
Maaf up nya terlambat. Jangan lupa like dan komentarnya.
Happy reading....
Raja dan Alan sedang membereskan barang-barang bawaan Raja di kamar rawat Ratu. Kini Ratu sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Udah beres nih, Ja!" ucap Alan.
Raja menoleh ke arah Alan dan sekeliling kamar untuk memeriksa apa masih ada barang yang tertinggal atau tidak.
"Oke, kayaknya udah beres semua."
Suara tepuk tangan kecil dari Suci dan Ratu membuat kedua laki-laki itu menoleh.
"Kalian cocok deh buat jadi bapak rumah tangga," ledek Suci di angguki setuju oleh Ratu.
Kedua laki-laki itu langsung memutar bola mata nya. Kenapa kedua perempuan itu sangat menyebalkan sekaligus menenangkan. Jika saja mereka tidak sedang berada di rumah sakit pasti kedua laki-laki itu akan menerkam pasangan mereka masing-masing.
"Yuk cabut," ajak Alan.
"Lo kira tanaman singkong maen cabut-cabut aja," ledek Ratu.
"Kalau gue gak inget lo anaknya mamih Anita gue tenggelemin lo ke laut."
"Berani lo?" tantang Ratu dengan mendelikan mata nya.
"Lo mau bikin gue jadi duda muda," imbuh Raja. Raja mendaratkan pukulan ringan di kepala Alan membuat Ratu terkikik dan menjulurkan lidah nya kepada Alan.
Keempat pasangan muda itu berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit dan menyapa para perawat juga Dokter. Mereka menuju parkiran dan mobil masing-masing. Kemudian melajukan mobil mereka menuju ke apartemen Ratu.
Ratu menyenderkan tubuhnya di punggung kursi di dalam mobilnya di sebelah Raja. Ratu menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong. Ratu menoleh ke samping saat ia merasakan tangan Raja menggenggam tangannya. Ratu membalas senyum Raja yang penuh arti.
Keduanya terdiam sampai ke apartemennya. Raja dan Alan sama-sama memarkirkan mobil mereka di parkiran bawah tanah gedung apartemen Raja. Raja keluar dan mengambil barang-barangnya yang ada di bagasi mobil nya.
Raja membawa barang-barang nya di bantu oleh Alan. Sedangkan Ratu dan Suci lebih dulu menuju unit apartemennya.
"Ratu masih suka nangis sendiri, Ja?" tanya Alan saat mereka berada di dalam lift.
__ADS_1
Raja mengangguk. "Gue kadang bingung harus bagaimana. Dia suka nyembunyiin kesedihannya sendiri."
"Lo harus bisa ngertiin dia, Ja. Memang enggak gampang buat seorang cewek yang habis kehilangan calon anaknya. Suci dulu juga gitu, dia suka diem-diem nangis di belakang gue."
Pintu lift terbuka membuat mereka menghentikan obrokan mereka. Raja dan Alan sama-sama menyeret koper dan keluar dari dalam lift. Raja membuka pintu apartemennya setelah menekan passcode yang terpasang di pintunya.
Raja dan Alan mencari pasangan mereka yang ternyata sedang berada di dapur. Ratu dan Suci sedang memasak makan siang untuk mereka semua.
"Kalian lagi ngapain?" tanya Raja.
"Masak buat makan siang, Yank." Ratu menjawab sambil memotong bawang.
"Dek, kamu kan baru pulang dari rumah sakit, harusnya istirahat aja. Makan siang 'kan bisa kita Delivery aja."
Ratu masih terus melakukan aktivitasnya tanpa mau mendengar ucapan dari suaminya. "Nggak apa-apa, Yank. Lagian sayang di kulkas masih banyak banget bahan makanan."
Memang benar sebelum Ratu dirawat di rumah sakit dirinya dan Raja sudah memenuhi kulkas dengan bahan makanan. Ratu yang sekarang lebih sedikit pintar memasak, membuat isi kulkas tidak pernah kosong.
