
Happy reading....
Ratu terbangun saat cahaya matahari masuk ke dalam kamarnya. Ratu melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukan pukul 11.20. Ratu mengambil posisi duduk. Ia melihat Raja masih tertidur dengan keringat yang membasahi wajahnya. Ratu mengusap keringat yang mengalir di wajah suaminya itu. Senyumnya mengembang, mengetahui Raja sudah tidak demam. Ratu turun dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi.
Ratu menyalakan kran shower dan memilih mode air hangat. Air yang keluar dari shower mengguyur seluruh tubuh Ratu. Ratu keluar dari kamar mandi setelah setengah jam berada di dalam kamar mandi. Ratu merasa badannya segar setelah mandi. Ratu berjalan ke lemari pakaian dan memilih baju santai. Ratu keluar dari kamar setelah memastikan keadaan Raja, karena rasa lapar yang tiba-tiba menyerangnya.
Ratu melangkah menuruni anak tangga menuju meja makan. Matanya melihat teman-temannya sedang duduk santai di ruang tengah.
"Hai, kalian sudah bangun?" tanya Ratu tanpa menghentikan langkahnya menuruni anak tangga.
"Kondisi Raja, gimana?" tanya Egi saat melihat Ratu berjalan menuruni anak tangga.
"Udah mendingan, udah gak demam. Tadi pagi sih katanya masih pusing," jawab Ratu.
"Tumbenan banget tuh anak sakit?" ucap Angga.
"Yang namanya sakit mana bisa diprediksi, Ngga," bela Panji.
"Iya gue tahu. Tapi 'kan lo juga tau, diantara kita fisiknya yang paling kuat itu Raja. Paling sakitnya cuma pusing, dia bawa lari-lari di lapangan basket sembuh sendiri!"
"Mungkin dia lagi gak vit aja badannya," bela Panji. Angga dan yang lainnya pun mengangguk setuju.
Ratu duduk di meja makan. Ratu mengambil selembar Roti dan mengolesi dengan seksi strawberry kesukaan nya untuk mengganjal lapar di perutnya.
"Mamah sama Papah kemana, Mbok. Kok gak keliatan?" Ratu bertanya pada mbok Sari yang baru saja kembali dari pasar.
"Nyonya sama Tuan pergi sama Mas Alan dan Mba Suci," jawab Mbok Sari dan Ratu pun mengangguk.
Selesai makan Ratu kembali ke kamar untuk melihat kondisi Raja. Belum juga Ratu sampai ke lantai atas, matanya sudah lebih dulu melihat suaminya sedang berjalan ke arahnya. Ratu melihat suaminya terlihat segar, seperti habis mandi. Namun wajahnya masih sedikit pucat.
"Loh, kok kamu malah keluar, bukannya istirahat?" Ratu melangkah cepat untuk menghampiri Raja.
"Bosen, di kamar mulu, Dek. Tapi kalo di kamar sama kamu seharian aku mau, Dek," goda Raja.
"Kamu …." Ratu mencubit perut Raja. "Lagi sakit masih sempat-sempatnya godain orang," omel Ratu. Raja pun hanya terkekeh.
Raja merangkul pundak Ratu, setelah sebelumnya mencium kening Ratu. Mereka berjalan kembali ke ruang tengah berkumpul bersama teman-temannya.
"Udah mendingan, Ja?" tanya Angga.
"Udah kok."
"Makanya, jangan ngeronda mulu sama Ratu tiap malem," ledek Egi.
"Dih, bilang aja sirik," balas Raja.
__ADS_1
Angga dan yang lainnya hanya menanggapi pertengkaran kedua sahabat mereka dengan tertawa ringan.
Tanpa terasa mereka sudah berada di Jogjakarta sudah lebih dari seminggu. Sebenarnya hari ini adalah mereka pergi ke tempat wisata Candi Prambanan hari terakhir mereka di Jogjakarta. Namun mereka memundurkan jadwal pulangnya, karena kondisi kesehatan Raja.
-
-
-
-
Ratu dan Rini sedang membantu mbok Sari memasak di dapur untuk makan siang. Suasana di rumah terlihat sepi, Alan, Suci, Anita, dan Mahendra sedang pergi ke rumah saudara-saudara Anita untuk memperkenalkan Alan dan Suci. Ratu memasak makanan kesukaan Raja ayam kecap. Ratu berharap suaminya bisa makan banyak.
-
-
-
-
Raja, Angga, Panji, Aldo, dan Egi sedang duduk di ruang TV. Mereka sedang bermain PlayStation. Play Station yang mereka beli di supetmarket, untuk mengerjai Dimas. Namun ternyata dikembalikan oleh Raja.
"Ja, besok rencananya kita mau balik dulu ke Jakarta!" ucap Egi tanpa mengalihkan pandangannya dari layar TV.
"Besok gue harus balik ke Jakarta, nyokap gue udah ngancem gue, kalo dua hari lagi gue gak balik, gue gak boleh pulang sekalian," ucap Egi. Egi menoleh ke Raja yang duduk di samping kirinya.
"Belum lagi, tuh orang tuanya Rini. Mereka juga ngancem gue, suruh cepetan bawa pulang anaknya perempuannya, kalo gak, gue gak boleh bawa dia pergi kemana-mana lagi," lanjut Egi kesal.
"Makanya cepetan halalin si Rini, biar lo bebas ngajak dia kemanapun lo mau," timpal Raja.
