan keluar dari kamar Raja untuk kembali ke kamarnya sendiri.


Tidak lama Ratu keluar dari kamarnya bersamaan dengan Raja. Keduanya saling melempar senyum. Ratu sedikit canggung kepada Raja mengingat kebersamaan mereka semalam. Setelah mandi keduanya sarapan dalam diam dan pergi ke sekolah bersama.


*****


Satu minggu telah berlalu. Sekolah mengadakan pesta perpisahan untuk kelas 12, Ratu dan Rini ikut berpartisipasi untuk mengisi acara. Ratu yang suka menyanyi akan berduet dengan Rini yang ternyata jago bermain piano. Pembawa acara tersebut meminta Ratu dan Rini naik ke atas panggung dengan menyebut mereka Duo R.


Ratu dan Rini bersiap di posisi masing-masing. Rini mulai memainkan piano dan Ratu pun mulai bernyanyi. Ratu menyanyi lagu berjudul 'seandainya'. Lagu yang dinyanyikan oleh salah satu band ternama tanah air yaitu Viera.


Semua tercengang mendengar suara Ratu yang begitu merdu, di tambah alunan melodi dari piano yang dimainkan Rini. Semua orang seperti terhipnotis. Lagu selesai dan semuanya bertepuk tangan. Raja sedikit tersentil oleh lagu yang dibawakan oleh Ratu menambah perasaan tidak karuan dalam dirinya. Selesai acara itu Raja pergi ke rumah sakit diikuti oleh Ratu. Mereka pergi dengan mobil yang berbeda.


Sudah satu minggu Gunawan belum juga sadar dari komanya. Raja seakan putus asa melihat kondisi papanya. Beruntung ada Anita dan Ratu yang selalu memberikan dirinya semangat.


Mereka ingin tetap berada di rumah sakit tetapi Anita dan keluarga Gunawan melarang mereka. Keduanya akhirnya pasrah dan pulang ke apartemen.


Raja dan Ratu sedang makan malam berdua di apartemen. Ratu tidak sengaja menjatuhkan sendok. Ratu berniat mengambil sendok itu, tetapi ternyata Raja juga akan mengambilnya membuat mereka beradu kening.


"Awwwwwww." Ratu mengusap kening yang berbenturan dengan Raja, begitu juga dengan Raja melakukan hal yang sama.


Keduanya saling pandang dan tertawa bersama-sama. Setelah acara makan malam selesai Ratu memilih duduk menonton TV, tetapi Ratu terus mengganti channel TV sebelum akhirnya mematikannya. Raja yang memperhatikan dari samping menghela napasnya dengan kening yang mengerut.


"Kenapa, Dek?" tanya Raja.


"Bosen Ja. Gak ada acara yang bagus."


"Jalan yuk!"


Ratu tersenyum sumringah ke arah Raja. Tentu saja Ratu tidak akan pernah menolaknya.


"Naik motor ya," pinta Ratu.


Raja mengangguk lalu keduanya bersiap untuk pergi. Beberapa saat kemudian keduanya sudah siap. Saat akan keluar dari apartemen keduanya dikejutkan oleh kedatangan Panji, Egi, dan Angga.


Raja menatap penuh selidik ke arah ketiga temannya. Panji, Egi dan Angga langsung tersenyum dengan menunjukkan deretan gigi mereka. Raja dan Ratu saling memandang sebelum menghela napas bersamaan. Akhirnya Raja dan Ratu mengurungkan niatnya untuk pergi keluar dan mempersilahkan ketiga teman mereka untuk masuk.

__ADS_1


__ADS_2