"Tapi, Dek ...." Ratu langsung menghampiri Raja dan menggiringnya ke ruang tengah di mana Alan sedang duduk anteng sambil bermain PS.
"Woy, gue ada di sini. Gak malu apa mesra-mesraan di depan orang," protes Alan.
"Sirik aja, lo," balas Ratu.
Ratu langsung melangkah kembali ke dapur sambil berteriak. "Suci, Alan minta dicium sama kamu." Suci yang sedang minum langsung tersedak.
Ratu tertawa geli melihat Wajah merah Suci. "Apaan sih kamu," omel Suci.
Keduanya pun meneruskan kembali ajang memasak mereka. Sementara di ruang tengah Raja dan Alan sedang asyik bermain PS.
"Gue nggak nyangka, lo bisa jatuh cinta sama cewek kaya Ratu?" ucap Alan. Pandangannya masih menatap ke layar TV.
"Emang kenapa?" tanya balik Raja.
"Dia tomboy, blak-blakan kalo ngomong, udah gitu gak ada seksi-seksinya lagi."
"Itulah uniknya dia. Dia nggak kaya cewek yang suka ngejar-ngejar gue yang suka pura-pura di depan gue. Masalah penampilan itu bisa kita atur, tapi masalah kebaikan hati itu nggak bisa kita atur, Lan."
__ADS_1
Alan mengangguk, keduanya saling mengobrol tanpa mengalihkan pandangan mereka dari layar TV. Setalah menunggu selama satu jam, akhirnya Ratu dan Suci memanggil Alan dan Raja untuk makan siang. Beberapa menu makanan sudah tersaji di meja makan, ayam kecap kesukaan Raja dan ikan bakar kesukaan Alan.
"Wah, kayaknya enak nih." Alan langsung mengambil posisi duduk di meja makan lalu siap mengambil nasi. Namun Ratu langsung menghentikan Alan dengan memukul tangannya.
"Apa sih?"
"Cuci tangan, jorok banget sih."
Alan mendengus. "Punya adik tiri kejamnya melebihi emak tiri," gerutu Alan, membuat Suci dan Ratu tertawa geli.
Semua sudah duduk di meja makan dan siap untuk menyantap makanan yang tersaji di hadapan mereka. Ratu dan Suci mengambilkan makanan untuk pasangan mereka masing-masing.
"Thank's," ucap Alan dan Raja bersamaan.
Keempat nya mulai memakan makanan mereka. Raja dan Alan memuji kedua perempuan di dekat mereka yang ternyata pandai memasak.
"Iya dong enak. 'Kan masaknya pake bumbu cinta," ucap Ratu.
"Aduh kok perut gue mendadak mules ya dengar ucapan adik tiri gue." Raja dan Suci langsung tertawa sedangkan Ratu langsung menendang kaki Alan dari bawah meja.
"Sadis banget istri lo, Ja." protes Alan. Tangan nya mengudap kaki yang Ratu tendang.
"Salah sendiri bangunin singa betina yang lagi laper," balas Raja.
"Yank ...." Raja langsung bungkam dan mengalikan pandangannya ke arah lain seolah tidak peduli dengan kemarahan Ratu.
"Kamu malam ini tidur di luar."
Alan dan Suci langsung bertos ria melihat Raja mendapat amukan dari Ratu.
"Lah, kok gitu sih, Dek." Raja menampakan wajah memelas nya.
"Sudah-sudah berantemnya lanjutin nanti aja, kita makan dulu nanti keburu dingin nih makanan." Suci menengah pertengkaran Raja dan Ratu.
Raja, Ratu, Suci, dan Alan kembali menikmati makanan siang mereka dengan tenang. Meski sesekali Raja dan Alan selalu saja mencoba untuk menggoda Ratu. Suci pun hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah ketiga orang yang ada di hadapannya
Raja dan Alan sengaja membuat kesal Ratu supaya pikirannya bisa teralihkan. Bahkan Alan dan Raja rela berbuat konyol demi membuat Ratu tertawa.
__ADS_1