"Gue belum punya jaminan buat ngasih Rini hidup yang layak, emang gue kaya lo, Ja. Lo 'kan dari dulu ikut investasi di perusahaan bokap lo, makanya lo punya jaminan buat kasih Ratu kehidupan yang layak seperti sekarang."
Angga, Aldo, dan Panji, mengangguk setuju dengan ucapan Egi. Raja yang mendengar perkataan Egi membuat dirinya semakin mensyukuri kehidupannya. Raja juga semakin berpikir untuk bekerja lebih keras lagi untuk masa depannya dengan Ratu dan mungkin juga untuk calon anak mereka yang sebentar lagi tumbuh di perut Ratu.
"Shit."
Lamunan Raja seketika sirna saat mendengar umpatan Egi.
"Kenapa lo?" tanya Raja kesal.
"Lo gak liat gue kalah." Egi menunjuk ke layar TV yang bertulisan game over. "Ketauan lo lagi ngelamun, ngelamun jorok ya?" ledek Egi.
Raja mendengus, ia heran kenapa bisa dirinya berteman baik dengan seseorang yang urakan seperti Egi. Namun, Raja tak mengelak jika dirinya senang bisa bertemu dan berteman dengan Egi karena Egi seorang yang apa adanya dan punya rasa solidaritas yang tinggi.
__ADS_1
Permainan Raja dan yang lainnya berhenti saat Ratu menyuruh semua untuk makan siang. Raja berjalan dengan langkah pelan, badannya masih sedikit lemas. Raja, Angga, Panji, Egi, dan Aldo, menarik kursi di meja makan.
Ratu menyajikan makanan di piring Raja, lalu menyajikan ke piringnya sendiri. Mereka semua mulai makan bersama-sama. Tak ada bersuara kecuali suara dari piring dan sendok yang saling beradu.
"Ini beneran lo yang masak, Tu," tanya Egi dan Ratu mengangguk.
"Pantes Raja betah di rumah, masakan lo enak," puji Egi.
"Thanks."
Senyum mengembang di bibir Ratu karena melihat suaminya makan dengan lahap. Ratu membereskan meja makan setelah semuanya selesai makan.
"Mbak Ratu, biarin Mbok yang cuci piring, Mbak Ratu sama Mbak rini istirahat saja." Mbok Sari menghentikan Ratu dan Rini yang sedang mencuci piring bersama.
"Ya sudah, Mbok. Makasih ya," ucap Ratu. Ratu dan Rini pun meninggalkan dapur.
Ratu berjalan mengitari rumah lamanya, mengingat setiap kenangan masa kecilnya bersama papanya juga kakaknya. Ratu duduk di ayunan yang ada di belakang rumahnya. Ayunan tempat ia bermain bersama kakaknya. Tetesan air mata tak bisa Ratu bendung ketika mengingat kecelakaan mobil papah dan kakaknya yang langsung menewaskan keduanya.
Ratu memejamkan kedua matanya berharap air matanya berhenti mengalir. Namun, Ratu membuka matanya kembali saat merasakan usapan lembut di pipinya. Ia membuka matanya dan melihat bayangan papanya yang sudah meninggal. Namun bayangan papanya hilang dan berubah menjadi sosok suaminya.
"Raja …."
"Kamu ngapain nangis di sini, Dek?" tanya Raja.
"Kok kamu ada di sini?" tanya Ratu balik.
Raja mengerutkan keningnya melihat sepertinya istrinya terkejut melihatnya. "Aku nanya kok malah kamu balik nanya?"
"Kamu ngapain sendirian di sini?" Raja bertanya sekali lagi. "Kamu lagi melamun?"
"Aku cuma lagi keinget papah sama mbak Queen aja." Air mata Ratu keluar kembali dan langsung dihapus oleh Ratu.
Raja membantu istrinya turun dari ayunan. Di usapnya jejak air mata di pipi Ratu dengan kedua tangannya. Dikecupnya kening istrinya untuk memberi ketenangan pada diri istrinya.
"Kamu jangan sedih terus, papah dan kakak kamu pasti sedih jika liat kamu sedih begini," hibur Raja. Ratu pun mengangguk lalu tersenyum manis.
"Kamu ngapain ke sini, kamu 'kan harus banyak istirahat?" tanya Ratu.
"Bagaimana aku bisa istirahat, jika aku liat kamu melamun kaya tadi." Ratu terkekeh.
"Ya udah, ayo kita balik ke kamar." ajak Ratu.
Raja menghentikan langkah Ratu saat akan masuk ke dalam rumahnya. Raja kembali menarik Ratu ke hadapannya. Dengan segera Raja melepas kalung yang di pakai Ratu. Kalung yang Raja berikan sebagai hadiah ulang tahun Ratu di mana ada cincin pernikahan mereka.
Raja mulai memasang kan cincin itu di jari manis istrinya. "Sekarang semua orang harus tahu, jika Ratu Amelia Wijaya adalah istri dari Raja Adi Gunawan!"
__ADS_1
Ratu pun tersenyum melihat cincin pernikahan yang terpasang sempurna di jari manisnya. Kini ia dan Raja tak perlu lagi untuk menyembunyikan status mereka lagi. Keduanya saling memandang dan mulai saling mendekatkan wajah mereka, sebelum akhirnya kedua bibir mereka menyatu.